Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 44 - Nama Bersama


__ADS_3

POV Andi


“Upacara Selesai, Barisan di Istirahatkan” Kata pembawa upacara,


“Kepada, seluruh peserta upacara. ISTIRAHAT DITEMMPAAATTTTT…GERAK” Pemimpin upacara memberikan perintah dengan keras.


Semua peserta melakukan Gerakan Istirahat.


“Baiklah, Saya akan mengumumkan 3 kelas yang menjadi pemenang dalam Lomba kemerdekaan. Peringkat ke 3 dari kelas XII IPS A.”


“yesss….” Teriakan bagi yang kelasnya menang,


Siswa/i yang kelasnya belum mendapatkan peringkat hanya terdiam menyimak. Lalu perwakilan kelas XII IPS A maju.


“Peringkat kedua dari kelas satu, pendatang yang berhasil merebut peringkat ini dari kelas senior, kelas X IPS A…”


Barisan upacara dikelompokkan berdasarkan tingkatan kelas, kami kelas 1 berada ditengah, disamping kiri merupakan barisan kelas 3 siswi sedangkan disamping kanan kelas 2 siswa. Disamping kanannya kelas 2 siswa terdapat kelas 3 siswa. Dari tempatku berdiri, sepertinya aku merasakan kelas 2 dan kelas 3 siswa


memiliki rasa kesal ketika peringkat 2 diambil oleh kelas 1.


Ikhsan menjadi perwakilan kelasnya.


“untuk peringkat pertama, diraih oleh kelas yang sampai saat ini selalu mendapatkan peringkat pertama dalam lomba antar kelas. Kelas XI IPA A….”


Ya, Aku Sudah menduga kalau kelas Acha akan menang. Dari lomba-lomba yang telah dilaksanakan, kelasnya selalu mendominasi. Salah satu lomba yang tidak kulihat secara langsung ialah Video. Ikhsan memberitahukan kepadaku bahwa Video dari kelas XI Ipa A sangat bagus, mulai dari konsep dan Editing-nya. Dia juga tidak melihat secara langsung, melainkan dari anggota kelasnya yang mengikuti lomba Video. Informasinya


bisa disebut meyakinkan karena simpelnya Aku percaya sama Ikhsan. Dan Dia tidak akan mengatakan hal tersebut tanpa ia konfirmasi sendiri.


Mas Pandu maju kedepan sebagai perwakilan kelas XI Ipa A. Sepertinya Kepala sekolah sibuk kembali sehingga Wakil kepala sekolah menggantikan tugasnya lalu memberikan hadiah dan selamat kepada masing-masing perwakilan kelas.


Pemberian hadiah selesai, seluruh peserta bubar dan kembali ke kelas. Suasana belajar dikelas berjalan normal seperti biasa, tidak ada rasa kesal kalah yang diperlihatkan. Layaknya sudah tahu kalau kelas ini akan kalah dan kebanyakan anggota menerimanya. Ya kebanyakan, yang berarti ada beberapa tidak menerima.


Puncaknya terjadi ketika guru menyelesaikan pelajaran lebih cepat sehingga menyisakan 20 menit sebelum istirahat pertama dimulai. Dewi sebagai pemimpin cewe dikubunya merasa kalau ia tidak layak berada dikelas yang kalah. Aku yang sudah males mendengar ceramahnya memilih meletakkan kepalaku diatas meja dan menutup dengan kedua tanganku.


Baru 10 detik Aku menikmati, sudah ada hentakan keras di mejaku.


“Kau, KENAPA PULA MALAH TIDUR?” Dewi dengan amarahnya,


Aku merebahkan kepala bukan menjadi yang pertama, setelah melihat ada yang melakukannya dibelakang, Aku mengikutinya. Namun sepertinya saat ini Aku yang menjadi contoh dan pelampiasan amarahnya.


“Hadeh…” sepertinya balasan singkatku merupakan suatu kesalahan,


“KAU!!! SELAMA LOMBA KAU TIDAK ADA KERJAAN KAN? NGAPAIN AJA KAU?? KULIHAT KAU BERDUAAN


SAMA TIA, LALU ANAK CEWE KELAS LAIN!!!”


Ok, sepertinya dia tidak sengaja melihat aktifitasku selama lomba kemerdekaan. Atau mungkin dia sengaja?”


“ya berarti jelas kau tidak menyimak ketika pembagian tugas, mayoritas tugasku kan menyiapkan semua kebutuhannya untuk mengikuti lomba”


Sepertinya penjelasanku benar dan membuatnya terdiam untuk beberapa saat.


“Sudah-sudah, jangan berdebat. Kita kalah karena kita semua, dan semua sudah melakukan tugasnya masing-masing. Penyebab lainnya kita kalah karena kelas lainnya saja yang terlalu kuat. Jadi jangan menyalahkan diantara kita.” Fadli mencoba menenangkan Dewi. Lalu ia menemani Dewi hingga duduk didekat kursinya.


Siswa yang duduk dibelakang setuju atas perkataan Fadli, lalu perlahan seluruhnya mulai setuju. Perdebatan selesai ketika lonceng istirahat berbunyi. Tentu kantin menjadi tujuan utama namun sebuah pesan dari ponsel Andi membuat tujuan tersebut berubah.


“Aku kayaknya gak ke kantin Bil, Tia. Ada urusan ekskul”

__ADS_1


“Ok, mau nitip sesuatu?”


“kayak biasa aja, dibungkus. Makasih Bil”


Nabila dan Tia pergi.


Aku pergi kearah kelas X IPS A untuk menunggu Ikhsan. Duduk santai ditempat yang ada disetiap depan kelas, Aku menikmati angin yang berhembus. Berada dilantai teratas memang enak, ya selain naiknya.


“eh Andi, nunggu Ikhsan yaa?” sapa siswi yang kukenal,


“yaa gitulah cha, bisa panggilin dia cha?”


“ok bentar ya, Icha panggilin”


Beberapa saat kemudian Ikhsan keluar dengan 2 cewe yang ikut bersamanya. Kalau tidak salah namanya. Dari raut wajah kedua cewe itu, sepertinya mereka tidak senang Icha memanggil Ikhsan.


“dipanggil keruang Ekskul” kataku singkat,


Lalu Aku meninggalkannya dengan 2 cewe tadi, Icha ikut turun bersamaku. Kami berdua kembali membahas beberapa novel atau film yang sedang seru. Seperti film lama Batman versi Sutradara Nolan. Kami sama-sama mengagumi acting dari Heath Ledger yang tampak nyata, serta akhir film yang sangat keren.


Diantara diskusi kami, dibelakang Ikhsan turun dengan 2 cewe yang mengikutinya. Terkadang Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang mungkin tidak layak untuk ku dengar.


Ketika mencapai lantai dasar, Aku berpisah dengan Icha yang katanya ingin kekantin. Hal yang sama dirasakan Ikhsan, 2 cewe yang bersamanya menuju kantin. Kini kami berdua menuju lokasi yang sama yaitu ruangan ekskul.


“Selamat kelas peringkat 2 San”


“hoo makasihlah… Aku juga makasih atas bantuan kau, kalau kau gak bantu, mungkin peringkat 3 atau 4 atau mungkin gak dapat peringkat”


“yaa santuy”


“2 cewe tadi sepertinya suka sama kau san”


“tapi Aku tertariknya cuman satu”


“yang mana?”


“sebelah kiri, namanya Desti. Bukannya dah ku kenalin saat hari pertama aku sekolah?”


“ya taulah kau, gak penting ngapain juga ku ingat”


“haha…oklah, nanti kujadikan dia penting agar kau ingat”


“yakin kau?”


“ya, saat ini yakin”


“baiklah, kalau begitu saran dariku. Kenal dulu lebih dalam, lalu lihat keadaan sekitar”


“kenapa gi-”


Pertanyaan Ikhsan berhenti ketika kami sampai didepan ruang ekskul yang terbuka. Didalamnya


sudah menunggu Acha dan Mas Pandu yang sedang mendiskusikan suatu hal.


“Masuk masuk Ikhsan dan Andi” Mas Pandu menyambut kami,


Mas Pandu kembali duduk, lalu Ikhsan segera mengambil kursi disebelahnya. Tersisa 1 tempat duduk disebelah Acha, tempat itu menjadi pilihan.

__ADS_1


“jadi mau bahas apa sampai jam istirahat pertama diambil?”


“haha kesalnya terasa yaa, maaf-maaf menganggu waktunya Andi. Mau membahas masalah nama anggota yang akan dipakai, sekolah lain ada yang menggunakan nama Zodiac, dewa nordik, Yunani dan lainnya. Jadi menuruku lebih keren kita juga kompak gitu, serta akan mudah di ingat”


“gitu ya Mas”


Melihat balasanku yang lemas, Acha mengeluarkan bekal yang ia bawa. Beberapa sandwich yang sepertinya buatan Acha berada didalam bekal.


“yakin Cha? Nanti Acha makan apa?”


“yaa gak apa, makan aja”


Aku mengambil satu lalu membaginya sandwich menjadi 2, satu bagian untuk ku makan, sedangkan bagian lainnya untuk Ikhsan. Ya Aku tahu Ikhsan tidak akan mengambil kalau dari Acha, namun akan berbeda kalau dariku.


Diskusi berlanjut sambil menikmati Sandwich Acha.


“nama tim kita 8 Swasta Yogyakarta, jadi setiap anggota nama depannya 8SY- dan diakhiri nama pilihan kita. Tapi apa yaa?”


“nama karakter di One Piece?” usul Ikhsan,


“hmm…gak” tolak Mas Pandu,


“kalau nama orang terkenal?”


“hmm seperti actor atau public figure?”


“yaa”


“jangan lagi, ntar dia makin terkenal karena kita. Dan kita tidak dibayar”


“ya juga ya”


Diantara ide-ide Ikhsan, Aku terpikirkan nama-nama yang kini mulai dilupakan oleh anak zaman sekarang. Padahal tanpa pemilik nama tersebut, negara Indonesia tidak akan ada.


“bagaimana kalau nama Pahlawan Indonesia?” kataku membuat Mas Pandu dan Ikhsan terdiam,


“boleh tuu, tapi biar aman jangan pakai tokoh pahlawan yang terlalu dikenal”


“ok kalau gitu, Aku pakai nama pahlawan Pattimura”


“kalau gitu, Aku pakai Sudirman”


“woke, tersisa Aku akan menggunakan Yamien”


“Aku ulangi lagi ya, Pandu dengan panggilan Sudirman, Ikhsan dengan panggilan Yamien, dan Andi dengan panggilan Pattimura” Acha memastikan semua,


“sip”


“ok, semua selama kalian mengusulkan ide ide nama, Aku sudah memastikan semua berkas aman dan siap untuk bertanding”


Bel masuk kelas berbunyi, kami semua keluar dan turun. Ikhsan berbicara suatu hal dengan Mas Pandu, menyisakan Aku dan Acha dibelakangnya.


“ketika Tournament, Andi jadi pake itu?”


“yaa ~~~~jadi, kalau gak pakai bisa bahaya…”


(Bersambung…)

__ADS_1


__ADS_2