Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 53 - Mode Sniper


__ADS_3

POV Mas Pandu


Sekitar 9 bulan lalu.


Saat itu aku masih kelas 1, alasan memillih sekolah ini mungkin akan terdengar biasa saja atau mungkin seperti khayalan anak-anak?, yaitu karena sangat mengagumi ekskul game disini dan ingin menjadi anggotanya yang meraih juara. Hal itu bermula ketika liburan tamat sekolah dasar, untuk mengisi waktu luang, Aku dan Ayah pergi ke Mall Hartono untuk menonton bioskop. namun rencana itu segera berakhir gagal karena ada acara perlombaan game yang diadakan disana.


“apa itu Ayaaah? Kok pada rame ngumpul”


Kami mendekati kerumunan tersebut,


“oooo, ini pertandingan game nak, jadi semua pemain yang hebat berkumpul lalu saling beradu kemampuan untuk memperebutkan juara satu”


“HUAAAAAAAAAAAAA” teriakan penonton membuat fokusku ke layar pertandingan.


Terdapat dua orang yang bertahan dari serangan berbagai tim. Tembak menembak terus terjadi. Peperangan sengit tersebut terus terjadi hingga 5 menit. Dari penjelesan Caster, seluruh tim yang tersisa sudah berkumpul di area tersebut.


Satu dari dua orang yg bertahan di awal, mulai melakukan sebuah serangan. Ia melemparkan sebuah bom asap, lalu masuk dan mulai menembaki musuh dari dalam asap tersebut.


Semua penonton mulai terdiam melihat aksinya. Berseluncur, melakukan lompatan dinding, dan menjatuhkan musuh dengan cepat. Semua itu ia lakukan dengan sangat indah. Pemain itu terus melakukan hal yang sama untuk bertahan dan menyerang, hingga tim nya menjadi pemenang.


“Selamat kepada sekolah SMA 8 Swasta Yogyakartaaa yang telah menjadi pemenang tournament tingkat SMA seIndonesia!!!!!”


“Sang pembawa kemenangan, Lian Antaraja. Ada sepatah dua patah kata?”


“terimakasih atas semuanya….”


Beberapa saat melihat pemain yang bermain secara bagus secara langsung, membuatku mendapatkan sebuah tujuan baru. Aku ingin menjadi seperti dia, menjadi pro player. Sebulan kemudian, ayah memberikan komputer agar aku bisa berlatih menjadi pro player.


Pada kelas 2 smp semester 2, game yang sering ku latih memberitathukan sebuah pengumuman bahwa gamenya akan di tutup. Setelah ku cari lebih lanjut, ternyata developer game tersebut dibeli oleh developer yang lebih besar dan gamenya akan dikembangkan lagi, lalu lahirlah sebuah game yang bernama TEM. Melanjutkan keinginan awal, akhirnya ku mulai berlatih di game TEM tersebut. Setiap pulang sekolah, setiap tanggal merah, dan setiap ada waktu luang selalu ku gunakan untuk berlatih.


Namun, semua usaha terasa sia-sia ketika Aku masuk ke SMA 8 S Yogyakarta dan mengetahui bahwa ekskul game berada di ambang penghapusan.


Setelah mencoba negosiasi dengan guru namun tak kunjung dapat jawaban, rasa putus asa menghampiriku. Syukur, rasa itu segera hilang ketika dia membantu.


“ku dengar kamu salah seorang siswa yang tidak ingin ekskul game bubar. Aku akan membantumu…”


Kembali ke masa sekarang.


Pertandingan ketiga telah dimulai.


Sesuai arahan Andi, Kami turun ditempat yang sepi, mengumpulkan berbagai item yang dibutuhkan, lalu perlahan bergerak menuju ke zona aman.


“kayaknya disini aman Ndi, kita Camp disini dulu”


“ok mas”


Perubahan strategi kali ini tidak banyak mengubah gadget yang kami gunakan, Aku masih menggunakan Gadget, Ikhsan masih menggunakan Gadget Jumpster, dan hanya Andi yang mengubah Gadget dari Medic menjadi Defender.


3 Shield telah terpasang menutup sisi yang tidak tertutupi oleh batu. Tidak banyak yang bisa kami lakukan selain memastikan tidak ada musuh dari sisi lain, dan memantau musuh dari jarak jauh.


Ping!!!


“musuh, arah 50 dan 80. 2 tim saling berdekatan tapi belum perang”


“Ok, makasih san”

__ADS_1


Dooor….Kliing!!!!


Suara isi ulang dari sniper Magnum memang menjadi ciri khasnya.


“Pecah satu,” Dooor…. Kliing!!!“pecah 2 di derajat 80”


Dooor…. Kliing!!!“Knock satu”,


Dooor….Kliing!!!“Knock dua”


(eh knock, berarti headsot dan kemungkinan armor musuh level rendah atau armornya sudah di cicil oleh musuh lain?)


Fokusku teralihkan ke tempat tim yang di tembaki Andi, dengan scope X2 ku melihat dengan tidak terlalu jelas namun tidak kabur juga. Disana, mereka saling menembak dengan jarak menengah, Andi memanfaatkan momen armor pecah tersebut untuk menembak, sehingga musuh yang armornya pecah langsung knock jika mengenai kepalanya.


Dooor….Kliing!!!


“huff…Squad rata, tinggal derajat 80. Agak susah karena lebih jauh dari squad pertama”


“emang kamu pake Scope kali berapa Ndi?”


“gak pake scope sih mas”


“Eh….!!!! Seriusan??”


Berarti dari tadi Andi menembak menggunakan Sight bawaan Magnum, memang sih monitor ini memiliki hz yang tinggi, tapi tetap butuh ketetapan yang luar biasa apalagi dengan pandangan yang tidak terlalu baik.


“iyaa mas…”


“kenapa gak bilang, ini pake Scope X2”


“oh yaa maaf, keburu pengen nembak tadi”


Dooor….Kliing!!!“Pecah satu”


Dooor….Kliing!!!“Knock satu”


Dooor….Kliing!!!“Pecah lagi dua”


Dooor….Kliing!!!“Knock lagi dua, ok tinggal yang terakhir”


Sesaat Andi ingin menembak, tim yang ia tembaki dari jarak jauh mulai ditembaki dari arah yang berbeda, ada tim lain yang mendekati mereka dan mengalahkan satu orang yang tersisa.


“aaahhh…!!!!”


Aku dan Ikhsan dapat memahami kesal yang Andi rasakan. Rasa kesal yang muncul karena harapan bisa meratakan 1 squad penuh namun gagal karena disampahin oleh musuh lain.


[tersisa 13 Squad]


Bisa dibilang tadi Andi hampir meratakan 2 squad dengan Magnum. Sangat kuakui kalau Aku kagum dengan kemampuannya, bahkan selama ku berlatih dan melihat para peserta terdahulu turnamen ini, tidak ada yang seakurat tembakannya. Seakan dia sudah terbiasa dengan game ini.


[Anda terpindai]


“dari belakang kita!!!”


“ok San….”

__ADS_1


Tanpa kami sadari, sudah ada 1 tim yang mendekati kami. Beruntung mereka menggunakan Gadget Scout, sehingga kami juga mengetahui arah mereka menyerang.


“cepat kalahin, sebelum tim yang nyampah tadi ikutan ke sini”


Tag…Tag…Tag… sebuah bom memantul dan berhenti didekat kami.


Duaarrr…. Tepat sebelum bom meledak, kami berpencar.


Set!...Cling...


[3 musuh terpindai]


Dooor….Kliing!!!“Paling belakang pecah”


Posisi musuh berbaris dengan perkiraan jarak antar mereka sekitar 15 meter. Musuh yang paling belakang, segera mencari tempat aman untuk mengisi armornya.


Set!...Swooshh...Ikhsan segera mengejar musuh paling belakang.


Dooor…. Kliing!!! “paling dep-…”


Dor..dor..dor..dor..Knock


“mantap mas”


Tanpa perlu aba-aba, ku memperkirakan antara musuh yang didepan atau yang ditengah akan menjadi target Andi, lalu sesaat armornya pecah, Aku segera menembakinya hingga Knock.


“maju mas, bantu Ikhsan. Ku fokus jaga belakang”


Sesuai arahannya, ku maju.


1 musuh tersisa bersembunyi di bongkahan batu besar. Bongkahan tersebut bisa melindunginya dari dua sisi depan dan belakang layaknya ia dikelilingi oleh shield.


“Aku nge bokong mas dari atas”


Set!...Cling...


[ 1 musuh terpindai]


Musuh berada dibalik batu sedang mengisi armor, segera ku dekati dan mulai menembak namun armornya baru saja terisi.


Dor..dor..dor..dor.. dor..dor..dor..dor.. Crack, armorku pecah


Dor..dor..dor..dor.. dor..dor..dor..dor.. Knock. 1 Squad rata.


“Maaf lama mas,” Ikhsan membantu dari atas.


[Tersisa 8 Squad]


[Tersisa 7 Squad]


“eh??”


Dari layar sebelah kanan, terdapat nama yang tidak asing baru saja meratakan 1 squad.  Disana tertulis 8SY-Pattimura meratakan sekolah 3 Brebes.


(memang ngeri ini anak!!!)

__ADS_1


Ku teringat kejadian kelas satu dulu, setelah melakukan hal yang memalukan, Akhirnya Aku tahu alasan dia membantu. Semua ia lakukan agar Andi bisa bermain pada tingkat turnamen.


(Bersambung...)


__ADS_2