
POV Acha
Senin telah tiba.
Berbeda dengan setahun yang lalu, kini aku telah menjadi kelas dua. Walaupun sebenarnya umurku lebih muda dari siswa/i sekelasku. Tapi mereka tetap menganggapku sama.
Saat ini mungkin menjadi penantian yang sangat ku tunggu, selama 4 tahun kami berpisah akhirnya aku bisa melihat wajahnya lagi.
(dia berubah gak yaa…) hal itulah yang terus menganggu pikiranku.
Kami anggota osis diminta wakil ketua untuk datang lebih cepat untuk gladi bersih upacara bendera. Setiap dimulainya semester sekolah, anggota osis diminta untuk menjadi petugas upacara, di senin berikutnya baru di urutkan dari kelas 3 hingga kelas 1, semua kelas dapat giliran untuk menjadi petugas upacara.
Pembawa bendera bertugas membawa, memasang dan menaikkan bendera. Ketiga tugas itu dilakukan oleh tiga orang. Aku mendapatkan posisi tengah, sehingga tugas utamaku ialah membawa, memasang dan terakhir membuka bendera. Hal yang ditakutkan ialah ketika membuka bendera bukan merah putih, melainkan putih
merah.
(semoga tidak terjadi. Bisa kok bisa…)
Tanpa sadar, bel telah berbunyi. Upacara segera dimulai.
Sesekali ku melihat kearah barisan cowo kelas satu untuk mencarinya, namun wajahnya tidak dapat ku temukan.
“menaikkan bendera merah putih”
Pembawa acara sudah membacakan giliran kami.
(saatnya fokus…)
Tiba di tiang bendera, kami bertiga memasang tali bendera.
“3…2…1…buka”
(yess…berhasil…)
“kepada, seluruh peserta upacara. Hormaaat…. Gerak.”
Perlahan bendera naik bersamaan dengan lagu Indonesia Raya.
“tegaakk….Gerak.”
Aba-aba bahwa bendera telah sampai dipuncak. Saatnya kami pembawa bendera kembali ketempat.
“Arahan Pembina upacara, barisan di istirahatkan…”
“istirahat di tempaatt… gerak...”
Sekali lagi, ku mencoba mencarinya. Kali ini usahaku tidak sia – sia. Aku melihatnya…terhalang oleh siswa yang lebih besar darinya. Ah senangnya…
Upacara selesai, pengumuman untuk kelas 1 juga sudah disampaikan. Ketika barisan mulai bubar, ku ingin mendekati dan menyapanya seperti “hai andi, sudah lama tidak ketemu” atau mungkin membuat dia hormat dulu kepada seniornya dan dia yang mulai menyapa “eh acha…”.
Namun niat ingin mendekatinya kubatalkan. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku melihat Andi telah ditunggu oleh 2 orang siswi. Lalu mereka berjalan bersama.
(eh Andi sudah punya cewe? Tunggu-tunggu… cewe tadi kelas satu, berarti teman sekelasnya, ya itu pasti teman sekelasnya, harus teman sekelasnya) pikirku bingung atau mungkin ini cemburu?
“lulu, ayo kita mulai rapat osis”
“oiya, okok ku segera kesana”
Panggilan rapat mengembalikan pikiranku.
(masih ada siang nanti kok untuk nyapa dia)
Rapat dimulai.
**
Istirahat pertama dimulai, biasanya sangat jarang bagiku menuju kantin untuk makan. Namun kali ini berbeda, ku ingin mencarinya. Ya ku tau ketika kecil dia paling banyak makan, kalau perutnya lapar akan membuatnya susah berpikir.
Namun istirahat pertama berakhir sia-sia, aku tidak berhasil menemukannya. Dengan sedikit rasa kecewa, kembali ke kelas.
Rasa kecewa yang hinggap kini hilang. Untuk beberapa saat, ku melihatnya keluar dari mushalla lalu kembali ke lantai 3.
(pantas dikantin tidak ada, ternyata dia disini. Berubah dia ya…)
Bel berbunyi, kelas selanjutnya dimulai.
**
Ibadah zuhur telah selesai.
Berbeda dengan siswa/i lainnya, saat ini anak osis mendapatkan waktu istirahat yang sedikit. Semua itu disebabkan untuk mempersiapkan acara perkenalan nanti tepat setelah istirahat kedua dimulai.
Acara perkenalan selalu diadakan tiap tahun untuk memperkenalkan seluruh ekstrakulikuler dan osis yang ada di sekolah. Sehingga siswa/i kelas satu bisa memilih dengan baik ekskul yang akan di ikutinya selama 3 tahun kedepan.
Bel berbunyi. Istirahat kedua berakhir, acara segera dimulai.
Masing-masing anggota osis segera ke posisi yang telah ditentukan. Aku mendapatkan posisi didepan pintu masuk membagikan cemilan untuk siswa/i kelas 1. Tentunya dengan posisi ini sudah dipastikan bisa bertemu dengannya.
Setelah banyak siswa/i kelas satu yang masuk, akhirnya ku melihatnya menunggu dibarisan. Gilirannya tiba, melihat dia yang tidak akan memulai percakapan, ku putuskan aku yang akan memulainya.
“ini untukmu Andi…”
Barisan terhenti dan dia hanya diam. Mungkin dia bingung gimana membalas sapaku ditengah barisan ini atau mungkin dia bingung gimana aku yang berada di kelas 2.
__ADS_1
“eeemm….yaaa…..makasih mbak…” jawabnya bingung.
(ehh...mbak??? dia dia tidak kenal aku???)
“ya…sama-sama” balasku dengan sedikit kesal.
(aahh…hilang semangatku…)
Dia masuk dengan wajah kebingunannya dan aku terus melaksanakan tugas.
**
Selama acara berlangsung, tugasku memberitahu dan memastikan ekskul yang akan dipanggil selanjutnya sudah siap. Selama acara berlangsung jugaku mengetahui posisinya, berada ditengah dekat dengan cewe pagi tadi.
“hmm oiya bener, yang paling akhir bukan ekskul melainkan organisasi intra sekolah atau yang lebih kalian kenal dengan sebutan osis...!!!”
Saatnya giliran osis.
Setelah video selesai ditampilkan, kami akan di panggil satu persatu ke atas panggung sesuai dengan divisi. Divisi pertama ialah Acara sedangkan divisiku ialah Humas mendapatkan giliran terakhir. Dari jauh melihatnya yang tidak terarik dengan acara semakin membuatku kesal.
(nanti kalau aku dipanggil, tidak akan melihatnya…)
“divisi terakhir di osis, yaitu divisi Humas yang diketuai oleh Lulu Farasya”
Giliranku tiba.
Dengan hati-hati masuk panggung. entah kenapa para siswa/i terdiam.
“halo semuanya…namaku Lulu Farasya ketua divisi Humas. Salam kenal semuanya.” Mengakhiri kenalan dengan senyuman.
Siswa/i kelas satu hanya diam memperhatikan.
“baiklah, telah diperkenalkannya anggota osis maka kita sudah berada dipenghujung agenda. Sekali lagi selamat datang kepada seluruh kelas satu. Semoga bisa menjadi bibit unggul di sekolah dan selamat menikmasi masa-masa sekolah selama tiga tahun kedepan. Asslammu alaikum wr wb.” Acara selesai.
Kebanyakan siswa/i segera keluar gedung Aula, sisanya duduk menunggu hingga pintu keluar tidak terlalu ramai. Kami para osis bersenda gurau di kursi depan, bercerita sambil menunggu seluruh kelas 1 kembali ke kelas. Rasa ingin melihatnya muncul lagi, tanpa sadar ku sudah menatap ke tempat duduknya dan ia melihatku. Ia mengangkat tangan kanan memberikan sebuah kode yang dulu sering kami gunakan.
(kantin, pulang sekolah. Itu arti kode yang ia berikan)
Akhirnya dia mengenalku. Lalu ia pergi kembali ke kelasnya.
**
Sepulang sekolah, ku segera menuju tempat perjanjian. Kantin disore hari cukup sepi, terlihat hanya ada beberapa siswa/i yang berada disekitar kantin. Salah satu stand makan masih buka, stand yang sudah menjadi langgananku bahkan sudah dekat dengan penjualnya.
“pak…susu dingin satu”
“tumben mbak sore-sore disini”
“iya pak, lagi nunggu teman” segera duduk
“ya teman pak”
“hahaha… ini susu dinginnya. Anggap aja bapak tidak ada memperhatikan kalian ya.”
“serah bapak aja lah”
Bosan kalau hanya duduk diam, ku menunggunya dengan mengerjakan tugas mtk yang belum ku selesaikan.
“ini soalnya gimana ya, kok belum ketemu jawabannya” kataku pelan
“coba jangan diubah dulu, bagikan hingga pecahannya sederhana baru dimasukkan ke rumus”
Sebuah suara yang kini telah berbeda membuatku terdiam dan melihatnya.
“hai acha…” dia tersenyum.
Dia tiba.
Mencoba saran yang ia kasih tahu, jawaban yang kucari akhirnya ketemu. Tugas selesai, menyimpan buku agar lebih nyaman berbicara.
“es teh satu pak”
“ok mas”
Dia kembali ke mejaku berada dan kami duduk berhadapan.
“mau ini gak?”
“apa tu”
“telur gulung, ya sebagai permintaan maaf tadi siang.”
(dia masih ingat!!!) pikirku senang.
“tapi gak sepenuhnya ku maafin”
“iya ok, nanti kalau ada apa-apa ku turuti”
“janji yaaa?”
“iya janji”
Ia memberikan jajanan telur gulung yang berwarna merah, sedangkan dirinya berwarna hitam. Warna merah menandakan saus tomat dan sambal, aku suka pedas dan ia tahu itu. Sedangkan Andi tidak suka pedas, makanya jajanan telur gulung untuknya berwarna hitam atau hanya menggunakan kecap.
__ADS_1
Satu per satu jajanan telur gulung telah habis, namun percakapan kami seakan tak kunjung habis. Banyak yang kami ceritakan, tentang orang tua kami, saudara/i kami, dan alasan dia pergi ketika waktu kecil. Walau alasan tersebut sudah ku ketahui.
Sebuah panggilan masuk telponku.
“halo?, ok acha mau keluar sekolah. Sip”
“ayah jemput ya?”
“iya, Andi pulang gimana?”
“mungkin ojol atau transjogja”
“mau bareng gak?”
“boleh, makasih”
Di hp, sudah menunjukkan pukul 16.30. kurang lebih kami sudah berbicara satu jam lebih.
“pamit dulu ya paakk!”
“ok mas, hati – hati pulangnya mas. Di jaga mbaknyaa”
“eh bapak ni”
“haha aman kok pak”
Bersama kami menuju gerbang sekolah, sebuah mobil berwarna hitam sudah menunggu, aku memberitahu andi menunggu sebentar sehingga ku bisa minta izin dulu. lalu segera mendekati dan minta membuka jendela mobil.
“ayah, acha bawa teman ya”
“cowo atau cewe?”
“mmm…cowo”
“mana cowonya ayah lihat dulu, kalau gak bisa jawab pertanyaan ayah, gak boleh masuk”
“sini” memanggil andi.
“halo om”
“halo…” ayah terdiam “andi kan? Ayo masuk”
“eh…ayah tahu kalau dia Andi?”
“iyadong, ayah mah tidak lupa wajah andi”
Ayah membuka pintu, kami berdua masuk.
“mana pertanyaannya?”
“pertanyaan apa?” Tanya andi dengan wajah bingung.
“ntahlah ayah, setiap acha dekat dikit sama cowo dia selalu gitu, ngasih pertanyaan yang menjebak.”
“ya karena ayah juga cowo, ayah tahu gimana niat cowo itu. Sedangkan Andi, ayah percaya.”
“terima kasih om-“
“et,panggil ayah aja. Gak apa”
“hmm...baiklah”
(eh…apa maksud ayah seperti itu?? Ayah tahu?) wajahku memerah.
Mobil mulai berjalan, kami menuju kerumah Andi. Sepanjang perjalanan kami masih berbicara. Dari pembicaraan tersebut ku mengetahui Ayah Andi makin sibuk semenjak pengumuman alat Virtual Reality terbaru dan Ibu Andi juga selalu menemani ayahnya. Jadi bisa dibilang ia sekarang tinggal mandiri tanpa orangtua mereka, walau masih ada mas atau mbaknya.
Tanpa terasa kami sudah sampai dirumah Andi. Rumah yang masih sama ketika aku waktu kecil bermain.
“oiya yah, kayaknya akhir bulan atau awal bulan depan Andi mau mampir ke toko. Mau Build PC baru persiapan alat VR baru juga”
“sip, datang aja. Ayah tunggu”
“ok, makasih tumpangannya ayah. Titip salam sama tant- eh ibu. Hati-hati dijalan, sampai jumpa besok achaa” ia pamit. Kamipun pergi.
“kalau Andi, ayah izinkan”
“eh apa maksud ayah?” wajahku bingung
“ayah tahu achaa…”
“eh..mmm….yaaa…makasih ayah” sekali lagi wajahku memerah.
“tapi sepertinya dia ada yang berubah, berbeda aja tadi saat bicara sama ayah. Seperti dia udah lebih dewasa dari anak seumurannya.”
“hmm…gak terlalu paham acha tapi makasih ayah. Tidak sabar ngasih tahu ibu.”
“oiya, ibu juga tahu…” goda ayah.
“eehhh…”ku hanya diam menahan malu.
Kami kembali kerumah.
(Bersambung…)
__ADS_1
````
````