Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 60 - Komputer Baru


__ADS_3

POV Andi


Sebuah perbedaan kurasakan ketika memasuki kelas. Ruang yang biasanya hening dipagi hari, ruang yang biasanya di dominasi oleh siswi untuk merumpi. Namun semua itu kini tidak terjadi. Saat ini para siswa lebih mendominasi dan membicarakan suatu hal yang saat ini menjadi topik hangat disekolah.


“Pagii… Ndi!!!”


“Yaa pagi kalian berdua, sehat-sehat aja kan Tia dan Nabila?”


“hamdulillah sehat, tumben masuk di menit-menit akhir?”


“huaaamm… kelelahanku kemaren. Jadi kelelahan dan telat bangun…”


“Sihannya…”


“ini tumben para cowo pagi-pagi dah rame, pada bahas apa?”


“Ehh???” mereka berdua terkejut.


“…ui”


“maaf-maaf, hanya saja kukira kau dah tau dan mungkin kau yang kasih penjelasan ke kami. Tapi ternyata gak tau”


“benar tu kata Nabila. Mereka membahas tentang sekolah ini yang menjadi perwakilan Jawa tengah untuk ke Jakarta nanti”


“hoo itu…”


“naah, yang menjadi bagian serunya ialah tentang salah satu perwakilan kita yang menggunakan masker dan topi”


“kalau tentang itu, Aku juga gak tahu”


“ada yang bilang kalau dia itu kelas satu, karena kemunculan pertamanya bersamaan dengan masuknya kelas satu”


“ada juga yang bilang kalau dia itu kelas dua yang baru masuk akibat pindah sekolah ke sini”


“dan ada yang bilang-”


Tia dan Nabila secara bergantian menjelaskan topik hangat yang sedang dibicarakan diseluruh sekolah. Mendengarnya, Aku bersyukur membuat keputusan untuk menutup identitasku. Bisa dibayangkan jika tidak Aku lakukan, seluruh kelas seketika akan mencoba dekat denganku dan tiba-tiba baik demi mendapatkan perhatianku. Ah… Aku tidak ingin lagi merasakan hal tersebut.


Ring…!!! Ring…!!! Ring…!!!


Pembicaraan terpaksa dihentikan Ketika bel sekolah berbunyi dan Upacara akan dilakukan.


Aku baru teringat tentang pesan yang dikirim oleh Acha tadi malam yang berisikan tentang pesananku yang siap diambil kapan saja.


(Pulang sekolah sepertinya singgah kesana dulu sama Ikhsan)


Upacara dimulai.


Layaknya seperti upacara pada umumnya, barisan belakang dipenuhi oleh orang-orang yang malas akan upacara. Mungkin termasuk diriku yang mendapatkan posisi 5 baris dari belakang.


“hei, menurut kalian pemain yang masker itu ikut upacara juga gak?”


“yaa ikutlah, kan dia siswa disekolah ini, kecuali kalau dia tidak datang. Atau mungkin dia berada dibarisan depan lagi?”


“gak lah, kalau Aku jadi Dia sih. Aku akan diam aja pura-pura gak tahu”


“itu mah semua orang yang niat upacara juga akan gtu”


“tapi, yang bilang dia cowo siapa?”


“ooiyaa, tapi udah pasti cowo ituuu”


“tau dari mana?”


“gak mungkin mah cewe punya reflek kayak gitu, kalau mau tau detailnya mah lihat aja Dadanya, bidang atau ada buah dadanya?. Kalau Bidang jelas cowo, kalau ada buah dada ya jelas cewe”


“yaa juga ya, dari fisik jelas cowo, dari gaya permainannya juga cowo”


“berarti kemungkinan terbesarnya dia cowo ya…”


“Ssssttt…Diam!!!”


Datangnya kakak kelas Osis membuat semua perbincangan tadi terhenti seketika.


“Yang benar berdirisinya, Rapi.”


Sesuai perintah, kami yang berada dibelakang merapikan barisan dan berdiri tegap. Meragukann kerapian kami, anggota Osis tersebut diam tidak berpatroli memastikan kami diam hingga upacara selesai.


(aah pegalnyaaa… Sepertinya Aku harus tidur dikelas nanti).


Aku mencoba mengingat kembali pelajaran dan guru yang mengajar. Lalu memilih yang mana kemungkinan bisa tidur dengan aman dengan gangguan sesedikit mungkin. Targetku ialah pelajaran ketiga sebelum jam istirahat pertama.

__ADS_1


Namun Ketika pelajaran kedua dimulai, yaitu pelajaran Kimia mataku mulai memberikan kode untuk istirahat.


“jadi Ketika ini-”


Andi tertidur.


Kelas terus berlangsung seperti biasanya, posisi tempat duduk Andi yang sangat bagus membuatnya menjadi seseorang yang tidak perlu diperhatikan oleh guru, setidaknya hanya sementara.


Guru yang mengajar melihat ada siswa yang tidur, ia segera meminta siswi didekatnya untuk membangunkannya.


“Ndii!!! Ui Ndiii!!, bangun-bangun” Nabila berusaha tidak hanya dengan suara, melainkan dengan tangannya yang menggerakkan kepalanya.


Andi terbangun.


“hmm… tertidur pula Aku”


“ya kamu, Silahkan ke toilet. Basuh wajah sana…”


Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh guru, keluar menuju toilet, membasuh wajah, bahkan melakukan sedikit peregangan. Semua tindakan tadi serasa tidak berguna ketika Aku kembali ketempat duduk.


(kok ngantuk lagi ini…)


Tiba-tiba dunia menjadi gelap dan Aku tertidur lagi. Tidak ada mimpi, melainkan hanya gelap gulita yang kurasakan selama tidur. Namun kegelapan itu membuatku merasa nyaman dan seolah menghilangkan rasa lelah.


Ring...!!! Ring…!!! Ring…!!!


Sebuah suara yang menurutku tidak asing terdengar, suara tersebut terus berdering, lalu Aku baru menyadarinya.


(itu suara Bell…)


Mata terbuka, Aku bangun.


“huaaamm….”


“Nyeyak tidur Ndi?” Nabila bertanya,


“yaa syukurlah, puasku tidur. Selanjutnya pelajaran inikan?” Aku mengeluarkan buku cetak.


“hmmm… Andi sekarang sudah jam istirahat pertama. Kamu tertidur di 2 mata pelajaran…” Tia menjelaskan.


“pantas rasa kantukku sudah hilang… yowes, istirahat lagi. Mau kekantin?”


Seperti biasa, kami memesan makanan yang berbeda. Kali ini Aku meminta Ikhsan untuk bergabung sekaligus ingin meminta tolong sesuatu padanya.


“maaf Aku telat…” Ikhsan muncul dengan membawa makanannya.


“gak apa, santuy”


“jadi ada perlu apa?”


“Aku baru dapat info, kalau komputerku sudah bisa diambil. Jadi sore nanti, kita singgah ke toko komputer untuk ambil komputerku?”


“Asssiikkk komputer baru. Ok aman kalau itu. Aku juga sekalian ingin membeli sesuatu…”


Bantuan sudah didapatkan. Sepulang sekolah, kami berdua langsung menuju toko Netcomputer. Toko yang dimiliki oleh Ayah Acha dan tempat komputer baruku dirakit.


Suasana didalam toko cukup ramai, kebanyakan dari pengunjung merupakan mahasiswa yang ingin membeli perlengkapan komputer atau laptopnya.


“Halo mas, ada yang bisa dibantu?” tanya salah satu pegawai.


“mau ambil komputer Mas”


“kalau gitu, ada notanyaa?”


Aku baru ingat bahwa tidak ada nota yang kudapatkan dari Acha ataupun dari Ayahnya. Ketika kesini, komputerku berada di ruangan Ayahnya, sehingga tidak ada transaksi yang terjadi.


“tunggu ya mas, mau telpon kawan dulu…”


Aku segera menelpon Acha.


Satu panggilan,


Dua panggilan,


Tiga panggilan, tak kunjung diangkat.


(sepertinya dia sibuk…)


Aku teringat satu cara, namun belum tahu apakah akan berhasil atau tidak.


“Notanya enggak ada Mas, tapi saat itu langsung dikasih ke Bapak Rizky Setiawan, pemilik toko ini”

__ADS_1


“kalau begitu, saya konfirmasi dulu ke Bap-”


“Bapaknya pergi, belum kembali dari tadi” balas pegawai lain yang kebetulan mendengar.


“kalau gitu, saya duduk menunggu dulu Mas.”


Ikhsan menuju ketempatku sambil membawa beberapa barang yang dia perlukan yaitu USB Hub, Speaker, dan Adapter Bluetooth.


Ikhsan membayar dan kini ikut menunggu bersamaku. Namun hingga pengunjung tinggal 2 orang, kami hanya bisa terus menunggu Ayah Acha. Karena bosan, Aku membaca komik.


Disisi lain, para pegawai dikejutkan oleh datangnya salah satu pegawai senior ke toko.


“ini kenapa mereka duduk menunggu?”


“ini mas, mereka mau ambil komputer tapi gak ada notanya. Lalu katanya Bapak Rizky tahu kalau komputer itu miliknya”


“Bapak Rizky? Hoo begitu…”


Pegawai senior tersebut mendekati Andi.


“Mas… mau ambil komputer kan?”


“eh Mas. Iya Mas”


Aku mengingatnya, dia merupakan Mas yang kutemui ketika ingin merakit komputer. Kalau tidak salah saat itu dia ingin membuang sampah.


Mas tersebut kebelakang dan kembali dengan membawa sebuah kotak yang berisikan komputerku.


“ini mas… kata Bapaknya bawa pulang aja langsung, kalau ada apa-apa. Kabarin aja…”


“hoo begitu, makasih ya mas…”


Aku segera pulang bersama Ikhsan.


Disisi pegawai, mereka semua bingung melihat pegawai senior mereka yang bertingkah seperti itu.


“dia siapa Mas?” tanya salah satu pegawai yang bingung.


“Dia anak kenalan Bapak Rizky, Ayahnya merupakan orang yang memberikan modal kepada Bapak Rizky agar toko ini bisa terus berkembang. Dan Anak tadi juga sudah sering membantu Bapak Rizky merakit komputer ketika toko ini masih sangaaat kecil…”


“hooo begitu…”


“lain kali, kalau Dia datang. Mohon layani dengan baik”


“siap mas…”


Andi tiba dirumah.


Dengan cepat Aku memasang semua kabel yang dibutuhkan. Ada Dpi untuk menghubungkan monitor dengan komputer, kabel LAN untuk menghubungkan internet, kabel keyboard, mic, dan perlengkapan lainnya.


Hpku berbunyi, tanda pesan masuk. Setelah kulihat ternyata ada beberapa panggilan dari Acha dan pesan tadi dari dirinya.


“Saan… tolong pindahkan beberapa filenya, kalau udah. Cobalah…”


“ok…”


Aku segera keluar kamar dan menelpon Acha.


“Halo Assalammu alaikum…”


“waalaikum salam, akhirnya terhubung. Maaf ya tadi Acha tidak bisa angkat telponnya. Ada apa?”


“tadi mau nanya nota untuk ambil komputer, tapi tenang masalah itu sudah selesai dan komputernya sudah dirumah. Ini Ikhsan lagi mencoba. Lalu maaf kalau membuat Acha Khawatir”


“begitu ya, baguslah. Bisa tenang Acha”


“sehat kan? Sibuk kali nampaknya…”


“iya aman kok sehat, hanya ngurusin persiapan Osis untuk pertemuan seluruh Osis di Yogyakarta nanti”


“begitu ya… kalau butuh bantuan bilang aja ya. Semangat…”


“iyaa…makasih…”


Panggilan berakhir beberapa saat kemudian.


“Osis ya…”


Acha sudah banyak membantu kami, setidaknya Aku akan mencoba meringankan bebannya. Tapi pertama, mencari informasi terlebih dahulu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2