
POV Andi
Kring-kring, Bel istirahat pertama.
Belum ada chat dari Ikhsan, jadi ku akan menunggunya hingga ia tiba atau memberi kabar.
“gak ke kantin ndi?”
“nunggu kawan dulu, tolong amanin meja ya Nabila. Tuk 4 orang lah tuk kawanku satu. makasih”
Nabila dan Tia pergi kekantin. Browsing mencari info film bioskop ku lakukan selagi menunggu Ikhsan yang tak kunjung datang.
Sebuah langkah kaki mendekati tempat duduk.
“ayo makan”
Melihat kesumber suara, Ikhsan berdiri didepanku. Segera kami menuju kantin.
“kok lama?”
“yaah maaf, tadi perkenalan dulu.”
“hoo, gitu. Aman sekolah? Atau ada yang kau bingungkan?”
“hmm, mungkin detail peraturan sekolah. Bisa kau jelaskan?”
Menjelaskan peraturan dasar sekolah menjadi topik utama yang kami bicarakan selagi menuju kantin.
Tiba dikantin.
“jadi gitulah peraturannya, ya untuk anak baik-baik kayak kau, amanlah…”
“ya belum tentu juga lah.”
“sekarang perlu pula ku jelaskan cara memesan makanan?”
“gaklah, bisa ku mesan sendiri.”
“ok, setelah mesan ke arah sana ya. Temanku dah amanin meja.”
“ok”
Setelah memesan makanan yang sama dihari pertama sekolah, ku menuju Nabila dan Tia yang sedang menikmati makanannya.
“mana kawanmu Ndi?” tanya Tia sambil meniup Bakso.
“lagi mesan makanan”
Menunggu Ikhsan, ku melanjutkan Browsing film yang ingin ku tonton.
“ah ni dia…” Ikhsan bergabung dengan kami.
“perkenalkan, ini Ikhsan teman lamaku dia kelas X IPS A, lalu ini Tia dan Nabila , kita X IPA D”.
“salam kenal…”
Selama makan, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Mungkin rasa lapar membuat kami ingin fokus makan terlebih dahulu. Terbukti tidak butuh waktu lama bagi kami menghabiskan makanan.
“minggu mau ikut nonton gak san?”
“film apa dulu?”
“ini.” Menunjukkan poster film.
“hoo itu, boleh-boleh. Ikut ku”
“Nabila Tia mau ikut gak?”
“kalau ku, skip dulu Ndi. Minggu ini mau bantu pamanku dulu”
“ok”
__ADS_1
“Nabila gimana? Genrenya Action Detective”.
“sepertinya kau dah baca pikiran aku ya…ok ku ikut”.
Selagi menunggu pelajaran selanjutnya, kami menghabiskan waktu dengan perkenalan kembali. Asal kota, asal SMP, hobi, bahkan sampai hal yang menurutku tidak ada faedahnya yaitu ukuran sepatu. Semakin banyak kita berbicara dengan orang lain, maka semakin banyak juga kita akan mengenal dia. Mungkin itu yang sedang kami
lakukan untuk mengenal satu sama lain. Namun sayang, bel sekolah mengakhiri pembicaraan kami saat ini.
“ayo balek kelas” ajak Tia yang duluan berdiri
**
Siang. Istirahat kedua sudah dimulai.
Seperti biasa melakukan rutinitas Ibadah siang. Sebuah pesan masuk kedalam hp, pengirim Ikhsan.
“makan gak?”.
“ya, tapi nanti nyusul. Mau ke Perpus dulu”.
“ok, mau makan apa?”.
“sama aja kayak kau”.
“woke”.
Perpustakaan disekolah cukup lengkap. Tidak hanya buku pelajaran yang disediakan, bahkan buku hiburan seperti Novel, komik dan lainnya juga disediakan. karena buku seperti itu cukup digemari oleh anak SMA. Alasan utama ku kesana ialah ada sebuah Novel yang dijual terbatas. Saat itu ketika novel tersebut dijual, diriku masih belum menyukai novel. Maka dari itu melewatkan penjualannya. Lalu ketika mulai menyukai novel dan tahu kalau novel tersebut dijual terbatas membuat diriku terkejut. Setelah mencari di internet bahkan toko buku dikota yang pernah ku tinggali tetap tidak ada. Ternyata salah satu novel tersebut berada diperpustakan sekolah ini.
Ku baru tahu kemaren saat berkunjung kesana dan bertanya ke penjaga mengenai buku tersebut. Saat itu perpustakaan masih belum kosong karena perpustakaan baru diperbarui. Hari ini buku tersebut akan dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan bisa dibaca atau dipinjam.
Ruang perpustakaan baru terasa cukup luas dan lebih nyaman. Menuju barisan novel dan membawanya ke penjaga untuk disimpan itu menjadi misi utamaku saat ini.
(ok, buku telah dapat, selanjutnya membawa ke penjaga dan meminjamnya…)
Saat keluar dari barisan novel, aku hampir tertabrak seorang siswi yang membawa banyak buku. Untungnya bisa kuhindari. Jika tidak, tabrak ala anime romance akan terjadi.
“maaf mas, tadi gak melihat mas. hampir aja jadi masalah ” siswi tersebut menundukkan kepalanya kearahku.
“yakin mas? Masih ada buku terakhir yang mau aku ambil”
“ya gak apa, lagi pula aku cuman membawa 1 buku ini” memperlihat buku yang ingin kupinjam.
“ah…buku itukan yang juga ingin ku pinjam”
“jadi ini buku terakhirnya. Ya udah berarti kamu pinjamnya setelah aku aja, selama itu bacalah buku-buku ini” membawakan setengah buku yang dia bawa.
Bersama kami menuju penjaga.
Namanya ialah Salwa Nafisa kelas X IPS A, itu yang kutahu darinya. Besar kemungkinan dia tahu tentang Ikhsan yang baru masuk, tapi saat ini ku tidak mau memberi tahu hubunganku dengan Ikhsan.
Kami berpisah ketika keluar perpustakaan. Maksimal batas peminjaman tiap buku ialah 10 hari. Sedangkan ku meminjam buku tersebut selama 7 hari, sehingga kamis depan kami akan bertemu lagi karena dia ingin meminjami buku yang ingin kubaca.
Dikantin, Ikhsan duduk bersama dua orang cewe yang tidak kukenal. Mungkin mereka teman sekelasnya.
“kok lama ndi?”
“ya, tadi ada urusan disana”
“oiya ndi, mereka teman sekelasku Desti dan Sheyla”
“halo Andi, salam kenal…” sapa mereka dengan senyum ramah.
“ya salam kenal”
Duduk dan
mulai makan.
Selama menikmati makanan, ku menyimak dan memperhatikan mereka berdua. Gerak gerik dan nada bicara
mereka seperti tertariknya seorang cewe terhadap cowo. Melihat betapa Goodlooking-nya Ikhsan, hal yang wajar
__ADS_1
jika banyak cewe yang ingin menjadi pacarnya.
“oiya san, ni dah kau bayar? Lupaku bawa dompet. Jadi pakai uang kau dulu”.
“belum ku bayar, ok kalau gitu ku bayar dulu” “makasih”
“sip…”
Andi pergi meninggalkan kami bertiga.
“Andi benar kelas X IPA D?” Sheyla
“ya benar”
“oh gitu” balasnya dengan nada berbeda.
Mungkin bagi dia kok bisa orang seperti Ikhsan mau berteman dengan orang sepertiku. Apakah pemikirannya salah? Hmm tidak tau juga, mengingat banyak sebab yang membentuk pola pikir seseorang.
“ok done kubayar ndi”
Ikhsan kembali.
“ikhsaann…kelas lagi yuuk. Bentar lagi mau masuk” pinta manja Desti.
Ku mengangguk memberikan kode silahkan kepadanya. Lalu mereka pergi. Sedangkan diriku melanjutkan menikmati makanan yang telah Ikhsan bayarkan.
**
Malam hari.
Bertambahnya jumlah penghuni rumah memaksa mas yang baru kembali dari luar kota membagi lagi tugas masing-masing dari kami untuk membersihkan, membeli lagi Bahan makanan, memasak dan sebagainya.
“jadi gitulah mengenai tugas penghuni rumah, besok malam mas kasih tau dan cetak”.
“ok “ jawab kami bertiga.
“oiya, Ikhsan gimna sekolahnyaa?”
“hmm ya berjalan lancar aja kak, walau telat masuk tapi bisa ku kejar ketinggalannya”.
“tapi satu hal yang membuatku terkejut kak…!!!”
“apa itu Ikhsan? Beri tahu kakak sekarang…!!”
“ternyata Andi banyak dekat sama cewe kak”
Mendengar pernyataannya barusan membuat ku tersedak ketik minum. Seingatku, hanya dua cewe yang baru Ikhsan lihat. Tapi dia belum bertemu dengan Acha atau cewe yang baru kukenal diperpustakaan si Salwa. Apa mungkin Ikhsan asal nebak? Ya gak apa juga sih, setidaknya dikemudian hari tidak perlu kujelaskan ke mbak karena Ikhsan sudah membantuku menjelaskan cewe-cewe tersebut.
“hoo, baru mas dengar info ini”
“nanti ceritakan lebih detail ke kakak yaa…”
“aman kak…”
“hadeh…serah
kalian aja lah…” pasrahku.
Selesai cuci piring, Ikhsan melanjutkan info detail ke mbak. Sedangkan ku duduk membaca novel yang tadi ku pinjam. Asiknya alur cerita novel tersebut membuat ku lupa waktu. Tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul 22.38 WIB. Ikhsan sudah masuk kamar. Diruang keluarga tersisa aku dan mas yang sama-sama sibuk dengan
kegiatan masing-masing.
“aku tidur lagi mas”.
“ok sip, mas masih lanjut kerjaan”.
Sepertinya tugas kuliahnya masih belum selesai. Meninggalkan mas, ku menuju wc untuk melakukan rutinitas sebelum tidur. Masuk ke kamar, mengatur timeoff pendingin ruangan dan merebahkan diri. Menikmati dinginnya suhu sambil perlahan menutup mata hingga diriku tertidur…
**
(bersambung…)
__ADS_1