
Hari kedua lomba kemerdekaan dimulai.
Lomba yang akan diadakan pada hari ini ialah masak, menggambar, dan terakhir pameran hasta karya dari limbah plastik. Sepertinya hari ini tidak akan semeriah kemaren, mengingat lombanya seperti itu. Lomba masak akan dimulai dari jam 8.30 hingga jam 10.45, lomba kedua menggambar pada jam 13.00 hingga 14.00, dan terakhir pameran hasta karya pada jam 13.30 hingga 15.00.
Banyak waktu senggang dan mungkin beberapa siswa memanfaatkan waktu tersebut untuk bersantai dikelas.
“ini gasnya Tia”
Aku memberikan kaleng gas kepadanya. Kompor gas portable merupakan salah satu peralatan masak yang disiapkan oleh panitia lomba, namun mereka hanya menyiapkan 1 kaleng gas untuk setiap kelas. Lalu salah satu pertaturannya tertulis boleh membawa peralatan sendiri. Peraturan itu sangat membantu, karena akan memudahkan setiap peserta yang tahu kebutuhan apa saja untuk membuat makananannya.
“yaa makasih…oiya, benar katamu Ndi, cuaca hari ini sedikit mendung”
Aku diam sejenak, lalu melihat keluar jendela memperhatikan cuaca.
“ponselku yang benar, karena dia yang memberikan informasi. Aku hanya menyampaikan”.
“yaa, terimakasih infonya”,
“Gimana latihan masaknya tadi malam?”
Aku mendapatkan info dari Nabila bahwa tadi malam mereka latihan memasak dirumah Tia. Untuk meningkatkan kepercayaan diri, Tia ingin mencoba memasak makanan hari ini, sehingga jika ada kesalahan atau hal yang tak terduga ia bisa menutupinya.
“aman kok, paman dan Bibinya bilang enak” Nabila yang baru kembali bergabung.
“baguslah kalau begitu, butuh bantuan gak nanti untuk persiapan masaknya?”,
“boleh bantuannya Ndi”,
“aku juga akan bantu, lagi pula lomba menggambarnya nanti siang”,
“iya benar, kenapa ya panitia mengubah jadwalnya” Tia dan Nabila mulai menebak alasan.
Tadi malam, seluruh siswa/i mendapatkan pemberitahuan bahwa jam lomba memasak makanan khas daerah ditukar dengan lomba menggambar. Sehingga yang awalnya memasak setelah shalat Jumat, menjadi jam pagi hingga sebelum shalat Jumat.
Perkiraanku panitia ingin para juri bisa mencoba makanan sebelum jumatan dan makan siang. Sedangkan jika menunggu dari setelah jumatan lalu menunggu lagi hingga jam 14.00 akan membuat juri kelaparan. Padahal bisa diatasi dengan sedikit makan siang, namun jika mereka makan sepertinya akan kenyang dahulu sebelum bisa mencoba lebih 20 makanan dari tiap kelas.
Perkiraan lainnya cukup sederhana dan mungkin keinginanku juga jika aku yang menjadi juri ialah ingin menjadikan masakan tersebut menjadi lauk makan siang. Itu lebih masuk akal, kapan lagi coba bisa mencicipi masakan enak secara gratis.
“udah ikutin aja, malah lebih bagus diubah. Setidaknya makan siang nanti Tia bisa mencicipi masakannya sendiri” balasku menyudahi tebakan mereka.
Lomba memasak kali ini ialah membuat salah satu masakan daerah yang ada di Indonesia. Banyak pilihan menu tentunya membuat para peserta bingung ingin memasak apa, kekhawatiran membuat masakan yang sama dengan peserta lain pasti terpikirkan oleh peserta, walau sebenarnya diperaturan tidak ada tertulis masakan harus beda.
Sejauh ini, hanya 2 kelas yang kutahu makanan khas daerah. Pertama kelasku akan memasakan Soto khas Lamongan dan kedua kelas Acha yang akan memasak Asam Pedas Manis Latin. Masakan tersebut merupakan khas daerah Riau, tempatku tinggal selama SMP. Aku tidak tahu alasan dia memilih masakan tersebut, namun tadi malam ia memintaku untuk mencicipi masakannya nanti.
“diberitahukan kepada para peserta lomba memasak, dipersilahkan untuk mempersiapkan peralatannya, diulangi sekali lagi-”
“yuk siap-siap”
“ok” Aku, Tia dan Nabila membawa peralatan memasak.
Lomba memasak akan diadakan dalam Aula, koreksi setengah Aula, setengahnya lagi akan digunakan untuk pameran Hasta Karya sore nanti. Luasnya Aula juga menjadi alasan diadakan memasak, serta ruangan yang tertutup juga membuat memasak lebih aman.
Seperempat ruangan Aula tertutup oleh kain dan penutup lainnya, mungkin untuk menyembunyikan karya-karya tiap kelas yang akan ditampilkan sore ini.
“ok disini tempat kita” Tia menunjuk wilayah memasaknya.
__ADS_1
Terdapat 24 slot wilayah memasak, setiap kelas sudah ditentukan wilayahnya oleh panitia.
Jika dijabarkan wilayahnya, terdapat 4 pembagi dengan inisial huruf, lalu setiap huruf memiliki 6 baris dengan inisial angka. Kelasku mendapatkan wilayah D6, sebuah wilayah dikanan bawah.
Segera aku dan Nabila mengikuti intruksi Tia untuk menyiapkan semua kebutuhannya.
“itu disini, sedangkan itu disebelahnya, lalu yang itu disana” seperti itulah Tia memberikan arahan dan layaknya pegawai, aku dan Nabila mengikuti seluruh perintah atasan kami. Tugas kebanyakan mengangkat dan memindahkan barang, tugas yang layak untuk cowo, sedangkan Nabila lebih ke pembagian bumbu dan peralatan masak.
“yoo Ndi” suara orang yg kukenal menyapaku.
“hoo ada ikhsaan…”,
“tumben jadi siswa rajin Ndi”,
“gak apa sesekali, lagipula ini tugasku saat ini”, sepertinya dia melihatku membantu Tia.
“hoo begitu…jadi diantara kalian bertiga, siapa yang akan memasak?”,
“coba tebak saan” Nabila menantang Ikhsan,
“hmm, Tiakan!!!”,
“eh kok tau kalau aku yang masak…”
“hmm…pertama dari tadi aku melihat Andi mengangkat barang-barang, bukan untuk keperluannya, melainkan memudahkan orang lain yaitu Tia. Aku juga bersyukur hilang salah satu saingan memasak saat ini, lalu kedua-”
“eh tunggu tadi, maksudnya saingan tadi apa?” rasa ingin tahu Tia memberhentikan Analisa Ikhsan.
“Andi bisa memasak dan menurutku dia cukup ahli”
“iyaa maaf, kapan-kapan akan aku masakkan kalian suatu makanan”, terbuat sebuah janji untuk mengamankan mulut mereka. Bukan berarti identitasku terancam, melainkan ini sebagai rasa terimakasihku mereka telah menjaganya tanpa perlu bertanya lebih lanjut.
“yeaay…akan kami tunggu” balas singkat Nabila,
“lalu yang kedua apa San?” kali ini, rasa ingin tahu Tia melanjutkan analisanya.
“kedua, Nabila melaporkan sesuatu ke Tia, mungkin jumlah bumbu atau peralatan atau kebutuhan lainnya yang diperlukan oleh Tia. Oleh karena itu bisa disimpulkan kalau Tia yang akan menjadi peserta masak hari ini”,
“hebaat yaa” Tia kagum dengan analisa Ikhsan.
“lalu San, apakah kau yang menjadi perwakilan kelas ?”
“hoo tidak Ndi, pertandingan Solo aku akan ikut kalau lawannya ada kau ada siswa/i yang membuatku tertarik”
“syukurlah, aku sempat khawatir kalau kau ikut lomba masak ini”
“eh Ndi, jangan bilang kalau dia juga bisa memasak”
“yaa Tia, pernah dalam beberapa waktu aku belajar beberapa masakan dengannya”
“hmm… ternyata aku di kelilingi oleh orang-orang hebat”
“yaa pelajari orang-orang hebat itu Tia” Nabila memberikan semangat ke Tia.
Sepertinya semangat tersebut berpengaruh, terbaca dari raut wajahnya yang semakin cerah.
__ADS_1
“jadi siapa perwakilan kelas kau San?”,
“si Icha Ndi”
Tepat setelah Ikhsan memberikan jawaban pertanyaanku, ia dipanggil oleh seorang siswa dari suatu kelompok.
“Saaaan, ayo sekarang waktunyaa”
“aaahh sekarang ya, padahal dah sengaja aku lama-lama disini sambal menunggu dia”
“Dia?”
“Mbak Lulu Farasya, menurut peta lokasi masak kelasnya berada disamping kelasku”,
“hoo jadi alasan kau kesini mau melihatnya, namun dia yang tidak ada”
“yaa begitulah Ndi, aku juga ingin kenal orang yang sudah kau kenal lama”
“yaa ada nanti waktunya ketika pas”
Selama sebulan bersekolah, Ikhsan tau kalau aku kenal ke Acha, lebih tepatnya Mbakku yang memberitahukannya. Saat itu Ikhsan sempat terkejut kalau aku dan Acha merupakan teman semasa kecil, lalu aku berjanji akan mengenalkannya ketika waktunya pas. Namun hingga kini waktu yang pas belum kunjung datang, sepertinya Ikhsan harus bersabar. Ada beberapa fakta ke Ikhsan yang sengaja ku sembunyikan seperti dia seumuran dengan kita dan pernah belanja dengannya. Aku ingin melihat kembali reaksinya akan menjadi seperti apa kalau dia tahu itu.
“ok, sudah selesaikan. Ada yang perlu dibantu lagi Tia?”,
“udah kelar saat ini, Nabila aja udah kembali ke kelas”,
“yaa tidak apa, sepertinya dia ingin santai sebelum lombanya dimulai nanti siang”,
Berdasarkan peta lokasi masak tiap kelas yang kudapatkan dari Tia, lokasi kelas Ikhsan berada di C5, lalu didekatnya C4 merupakan kelas Acha. Setelah Ikhsan pergi, lokasi C4 mulai disiapkan oleh teman-teman Acha. Namun dia belum terlihat, aku ingin kesana memberikan kaleng gas yang dia minta, namun aku harus bersabar hingga dia tiba.
Aku memeriksa kembali semua persiapan Tia untuk memenuhi kegiatanku selama menunggu Acha tiba.
“aamaan kok Ndi” kata Tia ketika aku memeriksa untuk ke 3 kalinya.
Akhirnya Acha tiba, syukur teman-temannya sudah tidak ada.
“ok baiklah, aku mau lihat tempat masak kelas lain dan setelah itu kembali ke kelas”
“ok Ndi” balas Tia tanpa melihat kearahku, dia sibuk menyiapkan beberapa bumbu.
Hampir semua perwakilan kelas sudah ada diwilayahnya, sedangkan ada beberapa siswa/i yang membantu perwakilannya menyiapkan berbagai kebutuhan masak.
(terlalu banyak saksi mata)
Kalau aku memberikan kaleng gas secara langsung kepada Acha, orang-orang akan bertanya-tanya kenapa seorang Acha menitipkan hal tersebut bersamaku? Kenapa tidak teman kelasnya?
Dari wilayah masak kelasku, aku melihat Icha, perwakilan kelas X Ips A lalu disampingnya ada Acha perwakilan kelas XI Ipa A dan teman sekaligus.
Sebuah ide terlintas dipikiran, sebelum itu aku harus memasukkan 2 kaleng gas kedalam plastik hitam. Kemudian berjalan kearah mereka dan berhenti didepan kelas X Ips A.
“Chaa”
Acha ~~~~dan Icha melihat kearahku.
(bersambung…)
__ADS_1