Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 34 - Makan Berdua


__ADS_3

POV Andi


Makan siang kali ini cukup berbeda. Biasanya aku hanya makan dengan lauk pesanan kantin, namun kali ini ada satu lauk tambahan yang menemani lauk kantin. Lauk tersebut kudapatkan dari Mas Pandu setelah memaksaku untuk datang ke wilayah ekskul sebelum makan siang ini. Dia memberikanku sebuah kotak makanan, tanpa perlu dia jelaskan aku bisa tahu isi dan pemberi sebenarnya.


Untuk mengamankan situasi, Aku memilih makan di dalam ruang ekskul game. Tentu aku harus bolak balik dan sudah mendapatkan izin dari senior. Tidak ada larangan untuk makan didalam ruangan ekskul, lagi pula melihat Mbak Dinda yang menggunakan ruangan ekskul layaknya ruangan istirahat pribadi membuatku yakin bahwa ruangan ekskul hampir 100% hak siswa/i untuk mengaturnya.


Pintu sengaja aku biarkan terbuka untuk memudahkan sirkulasi udara.


(saatnya makan…)


Mengingat makanan tambahan berupa Ikan, aku membeli lauk dari kantin sebuah makanan sederhana yang bisa dimasak oleh hampir semua pelajar yaitu telur dadar. Lalu beberapa sayur sebagai pelengkap makan siang kali ini.


Nasi-telur-nasi-ikan-nasi-sayur. Kira-kira seperti itulah urutanku makan.


(tunggu, ini kok pedas ya…)


Memang sih namanya yaitu asam pedas manis patin, sehingga 3 perpaduan rasa tersebut menyatu secara merata. Namun yang kurasakan seperti asam pedas pedas patin, manisnya menghilang dan pedasnya lebih banyak. Prinsipku makan ialah makan untuk kenyang. Lalu hubungannya apa? Jika makan sesuatu yang pedas, aku harus minum untuk mengurasi pedas tersebut, kebanyakan minum bisa membuat perut terasa kenyang, sedangkan kenyang karena air membuatku cepat lapar. Cepat lapar menjadi suatu hal yang tidak ku sukai, oleh karena itu pedas yang menjadi penyebab utama menjadi hal yang tidak kusukai juga.


Satu-satunya cara untuk tetap bisa menikmati lauk pemberian Acha ialah tidak mencicipi kuahnya, karena rasa pedas tadi lebih banyak berada dikuah. Aku memindahkan ikan ke tempat telur dadar, lalu hanya mengambil sesendok kuah jika ingin merasakannya lagi.


Kenikmatanku terganggu ketika seorang siswi mengetuk pintu yang terbuka, siswi tersebut merupakan senior yang sering berada diruangan ini yaitu Mbak Dinda.


“eh…ada kelas satu yaa…”


“iyaa mbak”


“kenapa makan disini?”


“lebih tenang aja mbak”


Ketenangan merupakan alasan keduaku memilih makan disini, alasan pertama tentu agar orang lain tidak tahu kalau aku mendapatkan Asam Pedas Manis Patin. 30 menit setelah pertandingan dimulai, hampir seluruh siswa/i sudah mengetahui bahwa Acha akan memasak makan tersebut, dan itu menjadi topik hangat disekitar penonton. Tentu Aku hanya bisa diam dan mendengarkan semua perkataan mereka tadi, jumlah  penonton memasak juga lebih banyak dari lomba Cerdas cermat.


“hoo begitu, kalau itu jawabannya berarti kita sama”


“eh…”


“alasan mbak kesini kan mau makan dengan tenang juga”


Segera dia mengeluarkan bekal makan siangnya.


(jadi seperti ini bekal makanan cewe)


Dia memiliki lauk yang banyak namun jumlahnya sedikit, sekilas aku melihatnya dan mengetahui ada 1 potong paha ayam tepung, 2 nugget, setengah telur dadar, sayur, 2 sosis dan 2 tahu. Jelas jauh berbeda dengan makanananku yang hanya ditemani oleh telur dadar, sayur, dan ikan patin.


Hanya mengenal nama, jarang berbicara, dan tidak mengenal satu sama lain. Namun kini kami makan berdua dalam ruangan pribadi layaknya pasangan pacaran.


“kok kamu ada lauk itu?” menunjuk kearah ikan patin,


Untungnya yang memberikan lauk itu mas pandu, sehingga aku tidak perlu mencari alasan dan cukup jujur mengatakannya.


“tadi dikasih mas Pandu Mbak”


Ya benar, cukup memberitahu kebenaran dan serahkan semuanya kepada mas Pandu.


“hoo begitu ya, ku kira kamu mendapatkannya langsung dari Mbak Lulu”


“…?”

__ADS_1


“benar sih, tidak mungkin kamu mendapatkannya secara langsung darinya, mungkin Pandu yang sedang tidak minat ikan memberikannya kepadamu”


Harapan untuk terpikir bahwa itu alasan yang pas dengan memperlihatkan wajah bingungku sepertinya berhasil. Dengan ini aku bisa dengan tenang tanpa perlu mencari alasan lain.


“bisa jadi mbak, lagi pula aku tidak menanyakan alasannya”


“lagi pula dia selalu memberikan sesuatu ke banyak orang, setidaknya itulah rumor yang selalu ku dengar”


“hoo…” jawabku datar,


“kamu tidak tertarik dengannya ya?”


“siapa?”


“Mbak Lulu Farasya!!!”


“emang aku harus tertarik dengannya?”


“ehhh!!!”


Ok, suaranya cukup besar. Dengan pintu yang terbuka membuat suaranya terdengar hingga keluar dan suara terkejutnya memaksaku menghentikan makan.


“kamu sudah melihatnyaa kan?”


“iyaa”


“lalu bagaimana menurutmu?”


“yaa begitu”


Aku sudah mengenalnya dari kecil, aku mengetahui sifatnya yang mungkin tidak banyak diketahui oleh siswa/i disini. Memang benar dia kini sudah SMA, namun dipikiranku masih banyak bayang-bayang sewaktu kami kecil dulu. Apa mungkin pandanganku akan berubah jika bayangan tersebut diganti dengan bayangan yang akan datang?


Aku harus memikirkan jawaban tepat namun butuh waktu untuk memikirkannya.


“begitu yaa, selesai makan akan ku kasih tau mbak”


“ohh benar, maaf menghentikanmu makan. Itu tidak baik. Omong-omong, ini tidak aku habiskan?” ia menunjuk ke arah kuah asam pedas manis.


“tidak mbak, cukup pedas bagiku”


“boleh mbak mencicipinya?”


“ya silahkan”


Dia mengambil kuah tersebut dan mencampurkan keseluruh nasinya, lalu aku menambahkan sedikit potongan ikan.


“makasih ikannya, kalau begitu ini”


Membalas perbuatanku, Dia memberikanku 1 sosisnya. Berdua, kami melanjutkan untuk menikmati makan.


Makanan sudah habis dan alasan yang tepat sudah kupikirkan, sisanya bersiap dengan apa yang akan terjadi dikemudian hari.


“lalu apa alasannya?”


“aku tertarik dengan cewe bukan dari penampilan yang menjadi poin utamanya, melainkan cara berpikirnya. Bisa dibilang kalau aku sudah berbicara dengan seorang cewe dan kami memiliki pola berpikir yang sama, itu membuatku tertarik dengannya. Namun arah tertariknya belum tentu ingin menjadikannya seorang pacar melainkan menjadinkannya teman. Begitulah jawabanku”


“hoo begitu, karena kamu belum pernah berbicara secara langsung dengan Mbak Lulu membuatmu tidak memiliki kesempatan untuk tertarik dengannya”

__ADS_1


“yaa… anggap saja seperti itu mbak”


Aku selamat dengan memanfaatkan pengalaman dan setengah kebenaran.


Bell penanda istirahat telah berakhir berbunyi.


Lomba selanjutnya akan diadakan secara bersamaan. Pameran hasta karya dari limbah plastik yang akan diadakan ditempat yang sama dengan lomba memasak yaitu aula, sedangkan lomba menggambar akan diadakan digedung yang sama saat ini aku berada.


(sepertinya aku tida perlu buru-buru kesana…)


Dari lantai 3, aku bisa melihat banyak siswa/i. ada yang sedang berkumpul dengan teman-temannya, ada yang berduaan, bahkan ada yang menikmati kesendirian.


Ponselku berbunyi, tanda sebuah pesan kuterima.


“dimana Ndi?”


“ruangan ekskul, kenapa emang san?”


“bisa ke Aula?”


“ok otw”


Aku pamit ke Mbak Dinda. Sebelum ke Aula aku menuju kantin untuk mengembalikan piring. Tidak seperti perkiraanku, Aula cukup ramai oleh siswa/i. Ada berbagai hasil karya yang dipajang, seperti tas, lampu tidur, hiasan, bunga, dan sebagainya. Dari seluruh karya, ada beberapa karya yang dilihat oleh siswa/i. Sebuah karya berbentuk bunga matahari dengan ukuran 1:1 dari ukuran asli, tidak hanya satu bunga melainkan 5 bunga tersusun rapi. Karya tersebut dari kelas XI Ipa A, kelas Acha.


“kenapa san?”


Sebelum memasuki Aula, aku membaca pesan terakhir Ikhsan yang memberikan lokasinya berada. Dia berada di barat dari bunga matahari tersebut. Melihat kumpulan orang, memudahkanku untuk menemukan lokasinya berada.


“tolong setting Handycam ini”


“hoo ok”


“makasih, soalnya dikelas gak ada yang paham Handycam. Sedangkan yang punya hari ini tidak bisa datang”


“begitu yaa, untuk lomba besok?”


“yaa hari ini terakhir ngumpulin footage-nya dan nanti malam akan di edit”


Salah satu lomba terakhir ialah video yang menampilkan berbagai perlombaan dihari pertama dan kedua. Dari hari pertama aku sudah melihat berbagai orang yang membawa kamera atau handycam untuk merekam, termasuk kelasku. Bahkan ketika lomba memasak sudah seperti salah satu acara tv yang sedang mengadakan


perlombaan.


“ok kelar”


“makasih”


Rombongan teman Ikhsan datang menghampiri, mereka membawa karya dari kelasnya, berbentuk sebuah bunga mawar yang indah. Dari pot hingga hiasan lainnya terbuat dari plastik. 2 buah tatapan menuju kearahku, tatapan tersebut berasal dari rombongan. Setelah kuperhatikan, tatapan itu berasal dari 2 cewe yang kukenal. Mereka adalah cewe yang selalu ku lihat berada didekat Ikhsan, Desti dan Sheyla. Mereka berdua seperti mengisyaratkan untuk mengusirku. Lagipula urusanku disini sudah selesai, sebaiknya aku menuju lomba menggambar.


“yaa udah, aku pamit dulu”


“ok, makasih yaa”


Aku pergi.


Sekilas aku melihat karya dari kelasku, sebuah karya plastik berbentuk tas yang indah namun sederhana. Mungkin kesederhanaan membuat sedikit siswa/i untuk melihatnya. Didekat karya tersebut seorang siswi berdiri seorang diri, kalau aku benar namanya Sandra. Namun aku salah, beberapa saat kemudian seorang siswa mendekatinya. Siswa dari kelasku bernama Fauzan. Dengan kameranya ia mulai merekam dan mengumpulkan footage yang dibutuhkannya.


Lagi-lagi perkiraanku salah, lomba menggambar banyak digemari oleh siswa/i. Semua peserta berada didalam ruangan, sedangkan penonton melihat dari jendela. Aku penasaran lalu mencoba mendekat untuk mencari tahu apa penyebab dari keramaian ini.

__ADS_1


(ternyata gara-gara dia ya…)


(bersambung…)


__ADS_2