
POV Acha
Akhirnya lomba yang kutunggu tiba. Dengan memenangkan lomba ini, aku bisa membuktikan ke Andi bahwa Aku teman masa kecilnya dan calon is-…ehem, bisa memasak.
“terimakasih teman-teman sudah membantuku mempersiapkan wilayah memasakku, aku akan berusaha untuk memenangkannya…”
“semangat ya Lulu, kalau butuh sesuatu bilang sajaa”
Sepertinya setiap peserta memasak mendapatkan bantuan dari anggota kelasnya. Terbukti ramainya siswa/i membuatku khawatir bagaimana Andi bisa memberikan pesananku kepadanya.
(ah ~~~~itu dia…bersama teman cewe kelasnya)
Kesel sih, tapi aku tidak boleh marah. Dia membantu cewe itu untuk lomba memasaknya, layaknya teman-teman dikelasku yang juga membantu mempersiapkan seluruh keperluanku.
Menu yang akan aku hidangkan ialah Asam Pedas Manis Patin. Makanan khas dari Sumatera Riau. Aku mengetahui makanan ini dari Ibuku, lalu Ibuku tahu dari Ibunya Andi. Hubungan antara Ibuku dengan Ibunya cukup dekat, bisa dibilang layaknya pertemanan sesame Wanita.
(ok semua bahan-bahannya sudah lengkap)
“Chaaa….”
(eh namaku dipanggil Andi?”)
Disekolah ini hanya 5 orang yang mengetahui nama lainku, diantara kelima orang tersebut, hanya Andi yang ada didekatku. Tapi dia bukan tipe yang akan memanggilku dengan sengaja didepan banyak orang, sehingga hanya ada kemungkinan lain yaitu ada nama orang lain yang serupa.
Dengan pura-pura melakukan sesuatu, aku mengintip kearahnya.
(hoo ternyata cewe disebelahku namanya juga ada chaa-nya…tapi tunggu, kok teman Andi cewe semua yaa?),
Sepertinya Aku tidak mempunyai hak untuk melarangnya berteman dengan cewe lain, lagi pula ia juga tidak melarangku memiliki teman seorang cowo.
Aku mempertajam pendengaranku untuk mengetahui apa saja yang mereka bicarakan.
“mau masak apa?”
“Sup Konrou, tau?”
Peserta disebelahku ingin membuat makanan khas Makassar, dari yang ku baca sup ini memiliki rasa gurih yang sedap dan unik. Aku belum pernah memasakknya atau merasakannya, mungkin nanti aku bisa minta izin untuk mencicipinya.
“bagaimana kalau kapan-kapan aku masakkan Andi Sup Konrou?”
(eh???)
Aku tidak salah dengarkan!!?? Fokusku pecah.
TENG!!!
Peralatan masakku jatuh.
“butuh bantuan Mbak?” Andi menawarkan bantuan,
Tanpa sadar aku menjatuhkan salah satu peralatan yang sedang kubersihkan. Suara itu membuat Andi dan cewe didekatnya mengalihkan pandangan kepadaku.
“tidak perlu kok, tadi licin aja tangannya”
Jelas aku akan menolak bantuannya, bukan berarti aku ingin menolak. Tapi itu demi keinginannya juga. Kalau aku menerima bantuannya ditengah keramaian ini, bisa menjadi topik pembicaraan. Dan itu yang tidak disukai Andi saat ini.
Lagi, aku kembali mempertajam pendengaranku.
“jadi gimana, mau atau gak Andi?”
(yaa tolak dong!!!)
“yaa kalau makanan susah sih ku tolak, tapi dengan satu syarat?”
__ADS_1
Begitu ya, berarti kalau aku menawarkannya, Andi juga tidak bisa menolak. Hmm… sekarang aku ingin tahu apa syarat yang akan diminta Andi.
“aaa…Cha, tolong tunjukkan semua bahan-bahannya”
(namaku dipanggil, tapi secara tidak langsung).
Aku melihat kearahnya yang membelakangi diriku. Dari sudut pandangku, aku bisa melihat satu tangannya memberikan sebuah kode yang hanya kami berdua tahu. Syukurlah aku masih mengingat dengan jelas kode buatan kami.
Aku mencari sebuah tempat yang bisa meredam suara barang jatuh.
(oiya, box ini aja)
Aku membawa peralatan masakku dengan beberapa box, isinya terdapat beberapa kardus dan buble yang berguna menjaga beberapa peralatan masakku agar tidak pecah.
“Ok siap” aku memastikan volume suaraku dapat didengar olehnya namun tidak dapat didengar oleh cewe didekatnya.
Mendengar perkataanku, Andi menjatuhkan sekantong plastik tepat kearah yang dia minta. Isi box meredam suara jatuh sehingga tidak ada orang yang mendengarnya.
Andi lalu mendekati kearah cewe tersebut. Sedangkan aku mendekati box untuk mengambil barang pesananku.
“banyak juga yaa, sepertinya akan enak”
“benarkan, jadi nanti Icha kabarin kapan waktunya”
“ok”
Tanpa sengaja aku mendengarkan percakapannya.
(hmm, sepertinya aku harus terlebih dahulu memasakkannya).
Barang yang kutitip ke dia adalah kaleng gas. Sebenarnya aku bisa meminta salah satu anggota kelasku untuk membelinya. Namun setelah tahu Andi juga ingin membeli itu, Aku spontan meminta untuk dibelikan juga. Iya sih aku juga berharap agar bisa bertemu dengannya disekolah, tapi kalau seperti tadi rasanya kesal.
Aku membawa bahan lebih untuk memasakkan anggota kelasku, oleh karena itu aku membutuhkan kaleng gas tambahan. Karena itu Aku meminta Andi untuk membelikannya. Ini juga bisa kujadikan alasan agar dia mau mencoba masakan Asam pedas manis Ikan patinku.
(sepertinya lomba memasak akan dimulai)
“Baiklah, kali ini Lomba memasak dimulai!!!”
Hal pertama yang harus kulakukan ialah cuci bersih ikan patin. Membuang insang, kotoran dan sisiknya. Lalu lumuri dengan perasan jeruk nipis, lada dan garam. Kemudian diamkan selama 10 menit.
Selagi menunggu ikan patin, Aku menghaluskan bawang merah, bawang putih, dan tentunya cabe merah. Lalu geprek jahe dan lengkuas.
(bumbu telah selesai, saatnya memanaskan minyak)
Setelah minyak cukup panas, aku memasukkan bumbu tadi hingga berbau harum, kemudian masukkan jahe, lengkuas, sereh, daun jeruk dan juga daun salam, lalu tumis hingga layu.
(aaah wanginyaa…)
Setelah itu, Aku memasukkan ikan patin tadi dan menambahkan air putih dan air asam. Terakhir aduk dan masak hingga mendidih. Agar menambah menguatkan rasanya, aku mengiris tomat, cabe rawit, gula dan garam.
(aahh enaknyaa) aku mencicipi sedikit.
Sisanya tinggal menjaga panasnya dan menyajikan dengan nasi.
Tanpa terasa 95 menit sudah berlalu. Sudah banyak peserta yang selesai membuat makanannya. Seperti siswi didekatku, lalu siswi kelas Andi, siswa kelas 3 dan lainnya.
Ketika 15 menit waktu tersisa, seluruh peserta sudah menyajikan masakannya.
“karena seluruhnya sudah selesai, kita akan mengakhiri waktu memasaknyaa!!!”
“akhirnya kelar”
“melelahkan jugaa yaa”
__ADS_1
“semoga masakanku enaak”
Kata beberapa peserta yang ku dengar.
Jurinya merupakan 3 guru yang sudah lama mengajar disekolah ini, 2 juri Wanita dan 1 juri Pria. Ketiga juri akan singgah ke tiap peserta untuk mencicipi dan mewawancarainya. Dari wawancara itu para juri bisa tahu bahan apa saja yang digunakan untuk memasak bahan tersebut dan bisa mengetahui apakah peserta baru memasak atau sudah biasa memasak makan itu.
(giliranku tiba)
“ini makanan khas apa nak?”
“ini khas Riau Bu, namanya Asam Pedas Manis Patin”
“jadi ada 3 rasa yaa”
“iyaa benar, Bu. Saya sarankan menggunakan nasi agar rasanya pas”
“kenapa begitu nak?”
“karena rasanya cukup kuat, saya membuatnya agar ketika dicampuri nasi rasanya tetap ada. Kalau dari awal rasanya tidak kuat, lalu ditambah nasi. Rasanya bisa hilang Pak”
2 juri Wanita langsung mencicipinya.
“benar pak, rasanya pas kalau ditambah nasi”
“iya Bu, untuk Bapak silahkan dicoba juga”
Akhirnya giliranku selesai, setelah ditanya berbagai macam pertanyaan mengenai masakanku. Sambil menunggu, Aku menyiapkan bahan untuk memasakkan anggota kelasku.
(Akan kubuat lebih pedaslah, karena salah Dia)
**
Selesai Jumatan.
Memastikan tidak ada orang disekitar, aku meminta Pandu untuk memberikan masakanku ke Andi.
“Pandu, tolong antarkan ini ke Andi”
Aku memberikan kotak ke dia.
“baiklah, ada ingin menitipkan kata-kata juga?”
“tidak perlu, makasih. Jangan lupa cicipi masakanku yaa ada dikelas kok”
“ok, makasih yaa”
Peranku dikelas telah usai. Saatnya melaksanakan peranku di Osis. Setelah makan siang, aku memilih bersantai diruang Osis. Ketenangan menjadi alasanku memilihnya.
Tok tok, pintu terbuka.
“disini ternyata Mbak Lulu”
Dia adalah anggota Osis namun kelas satu.
“kenapa ?”
“ketua Osis nyari Mbak, dia sekarang di tempat lomba menggambar”
“begitu ya, makasih infonyaa”
Membuatku penasaran, apa yang dibutuhkan ketua Osis disana sehingga mencariku yaa?
(bersambung…)
__ADS_1