
POV Mbak Andi
(akhirnya mereka kembali)
Gruduk…gruduk…wussh…
(si Andi ambil apa sampai lari gitu ya…)
Suasana pagi ini sangat menyegarkan. Kesegaran yang sudah lama kudambakan namun hilang dibeberapa malam karena berbagai macam tugas kuliah yang harus dikerjakan.
Sruutt…swing…
Slepp…slepp…
(teh hangat dan roti lapis dah siap. Akan lebih sempurna jika melihat sesuatu yang menarik.)
Penasaran apa yang dilakukan adikku dan temannya, aku segera menuju halaman depan.
Set! Set!…set!
Sebuah gerakan asing namun terlihat indah kusaksikan.
Ketika punggung tangan mereka menyentuh, pertarungan dimulai.
Set! Set!…set!... Set! Set!…set!
Set! Set!…set!... Set! Set!…set!
Layaknya melihat sebuah pertarungan laga, mereka berdua saling memberikan pukulan, tendangan, dan hindaran. Menikmati sebuah pertunjukan sebagus ini, menyempurnakan pagiku.
Glug..glug..glug…ah…
Set!...
Mereka menjauh saling memberi jarak dan mewaspadai gerakan lawannya.
Andi mendekat lalu menyerang dengan tendangan, namun tendangan tersebut dihindari Ikhsan. Celah Andi cukup jelas, serangan jarak dekat Ikhsan berikan sehingga membuat Andi harus menghindar dan bertahan.
Mencapai batasnya, Andi mundur beberapa langkah lalu menendang lurus kedepan. Serangan tersebut seperti sudah diprediksi oleh Ikhsan, ia menghindar dan menyerang kaki Andi yang sedang menjadi tumpuannya berdiri.
Gedebug!...
“aahh…kayaknya masih lama bagiku ngalahin kau san”
“haha…gak lah, kurang latihan aja kau ni. Kalau lebih sering kau latihan, sudah kalahku”
“waaah keren kalian Fight-nya”
“oh ada kakak”
“ini roti, kalau mau”
“makasih kak”
Sebelum mengambil roti, mereka berdua saling melepaskan atribut sparring mereka. Andi pergi ke dalam, sedangkan Ikhsan duduk didekatku menikmati roti yang telah kutawarkan.
“mulai kapan Andi bisa gelud san?”
“SMP kami mulai latihan kak, sama ayah Ikhsan kami belajarnya”
“hoo gitu, tapi saat dia disini. Gak pernah mbak lihat dia latihan atau olahraga selain main game”
“mungkin karena sendiri, males dia kak latihan”
“haha…gitu ya. Kedepannya, tolong dijaga Andi ya san.”
“kalau itu, aman kak”
Kemampuan beladiri. Baru saja ku ketahui bahwa adikku memilikinya. Jelas kemampuan tersebut akan berguna baginya dan orang lain.
“ni minum…”
Andi datang membawa minuman dan roti tambahan. Bertiga, kami duduk bersama menikmati pagi.
“kenapa baru latihan sekarang ndi?”
“ya karena bulan depan alat VR keluar. Beladiri jelas menjadi salah satu kemampuan penting didalam game nanti mbak”
Kaget mendengar alasannya namun tidak berarti ia salah.
“karena itu?”
“ya karena itu…”
Menurut artikel yang ku baca, alat VR bernama Vear dapat memindahkan kesadaran penggunanya kedalam game. Sehingga jika dari awal penggunanya bisa menggunakan beladiri, maka didalam game ia bisa memanfaatkan kemampuan tersebut untuk bertarung, bertahan hidup dan sebagainya.
Sehingga persiapan yang dilakukan adekku tidak salah, mengingat dia sangat tidak suka dengan kekalahan, maka dari itu dia mempersiapkan segalanya untuk menang.
Pagi itu terasa sempurna untuk mengawali minggu ini.
(aaah….ingin kurasakan lagi pagi ini)
**
POV Andi
Jam 11.10 film yang akan kami saksikan dimulai.
Pada malam sebelumnya, ku sudah memberitahukan Nabila bahwa si Ikhsan tidak bisa ikut menonton. Kebanyakan orang memilih menolak menonton berdua dengan orang yang baru dikenalnya, namun Nabila tetap menerima ajakanku walau hanya aku dan dia. Mungkin dia sedang gabut di kost atau mungkin dia memang menyukai film ini.
“mau dijemput gak?”
“boleh, ini lokasinya”
Nabila membagikan alamat kostnya melalui chat. Memperhatikan lokasinya, jarak antara kost dan mall untuk nonton nanti cukup dekat. Dengan sisa waktu 1 jam 20 menit sebelum film dimulai, ku segera bersiap-siap.
“mbaak, jaket kaos mana ya?”
“hoo itu, balek pintu kamar mbaak. Kemaren mbaak pakai”
“hadeh, pantesan gak ada jaketnya”
__ADS_1
Entah kenapa setiap pergi keluar jaket menjadi salah satu pakaian yang selalu kupakai. Mungkin melindungi kulit dari panasnya matahari khatulistiwa? atau mungkin menjadi penghangat dari dinginnya suasana bioskop? atau mungkin sudah nyaman menjadi sebab utama kupakai?. Sepertinya alasan terakhir lebih kuterima dari pada 2 alasan lainnya.
“ku pergi lu, semoga lolos kau seleksinya san”
“sip amaan, have fun yaa sama cewe tuu..”
“hadeh, serah kau lah…”
Baru beberapa langkah memasuki ruang tengah, mbak ikut menggodaku.
“hooo sama cewe yaa… dah berani jalan sama cewe adek mbak yaa…”
(hadeh…)
“mau kemana?”
“nonton ini di hartono mall” memperlihatkan poster film di hp.
“hoo film itu…mbak boleh ikut?”
Seperti biasa, dengan aura mengancam mbak meminta tuk ikut. Kalau ku menolak, nanti ada aja urusan dirumah yang menyusahkanku. Seperti…ah tidak mau ku mengingatnya.
“yaa boleh, tapi pake kendaraan sendiri ya. Soalnya dah nawarin jemput cewe tadi”
“ok gak apa, berarti pesan 3 kursi yaa..”
“yaa..ku duluan”
“hati-hati, titip salam sama cewenyaa…”
Dengan perlengkapan berkendara, ku pergi ke kost Nabila.
Jarak antara rumahku dengan kostnya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Hari libur membuat jalan cukup ramai, hal yang wajar mengingat Yogyakarta dijuluki sebagai kota pelajar sehingga banyaknya pendatang yang belajar di sekolah-sekolah ternama. Hari minggu menjadi salah satu pilihan bagi para pelajar untuk menyegarkan otak dan pikiran setelah 6 hari penuh berpikir.
Akhirnya tiba dikost putri Ririn.
Sebuah tanda dengan tulisan ‘cowo hanya sampai disini, tidak boleh masuk kedalam’ membuatku tidak ada pilihan selain mengiriminya pesan.
“ku dah didepan”
“ok”
Beberapa menit kemudian, Nabila keluar dengan gaya pakaian yang sama ketika kami pertama bertemu diGramed namun dengan pakaian yang berbeda.
“ayo berangkat”
Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Hanya membahas beberapa tugas yang mungkin sengaja kami tanyakan guna melenyapkan rasa sunyi diantara kami. Canggung jelas kami rasakan, mengingat belum lama kami saling mengenal sehingga beberapa pertanyaan lebih baik tidak ditanyakan.
“selamat datang, silahkan gunakan kartu atau tekan tombol tiket”
Klik…
Bromm…
(tumben seramai ini)
Suasana parkiran cukup ramai. Seakan ada suatu event yang akan dilaksanan di Hartono mall.
“kayaknya lagi ada event seru tu ndi”
“sepertinya begitu.”
Berbeda dengan lantai 1, suasana lobby bioskop cukup sepi. Suatu hal yang langka terjadi dihari minggu. Setelah memesan, masih ada 15 menit sebelum film dimulai.
“tunggu bentar yaa, mbak ku mau ikut”
“hoo…jadi itu alasannya pesan 3 kursi”
“yaa gitulah, maaf baru bilang”
“gak apa, makin rame makin seru”
Baru menikmati kursi tunggu yang empuk dan nyaman, mbak ku tiba.
“haaa… disini yaa.”
“halo mbaak,”
Mbak tiba.
“halooo, jadi ini teman cewe Andi tuu”
“iyaa mbaak…hmm kayaknya pernah lihat mbak. Tapi dimana ya?”
“hayoo dimana?...btw nama mbak ifa salam kenal…”
“hoo saya Nabila salam kenal mbaak…”
“pintu nomor 3 telah dibuka, kepada penonton dipersilahkan masuk”
Suara peringatan memberhentikan percakapan kami.
“ayo masuk lagi”
“ok…”
“hadeh, serah mbak aja ya. Yok masuk lagi”
Tidak ada orang.
Kami orang pertama yang memasuki ruangan Bioskop.
C10,11,12 tempat duduk kami.
“ni bil jaket, kalo dingin” memberikan jaket yang telah ku lepas.
“makasih”
“eehh…mbaak gimana?”
“pakaian mbak kan tebal, jadi amanlah tuu”
__ADS_1
“hehe…tau yaa”
Beberapa menit kemudian
Iklan mulai ditampilkan, layar mulai dilebarkan, suhu ruangan mulai diturunkan, dan film akhirnya bisa disaksikan.
**
POV Nabila
“h~~~~aaa…disini yaa.”
“halo mbaak,”
Mbak Andi tiba.
Melihat wajahnya, ku terdiam. Wajah mbak sangat mirip dengan orang yang ku kagumi namun ku tidak mengingat orangnya. Pemikiranku terhenti ketika mendengar pengumuman pintu bioskop sudah dibuka.
Dengan Andi memimpin, kami mengikutinya. Menjadi penonton pertama yang masuk terasa enak juga. Seperti layaknya orang yang memesan seluruh bioskop.
C10 menjadi tempat dudukku, Andi ditengah kami dan Mbaknya di kursi yang tersisa.
“ni bil jaket, kalo dingin”
Hmm..
Apakah ini sebuah modus dari Andi? Atau hanya sebuah tawaran yang biasa ia lakukan?.
Rasa dingin mulai kurasakan, menerima tawarannya menjadi pilihan terbaik untukku.
.
.
Credit film…
“waaahh keren filmnya, gak sia-sia nonton kebioskop”
“iyaah keren ya dek filmnya. Gak sia-sia juga mbak ikutan kalian”
“cuman ada beberapa scene yang gak dimasukkan kedalam film. Padahal dibuku scenenya keren sih”
“iya kan Ndi. tapi gak apalah. Ada filmnya aja dah bersyukur”
“yuk kita makan lagi”
“ok mbak”
Suasana yang semakin dingin ketika ditengah film membuatku mengenakan jaket Andi layaknya menjadi jaketku.
Mbak Andi memimpin keluar lalu menuju sebuah restoran bernama Saleroso. Sebuah restoran yang terkenal di Yogyakarta dan menjadi salah satu restoran yang harus dicoba makanannya. Info tersebut kudapatkan ketika salah satu selebgram makanan yang ku ikuti mereview makanan Saleroso.
“hoo disini” dengan suara pelan, Andi mengikuti kami masuk kedalam.
Suasana didalam cukup sejuk walau pengunjung restoran cukup ramai. Banyak dari pengunjung merupakan sebuah keluarga yang memang ingin menikmati makanan disini, sisanya kumpulan pelajar atau mahasiswa yang seperti saya ingin mencoba makanan di restoran Saleroso.
Pojokan menjadi tempat duduk yang dipilih Andi, mungkin menghindari keramaian sudah menjadi kebiasaan baginya.
“mbak-mbak dan mas mau mesan apa?”
Seorang pelayan dengan sigap tiba beberapa detik setelah kami duduk.
“ku Nila bakar, minumnya air es lemon tea”
“kalau saya ini mas… minumnya milkshake dengan boba” mbak Andi menunjuk sebuah gambar makanan yang tidak ku ketahui Namanya, namun dari gambar tersebut tampak enak.
“Andi pesan apa?” tanyaku bingung, dia dari tadi masih membolak balikkan daftar menu.
“hmm…Udang asam manis, cumi asam manis, sup, sama minumnya air putih aja”
“ok mas, saya bacakan lagi. 1 Nila bakar, 1 es lemon tea, 1 Paket Daging All Varian, 1 Milkshake boba, 1 udang dan cumi asam manis, 1 sup dan air putih. Ada perubahan?”
“gak ada mas” jawab Andi dengan santainya.
Segera mas pelayan pergi menyiapkan pesanan.
“jadi sudah berapa lama kalian kenal?”
“seminggu lah mbak, minggu lalu ketemu si Andi…”
“minggu?? Hooo kamu yang di gramed”
“eh kok mbak tahu?”
“yaa saat itu mbak jemput Andi, dari jauh lihat kok ada cewe yang dekat sama Andi. Ternyata kamu toh…”
“iyaa mbak, lalu seninnya kami ketemu lagi, sekelas lagi”
“hoo gitu, jodoh kalian mungkin”
“ah mbak, belum tentu mbaak”
Andi hanya mendengarkan pembicaraan kami, tampaknya ia tidak akan berbicara kecuali ia ingin atau terpaksa.
Selama menunggu makanan tiba, aku banyak berbicara dengan mbak Andi. Pola pikir atau minat yang sama mungkin menjadi alasan kami bisa terus berbicara tanpa berhenti hingga tanpa sadar pesanan kami tiba.
“misi mbak, ini makanannyaa…”
“iyaa”
Satu persatu piring makanan berpindah ke meja. Meja yang tadi kosong, kini penuh akan makanan. Dengan cepat, ku merekam untuk update story di media sosialku.
“ku makan lagi yaa…”
“eh tunggu, mbak buat video dulu”
“hadeh…”
Melihat gaya merekam dan berbicara mbak Andi, mengingatkanku lagi dengan seseorang yang sering kudengar suaranya dan akhirnya ku ingat.
Dia adalah…
__ADS_1
(bersambung…)