
Salah satu efek dari terpilihnya Ketua Osis yang baru ialah meningkatnya kesusahan soal UAS nanti. Namun dibalik itu, terdapat hadiah bagi yang mendapatkan nilai tertinggi dan bagi seluruh siswa siswi. Bagi nilai tertinggi mendapatkan sebuah hadiah berupa vocher atau uang, sedangkan untuk seluruh siswa siswi ialah bertambahnya hari Class Meeting dan berkurangnya hari Ujian.
Masih ada 2 minggu lagi sebelum UAS, jam latihan kami dikurang untuk belajar sehingga beberapa guru yang tidak menyukai game tidak akan menyalahkan turnamen jika nilai kami berkurang.
“Ngerjain soal apa Tia?” tanyaku sebelum kelas pagi dimulai.
“Ini, Fisika. Ada beberapa soal yang salah mulu Aku ngerjainnya”
“gak mau nanya Nabila?”
“Mau sih, tapi Dianya belum datang”
“oiyaa… tumben Dia belum datang, biasanya dah ngerusuh Tia aja…”
Orang yang kami bicarakan, Nabila. Baru tiba setelah bel berbunyi. Dia masuk dengan wajah lelahnya. Sepertinya Dia terburu-buru naik keatas berharap duluan sampai sebelum guru. Bisa dibilang Dia tepat waktu.
Perbedaan yang sangat terasa ketika mendekati ujian semester ialah setiap guru memberikan saran dan peringatan mengenai soal yang akan di ujiankan. Ada yang bilang materi ini itu akan masuk, jadi fokuskan dibagian itu. Ada juga yang bilang kalau tidak akan memberikan kisi-kisi mengenai ujian nanti.
Dampak dari guru yang tidak ingin memberikan kisi-kisi membuat para murid panik, termasuk Ikhsan. Ketika istirahat pertama Dia menemui yang sedang asik menikmati eskrim.
“ada juga kau guru kayak gitu Ndi, kesel sih ku lihatnyaa…”
“haha… ya mau gimana ya, mungkin itu cara guru tu membuat kita mempelajari semuanya”
“Iya sih, bener… nah karena itu Aku mo minta tolong ke kau…”
“boleh aja, selagi sanggup Aku…”
“tolong…”
**
tiga hari Ujian telah berlalu.
Tekanan diseluruh sekolah terasa berat. Terkhusus kelasku yang mendapatkan label terakhir. Banyak dari mereka menjawab soal sebisanya.
Memang benar sih, ada beberapa soal yang seingatku itu seharusnya berada disemester depan, namun sudah dimasukkan kedalam soal.
Hari ini kamis, pelajaran yang diujiankan ialah MTK dan Kimia. Dua pelajaran yang banyak tidak disukai oleh seisi kelasku namun mau tidak mau harus dihadapi.
“Gimana MTK tadi Ndi?”
“hadeh…banyak soal yang gak sempat ku kerjain Bil”
“laah… kenapa?”
“rada-rada ngantuk ku tadi, jadi sempat ketiduran…”
“kamu ini… emang tadi malam ngapain?”
“ada event di game, jadi prioritaskan itu”.
Di game Blood Hunter, sedang mengadakan Event dan mendapatkan hadiah terbatas. Hadiah tersebut hanya bisa didapatkan hanya ketika event ini berlangsung. Oleh karena itu event menjadi prioritas utamaku tadi malam.
“memanglah kamu ini ya… kantin aja yukk!!”
“ok, tapi Nabila sama Tia aja duluan. Aku mau ke wc dulu..”
Memang tujuan pertamaku ke wc, namun tujuan keduaku ialah melakukan rutinitas yang mungkin seminggu empat kali kulakukan tergantung karena kondisi yaitu Dhuha.
Seperti biasa, setiap kali Aku melaksanakan Ibadah Sunnah Dhuha selalu bertemu dengansiswi yang menggunakan cadar. Dia selalu bersama temannya dan entah kenapa Aku merasakan sebuah tatapan dari temannya setiap kali kami berada diruangan yang sama.
__ADS_1
Selesai Dhuha, Aku kembali ke kelas untuk mengambil dompetku yang tertinggal. Namun entah kenapa seisi kelas hanya ada satu dua orang saja yang memperhatikanku dengan seksama dari awal masuk sampai ke tempat dudukku.
(kok sepi ya, mungkin lagi pada belajar diluar…)
Saatnya menuju kantin dan mengisi perutku yang sudah meminta segera diisi.
**
Ujian kedua Kimia telah berlangsung.
Ada 30 soal yang terdiri dari 20 pilihan ganda dan 10 esai.
“Aaahhh… susah kali soalnyaa!!!”
“ini apa sih!!!”
“kenapa yang ini keluar, padahal Aku belum hafal yang ini!!!”
Kira-kira seperti itulah keluhan seisi kelas yang kudengar.
(aaah kumat lagi ni…)
Sebuah rasa yang datang secara pasti disaat seseorang sudah mengisi penuh perutnya, ditambah rasa lelah yang masih ada membuat rasa kantuk semakin kuat.
Sebisa mungkin Aku mengerjakan dengan cepat sambil menahan rasa kantuk yang semakin kuat.
“60, 70, 75…. Ok baiklah, sepertinya ini cukup”
Aku tertidur.
Tidak ada mimpi yang ku alami selama tidur, hanya gelap gulita dan mendengar suara yang tidak asing. Suara tersebut setelah ku dengarkan dengan seksama berasal dari dunia nyata. Mungkin momen di tengah ujian membuat telingaku berjaga ketika mendengar suara guru yang mendekat Aku bisa terbangun dan hal tersebut terjadi.
“Nddiii… Bangun Ndii ada guru mendekat!!!”
“baiklah, mohon di dulu semua. Bapak disini ingin memeriksa seluruh meja dan katong kalian untuk meminimalisir kecurangan yang dilakukan oleh para murid”
Satu persatu murid diperiksa.
(siapa jugalah yang bawa contekan di ujian ini huaammm….)
Giliranku tiba.
Pertama, semua kantung bajuku di periksa. Tidak ada.
Kedua, tasku diperiksa. Tidak ada.
Terakhir, laci mejaku diperiksa…
Perlahan rasa kantukku mulai hilang. Seluruh murid mengerjakan soal dengan sebisanya, ada beberapa yang telah menyerah dengan asal coret atau mengikutiku dengan merebahkan kepala diatas meja.
Wajar juga sih ada Razia, karena ujian semester merupakan ujian yang special disekolah ini karena bisa mendapatkan hak khusus kepada murid yang berhasil menaikkan nilainya. Kalau gak salah nama hak tersebut…
“naah ini apa???”
Pikiranku buyar ketika guru menarik sebuah kertas dari bawah mejaku. Isi kertas berupa cara menjawab soal yang telah disusun dengan rapi dan di cetak.
“Ini, KAMU KE KANTOR SEKARANG!!!”
Seisi kelas melihat kearahku.
“ok pak…” jawabku dengan santai.
__ADS_1
Beberapa saat Andi keluar kelas, kelas mulai ribut.
“pantesan Dia santai saja, ternyata bawa kertas jawaban”
“itulah, Aku juga sudah curiga”
“kalau Aku siih maluu tu…”
“semuanyaa, silahkan melanjutkan ujiannya!!” perintah guru pengawas yang mengsenyapkan kelas.
Diantara murid kelas, ada satu murid yang tersenyum senang,
Setibanya di ruang guru, Aku bertemu dengan wali kelasku Bu Indah.
“kenapa kesini Ndi?”
“jadi tersangka curang Bu, jadi disuruh kesini dulu”
“Tersangka??? Kamu tu tertangkap basah membawa kertas jawaban.” Guru pemeriksa mulai menyampaikan pikirannya.
“ya memang benar sih kertasnya berada di mejaku, sehingga itu menjadi bukti kalau itu punya saya”
“berarti kamu Ngaku?”
“enggaklah, untuk apa saya mengaku perbuatan yang tidak saya lakukan”
“serah kamu saja, katakana itu kepada wali kelas dan guru matkul. Saya mau lanjut Razia”
Guru yang mendapatkan kertas dimejaku pergi.
Bapak Santoso merupakan guru Kimia yang mengajarkan khusus kelas satu. Hanya Dia yang saat ini ku tunggu diruang guru. Memang sih kebanyakan di jam pejarannya Aku sering tidur, tapi yang kusuka dari Pak Santoso ialah Dia tidak mengganggu tidurku. Entah karena Dia sudah pasrah untuk menghadapi murid sepertiku atau
Dia tahu siapa Aku? Entahlah.
“Mana murid yang membawa kertas jawaban??” Guru yang telah ditunggu akhirnya tiba.
“Dia Pak…” Guru lain menunjukku.
Pak Santoso berjalan mendekatiku.
“Kamu ya…”
“tunggu sebentar Pak, katanya kertas itu bukan milik Dia” Bu Indah membelaku.
“kok bisa begitu? Kan itu meja Dia Bu. Berarti itu punya Dia!!!”
“Tapi Pak, ketika jam istirahat dan bukan jam sekolah siapa saja bisa masuk ke kelas dan bebas melakukan apapun”
“hmmm… benar juga kamu…”
Syukur Pak Santoso berkepala dingin, sehingga mudah diajak diskusi.
“Saya sebagai Wali Kelasnya bisa menjamin bahwa Dia tidak akan melakukan perbuatan keji tersebut Pak”
“Baiklah, satu-satunya cara yang saya pikirkan untuk membuktikan Andi tidak bersalah ialah mengerjakan soal yang saya pilih”
“saya menerima Pak”
“Kerjakan ini…”
Terdapat tuju soal dalam satu kertas yang Pak Santoso berikan.
__ADS_1
“baiklah” Aku tersenyum.
(Bersambung…)