Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 61 - Saling Membantu


__ADS_3

Keesokan harinya, jam istirahat siang.


Aku membawa beberapa makanan ringan ke ruangan ekskul. Disana ada seseorang yang mungkin tahu cara meringankan beban Acha dan orang tersebut mengajukan untuk bertemu di ruang tersebut.


Tok!!!...Tok…!!! “Assalammu alaikum…!!!”


Tok!!!...Tok…!!! “Assalammu alaikum…!!!”


Tok!!!...Tok…!!! “Assalammu alaikum…!!!”


(tidak ada orang…)


Menikmati makanan yang kubawa sambil menikmati pemandangan sekolah dari atas menjadi hal yang bisa kulakukan saat ini. Kalau dipikir-pikir ini bukan pertamakalinya Aku melakukan ini, tapi tidak apa. Aku menikmatinya.


Walau matahari cerah, panasnya tidak membuat kulitku terbakar. Angin yang terkadang menyapa segera menghilangkan rasa panas. Dari atas, Aku bisa melihat ada siswa siswi yang sedang menikmati makanan berdua, ada kumpulan siswi yang sedang belajar, dan ada kumpulan siswa yang sedang asik bercerita.


“Andi…!!!”


Suara yang kukenal membuyarkan lamunanku. Bahkan tidak kusangka akan bertemu dengan pemilik suara itu.


“Achaaa… ada keperluan di ruangan ekskul?”


“iyaa, ada beberapa barangku yang tertinggal. Lalu Andi sendiri kenapa?”


“ya sama, tapi masalahnya pintu terkunci. Acha ada kuncinya?”


“yaaahh… kalau itu belum dikasih sama Pandu Duplikatnya.”


“hadeh… ya udah tunggu aja sambil menikmati sekolah”


Acha mendekat.


“Mau…?” Aku menawarkan beberapa makanan ringan,


“makasih…” Acha mengambilnya. “Ndi…?”


“iyaaa?”


“kemaren saat turnamen, kan ada yang ganggu Acha…”


“si Rangga ya…”


“iya, tapi gak apa sekarang udah gak ganggu lagi. Tapi Acha bilang ke Dia kalau udah punya…” suara Acha mengecil.


“Pacar ya…”


“eehh… kok tahu?”


“yaa cukup tahu, berita itu lumayan heboh di kalangan kelas satu.”


“Andi percaya?”


“yaa enggaklah, yang Andi percaya yaitu Acha mengeluarkan sebuah pernyataan agar Acha tidak diganggu lagi. Ya walau caranya sedikit salah sih, tapi tidak apa…”


“maaf…”


“yaa kalau itu kenapa pula harus minta maaf, setidaknya itu cara Acha melindungi diri sendiri… tidak apa…”


“makasih…”


Acha melihat kearah jam tangannya.


“aaaahh…sudah telat, maaf Andi. Acha duluan, sepertinya nanti sore aja ambil barangnyaa…”


“yaa…hati-hati”


“yaaa…” dengan buru-buru ia turun.


Sepertinya Aku lupa melupakan suatu hal untuk bertanya kepadanya. Aku kembali menikmat  sekolah.


4 menit kemudian.


“sudah lamakah nunggu?”


“yaa, lumayan Mas”


Akhirnya orang yang kutunggu tiba. Ia membuka pintu dan kami masuk kedalam.


“jadi, si Mbak Lulu ada kesibukan apa?”


“langsung ke poin masalah ya… bisa dibilang dia lagi sibuk Osis”


“disekolah mau ada event apa?”


“bukan disekolah… Event ini akan berlangsung setiapp 4 bulan sekali, sebuah pertemuan dengan seluruh Osis se-Yogyakarta. Jadi si Acha sedang menyiapkan beberapa berkas untuk persiapan pertemuan tersebut”


“urusan Osis ya, berarti agak sulit bagi orang luar untuk membantu?”


“hmmm… tidak juga sih, ada satu cara. Beruntungnya lokasi dan tanggalnya bersamaan dengan ekskul divisi Moba latih tanding ke sekolah yang sama dengan tempat pertemuan kali ini”


“dimana Mas?”


“sekolah SMKN 4 Yogyakarta…”

__ADS_1


“disitu ya…”


“yaa benar, kalau mau. Andi bisa mengantarnya dengan aman mengingat kemungkinan yang pergi hanya anggota Osis tertentu saja. Dan Andi bisa melihat bagaimana bentuk latihan dan ruangan ekskul game mereka.”


“jadi mata-mata ya…”


“yaa begitulah, jadi gimana?”


“baiklah, makasih…”


“sip…”


Tujuan didapatkan, saatnya kembali kekelas.


Selama pelajaran berlangsung, pikiranku teralihkan tentang bagaimana cara mengajak Acha pergi bersama. Sebenarnya bisa aja Aku melakukan melalui chat, tapi entah mengapa instingku mengatakan lebih baik secara langsung.


Tapi masalahnya kapan? Kalau langsung ke kelas 2, akan terlalu mencolok mengingat bagi orang luar Aku siswa yang tak dikenal. Kalau memintanya ketemuan sama saja dengan mengganggu waktunya.


(oiyaa, kan masih ada barangnya diruangan ekskul)


Aku kembali teringat dengan barangnya yang tertinggal diruangan ekskul dan belum diambil. Ketika Dia ingin pergi, Acha sempat mengatakan akan mengambilnya disore hari.


(kalau begitu, sore ini Aku akan menunggu disana)


Akhirnya pikiranku bisa fokus kembali, pelajaran terus berlanjut hingga sore hari.


Ring!!!... Ring!!!... Ring!!!...


“baiklah, untuk hari ini kita sudahi pelajarannya. Diharapkan untuk semuanya mengulang kembali sebelum pertemuan berikutnya”


“Selamat Soree…”


“Soree Pakkk!!!!”


Dengan cepat dan sigap Aku memasukkan semua buku kedalam tas untuk segera menunggu.


“tumben cepat Ndi?”.


“iya juga yaa, baru kali ini Aku melihat kamu seniat ini keluar” Nabila menambah pernyataan Tia.


“hadeh… lagi ada urusan mendesak”


“hati-hati yaa…”


“sip, Ku duluan yaaa…”


Dari lantai 3, Aku dengan cepat turun dan menuju ke Gedung ekskul yang berada searah ke gerbang sekolah. Namun tampaknya tujuan awal untuk menunggu diatas tidak akan pernah tercapai. Bukan berarti Achanya sudah pulang duluan, melainkan Aku melihatnya dia sedang menuju ruangan ekskul lebih dahulu dariku.


Setelah memastikan dia mencapai lantai 2, Aku segera mengejarnya dari bawah dan memastikan tidak ada orang disekitar.


Setiap ruang ekskul sudah terkunci, tidak ada orang yang mau naik keatas, dan kurasa sudah aman. Aku segera mengejarnya yang mau membuka pintu.


“Chaa…”


“Eehhh Andi…” Pintu ekskul dibuka,


“Ambillah dulu barang Acha, ku tunggu diluar aja”


“ohh… baiklah…”


Acha masuk kedalam, 1 menit berlalu. Acha keluar dan berdiri dipintu. Mungkin Dia jaga-jaga jika ada orang yang tiba-tiba datang, dia bisa masuk dan membuat diriku seolah sendiri.


(Tampaknya Ia sudah menemukan barangnya.)


Aku memperhatikan baik-baik wajahnya,


“kenapaa??? Ada apa?” tersipu malu,


“makan lah yang cukup, jangan sampai telat”


“yaa maaf, tadi banyak kerjaan”


“tugasnya apa aja?”


“input data ini, mengubah, dan kirim”


“mau dibantu?”


“yaa mau, tapikan akan menganggung jam latihan Andi…”


“hadeh… itu ya yang dikhawatirkan…”


“…”


“gini ya, kami tu masih lama. Latihan masih bisa ditunda. Dan lebih penting kami tu berhutang sama Acha. Karena Achalah yang ngurus kami. Jadi jangan sungkan untuk meminta tolong kepada kami.”


“yaa… makasih” air matanya keluar.


“yaa jangan juga nangis… kukira dah hilang cengengnya…”


“(hiks… Hiks…)”


“cup… cup… maaf kalau kasar. Hati-hati pulangnya, nanti malam Aku kerumah untuk bantu”

__ADS_1


“yaaa…”


“hati-hati dijalan…”


Aku turun duluan.


Malamnya, setelah memastikan semua perlengkapan seperti laptop, mouse, mousepad dan peralatan lainnya masuk kedalam tas. Aku siap menuju rumahnya.


“mau kemana dek?”


“bantu kawan ngetik…”


“maau ngedaatee sama Lulu dia Mbak!!!” teriak Ikhsan,


“Cieee…. Dimana?”


“dirumahnya…”


“kerenn… langsung dirumah, tidak main di café atau tempat umumnya”


“hadeh… serah Mbak aja lah”


“tunggu sebentar”


Mbak Hana segera kedapur, beberapa saat kemudian ia membawa sekantong plastik.


“ini bawa…”


“makasih…”


“hati-hati yaaa… titip salam ke Lulu…”


“iyaaa…”


Aku pergi meninggalkan rumah dengan menggunakan motor. Sebelum berangkat, Aku sudah memberitahukan Acha kalau Aku sedang menuju kesana.


Tidak ada yang perlu dipikirkan membuatku tanpa sadar sudah sampai didepan rumah Acha.


Bel ditekan, beberapa saat kemudian pintu terbuka.


“eeh Andi, sudah datang. Masuk-masuk”


“yaa bu… Makasih”


Ibu Acha mengantar keruang tengah, sudah ada meja dan minuman yang tersedia. Segera Aku mengeluarkan laptop dan keperluan yang lain.


(ok, semuanya aman…. Oiya)


Aku melupakan plastik yang disiapkan oleh Mbak Hana.


“ini Bu, ada sedikit cemilan dari Mbak”


“oohh, terimakasih yaa… dan Andi tunggu sebentar, Acha masih makeup dulu”


“Hadeh… dah cantik kenapa pula harus pake makeup lagi…”


“nah benar itu, Padahal Ibu sudah bilang tapi dia gak mau…”


5 menit kemudian berlalu.


“maaf lama…” Acha akhirnya muncul.


“aaahh… lama kali… pengen pulang aja rasanya”


“tuuh kan, Andi malah ingin pulang”


“yaa maaf…”


“yaa dimaafin, lain waktu tidak perlu makeup. Kan dah cantik…”


“iyaaa….” Wajah Acha memerah.


Kami mulai mengetik.


Terkadang, Ibu Acha ikut nimbrung dan membantu kami. Terkadang Acha ngambek setelah ku ejek karena ketikannya yang lama dan terkadang Aku rebahan karena kelelahan. Semua itu entah kenapa menjadi hal seru bagiku.


“oiya, hari H mau berangkat sama?” ku baru ingat dengan tujuanku,


“eh, Andi juga ke SMKN 4?”


“iyaa ada urusan, jadi mau sama?”


“boleh… makasih ya…”


Misi selesai.


Malam itu, ngetik terus berlanjut.


“gak sabar Aku hari H?”


“apa?”


“gak ada…” Acha mulai menyangkal,

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2