Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 62 - Lenyapkan Penculik


__ADS_3

Pertemuan Osis akan dimulai pada jam 9 pagi ini, sedangkan latihan Sparring Moba akan dimulai jam 8.


(telat dikit kayaknya tidak menjadi masalah, lagi pula Aku kesana bukan sebagai anggota yang ingin berlatih)


Masih ada 2 jam lagi untuk bersiap-siap dan Aku bingung harus menyiapkan atau melakukan apa. Mandi? Nanti aja ketika 30 menit sebelum berangkat. Makan? Nanti aja ketika 45 menit sebelum berangkat. Tidur? Nanti kelewetan tidak ada yang membangunkan.


Pilihan terakhir tentu bermain komputer. Ada satu game yang belakangan ini jarang kumainkan, padahal sebelum sekolah ini dimulai Aku memainkannya cukup lama. Nama gamenya Blood Hunter. Game yang kuperkirakan akan booming kembali namun para pemain harus menunggu hingga tahun depan atau semester 2.


Keluarnya Gear baru yang Bernama Vear sayangnya belum bisa diikuti oleh Blood Hunter untuk meriliskan gamenya dengan baik. Berdasarkan informasi dari Developer game Blood Hunter, mereka memilih untuk menunda perilisan game dari pada memaksakan game tersebut rilis di Vear.


(semester 2 Aku bisa fokus berfantasi…Dan sepertinya akan lebih seru jika mengajak yang lain, tapi itu masih lama.)


Komputer telah nyala, membuka Blood Hunter dan menunggu loading lagi.


[Selamat datang kembali Hunter!!!]


Aku teringat ketika pertamakali login setelah sekian lama ada pemberitahuan bahwa akun ini telah logout selama 701 hari. Sedangkan tadi tidak ada yang menandakan tidak mencapai jumlah minimal untuk ditampilkan. Seingatku 100 hari menjadi batas minimalnya.


Karakterku bermula disebuah rumah yang tidak besar namun tidak juga kecil. Ya, rumah ini merupakan rumahku yang berada di game dan memiliki lokasi di kaki gunung.


Rumah ini tidak sengaja kutemukan sekitar 2,5 tahun lalu ketika menyelesaikan quest berburu tupai. Banyak player tidak menyelesaikan quest itu dikarenakan tupai yang diburu memiliki kecepatan yang luar biasa. Aku berhasil, walau membutuhkan waktu yang lama. Lalu ketika terlalu masuk kedalam hutan, Aku melihat ada rumah kayu yang sudah tidak terawat.


Awalnya rumah ini tidak bisa dimasuki, dari luar bisa dilihat isi dalamnya cukup berantakan. Lalu Aku mencari informasi dari berbagai sumber baik itu dari internet, forum, dan bertanya satu-satu ke NPC di desa terdekat.


Hasilnya, rumah tersebut bisa didapatkan bagi player pertama yang menyelesaikan sekitar 20 quest disekitar desa tersebut. Bisa dibilang rumah itu reward bagi pemain yang telah membantu seluruh warga desa dan mencoba membuat desa menjadi lebih baik.


“Rumah aman, tidak ada masalah…”


Setelah memastikan seluruh rumah dan sekitarnya aman, Aku pergi ke desa. Melalui jalan setapak yang disuguhi pemandangan hijau yang indah dan beberapa hewan hebivora yang melintas. Terkadang semua yang terlihat membuatku kesal karena semua itu ada didalam game dan tidak di dunia nyata. Namun juga membuat diriku takjub akan majunya teknologi di dunia untuk membuat ini semua seperti nyata.


“Selamat datang tuan Lupus, ini ada quest khusus untukmu…”


Lupus merupakan nama karakter yang kugunakan dan quest khusus bisa ada dikarenakan salah satu keuntungan dari membantu warga desa selain mendapatkan hak milik pondok. Jadi ketika des aini ada masalah besar, maka quest khusus tersebut akan muncul dengan durasi tertentu untuk segera diselesaikan.


Selama Aku vakum, sudah ada lebih 8 quest khusus yang tidak kuterima. Bersyukur Aku hanya perlu membayar kerugian mereka. Namun jika lebih dari 10 kali menolak ataupun gagal, kepemilikan rumah akan dicabut. Yaa bisa dibilang player merupakan jaminan keamanan di desa.


Aku mengambil dan membaca quest-nya.


“permintaan untuk menyelamatkan warga desa yang diculik ya…baiklah ini diterima.”

__ADS_1


Setelah mengumpulkan berbagai informasi dari NPC desa, dapat disimpulkan bahwa yang mereka culik merupakan perempuan dan anak-anak, lalu arah mereka menuju timur. Besar kemudian mereka melakukan itu untuk menjual ke pedagang budak.


Berdasarkan kerusakan yang kulihat di desa, sepertinya para penculik berjumlah banyak. Dan jika mereka banyak, pasti mereka membangun sembuah markas sementara untuk istirahat.


“sepertinya harus menjinakkan Cheetah dulu…”


Beberapa hewan disini memiliki ukuran yang lebih besar dari yang asli, sehingga kebanyakan dari mereka bisa dijadikan hewan tunggangan untuk jarak jauh. Walau terkadang banyak player lebih memilih hewan terbang seperti Elang atau bahkan Wyvern.


“musuh keutara, sedangkan Cheetah berada di selatan desa, harus cepat”


Jarak ke wilayah desa sekitar 5 km, namun jika sudah menjinakkannya bisa ditempuh hanya dalam 1 menit.


4 menit berlalu, akhirnya sampai.


“pertama, dekatin dulu sambil menghilang suara apapun dan hawa pemain. Lalu posisikan tangan seperti ingin mengelus, terakhir aktifkan Aura baik bagi hewan agar ia mau mendekat dan patuh.”


Aura tersebut cukup susah didapatkan serta butuh banyak usaha untuk menaikkan levelnya. Syukur levelku sudah mendekati maksimal.


“akhirnya berhasil”


Aku mengelus kepala dan beberapa bagian yang disukai olehnya.


“roaaarr…” sepertinya dia menyukainya.


Dengan kakinya yang kuat, Raja berlari dengan kencang.


Setelah beberapa saat berlalu, Aku bisa melihat ada asap yang menandakan adanya sebuah kehidupan disekitarnya. Aku mengarahkan Raja ketempat yang lebih tinggi untuk memudahkan mengintai.


“1 disini, 3 disana, 4 didalam sana, dan 2 terakhir ada di ruangan itu…Baiklah”


Total ada 10 orang yang harus diselamatkan, untuk penculiknya bebas mau diapakan. Namun menurutku akan lebih baik dilenyapkan saja agar bisa mendapatkan item mereka.


Dimomen ini, senjata bertipe Assasin akan lebih menguntungkan. Karena senjata bertipe Assasin akan langsung membuat musuh mati seketika. Ada beberapa senjata yang kumiliki, Panah, Cakar, belati, pedang kecil yang menyatu dengan punggung tangan, dan terakhir sumpit.


“sepertinya Panah dan Sumpit akan lebih seru…”


Dua senjata yang pernah berjaya pada masanya didunia nyata. Tanpa suara dan jika mengenai musuh akan mati seketika. Bisa dibilang ini sepertinya akan cocok.


Turun bukit dan perlahan mendekati titik terlemah. Mengendap-ngendap kebelakang musuh, mengeluarkan golok, lalu membunuhnya.

__ADS_1


Karakterku menusukkan golok tembus melewati Dada sambil menutup mulutnya.


Golok merupakan senjata jarak dekat yang kupilih.


“1 tumbang… daann Fuuuh…” Meniup sumpit.


Musuh dengan jarak 15 meter tumbang.


Sumpit merupakan senjata tradisional suku Dayak yang memiliki kemampuan sangat mengerikan. Satu serangan bisa membuat musuh meninggal tanpa tahu dari arah mana serangannya dan bagian tubuh mana yang menjadi target.


Sumpit memiliki Panjang 3 Meter. Digunakan dengan meniup bagian yang lebih besar, lalu damek atau anak sumpit diletakkan di bagian yang terkecil. Lalu ketika ditiup, damek akan melaju dengan cepat kearah yang ditentukan.


Konon katanya penjajah Belanda kewalahan ketika ingin menyerang suku-suku Dayak pedalaman. Dengan lingkungan hutan lebat dan senjata Sumpit, suku-suku Dayak bisa meratakan pasukan Belanda tanpa diketahui dari arah mana mereka menyerang. Para penjajah Belanda saat itu menyebut suku Dayak pedalaman dengan julukan


Pasukan Hantu.


Pelan-pelan mengendap. Lalu melakukan Takedowns. Dari belakang, karakter menutup mulut musuh agar tidak berteriak, lalu memotong leher musuh tersebut.


!Sreeettt…..


“Fuuuuuhhh….”


Penjaga disekitar telah tumbang, Aku membebaskan sandera pertama. Memotong tali dan melepaskan lakban dimulutnya.


“Terimakasih…”


Melakukan hal yang sama dengan orang kedua. Namun ada perbedaan yang sangat jelas diantara Sandera yang ingin kuselamatkan saat ini. Pada Sandera kedua, dia seakan ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa dikarenakan mulutnya disumbat kain.


“mmmmm…..”


!Jleb….


Sebuah pisau menembus karakterku di bagian dada kanan atas, darah mulai bercucuran.


“dari mana musuhnya? Kan yang disekitar area ini sudah ku bunuh semua…”


Kebingunganku langsung terjawab ketika Aku melihat kebelakang.


“Ternyata kau…”

__ADS_1


(Bersambung….)


__ADS_2