Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 25 - Persiapan


__ADS_3

POV Andi


Dinginnya malam dan sejuknya air membuat seluruh tubuhku segar kembali. Namun ada yang kurang, yaitu menikmati makanan dan minuman hangat tapi tidak mengenyangkan akan melengkapi kenikmatan ini. Dan aku tahu tempat yang tepat.


“saan…dah makan?”


“belum,bingung mau masak apa…Bahan-bahan habis juga.”


“hoo ya udah, ikut aku… Kita keluar.”


“ok”


Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, udara dingin dan langit berawan menjadi teman kami dalam perjalanan. Lokasi tempat tersebut tidak jauh, sehingga dengan berjalan kaki sudah bisa kita capai. Ikhsan bercerita tentang tes masuk ekskul game yang ia jalani tadi.


“dan gtulah, kami memenangkan tes pertama”


“keren-keren, rasanya ingin pula aku ikutan main”


“naah benar tu, kalau ada kau terasa lebih amanku”


“haha..makasih…dan kita sudah sampai. Untung mulai sepi”


Tempat yang kami tuju merupakan tempat makan yang murah dan enak. Tempat makan yang menjual sebungkus nasi dengan harga murah dan sudah dikenal hampir seluruh Indonesia dengan sebutan nasi kucing. Tempat makan ini juga menjadi penyelamat para pelajar yang sedang lapar namun hanya memiliki uang seadanya. Namanya ialah Angkringan.


“jadi mau minum apa san?”


“es teh lah!!!”


“ok..”


Nama penjual akringan ini ialah pak Dibyo, dari yang kutahu Bapakku pernah membantunya. merasa sangat terbantu, mulai saat itu ia mulai menghormati keluargaku.  Kemudian ia mulai berjualan Angkringan dan aku menjadi salah satu pelanggan tetapnya.


“pak teh panas 1, teh es 1” pak Dibyo berhenti sejenak mendengarkan pesananku, lalu ia segera membuat minuman kami.


(sepertinya pak Dibyo lupa dengan wajahku)


Tempat makan angkringan berupa gerobak yang dibagi 2 sisi. Sisi luar untuk pelanggan akan penuh makanan yang bisa dipilih dan diambil berapapun yang diinginkan. sedangkan di sisi dalam untuk penjual, ada tempat arang untuk membakar makanan yang ingin dibakar dan perlengkapan makan makan minum.


“ambil sendiri san, kalau bingung makanannya. Tanya aja”


“ok”


Aku memilih beberapa gorengan dan sate usus untuk dibakar agar rasanya lebih nikmat. Selagi menunggu, nasi kucing menjadi makanan yang pas untuk mendengar lanjutan cerita ikhsan.


“lalu jam 1 siang kami lanjut Battle Royale…”


Solo squad? Lawan senior? Urutan ke 3? Sepertinya kemampuan Ikhsan meningkat lagi. Walaupun musuhnya anak-anak SMA, tapi menjadi solo squad merupakan tantangan yang sangat berat karena rendahnya kemungkinan bisa menang. Selesainya tes tadi, besar kemungkinan Ikhsan sudah diakui bagi para senior dengan kemampuannya yang terbukti ahli dibidang game First Person Shooter.


“apa ini?” tanya Ikhsan, ia menunjuk ke sebuah makanan yang terlipat lalu ditusuk. Jika dilepaskan dari tusukan, kita akan tahu kalau makanan tersebut sangat Panjang, maka dari itu harus dilipat.


“sate usus.. cobalah!!”


Tanpa keraguan Ikhsan memakan sate usus.


“gimana??”


“kayak ada yang kurang”


“ini mas, minumannya dan ini gorengan usus bakarnya” setelah menerima pesananku, pak dibyo melanjutkan membuat pesanan pelanggan lain.


“kalau gitu, coba ini” aku memberikan sate usus bakar.


“hmm…enak ni…ndi, pake nasi lalu minum esteh, ah nikmatnyaa…”


“ndi?...Andi?... sampeyan mas Andi?” pak Dibyo bertanya Ketika ia baru duduk didepanku.


“iya pak Dibyo” seketika ku berdiri dan menyalami tangannya.


“kaget bapak, berubah wajahnyaa…”


“makin jelekkan paak?!!” tanya Ikhsan


“yaa enggak, jelas makin gantenglah…”


“haha…” kami bertiga tertawa.


“ayah ibu, gimana kabarnya?”


“hamdulillah sehat paak, bapak sekeluarga sehat juga?”


“ya alhamdulillah, sehat jugaa... palingan kelelahan karena beberapa hari lalu banyak pelanggan”


“hoo, syukurlah kalau gitu.”

__ADS_1


“omong-omong pak, si kenapa bisa kenal Andi pak?” tanya Ikhsan dengan penasaran.


“hoo…dulu dia sering makan disini, lalu dia…”


Cerita pak Dibyo kini menjadi pusat perhatian kami. Terkadang aku sedikit malu Ketika pak Dibyo menceritakan beberapa kisahku dulu, seperti aku yang ingin saus tomat namun malah saus cabai dan berbagai cerita lainnya. Mendengar semua cerita tersebut, tanpa terasa sudah 40 menit berlalu. Saatnya pulang.


“pamit dulu yaa pak, makasih”


“iya, sama-sama dan hati-hati mas Andi dan mas Ikhsan”


“iyaa pak”


Udara malam semakin dingin. Langit yang sebelumnya berawan kini telah cerah, seolah memaksa bulan dan bintang menemani kami sepanjang jalan pulang.


“siap-siap san, bulan depan ada berbagai acara sekolah”


“bulan depan Agustus ya, berarti memperingati hari kemerdekaan”


“ya benar, selama 3 hari seluruh siswa akan mengikuti berbagai lomba dan memperebutkan piala bergilir”


“hoo gitu, sepertinya akan seru. Makin gak sabar aku menunggunya.”


Aku juga gak sabar, karena aku ingin tahu lomba apa yang tidak bisa dimenangkan oleh Ikhsan.


***


POV Acha


Rabu, 13 agustus.


Sehari sebelum perlombaan kemerdekaan akan diadakan. Pada Senin lalu seluruh siswa-siswi sudah diberitahu akan lomba yang berlangsung selama tiga hari. Sepertinya antusias tahun ini akan meningkat. Dan tentunya kali ini Andi ada disekolah ini.


Memang sih, selama beberapa minggu lalu aku jarang melihatnya, tidak kusangka perbedaan tingkatan kelas bisa membuat kami jarang bertemu, ditambah Osis harus menyiapkan berbagai kebutuhan lomba kemerdekaan membuat aku semakin jarang untuk bertemu dengannya. Walaupun sudah memiliki nomornya, namun lebih menyenangkan jika bertemu.


(pengen ketemu diaa…)


Istirahat pertama telah dimulai.


“Lulu, nanti jangan lupaa yaa” salah seorang anggota Osis yang sekelas ingin mengingatkan tugasku hari ini.


Tugas dasar divisi Humas ialah menjadi penghubung antara Osis sekolah lain dan mencari berbagai info yang berguna untuk seluruh siswa-siswi. Jadi bisa dibilang tugas yang diingatkan tadi ialah persiapan pertemuan seluruh Osis sekota Yogyakarta yang akan diselenggarakan minggu depan.


“iyaa, makasih sudah mengingatkan”


“hoo Pandu ya, gimana Ekskul Gamenya? Sudah ada perkembangan?”,


“yaa, berkat lulu dan Andi performa kami semakin meningkat”,


“senang mendengarnyaa”.


Sudah kuduga, alasan lain kenapa aku dan Andi susah bertemu karena ia yang juga sibuk membantu Pandu.


(aahh…pengen dengar cerita darinyaa.)


“yowes…itu aja yang mau kusampaikan. semangat kelarin tugasnyaa”


“baiklah, terimakasih”


Rasa ingin bertemu dengannya semakin menumpuk. Tapi saat ini ku hanya bisa menyerahkan kepada masa depan, semoga saja nanti bisa bertemu dengannya.


(saatnya melakukan kewajiban).


**


Pelajaran terakhir telah selesai, selama siang tadi aku tidak masuk kelas untuk keluar melaksanakan kewajibanku menemui Osis sekolah lain. Rasa Lelah sudah kurasakan, ingin rasanya segera pulang dan menyegarkan tubuh namun masih ada satu kewajiban yang harus kulakukan setelah Ashar nanti.


(aaah…bencinya hari ini. tidak bisa bertemu dia…)


“Ayoo kita shalat Achaa”


“salmaa, sudah kubilang kalau disekolah jangan panggil acha, Malukan”


“maaf gak sengaja,”


“ayo pergi”


“ok”


Salma merupakan sahabatku, kami kenal Ketika kelas satu, awalnya dia membantuku belajar MTK dan aku membantunya pelajaran Biologi. Karena kami saling melengkapi, kegiatan saling mengajar juga semakin sering, dan seiring waktu kami semakin dekat.


Ashar telah selesai, Kembali ke kelas.


“jadi nanti numpang Lu?”

__ADS_1


“jadi, tadi sms ayahku masuk. Katanya tidak bisa menjemput sore ini”


Hal seperti ini sudah biasa terjadi diantara kami, saling memberikan tumpangan pulang.


“kalau udah siap, nanti tunggu depan ruangan Osis ya”


“baiklah”


“kalau begitu, aku keruangan Osis dulu”


Tugasku sore ini ialah merangkum, Menyusun, dan membuat laporan mengenai pertemuan osis tadi siang, sehingga besok paginya aku bisa fokus menyukseskan lomba kemerdekaan.


30 menit sudah berlalu.


“akhirnyaa selesai, saatnya pulang”


Dengan semangat pulang, aku mengemas barang-barangku kedalam tas, lalu memastikan seluruh laporan telah aman.


(saatnya pulang!!!)


Hal yang tak terduga terjadi. Andi melewati ruang Osis.


“Andi!!!”


“hoo acha, baru kelar dari Osis yaa”


“yaa, mau pulang yaaa?”


“iyaa, ini mau ke parkiran”


Baru kali ini aku bersyukur dengan lokasi Osis yang berada didekat Parkir kendaraan. Karena itu, aku bisa menemuinya.


“pulang tidak bersama kawanmu?”


“katanya kalau lebih 20 menit, disuruh duluan”


“hoo gitu yaa, sendiri ya”


“siapa dia luu?” Salma yang menunggu depan ruang osis ikut pembicaraan kami


“Andi saal, Adik kelas.”


“kenalin mbak, Andi”


“ok saya Salma”


“kalau gitu, ku pulang duluan ya mbaak”


“Andi…?!!”


“yaa kenapa cha?”


“…”


Aku bingung. Setelah tahu kalau Andi sendiri, aku ingin pulang bersamanya lagi namun Aku sudah membuat Salma menunggu selama 30 menit, karena dari awal aku akan menumpang pulang dengannya.


(aahhh…aku bingung)


“jadi dia yaa? Kalau gitu aku pulang duluan. Selamat bersenang-senang ya berduaa…”


Mendengar bisikan Salma membuat wajahku memerah.


“makasih Salma, hati-hati yaa”


“yaaa…”


“jadi kenapa chaa?” Andi bertanya Kembali Ketika Salma sudah memasuki wilayah parkir.


“boleh aku numpang?”


“yaa boleh, tunggu didepan gerbang ya”


“yaa…”


(Aaah… aku suka hari ini…)


.


.


.


(Bersambung…)

__ADS_1


__ADS_2