Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 27 - Hari Pertama Lomba


__ADS_3

POV Andi


Suasana sekolah pada hari ini sangat berbeda dengan hari-hari biasa. Hal itu disebabkan perayaan kemerdekaan Indonesia yang akan terjadi pada tanggal 17 agustus. Seluruh sekolah dari sabang sampai Merauke merayakan kemerdekaan dengan melaksanakan berbagai lomba termasuk sekolah ini.


Ada 9 lomba yang akan diadakan selama 3 hari kedepan, untuk hari ini ada lomba Cerdas cermat babak penyisihan, estafet dan adu kekuatan para cowo tarek tambang.


Sesuai penjelasan dari modul lombanya, babak penyisihan cerdas cermat akan dilakukan antar tingkatan kelas dahulu, setelah mendapatkan pemenang diantara tingkat kelas, di hari sabtu akan menjadi pertarungan final cerdas cermat.


“gimana Tia udah tahu mau masak apa?”


“belum kuputuskan, ini masih nyari yang pas”


“kalau butuh bantuan bilang aja ya, selagi aku gak ngapa-ngapain”


Yap. Selama 3 hari kedepan aku tidak mendapatkan peran untuk mencoba memenangkan salah satu lomba. Bukan berarti aku tidak mau, melainkan itu sudah menjadi keputusan bersama pada hari selasa lalu.


Setelah mendengarkan pemberitahuan dari pembina upacara, seluruh siswa-siswi menjadi semangat dengan perlombaan kemerdekaan. Lalu pada hari yang sama setiap kelas sangat antusias termasuk kelasku. Maka dari itu hari selasa lalu kami akhirnya memutuskan siapa saja yang akan ikut perlombaan.


Tidak hanya diriku yang tidak ikut lomba, melainkan ada 5 orang dikelas yang mendapatkan peran ini. Mungkin lemahnya semangat atau penampilan kurang meyakinkan yang membuatku tidak terpilih. Namun setidaknya aku bersyukur, karena keputusanku diawal ketika masuk sekolah bisa terjaga dengan menjadi peran ini.


“kalau masak ini gimana?” Tia menunjuk makanan khas dari daerah lamongan yaitu soto ayam.


“soto ya, cocok itu Tia. Kaya rasa dan hangat”.


“cocok?”


“kalau sesuai prediksi dari ponsel besok mendung dan berpotensi hujan, dari senin juga langit sudah mulai berawan” memperlihatkan prediksi dari ponsel.


“hoiya benarr kamu Ndi”


“bahan-bahan gimana? Mau dibantu?”


“bisa kalau itu, ada semua kok dirumah. Tapi..”


“tapi?”


“gasnya kalau bisa Ndi.”


“bisa, besok kubawa”


Lomba masak akan diadakan besok setelah shalat Jumat. Pihak Osis hanya menyiapkan kompor gas portable, kuali dan spatula untuk setiap kelas. Diperbolehkan membawa peralatan tambahan dan harap melapor ke Osis jika peralatan tersebut membutuhkan listrik paling lama h-1 sebelum lomba. Itulah yang tertulis dimodul.


“oiya, dia masak apa ya…” kataku pelan


“diaa?”


“teman, dia ikut lomba masak jugaa”


Aku tidak bisa menyebutkan nama acha karena masih ada orang lain didalam kelas. Akan butuh waktu lama untuk menjelaskan darimana aku mendapatkan info tersebut, oleh karena itu lebih baik aku tidak menyebut namanya.


“hoo…dia ya…”


Tia merupakan salah satu orang yang mengetahui hubunganku dengan acha walau hanya tau permukaannya saja. Aku yang memintanya untuk tidak memberitahukan kepada orang lain, syukur Tia tidak keberatan dan tidak bertanya lebih lanjut.


“jangan lupa bawa notanya”


“ok”


Hal yang membuatku kagum ialah Tia tidak hanya menjadi Sekretaris kelas, melainkan ia juga Bendahara kelas. Awalnya kukira 2 peran tersebut akan dipisah, namun ketika mendengar dari Nabila bahwa lebih efisien jika 2 peran tersebut dijadikan satu. Setelah mengetahui itu, aku sebisa mungkin ingin membantunya dalam lomba.


“hoo sudah jam segini, ku mau ke tempat lomba Cerdas cermat”


“mau dukung kelas ya, Tia ikutlah…”

__ADS_1


Cerdas cermat diadakan didalam Aula, lokasi gedungnya tepat disamping gedung kelas. Masalahnya karena kami kelas 1 berada di lantai 3, harus turun kebawah. Selama diperjalanan kami berbincang berbagai hal, seperti Tia yang akan mengikuti lomba ranking 1 pada hari sabtu dan Nabila yang akan ikut lomba menggambar.


Hubunganku dengan Nabila setelah hari itu menjadi cukup dekat, bisa dibilang Nabila merupakan orang ke 3 yang mengetahui identitasku. Aku percaya kepadanya, dia bukan tipe orang yang akan mengkhianati orang terdekatnya karena itu merupakan salah satu keputusan yang ia buat sebelum bersekolah. Saat ini Tia dan Nabila menjadi teman terdekatku dikelas.


“duduk disana yuk” Tia menunjuk ke posisi tengah penonton.


Aku mengikutinya dengan baik.


Suasana aula tidak ramai dan tidak sepi, mungkin karena sebagian siswa-siswi sedang memberikan dukungan ke lomba estafet.


Diatas panggung sudah dipersiapkan 4 meja untuk perwakilan tiap kelas. Nantinya setiap kelas di jurusan dan Angkatan yang sama akan bertanding, poin tertinggi akan menjadi pemenang. Setelah 6 kelas pemenang ditemukan, 4 poin tertinggi akan melanjutkan pertandingan pada hari sabtu nanti.


“Pagi semuanyaaa… terimakasih telah menunggu. Saat ini kita akan memulai lomba cerdas cermat yang akan dimulai untuk jurusan Ipa kelas 1.” Semangat pembawa acara memenuhi seluruh aula. “tiap-tiap perwakilan kelas diharapkan segera naik ke atas panggung.”


Perwakilan kelasku ialah Kevin, Dewi dan Fadli. Kombinasi yang kurang pas jika aku boleh berpendapat. Alasannya Fadli dan Kevin yang memang mau ikut dan sudah disetujui oleh seluruh anggota kelas, sedangkan Dewi yang hanya ingin memperkuat status Ratunya dikelas menyaingi Farah Ratu kelas lainnya.


Selama 1 bulan ini, para cewe dikelas terbagi atas 3 pihak. Pihak pertama yang dipimpin oleh Dewi, pihak kedua yang dipimpin oleh Farah dan pihak ketiga yang tidak memihak siapapun. Perpecahan ini aku kurang tahu disebabkan oleh apa, atau mungkin ini sudah menjadi kebiasaan para cewe? Ah memikirkannya saja membuatku malas, selagi mereka tidak mengusik, aku tidak masalah.


“lomba cerdas cermat ini dibagi 2 babak, babak pertama tiap kelas akan menjawab berdasarkan amplop yang dipilih. Jika benar akan mendapatkan poin, tidak salah atau tidak bisa menjawab maka pertanyaan itu akan direbut oleh kelas lain. Lalu babak selanjutnya 10 soal rebutan, jika benar mendapatkan poin dan jika kalah poinnya akan dikurangi. Apakah semua peserta sudah paham?”


“sudaah”


“Kita akan mulai dari kelas Ipa D, diharapkan pilih antara amplop 1 sampai 4”


“kami pilih nomor 3” Fadli menjawab dengan percaya.


“ok, soal pertama ialah…”


**


45 menit telah berlalu, poin tertinggi dipegang oleh kelas A dan poin terendah dipegang oleh kelasku D.


“memasuki 3 pertanyaan terakhir. Kelas A memimpin dengan 11 poin, kelas B dengan 9 poin, kelas C dengan 8 poin dan kelas D dengan 6 poin. Para penonton berikan semangat keseluruh pesertaa…”


“Pertanyaan rebutan ke 8 : Siapakah pengetik naskah-”


Kling kling kling


“kelas A silahkan”


“Sayuti Melik”


“waah sangat percaya sekali ya dengan jawabannya walaupun belum mendengarkan seluruh soal”


Jawabannya benar. Kenapa begitu? Penjelasan simpelnya karena lomba ini merupakan salah satu kegiatan untuk memeriahkan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu dari tadi pertanyaan rebutan merupakan seputar sejarah Indonesia dalam upaya menggapai kemerdekaan.


“dan jawabannyaa…benar. 1 poin didapatkan”


Sekelompok pendukung memberikan tepuk tangan, sepertinya mereka dari kelas A.


“hebat yaa…soal belum selesai sudah bisa dijawab. Untuk kelas lain, jangan mau mengalah yaa…” dengan penuh semangat. “pertanyaan ke 9 : Siapakah nama penjahit Ben-”


Kling kling kling


“lagi-lagi kelas A, silahkan menjawab”


“Ibu Fatmawati”


“Benaaarrr… 1 poin lagi berhasil didapatkan”


Kini, setengah penonton memberikan tepuk tangan.


“pertanyaan terakhir: Siapakah nama pahlawan di mata uang se-”

__ADS_1


Kling kling kling


“huuooo…kelas D mencoba menjawab sebelum mendengarkan seluruh soal”


Ada 3 kemungkinan jawaban, jika kalimat terakhir ialah seribu maka jawabannya ialah Kapitan Pattimura, atau sepuluh ribu Frans Kaisiepo, dan kemungkinan terakhir seratusribu ialah Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.


“Frans Kaisiepo” Fadli menjawab


Itu yang dia pilih.


Menurut buku yang ku baca, Bapak Frans Kaisiepo pernah menjabat sebagai Gubernur Irian Barat. Bapak Frans juga pernah terlibat Konferensi Malino pada tahun 1946 yang membicarakan pembentukan Republik Indonesia Serikat.


“jawabannyaa ialah…Salah!!!”


Menyisakan 2 kemungkinan jawaban, uang seribu atau seratusribu.


“saya ulangi soalnya, Siapakah nama pahlawan di mata uang seri-”


Kling kling kling


“kelas A silahkan menjawab”


“Kapitan Pattimura”


Benar. Kunci agar tahu jawabannya ialah setelah suku kata se yaitu ri. Karena jika digabungkan diketahui kata seri, dalam mata uang yang memiliki kata tersebut didalam mata uangnya hanya seribu. Dan terakhir menekan bell secepat mungkin dan menjawab dengan benar.


“benarr….”


Tepuk tangan diberikan oleh seluruh penonton.


“pemenang Jurusan Ipa kelas 1 ialah kelas A dengan skor 14 poin. Bagi kelas yang kalah mohon jangan berkecil hati. Terimakasih para peserta telah berpartisipasi.”


Seluruh peserta turun dari panggung, aku dan Tia keluar Aula melalui pintu Timur.


“aaah…kalah telak kelas kitaa” kata Tia dengan lesu.


“iyaa, lain kali coba Tia sama Nabila yang ikut. Satunya lagi terserah siapa, bisalah kalian melawan kelas A”


Perkataanku bukan tanpa alasan, menurut pengamatanku mereka berdua adalah siswi terpintar dikelas. Kalau diurutkan Tia perinkat pertama, lalu Nabila peringkat kedua. Mengingat mudahnya mereka memahami pelajaran selama sebulan ini membuatku yakin kemampuan mereka bukanlah berada dikelas D.


“kalau gitu, orang ketiganya Andi. Pas itu kombinasi kita bertiga bisa mengalahkan kelas A”


“APAAA??? JANGAN NGAYAL KALIAN…” balas seorang siswa dibelakang kami.


Diliat dari nama dibajunya, tertulis Rangga Alestra.


“yaa gak perlu teriak-teriak jugaa…”


“Asal kalian tahu, yang tadi ikut saja belum top kelas kami sudah menang telak, apalagi top kelas yang ikut. Makin tertinggal kalian, apalagi kalian yang kelas D!!!”


(sepertinya dia sudah menguping dari awal keluar aula)


“hoo gitu, makasih infonya. Yuk kita pergi Tia, abaikan saja dia…” balasku.


“HAA???...KAU SOPAN SAMA KELAS A” dia mencengkram bahuku dengan keras, suaranya yang keras membuat tangan Tia sedikit gemetar.


“kau yang memulainya yaa, jangan salahkan aku…”


Baru juga sebulan aku bersekolah dan membuat keputusan itu, namun sudah ada yang memancing emosiku.


Ahh…


(Bersambung…)

__ADS_1


__ADS_2