
Pada sebuah artikel yang ku baca, terdapat 5 tokoh Kemerdekaan yang kurang dikenal oleh generasi muda saat ini. Pertama Frans Kaisiepo, dia berperan untuk memastikan agar Papua ikut kedalam Republik Indonesia, syukurnya pahlawan ini mulai diketahui semenjak ada dimata uang 10 ribu. Kedua Tan Malaka berperan mendidik anak-anak dan mencerdaskan rakyat. Ketiga Trimurti berperan dalam menyebarkan pamflet anti penjajah Belanda. Keempat Wikana berperan membujuk kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi. Dan terakhir kelima B.M. Diah berperan dalam menyebarkan berita kemerdekaan keseluruh pelosok Indonesia.
Jawaban dari pertanyaan tadi ialah Burhanuddin Mohammad Diah.
“Tia, kamu tau jawabannya?”
“nama panjangnya tidak tahu, kalau singkatannya B.M Diah. Dibuku yang aku baca kebanyakan nama-namanya disingkat, dan aku lupa juga kepanjangannya…”
“hmm… B.M ya, coba kucari di internet kepanjangannya”
Nabila segera mengeluarkan ponselnya.
“kenapa tidak dari tadi sih pake ponselnya?”
“hehe…maaf, kuotanya lagi sedikit. Nanti pulang sekolah baru aku beli”
“hadeh, ya udah gak perlu cari di internet.”
“emang kamu tahu jawabannya?”
“yaa begitulah… Burhanuddin Mohammad Diah”
“nah itu dia Bil, benar kata Andi kalau itu kepanjangannya”
“kalau Tia Sudah membenarkan, ya berarti benar. Makasih…”
“santuy…”
Seluruh peserta mengangkat jawabannya. Hanya Acha yang menjawab dengan nama lengkap dan benar. Sedangkan yang lain, ada yang menuliskan singkatan dan menuliskan tidak tahu.
Tiba-tiba para panitia mulai berdiskusi.
“sayang sekali, hanya satu jawaban yang benar dan jawabannya ialah Burhanuddin Mohammad Diah!!!...satu-satunya yang menjawab benar ialah Lulu Farasya dari kelas 2 Ipa A!!!”
Penonton memberikan sorakan selamat atas kemenangan yang berhasil diraih Acha.
“dari 5 kelas yang tersisa, diputuskan kalau kelas 2 Ipa A mendapatkan posisi pertama, lalu posisi kedua kelas 1 Ipa A dan Ips A karena menjawab dengan nama singkatan, dan terakhir posisi ketiga untuk kelas 3 Ipa A dan Ips A karena tidak menjawab!!!”
(akhirnya selesai juga, saatnya makan…)
Perutku sudah memberikan kode yang sangat jelas keotakku untuk segera makan.
“sebelum menutup lomba ini, ada tersisa pertanyaan terakhir yaitu pertanyaan 30, siapapun selain panita lomba Ranking 1 boleh menjawab, dan jika benar akan mendapatkan kupon makan gratis untuk 5 orang!!! Tapi hanya sekali pakai yaa…”
“waah boleh tuu…”
“lumayan makan gratis dikantin…”
“pas ni kita berlima”
Seketika, para penonton mulai penuh akan suara-suara semangat untuk menjawab.
“gimana Ndi?”
“boleh Bil, lumayan untuk kita makan gratis. Tapi kau yang maju yaa…”
“haha sip, aman kalau itu…”
Selama 1 bulan ini Nabila sudah mulai tahu sifatku. Salah satunya ya ini, tidak melewatkan kesempatan makanan gratis.
Para penonton mulai diam dan fokus ketika pertanyaan mulai dibacakan.
__ADS_1
“baiklah, sepertinya para penonton sudah bersemangat. Pertanyaan ke 30, sebutkan 3 bangunan penting yang ada di Istana Negara?!!!”
“cepat cari di internet”
Mendengar beberapa penonton ingin mencari jawabannya, membuatku langsung membisikkan jawaban ke Nabila.
“ok makasih, aku maju”
Ketika Nabila menuju pembawa acara, semua penonton yang sedang mencari jawabannya kembali diam.
“waah, sudah ada yang maju dan sepertinya mengetahui jawaban dari pertanyaan tadi…tolong sebutkan namanya dan dari kelas mana lalu jawabannya”,
“nama saya Nabila dari kelas 1 Ipa D, jawabannya ialah Bina Graha, Wisma Negara, dan terakhir Kantor Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia”
“apakah sudah yakin?”
“yaa yakin…”
“sayang sekali…untuk yang lain tidak bisa mendapatkan kupon karena jawabannya benar!!!”
Semangat penonton ketika mengira jawaban Nabila salah kini hilang.
“terimakasih semuanya, jumpa lagi dilain waktu!!!”
Lomba berakhir, para siswa/i mulai meninggalkan lokasi.
“kita bertiga Ndi, 2 lagi siapa?”
“kalau aku ajak temanku gimana Tia? Anak Ips”
“tidak apa Ndi, lagi pula karena kau juga kita bisa dapat”
“ok, saat kita ke kantin”.
Diantara 2 orang yang akan ku ajak, hanya satu yang belum dikenal Nabila dan Tia, yaitu Salwa. Aku ingin mengenalkan mereka karena menurutku mereka bertiga memiliki kesamaan.
Setiba dikantin, kami bertiga berpisah. Aku bertugas mengamankan meja sedangkan Tia dan Nabila memesan makanan. Kupon hanya berlaku untuk di satu stand makanan yang ada dikantin, sehingga hanya bisa memesan makanan yang dijual di stand itu dengan nominal maksimal 60 ribu. Lumayan.
Selama diperjalanan menuju kantin, sudah diputuskan bahwa kami akan memakan bakso atau mie ayam. Sampai saat ini hanya 1 orang yang belum tahu akan memesan mie ayam atau bakso. Beruntungnya orang tersebut tiba dihadapanku.
“dari kelas?”
“iyaa lagi enak baca novel, kenapa manggil kesini?”
Biasanya dia akan berdiam diri didalam perpustakaan, namun selama perlombaan kemerdekaan, beberapa ruangan ditutup seperti perpustakaan.
“sebagai minta maaf karena sudah ganggu membacanya, mau bakso atau mie ayam?”
“eh…? Maksudnya apa?”
“udaah, cepat aja pilih mau bakso atau mie ayam?”
“mmm…bakso eh…mie ayam aja” wajah paniknya tampak jelas.
“ok, sekarang duduk disini. Kalau ada Ikhsan tolong suruh duduk juga ya Ichaa…”
“okeee”
Rincian pesanan kami iyalah bakso 2 dan mie ayam 3, Bakso untuk Tia dan Ikhsan sedangkan mie ayam untuk Aku, Nabila, dan Icha. Seluruh makanan sudah dipesan, sisanya hanya menunggu.
“Ini namanya Icha, lalu yang ini Nabila dan yang ini Tia” aku memperkenalkan mereka.
__ADS_1
“salam kenal”
“iyaa salam kenaal…”
“ini si Tia, dia suka membaca. Selagi itu buku akan dibacanya dan dia tahu tatacara penulisan, jadi lebih baik novel yang diketik icha dibaca Tia dulu. Lalu Tia, Icha ini sangat ahli dibagian materi sosial, jadi kalau ingin belajar materi sosial minta ajarin Icha aja.”
“hoo begitu, makasih sudah kenalin kami”
“ya sama-sama”
Setelah mendengarkan sedikit alasanku, mereka bertiga mulai berbicara saling mengenal satu sama lain. Melihat mereka bertiga saling berbicara mengenai diri masing-masing membuatku terkesan, semudah inikah cewe berkenalan jika memiliki kesamaan?.
“Ini Mbaak pesanannyaa”
“oh iya Bu, makasih”
Sepertinya keasikan berbicara membuat lupa bahwa kami sedang menunggu pesanan.
“maaf-maaf baru tiba”, orang kelima yaitu Ikhsan akhirnya bergabung.
“tepat waktu san, baru aja datang makanannya” aku mencoba menenangkannya.
“baiklah sip, makan lagi…”
suapan pertama, kedua, ketiga, kami semua menikmatinya.
“ehh…Ichaa?” Ikhsan terkejut menyadari sosok didepanku.
“saking buru-burunya kau kesini, baru sadar kau kalau ada Icha disini yaa…” kataku menepuk pundaknya.
“hahaha…” para cewe tertawa,
Ikhsan tahu kalau aku kenal dengan Icha, tapi sepertinya ia tidak tahu kalau aku cukup dekat dengannya. Dan aku juga tidak memberitahu Icha seberapa dekat aku dengan Ikhsan. Sehingga hari ini secara resmi aku sudah memberitahukan mereka tanpa perlu berbicara panjang lebar.
Makanan sudah habis, namun tidak untuk topik pembicaraan. Aku bisa mengetahui beberapa sisi Icha selama dikelas, begitu pula dengan Icha yang mengetahui betapa seringnya aku bermalasan dikelas dari Nabila dan Tia. Namun semua itu harus diakhiri, karena jam sudah menujuk pukul 09.30, lomba final Tarek tambang akan dimulai.
Kami berlima berpisah menjadi dua berdasarkan kelas masing-masing. Ketika kami berpisah semakin jauh, sebuah pesan masuk kedalam ponselku.
Pengirim pesannya merupakan orang yang terakhir tiba tadi.
“makasih Ndi”
Suatu waktu Ikhsan pernah bercerita kepaku tentang teman disebelah bangkunya, dia dan dirinya sama-sama telat masuk kesekolah. Sehingga orang-orang dikelas mengetahui mereka sedangkan mereka tidak mengetahui orang-orang. Beruntungnya para cowo dikelas, sangat mudah saling kenal. Sedangkan para cewe dikelasnya tidak. Seminggu setelah hari pertama dikelas dimulai, para cewe dikelasnya sudah membuat kubunya masing-masing. Icha, sama sepertiku tidak masuk kekubu manapun. Masalahnya Icha yang lebih sering diam tidak banyak mendapatkan teman cewe. Mungkin karena wajahnya yang cantik, banyak cowo dikelasnya yang mendekati dirinya. Hal itu membuatnya di musuhi beberapa cewe dikelasnya. Oleh karena itu aku berinisiatif
mengenalkan Tia dan Nabila.
“sip santuy San…”
“oiya, kalau gak ada kerjaan, ke tempat lomba tarik tambang aja”
“ok…”
Aku berpisah dengan Nabila dan Tia, mereka nanti akan menyusul. Perlombaan Final tarik tambang akan dilakukan dengan mode Knock Out, tim pertama yang berhasil memenangkan 3x, akan lanjut ke tahap selanjutnya.
Setibanya ditempat pertandingan, aku berhasil menemukan tempat yang tidak terlalu ramai namun memiliki pandangan yang jelas.
“jadi kau disini ya…”
Suara dari orang yang kukenal, namun saat ini aku tidak mau menemuinya.
(Bersambung…)
__ADS_1