Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 59 - Saingan?


__ADS_3

Satu langkah


Dua langkah


Tiga langkah


Akhirnya rombongan siswa kelas satu tiba ditempat duduk kami.


“Selamat Mas atas kemenangannya…”


“oh Rangga ya, makasih atas ucapannya dan telah menonton. Mau gabung makan juga gak?”


“makasih Mas, saya terima…”


(eh kok di ajak???)


Tapi Aku tidak bisa menyalahkan Pandu, disini ia memiliki citra senior yang mengajak semua anggota ekskulnya untuk bersama, walau terkadang memaksa.


“Selamat Mas atas kemenangannya, semoga menang lagi di turnamen selanjutnya” Andi menyampaikan ucapannya.


Kami yang mengetahui kebenaran menganggap ini merupakan sandiwara yang harus dilakukan demi menjaga identitas Andi.


“Iyaaa… Selamat ya Nduu” cewe disebelah Andi juga memberikan ucapan.


“Terimakasih Andi, Dinda…”


“waah anak kelas D ikutan nonton juga ya, dikursi mana? Golongan 3 ? atau bawahnya lagi?”


“dari lantai 2 sih nontonnya”


“lantai 2???” salah satu teman Rangga menyela.


“kenapa emang?”


“dimananya? Kok Aku gak ada melihat? Ada bukti? Jangan-jangan gak nonton lagi…haha…” mereka bertiga tertawa.


“hmm… kalian ini, kenapa pula kalau nonton harus ada bukti. Lagi pula kami nontonnya barengan kok.” Dinda membantu Andi.


(haa…Barengan????)


Sabar diriku, dia jelas berbohong. Aku tidak tahu apa alasannya tapi dia membantu Andi.


“yaa gak barengan juga, karena kebetulan ketemu lalu berada di divisi yang sama dan Aku tahu sedikit tentang game yang diturnamenkan, jadi kami bersama agar Mbak Dinda bisa lebih paham mengenai alur turnamen”


“yaa… begitulah, terimakasih tadi atas penjelasannya Ketika turnamen”


Sesekali Dinda melirikku dengan tatapan bangga, tapi untuk apa???


“baiklah, alasannya masuk akal dan ada bukti dari Mbak Dinda. Tapi maaf kalau ingin bergabung sepertinya tidak bisa. Karena kursi penuh. Anggota divisi esport yang lain akan muncul, jadi mohon divisi game harap ke meja lain.” Rangga mengusir dengan halus.


“ehh jangan-”


“gak apa Mas, dia benar. Kami meja sana aja”


Siapa sih ini anak, udah sok, ngatur lagi. Kalau dia tahu Andi itu siapa pasti dia terdiam. Tapi yang lebih penting lagi, Andi akan berdua dengan Dinda!!???. Memangsih dia tidak suka keributan, tapikan Aku gak suka seperti itu.


“Aku ikut!!!”


Suaraku membuat semuanya terdiam, termasuk Andi yang telah beberapa Langkah pergi ikut terdiam.

__ADS_1


“eh kenapa Mbak Lulu, disini ajaa” Rangga memohon.


“kan tadi katanya meja ini khusus divisi esport, sedangkan saya sendiri bukan esport. Jadi ya saya sadar diri aja”


“eehh…tapi???” Rangga kehabisan kata.


“hanya mengikuti peraturan ya Lu…” Pandu membantu.


“benar…”


Aku beranjak pergi.


“Ayoo Dinda dan Andi ya?…”


“iya Mbak…”


Kami pindah ke 2 meja dari lokasi mereka. Andi meletakkan tasnya dan siap untuk memesan.


“Mbak Lulu udah mesan?”


“belum sih, tadi jaga tempat dulu…”


“kalau gitu sepertinya Mbak akan jaga tempat lagi, biar Aku yang mesan. Jadi Mbak Lulu dan Mbak Dinda pesan apa?”


“Aku gak tahu mau mesan apa, jadi mau lihat-lihat dulu apa yang ada”


“ya sama, Aku juga…” balas Dinda.


Dia kenapa ikutan!!! Ah, taulah salah satu dari kita harus netap untuk menjaga meja. Kalau kita semua ikut ya meja tidak akan aman.


(sepertinya tidak bisa berdua sama Andi)


“baiklah…”


Entah kenapa kami berdua seakan setuju dan segera beranjak pergi meninggal Andi sendiri.


Aku tidak begitu dekat dengannya, beradasarkan dari informasi Pandu. Dinda merupakan salah satu siswi kelas 2 yang setia di ekskul game. Dia masuk dari kelas satu dan selalu sibuk dengan divisinya. Memang dia jarang terlihat,


karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan ekskul.


“Kamu kenal anak kelas satu itu dari mana?”


“hmm… ya dari ekskul sih. Sama kayaknya dengan Lulu…”


“hooo begitu, kukira kenalnya sebelum masuk ekskul”


“enggak kok, saat itu kami makan berdua diruangan ekskul-”


(Apaaaaa???? Berduaa????)


Fokusku buyar karena panik yang meningkat.


“hoo begitu ya…”


Kok aku tidak pernah tahu tentang ini??. Iya sih ini urusan Andi dan dia juga tidak perlu menceritakan semuanya. Tapikan, tapikan, tapikan. Aku juga ingin begitu. Merasakan kenikmatan makan berdua tanpa ada gangguan, menikmati setiap waktu yang berlaludengan leluasa melihat wajahnya.


“eehh… ada Dinda” Salma menghampiri.


“Iyaa Saaall… ini kami mau pesan makanan dulu”

__ADS_1


“oiya Sal, duduk di meja Andi ya. Soalnya tadi ada sedikit masalah”


“hoo…ok baiklah”


Aku baru ingat kalau Salma pernah menceritakan tentang Dinda. Salah satu anak IPS yang memiliki kemampuan dan kepintaran setara anak kelas A namun entah kenapa dia berada dikelas C. menurut Salma, hobinya yaitu bermain Game lebih Dia utamakan dari pelajaran. Sehingga setiap kali ada ulangan dan ujian yang bertepatan dengan adanya event didalam game, ia akan kelelahan di pagi harinya. Namun nilai yang ia dapatkan selalu sepantaran dengan kelas C. tidak rendah dan tidak tinggi.


Pada Akhirnya, tidak banyak yang kami bicarakan dan fokus memesan makanan masing-masing dan Kembali.


“Baiklah, sekarang giliranku…”


“oiyaa… minuman belum, ya udah barengan Andi aja”


(eh…???)


Memang sih tadi kami berpisah dikarenakan makanan yang kami inginkan tidak berada di Stand yang sama. Tapi Aku tidak menyangka dia akan sengaja tidak memesan minum.


Selama mereka memesan, mataku fokus teralihkan olehnya.


“Chaaa… ooo Achaaa” Salma memanggil.


(kayaknya ada yang memanggil, tapi ada hal yang lebih penting)


Seperti biasa, Andi melakukan hal yang sama kepada cewe yang dekat dengannya, yaitu menjaga jarak dan tidak bersentuhan.


“Chaaa,,, uiii” Salma melambaikan tangannya dimataku.


“apa ih… Salma ganggu aja”


“hahaha… cemburu ya ada yang dekatin Andi?”


“yaa iyalah, Aku kan tadi sengaja gak mesan diawal agar bisa berduaan dengannya, walau sebentar…”


“cup…cup..,cup… Sihannya… si Acha ada Saingan” Salma mengelus kepalaku.


Selesai makan, kita akan bubar. Dan tidak ada lagi kemungkinan bisa berdua dengannya. Huff… padahal Aku ingin mengucapkan selamat secara pribadi kepadanya.


“eh mereka dating, semangat lagi dong…”


Mendengar omongan Salma, ku memaksakan wajah dari sedih menjadi ceria agar tidak diketahui oleh orang lain termasuk Andi.


Momen itu berlalu dengan cukup cepat, tidak banyak yang bisa kami bicarakan mengingat kami semua saling memiliki informasi yang berbeda mengenai Andi. Syukurnya setelah kami makan tidak ada lagi masalah yang dibuat oleh Rangga. Kami bisa bubar dengan damai dan pulang kerumah.


Keesokan harinya, Senin di sekolah.


Ketika hari upacara berakhir, Pandu dan Ikhsan maju untuk menerima penghargaan dan ucapan dari kepala sekolah. Syukurnya kepala sekolah menerima kondisi orang ketiga yang tidak ingin muncul.


Berita kemenangan turnamen lebih heboh dikalangan kelas satu. Sedangkan dikelas tiga, lebih banyak iri tanpa tahu apa sebabnya.


Dikelas, Salma menyapaku.


“gimana hari ini?”


“yaaa, masih pegal sih. Setelah ngurus semua berkas dari ekskul game tapi setidaknya saat ini kelar urusan itu”.


“begitu ya, namun maaf ya. Lulu harus pegal lagi karena harus ngurus pertemuan Osis seluruh Yogyakarta”


(Aku lupa ada urusan itu…)


Aku terdiam dan baru ingat kalau Aku yang meminta Salma untuk mengingatiku Kembali.

__ADS_1


bersambung…


__ADS_2