
Bisa dibilang ini pertama kalinya aku naik motor berdua Bersama cowo selain Ayah dan adikku. Bukan berarti aku tidak pernah mendapatkan tawaran dari cowo lain, melainkan Salma yang selalu memberikan dan menerima tumpangan dariku. Atau mungkin Salma selalu melindungiku yaa?!
“oiyaa chaa, boleh singgah ke Swalayan dulu?”
“ok, gak apa kok. Sekalian juga acha mau jajan cemilan”
“makasih”
Sepertinya ini berkat aku yang selalu menjadi anak yang baik, kukira hanya bisa berduaan selama perjalanan pulang, namun bisa belanja berdua dengannya membuatku semakin bahagia.
Kami berhenti di swalayan, memarkirkan motor dan segera masuk. Sore ini suasana swalayan tidak begitu ramai, beberapa pelanggan sama seperti kami yang singgah ke sini ketika pulang dari kerja. Bahkan aku melihat beberapa anak sekolahan yang belanja membeli kebutuhannya.
“mau beli apa aja Ndi?”
Andi berhenti mendorong trolley, lalu membuka ponselnya.
“Ini daftar belanjaannya cha, Acha aja yang pegang. Biar Andi yang dorong trolleynya”
Daftar belanjaannya cukup banyak, bisa dibilang bahan makanan untuk seminggu kedepan. Ada sayuran, daging, ayam,telur, ikan, mie, dan beberapa jajanan.
“banyak juga yaa”
“iyaa, maaf merepotkan yaa chaa”
“gak apa kok”
Malah aku bersyukur, bisa merasakan belanja kebutuhan hanya berdua denganmu. Biasanya sih aku belanja dengan keluargaku, jadi ini bisa dibilang pengalaman pertama yang berharga.
“ayo kita kesana, ke wilayah sayuran”
“siap, aku siap berada disisimu”
(eh…)
Fokus, fokus acha. Disisiku bukan berarti dia akan melamarmu, itu hanya kata-kata biasa, tidak mungkin Andi bermaksud hal seperti itu.
Aku mengambil beberapa ikat kangkung dan bayam, sedangkan Andi mengambil 2 kol dan 3 tempe ukuran besar.
“Cabe tolong pilihkan chaa, gak tau ku cabe yang bagus seperti apa”
“yep aman, kalau gitu Andi ambil 3 tomat ya. Ada disebalah sana”
“baiklah”
Alasan Andi tidak suka pedas mungkin sama dengan alasan orang lain, tidak tahan pedas. Sedikit pedas saja bisa membuatnya keringatan. Dulu Ibuku pernah menyiapkan makanan untuk kami dan ia tidak sengaja memberikan cabe kedalam masakannya, Ketika kami makan bersama Ibu memberitahu kami bahwa ia memberikan sedikit cabe.
Mungkin Andi merasa tidak enak menolak makanan Ibu, ia tetap makan. Beberapa saat kemudian keringatnya mulai keluar, Andi minum banyak. Ibu sudah minta untuk menyudahi saja makannya karena kepedasan, namun Andi tetap makan karena ia tidak mau mubazir.
“sudah semua sayurannya Chaa?”,
“tunggu yaa, Acha liat lagi” aku memeriksa kembali seluruh daftar belanja di ponselnya.
“aman, sudah semua. Selanjutnya kita ke wilayah daging, ayam dan ikan.
Diwilayah ini, sudah ada beberapa penjaga yang siap membantu memotong daging, ayam dan ikan sesuai keinginan kita. Sehingga tidak butuh waktu lama, semua kebutuhan daging, ayam, dan ikan terpenuhi.
“telur lagi ya chaa”,
“iyaa, butuh 2 lusin telur”,
“biar cepat, acha pilih 12, aku 12”
“yaa, baiklah”,
Lokasi telur berada didekat wilayah daging. Banyak telur yang disediakan, para pelanggan dipersilahkan memilih telur yang di inginkan, lalu harganya disesuai berdasarkan berat. Karena tempat telurnya berbentuk persegi cukup besar, aku dan Andi saling berseberangan.
Seorang Wanita ikut memilih telur didekatku.
“mbaak, tolong telur yang itu” Wanita tersebut meminta tolong kepadaku.
“yang ini?”,
__ADS_1
“iyaa”,
“maaf mbak, telur yang ini sudah ku pilih.” Aku mengambil telur lalu meletakkannya didekatku, setelah terkumpul 12 butir baru kumasukkan kedalam plastik.
“hoo begitu, maaf yaa” mbak tersebut melihat kearah Andi lalu Kembali kearahku.
“berarti sama ya yang dilakukan dia dengan mbak?” ia menunjuk kearah Andi.
“yaa mbak… kami belanja bersama”,
“hoo…begitu, maaf menganggu yaa. Selamat berduaan” ia tersenyum lalu pergi ke tempat lain. Mendengar perkataanya membuat wajahku memerah lagi.
“Achaa lagi sakit?”,
“mmm…enggak kok… baik-baik aja. Andi pilih aja telurnya”
“udah kok, ini sekarang nunggu Acha”,
“maaf, kalau lama”,
“gak apa kok, santai aja”,
Ah mendengar perkataan mbak tadi membuat aku kehilangan fokus. Setelah memasukkan ke 12 telur, kami menimbang dan mendapatkan harga telur tersebut. Untuk daftar belanja selanjutnya cukup mudah, kami berdua hanya perlu keliling berdua dan mengambil seperlunya. Sesuai perkataanku diawal, aku juga belanja beberapa cemilan untuk mengisi kembali cemilanku yang sudah habis.
“sudaah semuaa…” aku mengembalikan ponsel Andi.
“makasih, saatnya bayar lagi”,
Untungnya antrian pembayaran tidak Panjang, hanya cukup mengantri 1 orang.
“tunggi sini chaa, ada yang lupaa”
“yaa”
Andi pergi kesuatu tempat. Giliran tiba untuk membayar, aku mengeluarkan seluruh cemilanku terlebih dahulu agar mudah dipisahkan.
“tambah ini mbak” tanpa kusadari, Andi sudah kembali membawa 2 cup es krim rasa coklat dan stoberry. “barang belanjaan Acha biar Andi yang bayar”
“makasih”
“aku yang makasih dah bantu belanja”
“yaa, kapan-kapan kalau mau lagi tinggal kabarin”
“kalau itu, tergantung kondisi aja ya”
Semua belanjaan sudah dipindai dan total belanja cukup banyak. Andi mengeluarkan sebuah kartu debit untuk melakukan proses pembayaran. Kemungkinan kartu tersebut atas nama mas atau mbaknya, karena kami yang masih SMA masih belum cukup umur untuk membuat kartu debit sendiri. Dan dengan total belanja segitu, lebih aman membayar dengan debit dari pada dengan uang.
“ini, Acha bawa Telur dan belanjaan Acha aja”
“baiklah”
Dengan pasti Andi membawa kantong belanja yang penuh akan daging, ayam, ikan, sayuran dan belanjaan lainnya. Memang sih memberikan telur kepadaku untuk menghindari telur tersebut pecah, tapikan bisa membagi belanja tersebut secara seimbang.
Kami keluar.
Andi mengarahkanku ke tempat duduk.
“santai dulu, kita es krim dulu sebelum cair”
2 eskrim cup berada diplastik yang kubawa, setelah duduk aku memberikan eskrim rasa stoberry kepada Andi dan coklat untukku.
“sore-sore emang enak eskrim”
“benarkan”
Merahnya langit menjadi sinar kami, banyaknya orang yang berjalan menjadi tontonan kami, dan suara kendaraan menjadi pengisi dikala kami saling diam. Aahh… Nikmatnya.
“oiya chaa, tolong bilang ke ayah sabtu ini Andi mau datang ke toko”
“baiklah, mau beli?”
__ADS_1
“enggak, minta rakitin komputer”
“sibuk kali ya sampai gak bisa rakit sendiri?”
“yaa gak juga sih, lagi males aja”
“jangan males dong… baiklah nanti acha kabarin ayah”
Aku tau sih ia tidak mau membuatku khawatir karena kesibukannya, oleh karena itu ia menggunakan kata malas.
“gimana persiapan kemerdekaan besok?”
“aman kok untuk besok…oiya Acha ikut lomba Masak dan Ranking 1 jadi tolong-”
“Acha bisa masak?” dengan wajah kagetnya.
“ya bisa dong… gini-gini dah banyak acha bisa masak”
“hoo gitu, pengen rasanya mencicipi masakan Acha”
“yaa kalau emang mau, datang Ketika lomba nanti. Sebagai gantinya…”
“mau apa?”
“tolong dukung Acha yaa”
“aman, dengan segenap hati Andi dukung. Demi makanan gratis”
“aaah…terserah..” aku kesal, tapi senang.
“kalau Andi ikut lomba apa aja?”
“gak ada ikut, yang lain sangat semangat sampai kebagian slot”
“yakin gak apa tu?”
“yaa gak apa, lagi pula Andi mau coba alat Vear yang akan dirilis nanti malam”
“oiya, itu dh mau rilis. Jangan begadang mainnya yaa…”
“iyaaa aman Achaa…”
Sebuah Alat bermain game Bernama Vear, dibuat oleh sekelompok orang yang ingin membuat kita merasakan game secara nyata. Salah satu orang dalam kelompok itu ialah Ayahnya Andi. Oleh karena itu Andi bisa mendapatkan Vear lebih dahulu dari pada orang lain.
“kalau mau, Acha mau Vear sama adek Acha juga”
“jangan dulu, dia lagi tes ulangan. Nanti malah gak fokus sama tes ulangan”
“hoo gitu, iya sih…btw, tes ulangan Acha gimana?”
Mulai senin minggu lalu, kami sudah mulai melaksanakan tes ulangan yaitu tes untuk menguji kemampuan kami selama mempelajari 1 bab dalam pelajaran.
“amaan… bahkan Acha hampir dapat nilai sempurna disemua pelajaran”
“hoo gitu, bagus-bagus. Kalau gitu mau dikasih hadiah atas pencapaiannya?”
“mmm…gak perlu, karena ini sudah cukup kok” suaraku semakin kecil.
“apa? Mengecil suara Acha.”
“enggak, gak ada apa-apa…”aku menenangkan diriku lagi. “gak perlu kok Ndi”
“ok lah, eskrim sudah habis. yuk kita pulang”
“yaa…”
Tiba dirumah. Ibuku menyambut kami berdua, setelah berpamitan kepada Ibu, Andi segera pulang. Membersihkan diriku, makan bersama keluarga dan setelah memastikan tidak ada tugas sekolah akhirnya aku bisa bersantai. Memeriksa ponsel yang dari tadi isi ulang, sudah ada pesan dari Salma.
“eeee…siapa tadi Achaa? Kok dia boleh manggil Acha disekolah sedangkan Salma tidak?”
Sepertinya malam ini tugasku ialah menjelaskan sedikit hubunganku dengan Andi.
__ADS_1
(Bersambung…)