
Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti kan oleh para mahasiswa seangkatan Hana, karena hari ini akan ada mahasiswa baru yang menggantikan predikat mahasiswa mandiri yang setiap tahunnya selalu dilombakan.
Hana termasuk salah satu peserta kali ini. Mahasiswa yang mampu menghasilkan penghasilan sendiri disela-sela kesibukan kuliah yang begitu padat. Hana adalah contoh dari sekian banyak mahasiswa di kampus nya yang hampir tak mempunyai waktu selain untuk mencari uang dan kuliah saja. Dimata orang, Hana adalah gadis rajin dan pekerja keras, tapi baginya, semua itu hanya lah untuk menghibur hatinya yang gundah gulana, gundah karena perasaan rindu yang kian membuncah setiap waktu nya, tapi dengan adanya kesibukan berjualan kue yang ia titipkan ke warung-warung yang dibantu anak remaja didekat kost nya, perasaan resah itu mereda, kesepian itu seolah tak pernah ada.
Acara yang pun berlangsung tanpa hambatan yang berarti, Kedua orang tuanya pun hadir di acara itu, karena memang untuk kali ini pihak kampus mengundang para orang tua atau wali nya untuk hadir, selain untuk menjalin silaturahmi antara pihak kampus dengan keluarga mahasiswa juga untuk meningkatkan mutu dan kwalitas para mahasiswa melalui pengawasan dan dukungan orang tua.
Mereka duduk di aula kampus yang sudah di dekor sedemikian rupa, acara demi acara sudah di lewati, sampai pada acara yang ditunggu-tunggu. Mulai lah pembawa acara mengumumkan hasil akhir dari penilaian dewan juri.
"Untuk mahasiswa yang berhasil mengalahkan dan menggondol piala penghargaan mahasiswa mandiri tahun ini adalah ... Hana Cantika!" suara tepuk tangan riuh sekali, setiap mata mencari manakah gerangan yang bernama Hana Cantika.
"Kepada Hana Cantika dan kedua
orangtuanya harap maju ke depan!" Hana menggandeng kedua tangan ayah dan ibu nya dan membawanya ke depan, tak henti-hentinya suara tepuk tangan mengiringi mereka.
Setelah semua selesai Hana dan kedua orang tuanya menuju kos-kosan.
"Ayah bangga padamu, nak ... kamu hebat!"
"Aku seperti ini karena ayah, selain hebat ayah adalah manusia yang kuat."
"Semoga kau mendapatkan apa yang kau cita-cita kan!"
"Iya, yah."
"Setelah semua yang kau raih saat ini jangan menjadikan mu jumawa, ingat setiap keberhasilan, Tuhan senantiasa andil didalamnya, bukan semata-mata usaha manusia, manusia hanya bisa berusaha sementara Tuhan juga yang menentukan."
"Aku akan senantiasa mengingat semua kata-kata ayah."
saat mereka asyik ngobrol, mereka dikagetkan oleh kedatangan Rega dan Defta.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka kompak.
"Wa'alaikum salam." Jawab Hana, pak Herman dan Bu Fatmi hampir bersamaan.
"Kamu gak sekolah ga?"
"Aku izin kak, masak sejak kakak kuliah aku tidak pernah sekalipun ikut!"
"Jadi kamu ceritanya bohong, katanya gak ikut tapi nyusul, mas Defta pasti biang keladinya."
"Kan, Apa aku bilang, pasti aku kena sasarannya."
"Bukan Kak, bukan, aku yang membujuk Mas Defta, agar ikut bersamanya."
"Sudahlah Han, kan cuma sehari, diapun sudah minta izin pada guru nya." sela bu Fatmi.
"Nanti kebiasaan, Bu!"
"Tidak kak, janji!"
"kalau kau sampai bolos lagi, aku akan menjewer kuping mu itu!"
"Aku izin kak, bukan bolos!"
"Iya, jangan sering-sering izin."
"Oh ya, kakak, bagaimana hasilnya tadi?"
"Kamu kan tahu, kakakmu adalah mahasiswa paling rajin, jadi sudah pasti lah, kakakmu penerima piala itu."
"Benarkah?"
"Ya, aku sudah menduganya!" sahut Defta.
"Kau hebat Kakak, aku bangga!" Hana hanya tersenyum menatap adiknya yang memeluk nya begitu erat.
"Aku ingin menjadi seperti mu!" imbuhnya.
"Oh ya, kita belum makan siang, aku masak dulu ya, untuk makan siang kita."
"Begini ... bagaimana kalau kita makan diluar, itung-itung merayakan prestasi yang Hana capai hari ini, bagaimana?" ucap Defta.
"Nggak ngerepotin, mas?"
__ADS_1
"Sama sekali tidak, ayo Kita ke restoran!" mereka akhirnya pergi ke restoran paling enak disekitar area kampus Hana.
"Mas Defta, pernah kesini?"
"Pernah, beberapa kali."
"Pantas aja kayak udah kenal gitu sama pelayanannya, jangan-jangan ada yang naksir sama Mas!"
"Amit-amit, gak lah!"
"Lo emangnya ngapain, cantik-cantik lo Mas!"
"Hus, sekolah dulu yang bener, jangan ngurusin yang gituan." Kata Hana sambil menjewer kuping Rega.
"Maaf...." Defta menatap Rega, sementara kedua orang tua Hana hanya tersenyum.
"Mas kalau aku ajak jalan-jalan, Mas mau?" Hana mencubit Rega, sambil menggelengkan kepalanya, kali ini Rega hanya nyengir karena entah ke berapa kalinya kakak nya mencubit nya.
"Boleh, siapa takut, sekalian kita semua yang pergi!"
"Tidak, aku mau istirahat saja," tukas pak Herman
"Ya, aku akan menemani ayah saja!" jawab Bu Fatmi.
"Kalian saja yang pergi!" kata Hana sambil menghabisi nasi pesanannya.
"Mas ajak dong, Kak Hana nya!"
"Kalau dia tak mau, bagaimana?"
Mereka akhirnya selesai menikmati pesanan mereka. Setelah mengantar kembali kedua orang tua Hana ke kosan mereka berangkat. Semula Hana tak mau ikut, tapi karena bujukan Rega akhir Hana ikut juga.
"Ayolah Kak, aku kan jarang bersama-sama dengan kakak, apa nggak boleh aku jalan-jalan sama kakak, entah kapan lagi kita akan dapatkan kesempatan ini."
"Tapi ...."
"Kak, anggap saja ini adalah permintaan pertama dan terakhir ku, janji, aku tidak akan meminta lagi!"
"Sudahlah Han, kau ikut saja, kasihan Rega nanti dia nangis!" bujuk Defta juga.
"Iya lah, aku nangis aja agar Kakak mau."
"Ya ya , baiklah!
"Nah, gitu don ...."
Hana, Defta, dan Rega pergi dengan naik taksi, sesampainya di kebun binatang mereka berhenti.
"Disini mas?" tanya supir taksi.
"Ya Pak!" jawab Defta kemudian turun di ikuti Hana dan Rega, tak lupa membayar ongkos taksinya.
Mereka masuk ke kebun binatang itu setelah membeli tiket
"Mas, tuh ada kawan kak Hana di sana!" tunjuk Rega.
"Mana?"
"Itu ... yang sedang makan kacang goreng!" jawab Rega lagi tanpa dosa, kembali menunjuk seekor kera yang lagi makan kacang goreng yang di kasih pengunjung lain.
"Tega kamu, ga ...." Kata Hana mencubit Rega lagi, keras sehingga membuat Rega menjerit seketika.
"Ampun ...." Merekapun menikmati kebersamaan mereka kali ini.
"Kak, Mas , Aku pergi ke toilet dulu ya, kebelet nih!"
"Berani sendiri?" tanya Hana
"Berani lah, masak nggak!"
"Awas nanti kesasar lo!" sahut Defta.
Rega menggeleng dan tersenyum, sambil memonyongkan bibirnya kearah Hana tanpa sepengetahuan Hana. Defta pun tersenyum dan mengangguk, seakan mengerti kalau Rega memberinya kesempatan untuk menikmati kebersamaannya dengan
__ADS_1
kakaknya itu. Sepeninggal Rega mereka berjalan-jalan melihat binatang-binatang tanpa terkecuali.
"Han, lihatlah harimau itu, dia melihat mu!"
"Ya, sungguh sangat ngeri aku!"
"Begitu lah kalau aku nanti sangat merindukan mu, aku akan menerkam mu, grrrrrrr ...."
"Ih, aku tambah takut dong!"
"Habis, kamu tak juga mau mengerti sih." Hana cuma tersenyum.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu seperti nya ada sesuatu yang membebani pikiran mu, boleh aku tahu?"
"Aku tidak punya masalah apa-apa."
"Kalau begitu bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tanya apa Mas?"
"seandainya itu mengenai kehidupan pribadimu, apakah kau tak marah?"
"Tidak kenapa aku harus marah?"
"Benarkah ... bagaimana kalau tentang Andri?" Hana seketika menatap Defta dengan terkejut.
"Bo_ boleh!"
"Tapi kalau kau keberatan tidak usah!"
"Tanya kan saja, gak apa-apa"
Defta menghela nafas berat, mengajak Hana duduk disebuah bangku panjang didekat mereka.
"Apakah Andri adalah kekasih mu?" Hana terkesiap, apa ada yang memberi tahu laki-laki itu tentang dirinya dan Andri, pikirnya.
"Du_dulu, Mas!"
"Sekarang?"
"Sudah lama kami tak ada kontak, jadi ku anggap dia hanya lah masa lalu ku." Sementara jauh didasar hati yang paling dalam Hana sama sekali tak menganggap nya sebagai masa lalu, Andri adalah harapan nya dan masa depannya. Hana berkata begitu agar Defta tidak merasa tersakiti.
"Sekarang?" Hana hanya menggeleng.
"Bagaimana kalau dia tiba-tiba kembali?"
"Rasanya sudah nggak mungkin." Jawab Hana berusaha tenang, padahal dalam hati ia menolak Defta menanyakan tentang Andri lagi.
"Lalu apa yang membuatmu menangis saat itu?" selidik Defta lagi.
"Aku hanya tak mau, kalau Mas perhatian padaku"
"Kenapa, karena aku bukan Andri?, sehingga perhatian ku mengingat kan mu pada Andri?"
"Mau mu, aku gimana?" Hana diam.
"Apakah kau ingin aku menjauh darimu?"
"Bukan, bukan begitu maksudku Mas, Setiap Mas memberi perhatian lebih padaku, aku selalu ingat akan Andri, aku semakin rindu padanya."
"Kalau begitu, anggap saja aku Andri!"
"Ya nggak bisa gitu dong, Mas."
"Kenapa nggak, aku rela melakukan apa saja untukmu Han, asalkan itu membuatmu bahagia."
"Terimakasih mas, apa yang kau lakukan untukku itu sudah lebih dari cukup."
"Hana, aku tak ingin dan sangat tersiksa melihatmu menangis, jadi tolong jangan kau menangis lagi dihadapan ku." Tutur Defta.
"Kalau kau butuh bahu untuk bersandar, aku siap memberikan bahuku untuk mengurangi kesedihanmu, berjanji lah kau tak akan menangis lagi, aku benar-benar tidak berdaya melihat air mata membasahi pipimu yang mulus itu."
"Aku janji." Mereka saling menatap dan tersenyum, kemudian bercanda sampai akhirnya Rega datang dengan membawa plastik berisi makanan ringan.
__ADS_1