Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 38 - Anggota Baru


__ADS_3


Disekitarku ada 4 siswa yang berkumpul, asik bermain game melalui ponsel pintar mereka. Rangga bergabung ke mereka dan sepertinya mulai bermain bersama. Pertandingan final dimulai, Aku mengabaikan mereka dan mulai fokus menyaksikan pertandingan.



Namun mataku menyadari ada seseorang yang berdiri sendirian, orang yang sama ketika makan tadi, Aku mendekatinya.



“tumben diluar…” kataku remeh,



“eh…” dia terdiam sebentar, “emang kamu kira aku ini apa Ndi?”,



“siswi yang baginya buku adalah segalanyaa!!!”,



“hmm…gak salah sih”,



“yaa udah, gak jadi itu”,



“yaa jangan dong…” Dia memukulku dengan buku yang ada ditangannya, untungnya pertengkaran kami tidak menjadi perhatian banyak orang.



“kapan kelas Icha bertanding? Lawan kelas mana”



 “ini skemanya, biar baca sendiri”



Dia memberikanku kertas dengan gambar skema lomba tarik tambang. Gambarnya ditulis dengan pensil, rapi dan simpel. Alasan dia memberikan skema ini karena pertandingan pertama sudah dimulai. Berdasarkan skema, pertandingan yang sedang berlangsung antara kelas 3 Ips A vs kelas 2 Ipa A.



Pertandingan pertama berakhir dengan kemenangan kelas 2 Ipa A, kelasnya Acha. Kelas Ikhsan dan Icha akan bertanding diurutan ketiga melawan kelas 3 Ips B. Sedangkan pertandingan kedua antara kelas 1 Ipa A vs kelas 2 Ips A.



Rangga sepertinya tidak peduli dengan pertandingan kelasnya, dia lebih memilih bermain bersama perkumpulannya.



Pertandingan kedua dimulai.



Kedua kelas saling tarik menarik dengan kekuatannya, kesengitan jelas terjadi, teriakan penonton menjadi penambah kekuatan bagi peserta.



Setiap kelas memiliki ciri khas teriakannya untuk menyamakan kekuatan dalam menarik.



“hiiiiyaaaa……”



“Saatttuuuu….Ddduuaaaaa….Tigaaa…..”



Salah satu dari teriakan kerjasama mereka, pasti membawa ke kemenangan.



“semangaatt!!!!”



“tariik lebih kuatt!!!”



Sorakan para penonton tidak kalah kuat dengan para peserta, bisa dibilang 3 kali lebih kuat. Jika dianggap teriakan peserta adalah angka 2, maka teriakan penonton adalah angka 6.



Setiap 1 poin kemenangan yang berhasil diraih salah satu kelas, meningkatkan semangat para penonton. Semangat para penonton meningkat ketika poin 2 sama dan menyisakan 1 pertandingan terakhir untuk meraih kemenangan.



“pertandingan terakhir, antara kelas 1 Ips A melawan kelas 2 Ips A. tigaaa, duaaa, satu…!!!!”



“Semangaat!!!”



“Satu Ipa A pasti Bisaaa!!!!”



“Dua Ips A pasti Menang!!!”



Perlahan, kelas satu mulai tertarik. Setiap teriakan hitung mundur kelas dua, kelas satu perlahan ditarik. Disaat bendera tengah sedikit lagi memasuki wilayah kelas 2, dan disaat mereka selesai menyebutkan salah satu angka hitungannya, sebuah penyerangan balik dilakukan kelas satu. Dalam sekejap, kelas 1 menarik dengan kekuatan yang luar biasa, menarik bendera tengah kewilayahnya dengan 2 tarikan.



Pertandingan selesai dengan kemenangan kelas 1 Ipa A.



“tadi apa yang terjadi?” Icha kebingungan,


__ADS_1


“simpelnya gini sih, kelas 2 kan menariknya bersama berdasarkan hitungan 1 2 3, lalu ada jeda setiap mereka menyebutnya. Memang setiap mereka meneriakkan hitungan, kekuatan tarikannya semakin kuat, namun ketika jeda terjadi kekuatannya melemah. Jeda itulah yang diincar kelas 1 dan menjadi kemenangan mereka.”



“hmmm begitu yaa, masuk akal juga sih”



“yaa begitulah…”



Pertandingan ketiga akhirnya dimulai, wajah Icha tampak lebih bersemangat melihat kelasnya akan bertanding. Ikhsan berada diantara mereka.



“disini kalian ternyata…”



Nabila dan Tia akhirnya bergabung.



“kemana kalian?” tanyaku penasaran,



“ke tempat cerdas cermat” Nabila menjawab, Tia sepertinya tidak mendengar karena berbicara dengan Icha.



“begitu ya, siapa yang menang?”



“belum tahu, tapi kelas Mbak Lulu poinnya sudah memimpin jauh”



“begitu yaa”



Sepertinya ada sosok lain yang memiliki ilmu tinggi selain Acha, wajar mengingat kelasnya ialah kelas A. pasti ada lebih dari 5 orang yang mungkin memiliki kepintaran setara dengan Acha.



Pertandingan ketiga dimulai.



Kekompakan dan Kerjasama kelas Ikhsan sangat kuat, terbukti kelasnya berhasil menang telak


melawan kelas 3 Ips B.



“kelas kalian cowonya emang gitu cha?” tanya Nabila,




Mendengarnya, aku berharap suatu saat kelasku juga bisa seperti itu.



Pertandingan terakhir antara kelas 1 Ips D melawan kelas 2 Ips B.



Ponselku bergetar, aku mengeceknya dan melihat ada sebuah pesan yang dikirim oleh Mas Pandu.



“bisa ke ruangan ke Ekskul sekarang?”



“ok kesana”



Beberapa menit kemudian Aku sudah tiba didepan pintu ruang ekskul. Dari dalam aku bisa mendengar suara pembicaraan.



Tok tok!!!



“ya masuk…” suara seseorang dari dalam, lalu pintu terbuka.



Orang yang membukakan pintuku merupakan orang yang sangat kukenal dari kecil, dia adalah pembawa kemenangan bagi kelasnya di lomba Ranking 1 tadi. Ya Acha.



“silahkan masuk Andi” wajahnya memerah,



Didalam ada Mas Pandu, Mbak Dinda, dan Acha, serta kumpulan kertas yang berserakan.



“jadi ada apa ini?” pertanyaanku mengalihkan pandanga mereka kearahku,



“hmm dimulai dari mana yaa… jadi gini Ndi, si Mbak Lulu akan bergabung kedalam ekskul kita sebagai Manajer kita, dikarenakan Mbak Dinda membutuhkan bantuan.” Mas Pandu menjelaskan,



“lalu hubungannya denganku apa?”



“turnamen kita, yang akan mengurusnya adalah Mbak Lulu. Mengingat kamu adalah ketuanya, aku ingin mengenalkannya agar masalah administrasi bisa kamu bicarakan langsung dengannya”

__ADS_1



“begitu yaa, baiklah. Ada lagi yang perlu dibahas?”



“yaa kalian kenalan dulu, tukar nomor agar mudah nanti komunikasinya” Mbak Dinda memberikan usulan,



“ya Mbaak…” Aku menurutinya.



Dari perkataan Mas Pandu, dia tetap menjaga hubunganku dengan Acha didepan Mbak Dinda. Sehingga wajar jika Mbak Dinda memberikan usulan itu. Baginya, aku tidak mengenal Acha sehingga kenalan akan menjadi hal pertama yang harus kami lakukan. Aku teringat ketika kemaren makan siang di ruangan ini dengan Mbak Dinda, kami membahas tentang aku yang tidak tertarik dengan Acha dan salah satu penyebabnya ialah aku yang tidak mengetahui pola pikirnya. Apakah ia sengaja membuatku mengenal Acha, lalu berdiskusi dan mengetahui pola pikirnya agar membuatku tertarik kepada Acha? Atau ini hanya sebuah kebetulan?. Ah sudahlah.



Tentu Aku dan Acha berpura-pura saling kenalan, menukar nomor ponsel dan berdiskusi mengenai persiapan turnamen.



“ok makasih Mbak Lulu, aku kembali dulu yaa…” Aku pamit, keluar dari ruangan ini,



“iyaa, nanti kita lanjutkan masalah administrasinya melalui chat”



Aku kembali menuju tempatku semula. Ada hal yang berubah, yaitu jumlah penonton bertambah.



“pertandingan kelas mana ni?” tanyaku langsung,



“ini untuk perebutan posisi ke 3 antara kelas 1 Ipa A melawan 2 Ips B” Nabila menjawab,



“tunggu, berarti aku ketinggalan 2 pertandingan?”,



“bisa dibilang begitu”,



“hadeh, lalu Finalnya siapa?” tanyaku pasrah menerima keadaan,



Nabila menepuk pundak seolah mengasihani diriku.



“Final, kelasku melawan kelas 2 Ipa A”



“begitu ya Cha…”



Pertandingan perebutan posisi 3 dimulai.



Peserta kelas 2 memiringkan tubuhnya kebelakang, sepertinya mereka memanfaatkan setiap otot kaki untuk menahan dan membantu menarik tambang.



“hoo mereka meniru kelas 2 Ipa A”



“tapi sepertinya mereka tidak akan bisa”



“kenapa begitu Tia?”



“karena tinggi mereka acak, sehingga bagi pemilik kaki Panjang membutuhkan jarak yang lebih jauh, sedangkan dibelakangnya pemilik kaki lebih pendek, tidak bisa memberikannya jarak.”



Benar kata Tia, beberapa saat kemudian kelas 2 jatuh dan kalah.



“waah, hebat kamu Tia”



“ah tidak juga kok Cha”



Hingga pertandingan berakhir, kelas 1 Ipa A berhasil merebutkan posisi ketiga.



Pertandingan Final akan dimulai, antara kelas 2 Ipa A melawan kelas 1 Ips A. kelas Acha yang terkenal sangat kuat melawan kelas Ikhsan yang merupakan pendatang.



Kedua tim bersiap.



“Final, tigaaa…Duaa…Satu…”



(Bersambung)


\````

__ADS_1


__ADS_2