Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 7 - Pemilihan kelas


__ADS_3

POV Nabila


Berbicara dengan Tia cukup menyenangkan, pola pikirnya normal. Berpikir layaknya anak SMA biasa, dan satu hal yang membuatku ingin makin dekat ialah wajah polosnya yang seakan berkata “tolong lindungi aku”.


“baiklah, akan ku lindungi”. gumamku


Itulah yang kupikirkan hingga guru Indah masuk kelas.


"maaf, karena guru yangg mengajar sedang ada urusan. jadi waktu mengajarnya ibu ambil untuk mengenal kalian"


Kelas dimulai dengan doa dan pemberian salam ke guru.


“ ok, struktur kelas sudah dibentuk belum?”.


“belum bu, kami tadi baru pengenalan diri” balas Tia


“kalau begitu, kita akan mengadakan pemilihan Ketua dan Sekretaris, untuk Bendahara tidak perlu, karena bisa dilakukan juga oleh sekretaris. dua itu aj dulu, sisanya kalian putuskan lain waktu. Oleh karena itu, Ada yang menawarkan diri menjadi ketua…?”.


Keheningan menyelimuti kelas.


“hmmm… karena tidak ada yang menjawab, ibu coba panggil secara acak”


Bu Indah mulai memanggil.


Perlahan keheningan mulai hilang, kata-kata penolakan dari  nama yang terpanggil mulai semakin sering


diucapkan. Setelah banyak nama terpanggil, lalu dipanggil sebuah nama yang akrab bagiku.


“ Andi Alfiansyah, mau jadi ketua?”


Selama beberapa detik Andi hanya diam,


“ gk bu, gk bakat saya hal seperti itu. Bagaimana kalau si Fadli aj bu!, soalnya perkenalan kami tadi dia usul” balas Andi.


Seketika seisi kelas pada setuju. Ya aku tau, bagi cowo Fadli adalah tumbal yang paling ideal. Sedangkan bagi cewe Fadli layak untuk di ikuti.


“bagaimana Fadli?”


“okelah bu, saya terima” balas Fadli dengan tersenyum.


Ketua sudah terpilih, tersisa Bendahara dan Sekretaris.


Pemilihan berlanjut.


**


Akhirnya pemilihan selesai,


Ketua Fadli dan sekretaris Tia.


Selanjutnya, memasuki hal yang sangat disukai oleh pelajar. Tentunya bukan belajar, melainkan mendengarkan kisah hidup guru. Memang hal begini bisa memakan waktu lama, tapi bisa juga mempeerat tali silaturahmi. Semakin sering kita berbicara dengan orang lain, bisa semakin dekat pula kita dengannya.

__ADS_1


Bu Indah bercerita masa pendidikannya ketika SD hingga kuliah, problematika dalam kehidupan yang pernah ia jalani, dan berbagai keputusan sulit yang ia rasakan. Berbagi pengalaman dari tua ke muda memang menjadi hal yang sangat berguna. Tapi entah kenapa kebanyakan anak muda mengabaikannya, padahal bisa mengurangi


kesalahan di kedepannya jika terjadi kepada dirinya.


Tanpa terasa bel istirahat kedua berbunyi. Berbagai pengalaman hidup bu Indah sudah kami dengarkan. Segera bu Indah meninggalkan kelas.


Aku terkejut melihat ke arah Andi, posisi tangan yang menjadi bantal bagi kepala menandakan ia sedang tidur. Tapi sejak kapan ia mulai tidur?


“ ui bangun… dah selesai kelas, istirahat lagi” ku mencoba membangunkan dengan menggoyangkan bahunya.


Istirahat kedua cukup Panjang karena ada Ibadah Zuhur bagi yang berkewajiban. Karena itu bukan kewajibanku, aku bisa bersantai di kelas.


“huaaa… dh kelar ya...” balas Andi yang baru bangun.


“sejak kapan kamu tidur ndi?” tanya Tia penasaran.


“ hmm…kekny setelah Fadli menyutujui menjadi ketua huaam”.


“ eh,berarti tidak mendengarkan kisah hidup bu Indah?” tanya Tia lagi.


“ oh ada ya…huamm… setelah Fadli jadi ketua selanjutnya pemilihan sekretaris, untuk itu besar kemungkinan di pilih dari cewe, ya tau sendirilah cowo menjadi sekretaris itu mustahil. Lalu ketika sudah terisi dua jabatan itu, besar kemungkinan dilanjutkan oleh dogeng”.


“ dongeng ya, padahal kisah hidup tu bukan dongeng” balasku


“ ya maaf, ku sebutnya itu aja. Kalau dh berdongeng maka siswa akan menyimaknya entah beneran atau pura-pura menyimak. Maka dari itu ya mending ku pilih tidur”.


Tepat menyelesaikan penjelasannya, Andi melakukan peregangan.


Baru di hari pertama ku sudah melihat siswa yang berani tidur di kelas. Ya bukan berarti salah sih, mengingat tadi full mendengarkan cerita dari guru. Ditambah gurunya juga tidak mempermasalahkannya.


“ ku ke Mesjid dulu ya…” Tia pamit ingin pergi


“ ku ikut” balas Andi


Ya sesuai dugaan ku Andi akan pergi melaksanakan kewajibannya. Dan aku bisa menikmati membaca novel dari Smartphone yang kubawa.


***


POV Andi


Selesai Ibadah Zuhur.


Waktu istirahat masih tersisa empat puluh menit, masih cukup untuk makan siang. Tanpa menunda lagi, saatnya ke kantin. Untuk kesana, harus melewati Gedung belajar, Gedung kelas International dan lapangan olahraga.


Hal yang membuatku tertarik ketika menuju kantin ialah kelas Internasional. Di Gedung tersebut sudah tersedia kantin tersendiri khusus untuk siswa/i disana dan mereka tetap boleh ke kantin umum yang sedang ku tuju. Hal yang membuat beda diantara kedua kantin ini ialah makanan yang di sajikan.


Makanan di kantin umum lebih ke selera orang Indonesia sedangkan disana untuk Asia, ya tergantung siswa/i internasional berasal dari negara mana. Jika ada yang dari Jepang maka akan disediakan makanan dinegara asalnya.


Siswa/i biasa hanya boleh memesan makanan disana ketika hari Sabtu jam istirahat kedua. Mengingat kantin yang kecil dan kondisi di hari sabtu cukup senggang membuat kantin disana cukup sepi sehingga siswa/i bisa memesan. Itu perkiraan alasannya.


Tiba di kantin.

__ADS_1


“bu, pesan mie goreng pake nasi”.


“ok mas”


Dengan cepat, bu kantin mengambil piring, mengisinya dengan nasi, lalu mie goreng yang sudah disiapkan dalam jumlah yang banyak, dan terakhir tambahan seperti kecap, bawang, dan tomat.


“ini mas” memberikan pesananku.


“makasih bu”


Selanjutnya, mencari tempat duduk.


Ukuran kantin cukup luas, bisa menampung lebih dari setengah total siswa/i sekolah. Memiliki lantai dua, namun sepertinya sudah dikuasai kelas tiga.


Misi mencari tempat duduk yang kosong berakhir gagal, kebanyakan kursi tersisa satu. Jadi bisa dibilang kalau ku bergabung kesana, menjadi orang asing dari kelompok makan tersebut. Dan ku tidak mau akan hal tersebut, kecuali kalau memang itu pilihan terakhir.


“ndii.. sini..” Nabila memanggil.


Segeraku kearahnya.


“makasih…” balasku, lalu segera duduk dan mulai makan.


Perlahan orang yang memesan makanan mulai berkurang. Kursi kosong sudah mulai bermunculan. Kebanyakan siswa/i yang sudah makan, memilih kembali ke kelas. Hanya ada beberapa kelompok siswa/i yang masih dikantin walau makanan sudah habis. Mungkin sedang berdiskusi atau bercerita dengan teman-temannya.


“berapa harga mie ayam?”


“10 ribu…” balas tia.


“ enak?”


“yaa…lumayan lah…” balas Nabila.


Mereka berdua menikmati mie ayam, jawaban mereka berdua membuatku ingin mencobanya. Namun terbatasnya uang yang kubawa memaksa untuk mencoba mie ayam di lain waktu.


Kring-kring, bel berbunyi.


“ Assalammualaiku warahmatullahi wabarakatu.


Diberitahukan


kepada seluruh kelas satu, agar segera menuju gedung Aula. Sekali lagi, Diberitahukan


kepada seluruh kelas satu, agar segera menuju gedung Aula.


Terimakasih.


Assalammualaiku warahmatullahi wabarakatu”


Bel berbunyi dan pemberitahuan telah di sampaikan. Bagi kelas 2 dan kelas 3 segera kembali ke kelasnya. Sedangkan bagi kelas 1 segera ke gedung Aula sesuai pemberitahuan tadi.


“ayo kesana” ajak Nabila.

__ADS_1


Bersama lagi, kami menuju gedung aula.


(bersambung…)


__ADS_2