
Kedua tim bersiap.
“Final, tigaaa…Duaa…Satu…”
Kedua kelas saling tarik menarik dengan sangat kuat. Seolah seimbang, bendera kemenangan yang berada tengah diantara mereka seolah diam tidak berpindah kekiri maupun ke kanan.
“2 Ipa A PASTI BISA…!!!!”
“IPS Bisaa…!!!”
Sorakan untuk kelas Ikhsan lebih besar. Solidaritas antar anak Ips sepertinya tidak mempermasalahkan kelas. Tidak peduli dari tingkatan kelas apa, selagi mereka IPS, mereka akan mendukung kelas 1 IPS A untuk menang.
(jadi ini solidaritas anak IPS, sangat keren…)
Masku merupakan mantan anak IPS, dulu ia pernah bercerita tentang Kerjasama antar kelas sesama IPS untuk mengalahkan anak IPA. Kali ini aku berkesempatan bisa melihatnya secara langsung, dan sangat keren.
“IPS Bisaa…!!!”
“IPS Pasti Bisaa…!!!”
Namun teriakan semangat penonton untuk tim IPS tidak membuat bendera kemenangan kearahnya. Perlahan, bendera tersebut bergerak kearah kelas 2 Ipa A. Sedikit demi sedikit, mereka berhasil menarik bendera tersebut kewilayah mereka.
1 poin berhasil didapatkan oleh kelas 2 Ipa A.
Setiap tim diberikan waktu 3 menit untuk istirahat dan mengatur strategi untuk pertandingan selanjutnya.
“yaaah…kalah kelas Ichaa…” Tia mencoba menyemangati Icha,
“iyaaa, kalah 1 poin sih. Masih ada kesempatan dipertandingan selanjutnya…”
Waktu istirahat telah selesai, pertandingan kedua dimulai. Namun harapan untuk menang pupus ketika tim Ikhsan kalah lagi pada pertandingan kedua. Hanya butuh 1 kemenangan lagi agar kelas 2 Ipa A meraih kemenangan dan menang telak.
Istirahat telah selesai, pertandingan ketiga dimulai.
Ada yang berbeda di tim Ikhsan dari pertandingan sebelumnya. Kali ini hampir semua posisi anggotanya berbeda dari posisi sebelumnya. Seperti Ikhsan sebelumnya ada ditengah, sekarang berada di posisi terdepan.
Kesimpulanku mengatakan jika ia didepan, maka Ikhsan akan menjadi pengambil keputusan. Perubahan posisi yang mereka lakukan juga membawa perubahan pada poinnya. Dengan strategi mereka terbaru, poin berhasil disamakan.
Pertandingan terakhir.
Kali ini, kelas 2 Ipa A tidak menggunakan posisi miringnya.
“eh kenapa mereka tidak menggunakan posisi miring?” Nabila bingung,
__ADS_1
“sepertinya karena posisi itu sudah dikalahkan oleh kelas Icha”,
“benar sih, kelas Icha berhasil menyamakan poin. Kalau kelas 2 masih tetap ingin menggunakan posisi itu, besar kemungkinan mereka akan kalah. Tapi bagaimana tadi kelas Icha mengalahkan posisi miring itu Ndi?”,
“dari yang kulihat, kelas Icha tiba-tiba tidak menarik dan membiarkan tali tertarik. Ketika itu dilakukan, kelas 2 akan terkejut dan hampir jatuh kebelakang karena gaya yang mereka tarik lebih kecil dari pada gaya yang mereka lakukan, lalu ketika mereka mau terjatuh, tubuh akan mencoba mengubah posisi dari miring menjadi lurus kembali. Nah ketika posisi mereka sudah tidak miring lagi, kelas Icha akan menarik dengan sekuat tenaga sebelum mereka bersiap kembali.”
Disitulah Ikhsan menjadi peran penting, ia didepan memastikan bendera belum masuk kewilayah mereka. taktik berhasil dilakukan walau taktik itu memiliki satu kelemahan yang cukup besar.
“begitu yaa…”
Tarik menarik telah dimulai.
“2 Ipa A PASTI BISA…!!!!”
“IPS Bisaa…!!!”
Lagi, sorakan penyemangat terus berkumandang menyampaikan harapan mereka untuk kemenangan.
“Ayoo IPS Bisaaa!!!” Icha bersorak.
Dari awal pertandingan, dia selalu menahannya. Mungkin dia malu atau mungkin dia sudah merasakan atmosfer semangat dari lomba? Yang mana saja alasannya tidak penting. Kami membantunya dengan ikut bersorak.
“Ayoo IPS Bisaaa!!!”
Perlahan, bendera kemenangan bergeser kesatu sisi. Setiap sorakan yang kelasnya berikan, bendera kemenangan bergeser kearah kelasnya. Sedangkan lawannya, sekuat tenaga berusaha untuk menahan dan menarik bendera kemenangan kearahnya. Namun tenaga yang mereka butuhkan tidak cukup untuk menahan bendera kemenangan untuk tidak menjauh, apalagi untuk menarik bendera kearahnya. Perlahan, bendera kemenangan menjauhi mereka, lalu berhasil memasuki wilayah musuh.
Pertandingan berakhir.
“Selamat kelas 2 Ipa A berhasil meraih kemenangan!!!!”
“yeaaay…..”
Dibalik rasa senang dari satu tim, pasti ada rasa sedih dari tim lainnya. Rasa sedih itu yang kini dirasakan oleh salah satu penonton terdekatku Icha.
“chaa, aman?”
“aman kok Ndi, gak apa. Mereka sudah berjuang dan kami sudah membantu mereka. berarti emang seginilah hasil yang saat ini bisa kami raih”
Baguslah dia berpikiran seperti itu, terkadang disaat kita sedih lebih baik berpikir secara positif. Namun satu hal yang membuatku sadar dari perkataan Icha barusan. Kelas 1 baru dibentuk satu bulan, dengan waktu segitu mereka sudah bisa bekerja sama, mengalahkan kelas 3 dan meraih posisi kedua. Apakah mereka bisa mengalahkan kelas 2 Ipa A ketika selesai ujian semester 1 nanti? Atau butuh waktu lebih lama?. Aku berharap kelasku bisa bersaing dengan mereka.
Istirahat dimulai.
Kami berpisah dengan Icha yang ingin kembali ke kelasnya. Sedangkan kami, lebih memilih duduk di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat lomba yang akan diadakan nanti siang, panjang pinang.
__ADS_1
Ada 3 pohon pinang yang sudah berdiri dari awal kami masuk sekolah. Kemungkinan pinang tersebut ditanam malam tadi, mengingat hari kemaren 3 pinang tersebut masih terbaring ditanah. Sekitar 10 panitia menggantungkan berbagai macam hadiah. Tidak banyak hadiah yang berukuran besar sehingga aku tidak bisa menebak hadiah apa saja yang ada disana. Yang jelas, ketiga pinang memiliki mahkota yang berada
dipuncaknya.
“sayangnya tadi kelas Icha, padahal tadi sudah seri poinnya” Tia memulai percakapan,
“iyaa benar, ahhh… padahal sedikit lagi tu mereka bisa menang” wajah kesal Nabila terlihat jelas,
“tapi bisa mendapatkan 2 poin melawan kelas 2 Ipa A sudah hebat”
“benarkah?” pertanyaanku membuat Nabila dan Tia terdiam,
“oiya, tadi Andi kan pergi. Jadi tidak tahu seluruh pertandingan” Tia mengingatnya,
“tau gak Ndi, kelas 2 Ipa A dikenal dengan julukan Ace. Dari kelas 1 mereka tidak pernah kalah, bahkan kebanyakan kemenangan yang raih selalu telak. Bisa dibilang kelasnya kumpulan para orang terpilih” Nabila menjelaskan dengan sangat detail,
“hoo begitu ya, aku tidak tahu informasi sedetail itu. Yang ku tahu kelas 2 Ipa A merupakan lawan yang kuat”
“naah lalu kelas Icha muncul mencoba melawan mereka, namun sayangnya kali ini mereka gagal. Tapi kenapa yaa?”
“timnya Ikhsan kelelahan…” balasku pelan,
“…?” Nabila dan Tia memiringkan kepalanya seolah memberikan kode tidak paham dan meminta
penjelasan detail,
“masih ingatkan cara mereka dengan tidak menarik tali?”
Nabila mengangguk, sedangkan Tia menggelengkan kepalanya. Aku menjelaskan kembali ke Tia karena hanya Nabila yang mendengarkan penjelasanku tadi.
“taktik tidak menarik tali memiliki satu kelemahan yaitu membutuhkan tenaga yang lebih besar. Lalu ketika pertandingan terakhir tenaga yang memiliki tidak sebanyak tenaga yang dimilki kelas 2 Ipa A. oleh karena itu mereka kalah”
“begitu ya…” Nabila membalas dengan lemas,
“kapan ya kelas kitab isa bersaing dengan kelas 2 Ipa A?”
“ada waktunya Tia, kita lihat aja nanti…”
Perkataanku membuat kami bertiga membahas berbagai persiapan kedepannya. Tanpa terasa azan zuhur berkumandang, kami berpisah.
Selesai shalat dan makan siang, perlombaan terakhir akan dimulai. Namun ketika aku kembali ke kelas, suasana kelas terasa berbeda.
“koe, sini…”
__ADS_1
(bersambung…)