
POV Nabila
“wiss, cantik kali tadi yang bawa bendera”
“iya benar, ketiganya anggun lagi”
“hmm pemimpinnya keren yaa”
“namanya siapa ya..”
Topik hangat pagi ini menjadi Bahan utama pembicaraan. Yang sebelumnya hanya diam kini mulai saling berbicara. Kelas yang awalnya sunyi, kini tenggelam akan suara yang saling memberikan suaranya.
bel berbunyi.
Tanda pelajaran sekolah akan dimulai.
Seorang guru wanita masuk ke kelas kami. Awal memasuki ruangan kelas D, mata guru tersebut melihat ke arah kami siswa/i. Tapi bukan seperti melihat, lebih seperti mencari seseorang.
Mata guru tersebut berhenti di arahku, atau mungkin orang di sampingku? Entahlah ku tidak mau lagi memikirkannya.
Guru tersebut mulai membacakan Absensi, kata “Hadir” mulai terdengar satu per satu dari setiap nama yang dipanggil. Dari Absensi, ku mengetahui nama lengkap Andi yaitu Andi Alfiansyah.
Setelah itu, Guru tersebut berdiri dan mulai memperkenalkan diri dengan diawali oleh salam.
“ Nama Ibu Indah Rahmayani, Ibu akan menjadi guru wali kelas D. seperti yang tertulis di Buku panduan, selama semester satu ini kalian ditentukan kelas A sampai D berdasarkan nilai tes masuk. Jadi karena kalian berada di kelas D nilai kalian berada di atas nilai-nilai yang gagal diterima di sekolah ini. Tapi tetap kalian berhasil lulus, sekali lagi selamat bergabung disekolah ini. Untuk detail peraturannya ibu harap kalian membacanya dengan baik dibuku panduan ya, sehingga kalian tahu apa saja yang tidak boleh dilanggar.
Kemudian untuk sistem sekolah, setelah semester satu, di semester dua siswa/i akan di urutkan lagi berdasarkan peringkat ujian semester satu.
Menurut sekolah hasil tes ujian semester satu menandakan hasil yang sebenarnya dari kemampuan siswa/i tersebut, karena ia bisa mengikuti gaya belajar dari sekolah tersebut dengan baik. Lalu setelah itu, kesempatan untuk naik tingkatan hanya ada jika kelas di atasnya memiliki siswa/i yang mendapatkan nilai di bawah standar tingkatan tersebut. Sehingga jika tingkatan di bawahnya memiliki nilai lebih tinggi, ia akan ditukar.
Dengan kata lain kemampuan Individu menjadi penentu naik atau turunnya tingkatan kelas. Jadi jumlah perkelas mungkin tetap tiga puluh, namun orangnya bisa berganti.
Sejauh ini ada pertanyaan?” Bu Indah bertanya memastikan bahwa kami semua memahami penjelasannya.
Hening, sunyi. Itu lah balasan pertanyaan Bu Indah.
“ sepertinya tidak ada ya”.
Sesekali ku melihat ke arah Andi, wajah tidak peduli akan penjelasan guru tampak sangat jelas tertulis diwajahnya, seakan ia sudah tahu tentang sistem sekolah ini.
Berbeda dengan siswa/i lain yang dengan serius menyimak, contohnya Tia. Ia bahkan mencatat beberapa penjelasan guru. Kembali melihat beberapa ekpresi siswa/i, sepertinya ku juga tidak bisa bermain-main.
***
POV Andi
__ADS_1
“ hmm kelas dimulai jam 07.20 WIB, jam 09.30 WIB istirahat pertama sampe 10.15 WIB, lalu istirahat kedua jam 12.00 WIB sampai 13.15 WIB” itu lah yang ku pikirkankan setelah mendengar penjelasan tambahan Bu Guru Indah.
Lalu ku memperhatikan keadaan kelas, sesuai penjelasan tadi setiap kelas di isi oleh 30 orang siswa/i. Di kelas D ada delapan belas siswa cowok dan dua belas siswa cewe. Hampir semua murid peduli dengan penjelasan
Guru, mungkin efek dari siswa/i baru. Sehingga masih belum menunjukkan sifat asli masing-masing.
Sesekali ku menangkap Guru Indah melihat ke arahku, mungkin karena aku yang tidak terlalu peduli selama pelajaran, namun ketika serius memperhatikan, Dia masih melihat ke arahku. Melihat seakan Ia kenal diriku.
Tanpa sadar bel istirahat berbunyi, Bu Guru segera menyudahi pelajaran dan keluar. Beberapa siswa/i mulai mengemas buku pelajaran.
Ada seorang siswa maju kedepan dan mulai menyatakan pendapatnya.
“ semua tolong perhatian, tadikan kita sudah di absensi, dan hanya mengenal sebatas itu. Bagaimana kalau kita saling mengenalkan diri masing-masing?,” kata siswa tersebut
“ hoo ok juga sih”
“ ok ku setuju”
Tentunya hal tersebut disetujui, bagi cowo ini kesempatan untuk mencari tahu info cewe yang paling cantik di kelas ini tanpa menanyakannya secara langsung. Sedangkan bagi cewe kesempatan untuk mengenal lebih dekat cowo, salah satunya cowo yang menyampaikan pernyataan tadi.
“ ok, dimulai dari diriku ya. Panggilan ku Fadli, asal dari Pekanbaru Sumatera, Hobby futsal”
Seketika mata cewe makin fokus melihatnya, wajar sih melihat baik-baik body Fadli terbentuk dengan sangat baik. Bukti nyata kalau dia sering berolahraga.
Perkenalan terus berlanjut.
Banyak nama telah disebutkan, seperti nama Dewi & Farah yang berpotensi menjadi rebutan kaum adam. Wajah mereka yang cantik menjadi alasan utama para cowo fokus menyimak perkenalan mereka. Ya Cantik lagi.
Ketika mengenal cewe, cantik atau tidaknya seorang cewe tersebut tidak menjadi hal utama bagi diriku. Yang lebih utama ialah sifatnya. Sebagai contoh jika ada cewe cantik yang tau dirinya cantik, kebanyakan cewe akan memanfaatkan kecantikannya untuk dirinya sendiri.
Tapi,
Cantik bisa di anggap kelebihan diri bagi kaum cewe, untuk cowo disebut dengan Ganteng. Hal yang sama juga berlaku bagi cowo yang memiliki wajah ganteng, ia bisa juga memanfaatkan untuk kepentingannya sendiri.
Lalu bagaimana dengan Pintar?
Kalau orang pintar menggunakan kepintarannya untuk diri sendiri, bukankah itu sama saja dengan cewe cantik tersebut? Bahkan orang pintar bisa lebih berbahaya dari pada orang cantik kan? ah…
Terlalu dalam berpikir cantik vs pintar, tiba-tiba Tia yang berada didepan menyentuh bahuku. Dalam kondisi tangan yang menahan kepala, ku melihat ke arahnya.
“ Andi, sekarang giliranmu perkenalan” Tia berkata singkat.
Seketika melihat sekitar, sepertinya sekelas sudah menunggu selama beberapa detik. Segera aku berdiri memperkenalkan diri.
“ Nama Andi, asal Sumatera dan terakhir hobi baca novel dan film.”
__ADS_1
Hobi yang sangat jarang dimiliki oleh kaum cowo, ya bisa dibilang membosankan. Kebanyakan hobi saat ini ialah game, namun entah mengapa dari sepertinya tidak ada cowo yang memberitahukan hobinya bermain game.
Mungkin game sudah dianggap kewajiban sehingga bukan lagi menjadi hobi. Untuk hobi yang dianggap keren biasanya olahraga dan seni. Dua hobi yang bisa membuat lawan jenis terpikat.
Kembali duduk, perkenalan terus berlanjut.
lima menit kemudian akhirnya perkenalan selesai.
“ ok, makasih semuanya. Semoga kita bisa akrab dan menikmati masa sekolah Bersama. Dan sekarang silahkan istirahat” Fadli menutup perkenalan.
Dengan sisa 15 menit waktu istirahat, ku memutuskan ke lantai dua. Disana ada mushalla dekat ruang guru, sehingga guru atau murid yang ingin shalat dhuha tidak perlu jauh ke masjid yang berada di sebelah Gedung kelas.
Mushalla cukup luas dengan pembatas berada di tengah untuk memisahkan cowo atau cewe. Khusus untuk cewe sudah disediakan kamar mandi dekat tempat shalatnya. Sedangkan cowo harus berwudhu di dekat toilet umum.
Selesai Dhuha.
Ketika keluar dari mushalla, aku berpapasan dengan seorang gadis yang menggunakan cadar. Sebuah hal yang tidak kusangka ada di sekolah ini.
Aku menyapa dengan mengangguk kepadanya lalu segera kembali ke kelas, hal yang sama cewe bercadar lakukan setelah membalas anggukanku.
Dikelas, hampir seluruh siswa/i sudah kembali. Beberapa siswa sudah mulai akrab dengan
disampingnya.
“gimana kantin sekolah bil?” ku bertanya ke Nabila yang membawa makanan ringan
“bagus, gede, tapi ntah kenapa kek ada pembagian kekuasan tak tertulis gitu. Ni ambil?” memberikan makanan ringannya
“ hmm, sepertinya senior kelas 3 yang membagi” sambung tia
“ hoo makasih…”
Tia & Nabila melanjutkan percakapan mengenai hobi. Dari percakapan mereka berdua, ternyata kami bertiga memiliki hobi yang sama, dengan Nabila menonton film. Sedangkan dengan Tia membaca Novel.
Memiliki hobi yang sama bisa menjadi pondasi awal untuk menjadi teman dekat, sebagai contoh Nabila yang memiliki hobi nonton. Dia pasti sudah menonton banyak film, oleh karena itu kami bisa berdiskusi mengenai film yang sudah kami lihat. Begitu juga dengan Tia yang membaca Novel, kami bisa saling memberikan pendapat mengenai novel yang telah dibaca.
“sepertinya akan dekat sama mereka” pikirku.
Lalu pintu terbuka dan guru Indah kembali masuk ke kelas
“ tunggu kok dia lagi masuk kelas, kan beda matkul” pikirku karena ku ingat dia hanya mengajarkan satu matkul yaitu matematika.
Kelas dimulai.
***
__ADS_1