Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 43 - Perkenalan


__ADS_3

“eh, Lulu kok disini?”


Sebuah kalimat simpel yang sepertinya akan membuat malamku terganggu. Pemilik suara mendekati kami dan duduk disampingku.


“ohh, Sarah ya. Kenapa kalau Aku disini?”


“baguslah, soalnya jarang Aku bisa melihat Lulu selain di sekolah”


Selama Aku bersekolah, entah kenapa dia selalu ingin bersaing dengan diriku. Seperti lomba memasak dan Cerdas kemaren, dia mengikuti dengan tujuan mengalahkanku. Beberapa temanku mengatakan kalau Sarah adalah salah satu murid yang bisa menyaingi kepintaranku dan itu benar. Di beberapa event ketika kelas satu, ia pernah mengalahkanku.


“kenalkan namanya Sarah kelas 2 Ipa B”


“haloo Mbaak…” teman-teman Andi membalas,


“sepertinya Lulu dekat sama kelas 10 yaa”


“yaa begitulah Rah, Aku ingin menambah teman dari berbagai kalangan”


“kalau begitu Aku jugalah, yang cowo namanya siapa?”


“Ikhsan Mbak, dari kelas X Ips A”


“yang cewe?”


“Aku Nabila dan sampingku Tia…salam kenal Mbak…”


“salam kenal, berarti kalian dari kelas yang sama dengan si Ikhsan?”


“oh enggak Mbak, kami berdua dari kelas X Ipa D”


“hoo begituu…” balas singkat Sarah namun dengan senyuman yang besar.


“permisi... ini pesanan meja 12 ada Vanila Latte, Red Velvet, Espresso dan Milkshake Vanila. Lalu untuk cemilan ada kentang goreng, tahu, dan Nugget”


“Terimakasih Mbak…”


Pesanan kami tiba, namun Andi tak kunjung kembali. Rasa khawatir kurasakan tapi segera reda ketika sebuah pesan dari Andi masuk.


“Aku lagi ada urusan sebentar, nanti kembali”


“ok…”


Syukurlah Andi tidak kembali dalam waktu dekat, karena Aku tidak mau Sarah mengetahui tentang Andi.


“oh, sepertinya Milkshake tidak ada yang mengambil”


“bukan, itu punya temanku. Dia lagi ada urusan di kamar mandi”


“begitu ya, kalau begitu Mbak saya ingin mesan eskrim goreng, roti bakar, tahu bakso, Donat Keju dan Brownies. Tenang yang ini biar aku yang traktir kalian. Sebagai ungkapan perkenalan.”


“kalau itu tidak perlu Mbak”


“eh…?” kami semua bingung dengan perkataan Mbak pegawai,


“meja 12 mendapatkan gratis pembayaran”


Wajah Sarah berubah, senyuman besarnya menghilang. Seakan ajang pamer traktirnya telah gagal karena sekarang Dia yang ditraktir oleh orang lain didepan kami.


“siapa yang bayarin kami mbak?” tanyaku penasaran,


“kurang tahu juga sih mbak, saya hanya mengikuti perkataan atasan”


“kalau gitu, terimakasih mbak…”


Kepergian Mbak pegawai sepertinya tidak membawa kebingungan kami.


“dari pada bingung, mending kita nikmatin aja lagi” sebuah ajakan simpel Ikhsan yang membuatku sadar, kalau rezeki tidak baik ditolak.


Selama 20 menit kedepan, kami seperti menceritakan rangkuman dari lomba kemerdekaan. Masing-masing dari kami membagikan pengalamannya dalam lomba yang diikuti. Seperti Tia yang mengikuti Masak, Nabila mengikuti menggambar dan Ikhsan yang mengikuti 4 lomba seperti cerdas cermat, video, Ranking 1, dan Panjat pinang. Banyaknya Ikhsan mengikuti lomba menjadikannya pencerita terlama diantara kami.


“Baiklah, terimakasih atas perkenalannya. Aku mau pamit dulu karena kawan-kawanku sudah datang, jadi mau pindah meja dahulu”


“ok Sarah…”


(Akhirnya dia pergi..)


Beberapa menit kemudian Andi akhirnya kembali.

__ADS_1


“Kenapa lama Andi?” keluhku kepadanya,


“yaa maaf Cha, tadi ketemu Bibiku. Jadi panjang lebar ceritanya”


“iya deh, dimaafin…”


“lalu, kenapa ada pesanan tambahan?”


“ada kawanku yang ikutan bergabung-”


“hooo gitu, mana Dia?”


“sudah pergi, lagipula gak kan Acha kenalin Andi”


Ya Aku takut dia akan diganggu oleh Sarah, atau Aku takut Sarah akan mencuri Andi dariku?


“ya udah ikut kata Acha”


“nah gitu dong”


Ikhsan Tia dan Nabila diam melihat kami.


“kalian pacaran?” sebuah pertanyaan dari Ikhsan yang membuat wajahku memerah,


“enggaklah, kan sudah ku kasih tahu prinsip Aku”


“yaa gimana ya, gaya kalian seperti pasangan”


(ah tolong jangan berkata lagi, Aku malu tapi senang mendengarnyaa…)


“hadeh, yaa mau gimana lagi. Dari kecil emang dah dekat kami”


“Andi waktu kecil gimana Mbak Lulu?”


“Dia selalu…”


Aku menceritakan masa laluku dengannya, seperti Andi yang menemaniku pulang, membantu mengerjakan tugas, mengerjaiku, mengajakku bermain game, dan hal-hal yang menyenangkan. Terasa seperti mengalami kembali kejadian bersamanya.


“ya udah sekarang giliranku” Andi melanjutkan cerita dariku,


“cerita apa tu Ndi?” Tia penasaran,


Teman-temannya terdiam, Aku malu dan marah. Mencubit lengannya menjadi pelampiasanku terhadapnya.


“Aahhh!!!...tapi sekarang Dia sudah menjadi cewe yang tidak seperti dulu. Sekarang jauh


lebih baik…”


(ah…kesalku…)


“oiya san, Acha masuk ekskul game jadi bagian Administrasi. Lalu tournament kita, Acha yang ngurus”


“hoo begitu, mohon kerjasamanya Mbak”


“selagi disini, Aku minta nomor hpnya ya. Biar mudah menghubungi. Ke Tia dan Nabila juga”


“eh yaa, ini Mbak”


Aku teringat perkataan Andi tadi mengenai prinsipnya. Ada rasa ingin kutahu seperti apa detail prinsipnya namun entah kenapa perasaanku mengatakan lebih baik tidak perlu tahu. Dengan mendapatkan nomor telpon teman-teman Andi, Aku bisa mendapatkan informasi yang tidak kuketahui. Kami saling bertukar nomor.


“makasih, tolong jangan disebarin ya.”


“ok Mbaak…”


Ada alasan kenapa Aku tidak mau nomorku tersebar, salah satunya ialah lelah membalas chat cowo yang tidak kukenal dan menyia-nyiakan waktuku belajar.


“saatnya balik lagi Cha…”


“eh…sudah mau jam 10 ya?”


“yaa begitulah, gak mau aku dimarahin Ayah Acha”


“haha..baiklah…”


Kami semua pulang, Tia semotor dengan Nabila dan pulang duluan, Ikhsan selanjutnya menyusul pulang. Tertinggal Aku dan Andi. Disaat kami mau menyalakan motor, ponsel Andi berbunyi.


“yaa? Hoo yaa…ok” menyimpan kembali ponselnya, “Acha ikut Andi ya”

__ADS_1


Dengan patuh Aku mengikutinya, melewati bagian kasir, masuk kedalam ruangan pegawai dan berhenti dipintu dengan ruangan yang cukup besar.


Tok tok…


“Bi…ini Andi”


“ya masuk…”


Kami masuk kedalam ruangan yang sederhana dan sejuk. Seorang Wanita seumuran Ibuku menunggu kami, lebih tepatnya Andi.


“siapa dia?”


“Kawan Andi Bi, namanya Acha”


“salam kenal Tante…”


“salam kenal, saya Bibinya Andi. Cantik ya kamu Acha”


“makasih Tante…”


“duduk dulu sebentar…”


Beberapa saat kemudian pegawainya masuk membawa beberapa bungkus makanan yang dijualkan di café.


“ini untuk yang dirumah, dibawa pulang… ada juga untuk Acha. Bibi titip salam sama yang lainnya ya…”


“iyaa, makasih Bi…”


“makasih Tante…”


Ternyata tujuan utama kami kesana ialah mengambil makanan dari Bibi Andi yang ternyata pemilik dari Café ini. Sekarang Aku mengerti kenapa ia berbicara lama dan kami mendapatkan gratis pesanan. Semua itu berkat Bibinya.


“kenapa gak bilang kalau Bibimu pemilik Café ini Ndi?”


“eh, Aku belum bilang ya. Aku juga kaget saat mesan tiba-tiba dipanggil kearah ruangannya”


“haha gitu ya, lalu mengobrol lama”


“karena itu belum bisa kembali”


Kami pulang dengan penuh tangan. Tujuan utama saat ini ialah rumah Andi, karena dari awal kami pergi menggunakan motorku dan motor yang digunakan oleh Ikhsan adalah motor Andi, jadi aku harus mengantarkannya pulang. Dan katanya ia mau memberiku sesuatu.


Disepanjang perjalanan, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Mungkin lelah memaksa kami untuk diam menikmati kensunyian berdua berkendara. Dan Aku suka ini.


Angin mulai menghilang, kecepatan motor diturunkan, beberapa tanda sudah sampai di rumah Andi. Dia memasukkan motorku kedalam agar tidak membuatku menunggu diluar pagar. Depan terasnya Aku duduk menunggu sambil memberitahu kepada Ayah posisiku saat ini.


Pintu kembali terbuka dengan Andi membawakan sebuah kotak yang cukup besar.


“ini untuk Acha, ya siapa tahu Acha ingin bermain game”


“inikan alat yang dibuat Ayah Andi”


“yaa gitulah, kalau main kabarin yaa…”


“makasih Ndi, ya Acha pasti main”


“oiya, kalau untuk Adik kabarin aja”


“sip aman, itu tergantung Ujiannya”


“haha biar dia fokus ya”


“yaa benar, akan bahaya nilainya kalau dikasih alat ini sekarang”


Adikku memiliki hobi yang sama dengan Andi, mengetahui Andi yang satu sekolah denganku


membuatnya senang. Sepertinya jika ia tahu Aku punya alat ini akan membuatnya iri.


Andi mengeluarkan motorku.


“Hati-hati dijalan”


“yaa…”


Aku pergi meninggalkannya. Kembali menuju kerumah.


(ah gak sabar untuk hari senin bertemu dengannya lagi…)

__ADS_1


(Bersambung…)


__ADS_2