
“ iyaa pak, saya Andi” balas ku singkat.
Seorang bapak yang mendekatiku merupakan seorang Ojol. Kalau diperhatikan, umur bapak
tersebut kira-kira sekitar empat puluh tahunan.
“ ini helmnya”.
“ ok makasih ya pak”.
Lalu menuju Gramed.
Sepanjang perjalanan, Bapak Ojol memulai percakapan agar suasana tidak terlalu hening. Ia membahas tentang perlakuan anak-anak zaman sekarang. Mungkin karena penumpangnya masih remaja, ia ingin memberikan nasihat agar menjadi pemuda yang baik.
Tentunya semua nasihatnya tidak ku abaikan. Terkadang mendengarkan nasihat orang tua bisa membuat kita lebih baik dalam memilih keputusan kedepannya dalam bertindak.
Sekitar 10 menitan, akhirnya sampai di Gramed. Tidak jauh namun tidak juga dekat.
“ ini pak bayarannya. Makasih ya pak”.
“oiya makasih ya Mas”.
“ hati-hati ya pak”.
“ ya Mas,”
membalas senyum ala orang tua, bapak Ojol pergi mencari pelanggan selanjutnya.
Gramedia di jalan Sudirman, lokasinya cukup strategis karena berada di tengah kota. Dekat dengan dua Universitas yaitu UGM & UNY, sehingga cukup jarang sepi pengunjung. Masuk dan segera menuju lantai dua, karena lantai satu di isi oleh barang-barang elektronik.
Di lantai dua di isi oleh buku pelajaran, dari buku untuk balita hingga mahasiswa S3. Serta ada buku tulis untuk pelajar atau mahasiswa. Di lantai inilah buku yang dibutuhkan Masku berada. Dengan foto buku yang dikirimnya, tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Selanjutnya membeli beberapa lusin buku untuk keperluan sekolah, sekalian juga sih untuk si Ikhsan.
Setelah mengumpulkan semua buku yang dibutuhkan dilantai dua, selanjutnya menuju kasir dan membayarnya. Selanjutnya menjajah lantai tiga. Lantai yang penuh akan buku-buku novel dan komik. Bisa dibilang surga para penikmatnya.
Barang belanjaan sudah ku titipkan.
Tiba di lantai tiga, ada ada ratusan komik menyambut kedatanganku. Mayoritas komik disini berasal dari komik Jepang yang sudah diterjemahkan, ya kalau tetap menggunakan Bahasa Jepang siapa yang mau beli.
Tempat yang ingin kutuju ialah barisan novel bergenre misteri. Ada banyak buku dengan genre tersebut, namun saat ini hanya detektif Sherlock Holmes yang menarik minat bacaku saat ini.
Asik melihat berbagai judul cerita Sherlock Holmes, ada seorang perempuan dengan pakaian kasual ikut melihat novel genre misteri.
Cantik.
__ADS_1
Kata yang pas menggambar wajah perempuan tersebut. tapi bukan itu yang membuat ku memperhatikan dirinya. Melainkan sebuah gantungan kunci berupa logo sekolah yang akan ku Masuki. Gantungan tersebut menggantung di tas yang ia pakai.
Lalu ku melanjutkan dan fokus melihat series Sherlock Holmes.
“Mas, bisa minta tolong ??”. perempuan tadi bertanya
“oh ya Mbak, bisa-bisa,”
“ tolong ambilin buku itu Endless Night, soalnya gak sampe saya…” (sambil menahan malu).
“ ok Mbak,”
segera ku mengambil buku yang ia inginkan, lalu dengan spontan ku bertanya.
“ Mbak siswi di SMA Modern ya?”.
“oh, kok tau Mas?”.
“ tadi lihat gantungan kuncinya Mbak”.
“ hualah, iya saya siswi baru, besok baru mulai sekolah. Masnya juga ya?”.
“ oohh gtu, ada kawan aja yang sekolah disana. Makanya bisa tau itu.” Aku tidak berbohong dan benar memiliki kenalan yang bersekolah disana. hanya menjawab pertanyaannya dengan pernyataan yang pernyataan tersebut bisa menjawab pertanyaannya.
Mbak tu segera pergi ke kasir. Sedangkan diriku Masih ingin melihat-lihat series Sherlock Holmes.
***
Pukul 13.15 WIB keluar dari Gramed. Sesuai dengan tawaran, aku mengechat Mbak untuk segera
dijemput.
Tepat di dekat gerbang keluar Gramed, disamping pohon, seorang wanita yang tadi meminta tolong kepadaku sedang berdiri seperti menunggu sesuatu. Karena ku juga menunggu jemputan yang sepertinya masih lama akan datang, ku mendekatinya.
“ nunggu jemputan ya Mbak?”
“ eh Mas yang tadi, iya Mas. Nunggu ojol”.
Semakin ku dengar setiap perkataannya, semakin jelas kalau ia dari luar pulau Jawa. Logat yang ia gunakan sangat berbeda.
“Mbaknya dari luar jawa ya?”
“ iya Mas, ketahuan ya Mas dari logatnya…. Saya dari Sumatera, Mas nya sendiri?”.
__ADS_1
“ Saya dari Sumatera juga”
“ oh sama dong, Sumatera di mananya?"
" Pekanbaru"
" waah satu kota kita ternyata, daerah mana?"
" panam, mbaknya?"
" pandau, yaah cukup jauh tapi gk apa satu kota. nama Mas siapa ya?”
“ Andi, kalau mbak?”.
“Nabila, salam kenal ya…”.
Tepat setelah Nabila memberitahukan Namanya, ojol mendekat dan bertanya kepadanya apakah ia
yang memesan.
“ oklah Ndi, kayaknya kita pisah disini. Duluan yaa”.
“ ok hati-hati,”
Melihat dia pergi menjauh tenggelam dilalu lintas.
Beberapa saat kemudian, Mbak ku datang menghampiri.
“ siapa tadi?”.
“ baru kenal juga”.
“ hmm… dah hebat adek mbak yaa…” godanya.
“ hadeh, kan gk salah kalau kenalan,”.
“ haha… ya udah yuk balek…”.
“ ok ”.
Kami kembali kerumah.
***
__ADS_1