Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 11 - Life of Hunter


__ADS_3

POV Andi


Ayah acha, salah satu orang yang memperkenalkanku tentang dunia komputer. Wajahnya tidak kelihatan bertambah usia dan masih suka bercanda.


Masuk kerumah, ku lihat ada mbak yang sedang asik bermain handphone-nya.


“diantar siapa tadi?”


“sama orangtua acha mbak”


“acha?? acha yang dulu itu??”


“iyaa, tu acha yang mana lagi…”


“yaa mana tau adek mbak dah kenalan sama cewe lain lagikan”.


“hadeh,”


Segera menuju kamarku untuk mandi persiapan maghrib dan Isya.


Waktu Isya telah berlalu, selanjutnya waktu yang ditunggu – tunggu ialah makan. Berbeda dari malam sebelumnya, dimalam ini hanya kami berdua.


“mas mana?”


“lagi ada urusan kerja luar kota, jadi kamis baru pulang”


“hmm…gimana jemput ikhsan nanti” kataku pelan


“kalau soal itu, serahkan ke mbak. Aman… ya anggap aja makasih karena sudah bantu mbak minggu kemaren…”


“ya..ya..makasih mbak” lanjut makan.


Sebuah solusi membuatku tenang. Selesai mengisi sumber tenaga, saatnya bermain game. Blood Hunter merupakan game yang baru saja kutamatkan lagi. Adanya alat VR baru menjadi alasan utama ku bermain game ini. Game Blood Hunter dan TEM menjadi dua game pertama dalam alat tersebut. Tidak perlu membuat akun baru, cukup transfer akun yang sudah dimiliki.


Alat VR tersebut bernama Vear. Alat yang berguna memindahkan kesadaran kita kedalam dunia virtual secara nyata atau bisa disebut Full Dive. Alat tersebut memiliki bentuk seperti Headphone, namun tidak hanya menutupi telinga tapi menutupi mata dan bagian belakang leher. Bagian tersebut menjadi bagian penting untuk melakukan Full Dive. Setidaknya itulah yang kubaca. Detail cara kerjanya tidak diberitahukan, mungkin karena rahasia perusahaan.


Saatnya bermain game, namun Handphoneku berbunyi menandakan seseorang mengirim pesan.


“Andi, ibu titip salam” chat dari acha.


“ya waalaikum salam, sehat – sehat aja ibu kan?”


“yaa…kamu lagi ngapain?”


“mau main game sih, kenapa?”

__ADS_1


“hooo kalau gitu lanjutlah dulu…”


“mending acha kasih tau dulu, kan tau kalau ku maen game seperti apa”


“iya juga ya, berarti belum berubah. jadi gini. Kalau di sekolah atau depan orang lain jangan panggil acha


ya. Panggil lulu aja…”


“hmm gitu yaa, baiklah lulu…”


“achaa aja kalau cuman kita berdua…”


“iyaa, tadi latihan dulu…kalau gitu tolong jangan kasih tau identitas orangtua andi ya.”


“kenapa gitu ndi..?”


“males aja di keliling orang karena kehebatan ayah atau gitulah kira-kira”


Aku tidak tahu alasan kenapa dia menyembunyikan panggilan masa kecilnya tapi ku tidak berhak bertanya sedangkan aku tidak memberitahunya alasan lengkap kenapa ku menyembunyikan identitas orangtuaku.


“hmmm…kalau gitu maaf ndi”


“ehh, maksudnya?”


apakah hal yang kutakutkan terjadi diawal sekolah.?


“hmm…lalu apa lagi?”


“ya alasannya karena belakangan ini ekskul game belum ada menang tournament, jadi dia ingin mengubah itu sebelum ia lulus. Makanya acha kasih tahu. Maaf yaa…”


“yaa, kalau gitu gak apa. Gak salah Acha juga karena acha juga baru tau.”


Menyalahkan seseorang karena ketidaktahuannya bukanlah sesuatu yang menurutku benar.


“ya udah itu aja, lanjutlah main gamenya. Sekali lagi maaf yaa…”


“ok, sip gak apa kok”


Sebuah chat berakhir, satu masalah datang diawal masa sekolahku.


“sepertinya hari sabtu harus berkunjung ke ruangan ekskul game”


Pergi kesana memastikan apa keinginan senior tersebut.


Login kedalam game berhasil.

__ADS_1


“ah saatnya main game…”


Layar monitor berubah ke gambar portal raksasa, portal tersebut yang akan dimasuki para player untuk memulai game secara online. Sebuah notif muncul menutupi tengah layar.


[Selamat datang kembali Hunter!!! Kamu telah pergi selama 701 hari. Kami senang atas kembalinya dirimu Hunter].


Sebab utama ku tidak bermain game ini ialah kejadian ketika SMP. Kejadian itu juga yang membuat pemikiranku berbeda dan membuat keputusan menyembunyikan identitas selama SMA. Mungkin bagi beberapa orang kejadian tersebut adalah hal sepele atau tidak seberapa. Namun bagiku, itu menyakitkan.


Di kotak pesan, terlihat ada lebih 30 pesan yang belum ku baca. Ada pesan yang berisikan keluar dari Guild, Rank diturunkan ke ‘Unknown’, dan banyak lainnya. Wajar untuk pemain yang terlalu lama tidak bermain mendapatkan pesan yang juga banyak.


Sekarang akun ini bisa dibilang Returner (pemain yang bermain lagi setelah lama tidak bermain), julukan tersebut muncul untuk membedakan akun Newbie (pemain baru) dan Smurf (pemain yang memiliki akun utama dengan peringkat tinggi lalu membuat akun baru untuk kesenangan atau hal lainnya) ketika menyelesaikan misi-misi diawal.


Membuka menu profil, status profil akun terlihat sangat hampa selama jangka waktu tidak dimainkan. Sedangkan status profil ketika masih aktif bermain akan terlihat sangat penuh dengan berbagai macam pencapaian, julukan dan persentase kemenangan yang melebihi 90%. Untuk saat ini, semua pencapain julukan dan persentase yang bagus tidak akan muncul. Mungkin butuh waktu lebih dari sebulan untuk kembali ke peringkatku semula mengingat harus berbagi waktu dengan game TEM dan kehidupan nyataku.


Sebuah pesan baru muncul:


[Selesaikan misi tutorial untuk melanjutkan pemburuan!!]


Tutorial menjadi kewajiban bagi seluruh Hunter. Dengan menyelesaikannya, para hunter Newbie atau Returner bisa mendapatkan pengetahuan yang sama dengan para pemain aktif yang mengetahui update game.


Berdasarkan terakhir kali ku bermain, game ini sudah banyak berubah. Dimulai dari level akun dan karakter yang dulunya tertinggi 60, sekarang maksimal level 100, Role karakter dan Item yang pasti bertambah, serta berbagai macam kombinasi baru yang bisa digunakan.


“ah…selesai juga. Tinggal satu tutorial lagi. Tapi sebelum itu, dibenua mana ku sekarang?”


Ingin memastikan posisiku saat ini, aku membuka Peta (map).


Dulu hanya ada 3 benua, sekarang sudah ada 4 benua yang memiliki tingkat kesulitan dan 1 benua yang masih ‘tidak diketahui’. Posisiku berada di benua pertama atau disebut benua Beginner. Tempat berkumpulnya para Hunter Newbie hingga ia mencapai level 30 (dulu 20), ketika sudah mencapai level maksimal maka akan ada tes untuk memasuki benua baru. Hal yang sama akan dilakukan dibenua berikutnya jika sudah mencapai level maksimal.


Benua kedua disebut benua Elite dengan maksimal level 50 (dulu 45). Benua ketiga disebut benua Master dengan maksimal level 70 (dulu tidak ada batas). Benua ke empat tertulis dengan sebutan Glory dengan maksimal level 80. Benua kelima yang masih ‘tidak diketahui’ disebabkan oleh seluruh benua boleh ditelusuri oleh hunter, termasuk masih banyak Boss yang belum dikalahkan.


Setelah menyelesaikan misi tutorial di benua Beginner, ku bisa langsung pergi ke benua ketiga atau Master untuk Leveling.


Puas melihat Map, saatnya menyelesaikan Tutorial terakhir.


[kamu akan melawan Beginner Boss, apakah kamu yakin akan melawannya sendiri?]


Ku menerima dan siap melawan Boss secara Solo.


(yaah…Hunter Veteran kok gak bisa Solo Boss Beginner). Pikirku.


Boss akan disesuaikan berdasarkan jumlah hunter dan levelnya. Semakin banyak jumlah hunter yang ikut dan levelnya semakin tinggi, maka tingkat kesulitannya akan semakin bertambah. Tapi di level tinggi hampir sangat sulit melawan Boss jika hunter tersebut Solo. Hanya ada beberapa akun saja yang bisa melakukannya. Kalau sekarang? Entahlah mungkin sudah banyak yang bisa melakukannya demi mendapatkan Achievment (pencapaian) Solo Boss.


[Welcome Hunter]


[Boss Beginner – Flame Minotaur]

__ADS_1


(Bersambung…)


__ADS_2