
POV Danin
Andi pergi menjemput temannya, kini hanya kami duduk berdua.
“jadi gimana menurutmu?”
“hmm, bagus cara dia bermain. Dia masih ingat kapan harusnya menyerang, kapan harus mundur, bahkan tau kapan harus melakukan pertaruhan.”
“hoo sehebat itukah?”
“ya…mengingat fakta yang kamu bilang dia sudah lama tidak bermain namun dia bisa mengimbangi kami yang sudah biasa bermain bersama, Itu sudah hebat…kalau orang normal, butuh beberapa game untuk terbiasa kembali, sedangkan dia cuman butuh beberapa menit.”
“adik siapa dulu itu…” dengan wajah sombong.
“yaa… adikmu.”
Tujuan sebenarnya ku mau menjadi supir ialah untuk melihat kehebatan bermain game Andi, adiknya temanku. Sering ku mendengar darinya betapa hebat adiknya bermain. Tentu awalnya ku tak percaya, karena tidak ada bukti jelas selain bukti malam ini. Bahkan seluruh anggota tim ingin mengetahui kehebatannnya, hingga negoisasi antara ku dan mbaknya terjadi. Aku setuju menjadi supir dengan syarat bisa melihat atau bermain bersama adiknya dan sekarang kedua perjanjian sudah kami laksanakan.
Di game pertama ku bisa melihat dia mulai membiasakan dan memahami gaya bermain kami. Butuh sedikit waktu baginya untuk menyesuaikan. Di game kedua ia mulai terbiasa, waktu yang dibutuhkan untuk menang berkurang cukup banyak. Di game ketiga ku semakin melihat bakat yang dimilikinya.
(ayahnya pembuat game, anaknya ahli dalam bermain game, mbaknya juga ahli dalam bidang lain…)
Pikiranku bubar ketika mbak Andi ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.
“mungkin karena dulu dia sering bermain dengannya”
Terlihat sebuah foto cowo.
Awalnya tidak ku kenal, namun setelah melihatnya lebih 10 detik ku mengenal cowo difoto tersebut. Cowo itu adalah salah satu pemain Esport moba yang dikenal akan Job Shooternya.
“dia kan-”
“ya, itu dia. Dulu sebelum dia terkenal seperti sekarang, mereka berdua sering bermain bersama.”
Fakta baru lagi yang membuatku terdiam. Mungkin kalau teman-temanku tahu fakta ini, chat grup pasti akan lebih rame karena ingin merekrut Andi kedalam tim, namun belum tentu Andi akan setuju.
Good Game…
**
POV Ikhsan
Akhirnya tiba dijogja, sebuah kota yang mendapatkan julukan kota pelajar karena banyaknya pelajar yang mencari ilmu disini. Sekolah sudah dimulai dari senin lalu, sedangkan diriku baru tiba rabu malam. Kata temanku Andi, “tidak masalah telat, minggu pertama biasanya perkenalan”. Kalau dia dah bilang seperti itu, aku hanya bisa mengikuti aja.
Koper sudah dapat, saatnya keluar.
“sini barang-barang kau yang ringan” pintanya setelah melihat tanganku penuh akan barang-barang.
“ok, makasih”
“gimana naik pesawat?”
“waahh, seru hahaha… jadi orang katrokku…haha”
“haha…kok bisa delay?”
“hmm, kalau gak salah bandara penuh. Jadi pesawat mutar-mutar diatas selama 1 jam hingga nunggu kosong.”
“hoo, atau mungkin pilotnya tau kalau kau baru naik pesawat. Jadi sengaja dilamain…”
__ADS_1
“hmm…iya juga ya…haha…”
Ah…kurang lebih sudah 3 bulan kami tidak bertemu, selama itu juga tidak bercanda bersama.
“gimana orang tuamu ndi?”
“yaa gitulah…makin sibuk semenjak itu akan keluar”
“ooiya, sekolah gimana?”
“lumayanlah, besok kan kau rasakan juga.”
“iya sih…”
Dari jauh, ku melihat mbak Andi dengan seorang cowo yang tidak kukenal. Semakin dekat, semakin jelas kalau wajah kakaknya semakin cantik.
Kakak merupakan kata lain dari mbak. Di Sumatera kata kakak lebih sering digunakan dari pada kata mbak. Jika ke cowo yang lebih tua, di Sumatera menggunakan kata Bang, yang memiliki arti sama dengan mas. Mungkin seiringnya waktu aku akan terbiasa menggunakan kata mbak, atau mungkin bisa berbahasa jawa.
“halo ikhsaann… akhirnya tiba dijogja..oiya, ini perkenalkan danin teman mbak. Dan ini Ikhsan teman adikku, tapi akan tinggal serumah dengan kami, ya bisa dibilang adik angkatku.”
Mbak memperkenalkan kami berdua, tapi adik angkat?
“ ok, dah saling kenal kalian kan… saatnya pulang. Mbak dah mulai ngantuk ni, kalian juga masuk pagi.”
Kami pulang.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang bisa kami bahas. Rasa lelah dan kantuk menyelimuti seluruh penumpang, hingga tanpa sadar ku tertidur dalam perjalanan.
Tidak ada mimpi dalam tidur.
Ketika bangun, mobil sudah berhenti didepan rumah yang akan kutempati. Mengeluarkan seluruh barang, lalu masuk kerumah.
“aaahhh…akhirnya sampai. Danin mau minum dulu?”
Bang Danin pamit pulang.
“mbak mau tidur lagi, kalau butuh apa-apa minta ke Andi aja ya saan.”
“iya kak. Makasih”
Kak Andi masuk kamar.
“ ayo sini, ku kasih tau kamar yang akan kau tempati”.
Sebuah kamar dengan kira-kira ukuran 4x5 meter akan menjadi kamarku. Perlengkapan yang disediakan sangat lengkap. Ada tempat tidur, meja, lemari, full set komputer, dan kebutuhan lainnya. Kini yang perlu kulakukan
cukup memindahkan pakaian ke lemari dan tinggal tidur.
“ini komputer lamaku, bisa kau pake bebas. Anggap aja sudah jadi komputer sendiri”
“bingung ku mau ngomong apa selain makasih.”
“haha gak apa santuy. Oiya dataku masih ada disana, jadi nitip duluku sampai rakit pc baru lagi.”
“mau rakit pc spek terbaru?”
“yaa, tinggal nunggu Case komputer. Kalau dah sampai Casenya tinggal rakit.”
“Case yang itu?”
__ADS_1
“yaa…sepertinya sekitar 1 bulan lagi sampai. Shipping-nya cukup lama.”
“Nice… gak sabar mau lihat Casenya.”
Sebuah Case komputer yang sangat langka dan hanya dibuat terbatas. Case dengan model seperti Case komputer lama, namun bagian dalamnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan komputer masa kini. Dari luar terlihat seperti komputer tua namun ketika melihat kedalam akan membuat siapa saja terdiam.
“ ada butuh sesuatu lagi gak?”
“untuk saat ini gak ada, sisanya bisa kuurus sendiri. Sekali lagi makasih Ndi”
“sip, sama-sama. Dah ku tidur lagi.”
Andi menuju kamarnya yang berada tepat disamping kamarku. Masuk dan memindahkan seluruh pakaian ke lemari, menyiapkan baju sekolah, lalu saatnya tidur.
Pagi hari, kami telat bangun.
Sarapan sebisanya, lalu segera pergi. Berdua, kami menggunakan motor menuju sekolah. Mungkin karena cukup ngebut, kami tidak terlambat. Segera menuju kelas. Terkejut kurasakan ketika tahu kelas 1 berada dilantai teratas, harus melewati banyak tangga agar tiba dikelas.
“ini kelas kau, X IPS A. gak butuhkan ku masuk memperkenalkan kau ke seluruh anak kelas?”
“haha…gak lah, bisa sendiriku”
“kelas kau dimana?”
“disitu” ia menunjukkan kelasnya yang tidak jauh dari kelasku.
“ok, nanti ku chat ato kesana saat istirahat nanti”
Andi pergi ke kelasnya.
Masuk kelas, isi kelas sudah mulai ramai. Bingung tidak tahu kursi yang masih kosong, membuatku tidak memiliki pilihan selain bertanya.
“maaf, kursi yang masih kosong dimana ya?”
“ohh ada dua yang kosong, disitu” dia menunjukkan posisi tersebut.
“oh gitu, makasih ya..”
Dua meja kosong, berarti ada seorang lagi yang belum masuk sama sepertiku. Wajar jika dua meja tersebut kosong, alasannya berada tepat di depan meja guru. Bagiku berada diposisi mana aja tidak jadi masalah, yang penting bisa belajar dengan nyaman.
Bel berbunyi. Jam pelajaran dimulai.
Pak Guru masuk kelas bersama seorang siswi. Tampilannya sederhana dan menggunakan kacamata, seperti kutu buku.
“pagi semuanya, ini teman baru kita yang baru bergabung. Namanya Salwa Nafisa”
“salam kenal semuanyaa..”
“Salwa duduk disini” pak guru menunjuk meja disebelahku.
“oh, ternyata seluruh anak kelas saya akhirnya lengkap. Disamping Salwa ada Ikhsan. Mereka berdua baru bisa bergabung dengan kita karena ada urusan yang tidak bisa ditunda.”
Segera ku berdiri dan menghadap ke anak kelas lainnya.
“salam kenal semuanya”
“karena dah kenalan, Bapak akan kenalan lagi. Nama bapak Teguh Saputra, Bapak yang akan menjadi wali kelas kalian. Mengenai perarutan sekolah Salwa dan Ikhsan bisa tanya ke teman-teman. Sekarang saatnya kita mulai belajar”
Salwa yang sudah duduk mulai mengeluarkan beberapa buku untuk bersiap belajar. Tidak mau kalah darinya, ku mengikuti hal yang sama.
__ADS_1
(akhirnya sekolahku dimulai)
(bersambung…)