Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 65 Defta mencintai Shela


__ADS_3

"Bagaimana ini, dokter Harlan?" tanya seorang dokter ketika dokter Harlan masuk.


"Ada apa?"


"Keadaannya semakin memburuk."


"Kita harus memberi tahu keluarga nya, Dok!" tanya dokter yang satu lagi.


"Apa ada yang tahu nomor ponsel yang bisa di hubungi?"


"Kami tak tahu, tapi ponselnya ada disini."


"Mana, biar aku yang melihat, mudah mudahan ada nomor yang bisa di hubungi."


Dokter Harlan keluar, ia mencoba memencet nomor ponsel yang di anggap nya keluarga yang bisa dihubungi.


"Mungkin yang ini!" batinnya.


Tetapi ketika nomor itu dipencet, dokter Harlan terkejut melihat Defta mengangkat ponselnya.


"Apa ada hubungan antara dokter Hana dengan laki-laki itu, bukankah ia adalah Andri, suami Shela."


Dokter Harlan menghampiri Defta, ia tak bisa berpikir lagi, ini darurat.


"Ada apa ya, Dok?" menyadari dokter Harlan mendekat.


"Bukankah anda Andri?" Andri yang mendengar namanya disebut, mendekati mereka.


"Saya Defta, saya bukan Andri."


"Tapi ... bukankah anda adalah suami Shela?"


"Suami Shela adalah saya, Dok."


"Ah ... terserah siapa suami Shela, siapa Andri, saya mau tanya apa ada yang tahu nomor ponsel dari keluarga dokter Hana?"


"Ada apa dengan dokter Hana?" tanya Defta khawatir.


"Kemana, dokter Hana, sejak selesai pasca operasi, dia tak tampak, apa dia yang mendonorkan ginjal untuk istri saya?"


"Iya, katakan, Dok!" tambah Defta.


"Saya hanya butuh nomor yang bisa dihubungi."


"Katakan dulu dimana dokter Hana!" sentak Andri menarik jas dokter Harlan.


"Oke, saya beri tahu, ya, dokter Hana yang telah mendonorkan ginjal untuk Shela, sekarang dia dalam keadaan kritis." Andri melepaskan tangannya dari jas dokter Harlan. Tubuhnya melemah, ia gemetar, tampak wajahnya memerah menahan tangisnya.


Sementara Defta berlari, menuju mobilnya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ia menuju rumah Hana yang alamatnya sempat di beri oleh Shela, beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Defta melihat Rega yang hendak pergi meninggalkan rumah, dengan segera ia berlari ke pagar rumah yang akan dibuka oleh satpam.


Defta berdiri ditengah jalan, menghambat kendaraan Rega yang melaju.


"Ada apa, Mas?" tanya Rega setelah turun dan mendekati Defta.


"Mana Ibumu, Hana ... Hana lagi kritis dirumah sakit!"


"Apa?"


"Ya, mari segera kerumah sakit."


Rega kembali kedalam rumah dengan berlari, ia menemui ibunya, dan dalam waktu yang tidak begitu lama, mereka telah sampai kembali, dan masuk kedalam mobil. Menuju kerumah sakit.


Setelah turun, Bu Fatmi segera berjalan menyusuri koridor rumah sakit, di mukanya ada Defta dan Rega.


Defta menemui dokter Harlan, menanyakan diruang mana Hana dirawat.


Rega dengan diiringi dokter Harlan, masuk kedalam ruangan, sambil menggenggam erat tangan Bu Fatmi, Rega mencoba memberikan kekuatan pada Ibu nya, menyaksikan Hana yang terbujur tidak berdaya.


Sesampainya didalam ruangan itu, Rega tak bisa menahan untuk bertanya apa penyebab kakak nya sampai seperti itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Dok?"


"Dokter Hana memaksa kami mendonorkan ginjalnya, walaupun kami sudah menolak dan mengatakan bahwa akan berakibat fatal, tapi dia bersikeras, karena ia mengatakan ada alternatif lain untuk menyelamatkan Shela."


"Siapa Shela?"


"Andri, Adrian Maulana?"


"Ya, itu namanya." Rega emosi, ketika mendengar nama Andri disebut. Ia melangkah keluar, berniat mencari Andri, ia murka pada laki-laki itu, karena segala penderitaan yang dirasakan oleh kakaknya, tak luput dari orang yang bernama Andri.


Tapi belum melangkah jauh, ia melihat Andri sedang menuju kearah ruangan, dimana Hana dirawat.


Rega dengan perasaan benci, menghampiri nya, dengan tangan yang sudah mengepal.


Benar saja, belum sempat Rega berbicara sedikit pun, sebuah pukulan telah bersarang di wajahnya, membuat Andri mundur beberapa langkah.


"Rega, stop!"


"Kenapa, kau tak juga berhenti mendekati kakak ku, dia selalu mengorbankan dirinya untuk mu, apa kau kurang puas, sekarang justru istri mu yang mengambil hidup kakakku."


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura pura tak tahu, jika tak mendonorkan ginjal nya, ia tak akan kritis seperti itu."


"Aku sendiri tak tahu, kami baru mengetahuinya, saat dokter Harlan meminta nomor ponsel yang bisa dihubungi."


"Jangan kebanyakan alasan."


"Aku mau melihat Hana, izinkan aku masuk, Ga!"

__ADS_1


"Tidak, aku tak bakal membiarkan kamu mendekati kakakku, dan jika terjadi sesuatu dengan dia aku akan menuntut mu."


"Aku ingin sekali melihat dia, Ga ...."


"Tidak ... Tidak akan."


Rega masuk kedalam kembali, ia menemukan ibunya yang memeluk Hana sedih, ia merasa kebahagiaan nya bersama Hana, baru saja mereka rasakan, tapi harus terenggut kembali.


Yang membuat Rega hancur, ia tak pernah membayangkan kakaknya akan mendonorkan ginjal nya tanpa berpikir panjang, dan yang membuat Rega sakit hati, penerima donor itu adalah istri dari Rega, laki-laki yang telah menghancurkan segala harapan dan impian kakaknya.


Bu Fatmi terisak pilu, ia tak bisa membayangkan, jika putrinya yang demikian di cintai nya itu, akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Ga ... kenapa kakakmu begitu senekat ini?"


"Entahlah, Bu ... kita hanya bisa memohon pada Yang Maha Kuasa, semoga kakak akan baik baik saja."


"Aamiin!"


Andri melihat Hana dari luar, ia hanya bisa mengintip, dengan sejuta kesedihan, menyaksikan wanita yang demikian dicintainya tak berdaya, lunglai, seakan akan pergi untuk selamanya.


Andri yang mengetahuinya, tak ada sedikitpun tergerak hatinya, untuk mengijinkan Andri masuk untuk sekedar melihatnya.


Andri terduduk dilantai, sungguh mengenaskan, ia tak lagi memperdulikan dirinya yang diperhatikan oleh orang yang lalu lalang didekatnya.


Defta melihat Andri, ia segera mendekatinya, membawa Andri ketempat duduk yang tak jauh dari tempat itu.


Ia tahu bagaimana perasaan Andri, karena ia tahu betul, betapa Andri sangat mencintai Hana.


Defta menghela nafasnya berat, ia tak tahu akan berbuat apa, ingin membicarakan masalah Hana, sedang kedudukan Andri masih berstatus sebagai suami Shela, tapi ketika ia ingin membahas masalah Shela, sedang ia tahu, jika Andri kian terjepit dalam masalah yang sangat pelik, dua orang yang dekat dengan dirinya, sama sama berada diantara perjuangan hidup dan mati.


"Apa yang harus aku lakukan, Mas?"


"Aku sendiri tak bisa menjawabnya, aku sendiri bingung, aku tak bisa memberi solusi padamu."


"Aku tahu ... aku adalah suami Shela, tapi Mas tahu ... aku tak pernah mencintai Shela, aku hanya mencintai Hana, dari dulu sampai saat ini."


"Aku tahu, Shela menceritakan semuanya padaku, dan dia siap kapan saja kamu menceraikan dirinya."


"Andai saja ... ada seorang laki-laki yang mencintai Shela, dan mau menjaga nya, aku akan segera mengikhlaskan dirinya, tapi ... bagaimana mungkin aku akan menceraikan dia, sedang keadaan Papanya seperti itu."


"Ada laki laki yang mencintainya, sangat mencintainya!"


"Siapa?"


"Apa kau tak tahu?" Andri menggeleng.


"Aku An ... aku sangat mencintainya."


Andri menatap Defta tak berkedip seakan ingin meyakinkan dirinya.


Sekali lagi Defta mengangguk, mengakui nya.

__ADS_1


__ADS_2