
Sesuatu hal yang tidak kusadari terjadi.
Musuh yang menusuk punggungku menyamar menjadi salah satu sandera yang baru terbebas. Melihat cela, dia langsung menusukkan pisau tersebut.
Sekitar 35% darahku berkurang dan akan berkurang sedikit selama pisau itu tertancap. Jika Aku cabut, berkurangnya menjadi tiga kali lipat.
Musuh yang menusuk menjadi lawan. Senjata yang ia gunakan merupakan tombak yang memiliki keuntungan jarak jauh. Jadi satu-satunya cara untuk mengalahkannya ialah menyerang dengan jarak dekat.
Kenapa begitu? Padahal Aku memiliki 2 senjata yang bisa menembak dari jarak yang lebih jauh dari jarak serang tombak. Alasannya cukup sederhana, kedua senjata itu menurutku kurang layak digunakan kepada musuh yang berada tepat didepan penggunanya. Ditambah Aku harus menjaga 2 sandera, cukup susah kalau Aku menjauhi mereka tidak ada yang melindungi.
Beberapa tusukan tombak terus kuhindari ketika memasuki jarak serangnya. Atas, kiri, kiri, kanan, tengah.
Semua arah tusukan selalu kuhindari sambil perlahan mendekatinya. Mengeluarkan Golok, lalu menebas.
!Slash… Ting!!!!
Tebasanku ditangkis menggunakan badan tombak yang terbuat dari besi.
Ting!!!
Ting!!!
Ting!!!
Ting!!!
Ting!!!
Semua serangan berhasil ditangkis.
Pow!!!
Aku terpental oleh tendangannya.
(Sepertinya cara biasa tidak akan berguna…)
Aku berlari dari arah depan, tusukan yang mengarah ke kepala kuhindari,
!Slash… Ting!!!!
Dari arah bawah, Aku mengayun dengan kuat ke arah badan tombak agar terpental keatas. Namun hal tak terduga terjadi, Golok ikutan terpental bersamaan dengan tombak musuh.
Hanya satu senjata jarak dekat yang tersisa.
Aku mencabut pisau yang masih tertancap, lalu mengayunkan secara vertical.
!Slassh…
Leher musuh kena, darah muncrat keluar.
Golok berhasil ku raih, dengan cepat ku arahkan ke kepala musuh.
!Jleeebb…
Kali ini tombak berhasil didapatkan, segera kuarahkan ke Jantungnya.
!Wusshh… Jlebb… musuh mati.
Darahku tersisa 40%.
Berubah menjadi Cutscene.
Terlihat, karakterku segera diobat oleh 2 sandera terakhir yang kuselamatkan. Luka tusukan ditutupi oleh perban, lalu karakterku meminum sebuah cairan obat yang akan menambah poin darah namun tidak sampai penuh.
Cutscene berakhir, selanjuntya Aku melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan Sandera yang tersisa hingga total 9 sandera berhasil diselamatkan.
(tersisa satu lagi, namun dimana…?)
Aku mencari sekali lagi di beberapa tenda untuk mencari petunjuk.
Tenda pertama, kosong tidak ada.
Tenda kedua, kosong tidak ada.
Tenda ketiga, kosong tidak ada.
Tenda keempat, ada.
__ADS_1
Sebuah kunci yang mengarah ke ruangan bawah tanah di tenda ke 7. Kemungkinan wilayah ini merupakan salah satu markas mereka, namun berada dibawah tanah agar tidak mudah ditemukan oleh orang asing.
Didekat pintu masuk, terdapat batu besar yang mungkin digunakan untuk menutupi pintu tersebut. Untuk turun kebawah, harus melewati tangga dinding yang cukup dalam.
(ini desainnya seperti Bunker didunia nyata…)
Ruangan dibawah memiliki interior yang biasa saja, memiliki banyak lorong dan ruangan yang mungkin mereka gunakan untuk menyimpan seluruh harta mereka.
Penjagaan disini tidak ramai, setiap kali Aku menyusuri ruangan baru, hanya melihat satu sampai tiga penjaga yang berjarak cukup jauh. Sehingga bisa dikalahkan satu-persatu. Mayat mereka segera ku sembunyikan diruangan terdekat.
Setiap ruangan yang kubuka, terkadang kosong, terkadang ada beberapa barang yang berharga dan tidak berguna.
Aku masuk lebih dalam, lalu menemukan ruangan yang cukup luas. Ditengahnya terdapat satu orang sandera.
(ini mah jelas jebakan…)
Walau tahu itu jebakan, Aku tetap menyelamatkannya.
Sesuai perkiraan, beberapa saat Aku melepaskan tali Sandera. Kami dihujani oleh panah.
Dengan cepat Aku melemparkan kertas ke empat mata angin.
!Cage…
Sebuah dinding batu muncul dari tanah yang melindungin kami dari empat dan menahan semua anak panah. Kertas tadi berfungsi memunculkan dinding dari manapun.
“jadi kau ya, yang menghabisi seluruh pasukanku di atas dan beberapa dibawah…”
Sesosok musuh yang mungkin menjadi boss muncul. Musik game mulai berubah, api disekeliling tiba-tiba menyala, dan poin darah boss muncul.
Selama bertarung dengan boss, ada panah yang muncul dari 6 arah. Bisa dibilang mereka minion yang berguna membantu boss dan cukup menganggu.
Golok dan pisau tadi menjadi senjata jarak dekatku. Sumpit cukup susah digunakan untuk membunuh para minion, tersisa panah.
!Sling… Satu minion mati. Segera melompat menjauh lagi dari boss,
!Sling… Dua minion mati.
Aku melakukan hal yang sama hingga keenam minion mati.
“hooo…kau cukup terampil bisa membunuh semua anak buahku…”
!Sling…
Melihat serangan itu, musuh tidak mencoba menghindar melainkan tersenyum. Ia mengambil payung dipunggungnya, lalu sebuah shield muncul.
Panah Apiku terpental.
(eh, Api ditangkis?)
Aku mencoba ketiga elemen dasar yang lain yaitu, Air, Tanah, dan angin. Semua berhasil ditangkis.
(Menahan semua elemen ya…yang berarti serangan fisik tidak akan bisa ditangkis…)
Aku menembakkan panah biasa.
!Sling… Jleb!!! Masuk mengenai paha kanannya.
Senjata Boss yaitu Heavy Sword. Sebuah pedang besar yang memiliki daya rusak yang sangat tinggi. Bisa dibilang Heavy Sword merupakan senjata jarak dekat. Jika diadu dengan Golok dan pisau, jelas senjataku tidak kuat menahan serangannya. kertas yang bisa memunculkan tembok hanya akan hancur dibuatnya. Tapi apakah Aku ada pilihan lain?
Satu-satunya kekurangan senjata Heavy Sword ialah serangannya yang lambat. Jadi kita ingin menyerang, Aku harus cepat.
Lari kedepannya, musuh bersiap mengayunkan senjata.
!Wusshh… Aku menghindar, secepat mungkin memutarinya.
!Slash…!Slash…!Slash…
tiga serangan berhasil ku berikan lalu mundur sebelum ia memberikan serangan.
Kembali menyerang dengan cara yang sama.
!Slash…!Slash…!Slash…
!Slash…!Slash…!Slash…
!SLASH…
__ADS_1
“Ugh…”
Satu tebasannya mengenaiku. Banyak poin darah yang berkurang.
(sekali lagi kena, Pasti Aku mati…)
Pergerakan musuh berubah ketika poin darahnya kurang dari 30%. Pergerakannya lebih cepat dan tentu kerusakannya meningkat.
!SLASH… !SLASH… !SLASH…
!SLASH… !SLASH… !SLASH…
Semua serangannya ku hindari. Lalu menjaga jarak kembali.
(Harus dipake panah ni…)
Menyimpan pisau dan Golok, lalu menyiagakan Panah.
!SLASH… !SLASH… !SLASH…
!Sling…Jleb,
Musuh terhenti,
(Kesempatan!!!)
!Sling…Jleb,
!Sling…Jleb,
!Sling…Jleb,
!Sling…Jleb,
Aku menembakkan semua panahku hingga habis. Maju menyerang.
!Wussh… Melemparkan pisau, Jleb tertancap lengan atas kiri.
!SLASH…
Berguling menghindar,
!Pow
Menendang tangan kanan yang memegang Heavy Sword. Pertahanan musuh terbuka.
!Wussh… maju tepat didepan musuh.
!Jleb… mencabut pisau yang tadikulempar.
Lalu mengarahkan Golok dan pisau kea rah Lehernya.
!Jleb… Jleb…
Musuh diam, poin darah habis dan mati.
[Selamat kamu berhasil mengalahkan Boss Bandit]
[Selamat kamu mendapatkan item Payung Anti Elemen]
[Selamat kamu mendapatkan Goa Pencuri]
[Selamat ka-]
Ring…Ring…Ring…
Alarm hpku berbunyi yang menandakan Aku harus segera berhenti bermain.
Menerima semua hadiah, lalu segera keluar dari permainan dan pergi.
Setibanya di sekolah SMKN 4 Yogyakarta, kami segera berpencar. Acha segera menuju ruangan Aula, sedangkan Aku menuju ruangan ekskul.
Jalan jalan jalan, jelas tata letak dan suasana sekolahnya berbeda.
Langkahku terhenti ketika mendengar keributan dari suatu ruangan. Didepan tertulis ruangan komputer. Aku melihat dari jendela, ada banyak siswa yang sedang bermain game TEM. Salah satu siswa tampaknya pernah ku lihat, tapi Aku bingung dimana.
“Kamu siapa?”
__ADS_1
Seseorang menepuk pundakku dari belakang dan membuatku terdiam.
(Bersambung…)