Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 32 - Tanda Terimakasih


__ADS_3

POV Salwa / Icha


“Icha sekolah dulu yaaa”


“iyaa, hati-hati”


Kamis ini merupakan hari pertamaku sekolah. Sebenarnya sekolah sudah dimulai dari Senin, namun dikarenakan kesehatanku yang memburuk aku terpaksa izin sakit di 3 hari pertama sekolah dimulai.


Ini bukan pertamakalinya aku ketinggalan diawal masuk sekolah, tahun sebelumnya aku mengalami hal yang sama, sakit lalu izin tidak bisa hadir dan sehat setelah sekolah berjalan beberapa hari. Bisa dibilang ini salah satu kelemahan yang ada pada diriku, yaitu imunitas tubuh yang cukup lemah.


(waaah…ramainyaa…)


Layaknya pada sekolah biasa yang terjadi disetiap pagi, banyaknya siswa/i yang masuk kesekolah. Ada yang berjalan kaki sepertiku, ada yang menggunakan sepeda, ada yang menggunakan motor, bahkan diantar dengan menggunakan mobil.


(sepertinya sebutan sekolah elite juga dimiliki sekolah ini)


Bisa dibilang aku berasal dari keluarga kelas menengah, tidak kayak namun tidak juga kekurangan. Aku masuk kesekolah ini karena mendapatkan rekomendasi dari sekolah lamaku, lalu ketika hasil tes keluar, nilaiku cukup untuk diterima kesekolah ini. Namun mengenai kelas, aku tidak tahu ada dikelas mana.


(Salwa-salwa-salwa, ha ini dia… kelas A?) Aku berhasil menemukan kelasku, namun kenapa berada dikelas A?


Kring kring kring…


Bell sekolah menyadarkanku untuk segera menuju kelas dengan mempercepat langkahku.


(aah aku lupa melihat lokasi kelas)…


Di peta sekolah, aku hanya ingat bahwa lantai teratas diisi oleh seluruh kelas 1 baik itu jurusan ipa atau ips. Akan menjadi hal yang memalukan jika sampai aku salah masuk kelas.


“huff…huff” Akhirnya sampai ke lantai teratas, istirahat sejenak untuk memulihkan nafasku.


Gedung kelas berbentuk persegi, disalah satu sisinya khusus ruangan guru yang mengajar kelas tersebut, sedangkan 3 sisi lainnya merupakan kelas ipa dan ips dari A sampai D. satu-satunya cara untuk mengetahui lokasi kelas ips A ialah bertanya. Jika tidak, aku harus memiliki mental kuat jika salah masuk kelas. Setelah dipikir lebih dalam lagi, mentalku tidak sekuat yang ku kira, yang berarti pilihan pertama merupakan pilihan utama. Namun aku harus bertanya kepada siapa?


Semua murid sudah masuk kelas, meninggalkan aku yang masih istirahat memulihkan nafas dan tenagaku. Disaat harapanku pupus, ada seseorang yang datang melalui tangga.


“kenapa nak?” wajah khawatir terukir jelas diwajah pak guru.


“gak pak, kehabisan nafas aja, tadi ngejar biar gak telat masuk kelas”


“kedepannya hati-hati yaa naak, tidak perlu dipaksa, telat itu kalau tidak masuk gerbang, bukan kelas…”


“baiklah pak, terimakasih pak… oiya pak, kelas Ips A dimana?”


“ini disebelah kamu” mendengar kelasku merupakan kelas terdekat dari posisiku saat ini membuatku sangat lega.


“terimakasih paak, maaf pak karena saya baru masuk”


“ jadi kamu Salwa Nafisa yaa”


“eh iya pak, kenapa bapak bisa tahu?”


“karena saya wali kelasmu, kalau gitu bareng aja kita ke kelas. Sekalian juga bapak kenalkan kamu ke yang lain”


“baik pak, terimakasih”, sepertinya ini hari keberuntunganku.


Wali kelasku Bernama Teguh Saputra, aku mengetahuinya setelah Bapak tersebut mengenalkan dirinya didepan seluruh murid kelas. Dari itu juga aku mengetahui murid lain yang sama sepertiku baru masuk sekolah bernama Ikhsan Yuhandika. Mungkin karena aku duduk bersebalahan dengan Ikhsan membuatku menjadi salah satu temannya dan bisa dibilang dialah teman pertama yang Aku dapat disekolah ini.


Perpustakaan yang dimiliki sekolah ini tidak terlalu besar, layaknya 2 ruangan kelas yang dijadikan tempat penyimpanan buku. Salah satu hal yang membuatku menarik ialah kecepatan perbarui buku terbaru baik itu pelajaran maupun tidak dan batasan peminjaman buku yang cukup besar. Seakan-akan setiap siswa/i diperbolehkan membawa buku yang diinginkan. Mungkin peminjaman sengaja dibuat seperti itu untuk meningkatkan peminat, mengingat dizaman ini kebanyakan pelajar lebih menyukai berduaan dengan ponselnya dari pada sebuah buku.


Tanpa sadar, aku mengambil banyak buku novel untuk kupinjam. Ya benar, semua akan ku baca. Bisa dibilang buku merupakan teman terbaikku selama aku dikamar, mengingat lemahnya imun tubuhku, aku membatasi diriku untuk keluar rumah. Hasilnya bisa dibilang aku memiliki sedikit teman, sangat sedikit.


Seorang siswa menghindari diriku.


“maaf mas, tadi gak melihat mas. Hampir aja jadi masalah” kataku malu, mengingat hampir saja aku menabrak dirinya.

__ADS_1


“ya gak apa…omong-omong mbaknya butuh bantuan membawa buku sebanyak itu?” mendengar bantuan darinya seakan membuat diriku terbang. Sepertinya hari ini memang benar merupakan hari keberuntunganku.


Aku menerima bantuannya.


Siswa tersebut bernama Andi Alfiansyah kelas X Ipa D, kami berkenalan saling berkenalan. Dia juga sepertiku yang datang keperpustakaan untuk melakukan peminjaman buku, bahkan buku yang ingin dia pinjam merupakan salah satu buku yang ku inginkan. Selama beberapa minggu kedepan, Aku dan Andi sering bertemu di perpustakaan.


“untuk pelajaran kali ini kita sudahi dulu, oiya seminggu lagi kita akan mengadakan ulangan. Bapak harapkan semuanya siap yaa. Sekian terimakasih” Bapak Teguh mengakhiri pelajaran saat itu.


Salah satu alasanku memilih jurusan Ips ialah aku lemah terhadap angka, hitung-hitungan dan sejenisnya. Namun sepertinya sekolah ini tidak mengizinkan muridnya melupakan pelajaran yang tidak disukai. Memang benar kami hanya belajar Matematika Dasar, namun bagiku itu sudah dapat membuat otakku error. Ditambah suasana kelas yang kecil kemungkinan sunyinya, sehingga membuatku teringat sebuah tempat sunyi yang bisa diakses oleh seluruh siswa/i yaitu perpustakaan.


Aku membawa beberapa buku Mtk Dasar dengan harapan bisa memahaminya disini. Seperti biasa aku melihat Andi yang sedang membaca novel misteri tulisan J.K. Rowling.


“tumben buku pelajaran” sepertinya kedatangaku mengganggunya.


“iyaa nih, persiapan ulangan nanti”


“hoo gitu, semangat-semangat”


“siip”


Seperti biasa kami fokus melakukan urusan masing-masing. Namun semakinku memperhatikan buku Mtk Dasar, semakin membuatku tidak paham.


“aaaahhh!!!!, gak paham aku” kataku menyerah.


“materinya tentang apa?” Ya benar, aku menganggu keasikan Andi dalam membaca novel.


Karena aku tidak tahu nama materi, aku memperlihatkan gambar yang ada dibuku kepadanya.


“ini…”


“hoo ini, sistem persamaan dua linear”


Dia tahu, apa mungkin dia paham?


“sedikit sih…”


Senangnya mendengar ada orang lain yang bisa memahami materi itu. Tanpa sadar aku meminta dia untuk mengajariku dan dia tidak menolak. Selama seminggu kedepan aku selalu belajar diperpustakaan dan Andi menjadi teman belajarku. Berkat bantuannya tes ulangan bisa kulalui dengan mudah.


(sepertinya aku berutang kepadanya)


Setelah tes ulangan, kelas kami kembali mendapatkan info bahwa akan diadakan lomba kemerdekaan. Ini hal yang biasa terjadi di seluruh sekolah Indonesia namun hal yang ditunggu oleh siswa/inya. Selain tidak belajar, para siswa/i bisa menunjukkan keahliannya selain belajar.


Hari pertama telah berlalu, debutku berada dihari kedua. Salah satu lomba yaitu memasak menjadi tugasku untuk meraih kemenangan. Masakan khas daerah yang akan kupersembahkan ialah Sop Konro. Sebuah makanan khas makassar ini sangat kaya akan rempah-rempah, sehingga memiliki rasa gurih sedap yang unik. Bisa dibilang ini merupakan salah satu makan kesukaanku dan tentu aku bisa memasaknya.


“chaa, ada lagi butuh bantuan untuk persiapan?” Ikhsan bertanya.


Dia dan beberapa cowo kelas lainnya siap membantuku untuk menyiapkan segala keperluan memasak.


“sudah cukup san, dan semuanyaa makasih yaa”


“yaa, sama-sama”


Selain Ikhsan, semua cowo segera meninggalkan tempat wilayah memasakku.


“Aku ke tempat teman yaa”


“ok san, gak apa”


Aku terkejut arah yang ditujunya, seorang siswa yang wajahnya tak asing bagiku. Memang sih dari tadi aku fokus bersiap sehingga tidak melihat keadaan sekitar dan tidak menyadari keberadaannya. Orang yang dia tuju ialah Andi, teman belajar dan membacaku yang juga merupakan teman Ikhsan. Salah satu orang terpintar dikelasku.


(apa mungkin Andi juga sama yaa? )


Namun  aku teringat gaya berteman Ikhsan yang tak memandang kelas maupun orang, sehingga hal yang wajar jika ia berteman dengan orang kelas D.

__ADS_1


Aku kembali memfokuskan pandanganku dengan memeriksa semua persiapan.


Semenit, dua menit, hingga lima menit berlalu. Fokus ku pecah ketika suara orang yang ku kenal memanggil namaku.


“chaa!!”


Andi berada didekat wilayah memasakku, ia berdiri sambil membawa sekantong plastik.


“yaa… ada Andi disini yaa”


“benar ya kata Ikhsan, kalau kamu yang menjadi peserta”


“ya benar dong, walau aku selalu diam diperpustakaan, namun aku bisa memasak”


“hoo gitu yaa, baguslah. mau masak apa?”


“Sup Konrou, tau?”


“gak sih, baru dengar”


Aku mendapatkan sebuah ide, untuk membalas utang karena ia telah mengajariku.


“bagaimana kalau kapan-kapan aku masakkan Andi Sup Konrou?”


Teng!!! Salah satu peralatan masak disebelahku jatuh. Kalau tidak salah dia adalah Mbak Lulu, salah satu kelas 2 yang menjadi pembicaraan hangat bagi cowo dikelas.


“butuh bantuan Mbak?” Andi menawarkan bantuan,


“tidak perlu kok, tadi licin aja tanggannya”


Sepertinya hal yang wajar jika senior menolak bantuan junior.


“jadi gimana, mau atau gak Andi?”


“yaa kalau makanan susah sih ku tolak, tapi dengan satu syarat?”


“apa itu?”


“aaa...Cha, tolong tunjukkan semua bahan-bahannya”


Syarat yang mudah, mungkin dia ingin mengingat bahan-bahannya atau mungkin ada beberapa bahan yang tidak diketahuinya?. Tapi yang pasti dengan menuruti syaratnya aku bisa melunasi hutangku.


“baiklah, tunggu sebentar. Aku siapkan dulu”


Sesuai perkataanku, ia menuggu berdiri dibelakangku dan membelakangi wilayah Mbak Lulu.


“ok ini diaa”


Semua bahan telah ku siapkan.


“banyak juga yaa, sepertinya akan enak”


“benarkan, jadi nanti Icha kabarin kapan waktunya”


“ok”


Janji dadakan berhasil kubuat, setelah itu Andi pergi. Melihatnya menjauh membuatku teringat sesuatu,


(sepertinya ada yang hilang, tapi apa yaa?)


pikiranku pecah ketika panitia akan memulaikan lomba memasak.~~~~


“Baiklah, ~~~~kali ini Lomba memasak dimulai!!!”

__ADS_1


(bersambung…)


__ADS_2