
"Karena itulah aku tidak sanggup untuk menyentuh mu, aku merasa tersiksa, aku ingin membahagiakan dirimu, tapi ...."
Dengan berbesar hati, Shela menggenggam tangan Andri, ia mencoba tersenyum walaupun sangat sakit, walaupun sangat perih, dengan air mata yang masih terus mengalir di pipinya, iapun berusaha menyusut airmata nya dengan sebelah tangannya, dan menggenggam tangan Andri kembali.
"Sekarang dengarkan aku, aku merelakan semua, aku mengikhlaskan segalanya, aku telah menyerahkan mahkota kesucian ku pada suamiku, pada seseorang yang memang sudah sepantasnya mengambilnya, aku rela walaupun ia tidak mencintaiku, aku berjanji aku tidak akan menuntut apapun lagi darimu." Shela mengucapkan semua itu, dengan semakin tersedu.
"Mulai detik ini, aku memutuskan, secara hukum aku adalah istrimu, tapi aku tidak akan meminta lebih, aku memahami mu, aku sangat mencintaimu, tapi mengetahui kejujuran yang engkau ucapkan, aku sadar, kau juga merasa menderita, sama seperti diriku, oleh karena itu, lepaskan semua, aku ikhlas, aku rela ...."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin kita ... mulai saat ini ...."
"Kau mau bicara apa?"
"Tahukah kamu, apa yang sangat aku bangga kan pada teman temanku?, aku bangga akan kebesaran cintaku, aku bahagia telah berhasil merajut kisah cinta bersamamu, walaupun aku tahu, aku hanya sendirian dalam perjuangannya."
Andri menelan ludahnya, Shela duduk dengan menunduk, seakan ingin menyembunyikan hatinya yang semakin hancur.
"Mari ... mulai detik ini, kita berteman, dengan masih mengandalkan ikatan ini, jadikan aku sahabatmu, aku rela!" ucapnya sambil menghapus kembali sisa sisa air mata di sudut matanya.
Andri meraih Shela, ia memeluk nya, menghadapkan Shela ke wajahnya, menempelkan wajahnya sambil berurai air mata.
"Maaf ... aku bukan Hana, aku hanya temanmu, aku sahabatmu." Sungguh kata kata Shela membuat Andri bertambah merasa bersalah, ia memeluk tubuh Shela erat.
"Maaf ... maafkan aku ...." Andri semakin menangis, semakin tersiksa dengan keadaan ini.
"Bukankah kau tak bisa melupakan Hana?, lalu apakah aku salah, bila mengambil keputusan ini, aku serius, aku tidak bercanda, aku mau menjadi temanmu saja."
"Semua karena perkataan ku, bukan?"
"Ya, perkataan yang merupakan pengakuan, pengakuan yang sangat menyakitkan, aku ikhlas, aku rela, aku tidak akan memaksamu, aku akan merelakan mu, semoga kau kembali mendapatkan Hana."
"Jangan kau katakan itu, aku akan terus berusaha untuk melupakan dia, aku akan melupakan dia!"
"Bukankah kau tak bisa?"
"Aku mungkin terlalu jujur padamu, tapi aku benar-benar menyayangi dirimu, aku sayang padamu."
"Sayang, tidak cinta bukan?" Shela menelan air liur yang baginya terasa begitu pahit.
"Semoga, kau bisa melakukan yang terbaik, aku akan tegaskan, aku tak akan menuntut apa-apa lagi, aku akan menanti saja, kapan kau datang dengan cintamu, maka aku kan selalu siap, aku tidak akan memaksamu. Bukankah segala sesuatu yang dipaksakan, tidak akan berbuah baik?"
"Izinkan aku memulai nya dari awal, aku akan mencoba, aku akan melakukan apa saja yang penting kau bahagia."
"Sudahlah!"
"Aku akan mencoba."
"Tapi aku serius, kita coba untuk berteman saja dulu."
"Teman tapi mesra, begitu?" ucap Andri menempelkan kepalanya pada kepala Shela lagi. Mencoba menghapus segala derita yang kian lara.
"Baiklah, kita coba, mari kita hapus air mata kita, mari kita saling menjaga perasaan kita, sungguh aku akan menjadi teman dan sahabat yang baik untukmu." Keduanya tersenyum. Saling menghapus air mata di pipi mereka.
__ADS_1
Tapi tak bisa dipungkiri, hati Shela masih teramat sakit, menyadari bahwa suaminya tidak menganggap dirinya, dan melakukan penyatuan dengan perantaraan bayangan wanita lain. Andri pun tetap merasa bersalah, dengan keadaan nya, tetap memikirkan orang lain saat mencumbu istrinya sendiri.
****
Sementara itu, Hana mencoba menghubungi Defta, namun tak bisa, semua pesan yang dikirimnya dibaca, tapi tak di balas, Hana pasrah, mungkin ini adalah jalan terbaik, melupakan persahabatan mereka, mengubur semua kenangan mereka.
Bagi Hana, Defta adalah sosok sahabat yang sangat begitu berarti, ia selalu ada di setiap dirinya membutuhkan, baik tenaga, pikiran maupun uang.
Hana sadar, semua itu adalah wujud dari rasa cinta Defta padanya, tapi karena hati yang selalu memikirkan Andri, akhirnya pria yang demikian baik itu, pergi dari kehidupan nya.
Mungkin adalah cara Tuhan, agar Defta bisa melupakan dirinya, dan mencari gadis lain. Memulai hidup baru, membiasakan dirinya dengan hal yang baru.
"Ya, aku bersyukur ... Mas Defta menjauh, semoga ia mendapatkan yang terbaik."
Hana menghubungi Rega, ia berharap dirinya dan keluarganya bisa sependapat dengan dirinya.
"Halo kak, ada apa?"
"Mana ibu, Ga?"
"Ibu sedang beres beres, kami sedang bersiap, besok kami akan berangkat."
"Aku mau bicara pada ibu, bisa?"
"Ya bisalah kak, masa nggak!" ucap Rega sambil berjalan menemui ibunya.
"Ya, nak ... ada apa?" kata Bu Fatmi setelah menerima ponsel dari Rega.
"Ibu ... aku kangen sekali sama ibu, aku ...."
"Aku baik, semoga ibu betah ya di Jakarta, sebelum kalian berangkat, aku ingin ibu ziarah, menemui ayah untukku, mengelus batu nisannya untukku, mau kan Bu?"
"Itu pasti sayang ... ibu pasti kesana."
"Terimakasih, aku sayang ibu ...."
"Kami juga sayang pada kamu!"
"Apakah ibu pernah bertemu dengan mas Defta?"
"Tidak, dia tidak pernah datang lagi, kata Rega ia jarang melihatnya, dirumahnya."
"Mana Rega, aku mau bicara."
"Ada apa kak?" kata Rega setelah menerima ponsel dari ibunya lagi.
"Begini Ga, kamu ganti aja nomor ponsel kamu, dan akupun akan mengganti nomor ponsel aku, aku tak ingin Mas Defta menghubungi kita lagi."
"Apakah ini tidak berlebihan?"
"Tidak Ga ... aku ingin Mas Defta melanjutkan hidupnya, semoga dengan begini, ia bisa melupakan aku, aku ingin dia menemukan wanita lain."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menuruti semua kemauan mu."
__ADS_1
"Terima kasih, Ga ...."
"Kak ...."
"Hmmm, ada apa, Ga?"
"Bolehkah aku tanyakan sesuatu?"
"Boleh, memangnya ada apa?"
"Apakah ...." Rega tak melanjutkan kalimatnya.
"Apa?"
"Apakah kakak masih mengharapkan mas Andri?"
"Aku?, jujur Ga ... aku tidak bisa membohongi hatiku, aku masih mengharapkan dia, meski kadang aku harus bilang bodoh pada diriku sendiri, tapi itulah kenyataannya."
"Kakak menyuruh Mas Defta untuk melanjutkan hidup, lalu ... bagaimana dengan Kakak?"
"Kenapa kau katakan itu, Ga?"
"Aku sangat menyayangimu, kak ... benarkah hanya mas Andri yang bisa membuatmu jatuh cinta?, hanya Mas Andri kah yang selalu kau nantikan?"
Terdengar suara Isak tangis ditelinga Rega, tapi ia tak peduli, dia lebih peduli pada masa depan kakaknya, dia ingin melihat kakaknya bahagia lagi seperti dulu.
"Sampai kapan, kak?"
"Ga ... mungkin setelah masa kontrak kerjaku habis, aku akan tetap disini, aku belum pulang, tapi jangan bilang pada ibu dulu, nanti ibu kepikiran." Kata Hana mengalihkan pembicaraan.
"Kak, jangan mengalihkan pembicaraan." ucap Rega tapi kemudian terdiam, seakan menyadari betapa pentingnya perkataan kakaknya barusan.
"Apa kak, kakak tidak pulang setelah masa kontrak kerja habis?, yang benar aja, udah kehilangan akal?"
"Aku rencananya akan kuliah disini, makanya aku tidak pulang."
"Benarkah?, bukankah biayanya sangat mahal?"
"Pak Kimura yang menanggung nya."
"Waaauuu, aku yakin dia pasti ...."
"Pasti apa, Ga?"
"Pasti ... ah kakak tebak aja sendiri, udah ya ... aku mau bantuin Ibu beres beres."
"Ya, selalu jaga Ibu untukku!"
"Pasti kak, aku pasti menjaganya."
Mereka mengakhiri percakapan mereka, Hana menarik nafas dalam-dalam, menghempaskan semua beban yang sepertinya mulai sedikit terasa ringan, mungkin karena dirinya sudah terbiasa menghadapinya.
"Selamat jalan Mas Defta, semoga kau mendapatkan pengganti ku, selamat berpisah, selamat tinggal juga sahabat ku, semoga ini jalan terbaik untuk kita. Aku menjauh bukan karena aku membencimu, tapi karena aku demikian sangat menyayangi dirimu. percayalah kau tetap menjadi sahabat terbaikku, disepanjang perjalanan hidupku."
__ADS_1
Hana mengabadikan perasaan nya didalam buku diary miliknya.