Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 29 - Cerdas Cermat


__ADS_3

Dia adalah Nabila.


“dari tadi kemana aja Bil?”


“tadi ada urusan di ekskul Ndi, makanya baru bisa bebas sekarang”


“bukannya ekskul tutup selama lomba?”


“naah itu dia, kurang tahu alasannya. Ikutin kata-kata kakak kelas ajaa”


Ekskul yang diikuti oleh Nabila adalah Tataboga, suatu ilmu terkait dengan seni dalam menyiapkan, memasak, dan menghidangkan makanan. Namun tataboga disini tidak sefokus seperti tataboga dijurusan SMK, sehingga mereka hanya fokus mempelajari tatacara memasak sesuai yang disepakati oleh mereka. Setidaknya itulah yang kuketahui.


“mungkin untuk persiapan lomba besok Bil”


“bisa jadi sih Ndi”


“terimakasih telah menunggu, saatnya kita akan memulai Cerdas Cermat untuk kelas 2 jurusan IPA!!!” pembuka pembawa acara membuat kami fokus kearah panggung.


“hooo…!!! Jumlah penonton saat ini lebih banyak yaa, bahkan memenuhi kursi yang disediakan”


Memang benar katanya, ketika cerdas cermat antar kelas 1 jumlah penonton hanya seperempat memenuhi kursi yang disediakan. Namun kali ini semuanya penuh.


“jadi apa alasan Tia ngajak nonton cerdas cermat kelas 2?”


“hmmm….” Sepertinya dia kebingungan.


“ayoolah Andi, tentu saja untuk menambah wawasan” Nabila dengan semangat menggantikan Tia.


“hooo…anggap saja aku percaya”


“yang dibilang Nabila itu ada benarnya, tapi alasan utamanya sih aku ingin melihat kepintaran Mbak Lulu”


“begitu yaa… jangan terkejut ya, karena dia sangat pintar…”


Tia membalas dengan menggangguk, untuk bisa mendengarkan soal pertama yang akan dibacakan.


Tia dan Nabila hanya  tahu kalau aku kenal dengan Acha, namun mereka tidak mengetahui kalau aku dan dia sangat dekat. Selama disekolah aku dan dia juga jarang bertemu, sehingga jika diliat kami seolah tidak saling kenal.


“Soal pertama, Siapakah yang menjabat sebagai ketua dan wakil dari Dokuritsu Junbi Cosakai?”


“Ketua Dr. Radjiman wediodiningrat lalu diwakili oleh Ichibangse dan R.P Soeroso”


“yaa, jawabannya benar!!!”


Penonton bertepuk tangan.


Dokuritsu Junbi Cosakai merupakan sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Nama lainnya ialah BPUPKI atau kepanjangan dari Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapakan Kemerdekaan Indonesia. Salah satu hasil dari badan tersebut ialah lahirnya rumusan Pancasila.


“soal kedua, tanggal berapa sidang kedua Dokuritsu Junbi Cosakai dan apa hasil sidangnya?”


“sidang kedua pada tanggal 10-17 Juli 1945 membahas wilayah negara, rancangan UUD, Panitia Keuangan dan Perekonomian, Serta Panitia pembelaan Tanah Air”


“Benaar…!!!”


Sedangkan sidang pertama terjadi pada tanggal 29 mei – 1 juni 1945, hasil sidangnya ialah Asas dan dasar Negara Indonesia Merdeka yaitu Pancasila.


Tepuk tangan penonton memenuhi ruangan penonton lagi.


“Soal ketiga, sebutkan anggota panitia Sembilan?”

__ADS_1


(eh…? Nama? kalau beberapa tahu aku, tapi kalau semua nyerah aku kalau ini.)


“Ir soekarno (sebagai ketua), Drs. Muhammad Hatta, Muh, Yamin, Mr. Achmad Soebardjo, Mr. A.A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, wachid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosoejoso”


“Benaarrr…!!! Hebat sekali ya Lulu Farasya berhasil menjawab 3 soal benar berturut-turut.”


Kali ini tidak hanya tepuk tangan, melainkan suara kagum dari penonton juga terdengar, termasuk beberapa kalimat yang kudengar.


“ehh…bukannya mbak Lulu itu dia juruan IPA ya?”


“iya benar, tapi dia juga ahli dalam pelajaran IPS ya.”


“Hebaat diaa ya…”


“Benarr…”


Tia terdiam.


“gimana Tia?”


“sepertinya aku harus banyak belajar untuk seperti Dia Ndi”


“iyaa, sepertinya harus begitu.”


Cerdas cermat berakhir, Acha berhasil menjawab 5 soal berturut, 2 soal sisanya dijawab oleh Mas Pandu dan Mbak Salma. Lalu dibabak kedua, mereka berhasil menjawab semua soal rebutan. Walau ada beberapa soal yang mereka kalah cepat, tapi kelas tersebut tidak dapat mereka jawab. Sehingga kelas 2 IPA A yang diwakili oleh Acha, Mas Pandu dan Mbak Salma menang telak dengan skor sempurna 17 poin.


Sebuah pesan masuk kedalam ponselku.


“kalau bisa keruang ekskul, ada yang ingin dibahas.” Pengirimnya Mas Pandu.


Selama 3 hari lomba ini, pemakaian ponsel dilonggarkan. Dengan harapan mempermudah salah satu lomba yaitu Video yang menampilkan rekaman berbagai lomba pada hari Kamis dan Jumat. Dengan durasi 3-5 menit dan akan diperlihatkan secara satupersatu pada hari Sabtu nanti.


Aku tiba diruangan ekskul, hanya ada kami berdua diruangan ini. Bahkan diruangan kulihat tidak ada orang.


Setelah mengakhiri kegiatan ekskul dan memastikan tidak ada lagi orang selain Aku dan Mas Pandu, akhirnya dia bicara.


“maaf kalau harus menunggu yang lain keluar terlebih dahulu”


“yaa tidak apa mas, aku juga paham”


Dia menepati janjinya untuk tetap menjaga identitas dan kemampuanku. Oleh karena itu setiap kali dia ingin membahas tentang progress ekskul, dia selalu memastikan orang lain tidak ikut, hanya ada kami berdua berdiskusi bersama.


“pertama, makasih sudah mengenalkan tim Mas kuliah itu dan mereka mau mengajari divisi moba mobile yang saat ini sudah berkembang dengan pesat.”


Setelah Tournament Moba yang kuikuti bulan lalu, seluruh anggota tim Mas Danin direkrut kedalam tim esport yang berbeda-beda termasuk diriku yang juga direkrut, namun harus ku tolak untuk fokus sekolah. Walau mereka sudah berpencar, namun ku dengar hubungan mereka tetap lancar. Lalu setelah mereka mendengar aku butuh bantuan, mereka dengan senang hati membantu.


“jujur sih, Mas kalau game FPS masih percara diri untuk mengajar. Tapi kalau moba itu, rasanya gk ada bakat, ditambah kakak kelas dan angkatanku tidak ada yang minat. Oleh karena itu adanya mereka sangat tertolong sekali. Terimakasih.”


Setiap sabtu, Mas Danin dan kawannya selalu datang kesekolah untuk mengajar. Kelas 1 yang melihat mereka dari suatu tim esport, sangat semangat dan tidak kehilangan fokus.


“baguslah, senang mendengarnyaa. Tapi terimakasihnya lebih baik ke Mas itu dari pada ke aku”


“benar…tapi Andi juga membantu.”


“baiklah, sama-sama dan Senang bisa membantu”


“lalu untuk selanjutnya mas mau nanya. Andi ahli game apa aja?”


“lebih ahli game bergenre FPS,”

__ADS_1


“hmm…begitu yaa, jadi untuk saat ini bermain game apa aja?”


“ada 3 sih, TEM, Fullshot dan Life of Hunter.”


“bukannya Life of Hunter merupakan game RPG?”


“yaa benar, ku bermain kalau sedang bosan bermain FPS”


“begitu, kalau moba gimana? Aku dengar dari Mas yang mengajar kamu juga hebat”


“aku kurang suka bermain game diponsel”


Bukan berarti game ponsel tidak bagus, hanya setelah terbiasa bermain dikomputer, rasanya lebih seru dan menantang. Game dihp hanya kumainkan ketika aku tidak bisa atau males didepan komputer.


“begitu yaa”


Mas Pandu mengambil modul lomba tournament FPS battle royale dan memberikannya kepadaku.


“kalau begitu, ikut ini ya…”


“bukannya slot kelas 1 sudah di isi?”


“Andi dan Ikhsan akan 1 tim dengan Mas. Jadi masuk tim kelas 2”


Berdasarkan modul, 1 tim berisikan 3 orang. Walau sebenarnya dalam game TEM dalam 1 tim bisa berisikan maksimal 5 orang, namun menyidikitkan jumlah orang dalam tim dapat mempersingkat waktu pertandingan.


“yakin ini Mas?” aku bertanya sekali lagi untuk memastikan keputusannya.


“yaa yakin…”


“baiklah aku akan ikut, nanti akan ku kabari Ikhsan.”


Percakapan itu berakhir dengan hasil aku akan ikut tournament TEM. Finalnya akan diadakan di Mall Hartono pada tanggal 29 Agustus, hanya ada 20 slot tim untuk masuk ke tahap final namun ada lebih dari 100 tim yang mendaftar dari berbagai perwakilan sekolah.


Seleksi untuk memperebutkan slot final dilakukan pada tanggal 12-15 Agustus. Ya benar, pada hari itu sekolah kami sedang melakukan tes Ulangan. Tentu saja ketika tes tersebut kami tetap Latihan dan mengikuti seleksi tanpa ragu. Sebuah pepatah sesat pernah berkata, jangan sampai waktu bermainmu terganggu oleh tes Ulangan.


4 hari seleksi dilakukan pada malam hari secara online, seluruh tim yang mendaftar dibagikan kedalam 4 grup dan akan bertanding. 5 tim teratas dari masing-masing grup akan mendapatkan slot masuk ke final dan bertanding pada hari minggu tanggal 29 Agustus di Hartono Mall.


Dari 3 tim yang diutus sekolahku, hanya tim kami yang berhasil merebut slot tersebut, sedangkan 2 tim lainnnya harus menerima dan menjadi penonton ketika final dilaksanakan.


Seketika pikiranku kembali ke saat ini, hari dimana diadakan Lomba kemerdekaan dan berada diruangan ekskul bersama Mas Pandu.


“gimana tes Ulangannya Ndi? Bisakan jawab walau kita Latihan terus setiap malam.”


“bisa kok mas, aman kalau itu. Ikhsan aja ada yang dapat 100”


Walau kami setiap malam selalu Latihan, bukan berarti kami mengabaikan pelajaran. Ikhsan tetap bisa mengatur waktunya dengan baik, sehingga ia tahu kapan waktunya Latihan dan kapan waktunya belajar. Sedangkan diriku, yaa…kurang lebih sama seperti Ikhsan.


Selanjutnya, kami berdiskusi untuk persiapan Tournament nanti. Mengenai Latihan, mengatur ulang stragegi, melakukan simulasi trik dan persiapan lainnya untuk meningkatkan kemungkinan bisa menang. Dari Mas Pandu juga aku bisa tahu ada beberapa sekolah yang harus diwaspadai karena skill mereka yang tinggi.


Tanpa terasa azan Zuhur berkumandang. Diskusi kami akhiri.


“sebelum pergi, Mas mau minta tolong sesuatu. Kalau keberatan boleh ditolak.”


Sebuah permintaan namun sudah diberi keringanan bahwa dibolehkan untuk ditolak sehingga pemintanya sudah siap akan kemungkinan bahwa permintaannya akan ditolak. Biasanya orang yang meminta hal seperti ini akan sangat merepotkan orang lain.


“bisa tolong baw-”


Pintu ekskul dibuka, seorang siswi dengan wajah lelahnya mengheningkan suasana sesaat.

__ADS_1


(oohh..diaa.)


(bersambung…)


__ADS_2