
Andri tersenyum memasuki kawasan perkantoran milik keluarganya, ia memang sosok pemimpin yang ramah pada seluruh karyawan, selalu bersikap loyal pada bawahan. Seperti biasanya, Andri langsung masuk keruang kerjanya, ia sempat terkejut karena Shela sudah duduk manis di kursi kerjanya.
"Kamu sayang ... sudah lama?"
"Mmmm, lumayan, tumben Mas lama, datangnya?"
"Ada urusan sedikit, di rumah!"
"Oooo, aku kesini cuma ingin mengingatkan, hari ini baju pesanan kita sudah jadi!"
"Oh Ya?"
"Ya, kita jadi melihatnya kan?"
"Okey, aku ngikut aja, yang penting hati calon istriku senang!" jawab Andri tersenyum.
"Kapan sih, Mas yang mengajak aku, semua aku yang mengingatkan!"
"Hei, kan kamu calon ibu rumahtangga, semau nanti akan menjadi tanggung jawab mu, mengingat semua kebutuhan kita, aku mah nurut aja!"
"Mas, jahat ...." Kata Shela manja.
" Bercanda sayang ... mari kita bina rumah tangga kita penuh kebahagiaan, dimana kita saling memahami dan saling mengerti."
"Aku seakan tersanjung mendengar perkataan mu."
"Sudah, kamu di sini aja, aku meeting dulu, kita pergi nya, nanti aja ya?"
"Ya, aku akan keluar sebentar, Mas mau aku bawain apa?"
"Aku di bawain kamu aja, kesini!"
"Maaas!" kata Shela sambil menghentak hentakan kakinya.
Andri keluar, meninggalkan Shela di ruangan kerjanya dengan senyum terurai.
"Shela menuju kantin yang ada di dekat kantor itu, ia sengaja duduk santai di sana, sambil mengutak-atik ponsel, mencari sesuatu yang menjadi trending topik minggu ini.
Tanpa sadar jam makan siang sudah tiba, Shela memesan dua porsi makanan, untuknya dan untuk Andri.
Dengan langkah santai, ia kembali menuju ruangan Andri, sudah lama, Shela tak masuk kerja, ia sengaja memanjakan dirinya, karena ia memutuskan untuk tidak bekerja setelah menikah nanti, dan Andri pun tidak merasa keberatan.
Ketika Shela masuk, tampak Andri sedang asyik dengan ponselnya, sepertinya ia sedang bicara sesuatu yang penting di ponselnya, tentang pekerjaan nya.
Dengan mengangguk dan tersenyum ia menatap Shela yang masuk, Shela pun masuk dengan leluasa, tak berapa lama, Andri pun sudah selesai dengan aktivitas ngobrolnya lewat ponselnya itu.
"Makan dulu, Mas!"
"Ya, aku akan makan, sebentar lagi, tanggung!"
"Aku tidak suka, Mas makan telat, makan dulu!"
"Kamu duluan saja Shela ... aku sebentar lagi, dikit lagi juga kelar!"
"Oke, aku akan menanti!"
"Baiklah, sebentar ya sayang ...." Kata Andri sambil mencolek dagu shela. Shela mengangguk sambil melihat Andri yang sibuk dengan berkas di tangannya. Seperempat jam berlalu, Andri sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia mendekati Shela, mereka berdua makan dengan begitu lahapnya. Mungkin karena keduanya sama-sama sudah merasa lapar. Setelah semua selesai, Shela membersihkan sisa makanan yang ada di meja tempat mereka makan, kemudian duduk di sisi Andri.
"Kapan kita perginya?".
"Sebentar lagi, makanannya belum juga turun." Jawab Andri sambil melingkarkan tangannya di bahu Shela.
__ADS_1
"Tak terasa ya Mas, kita dua minggu lagi akan menikah, oh ya, apakah undangannya sudah selesai di bagikan?"
" Sudah, tinggal beberapa aja yang belum."
"Mas ingin tema pernikahan kita seperti apa?"
"Terserah kamu aja!"
"Aku ingin menggunakan adat Jawa saja, kamu setuju?"
"Kan sudah aku bilang, aku nurut, yang penting kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku."
"Lalu, bagaimana dengan kebahagiaan mu?"
"Shela ... jangan mulai!"
"Aku tidak mulai, aku cuma menganggap kalau Mas, tidak bahagia dengan pernikahan kita!"
"Shela!"
"Kenapa, Mas, apa benar Mas tidak bahagia?"
"Kenapa setiap kita ngobrol, selalu saja, ada anggapan kamu yang tidak mengenakkan endingnya."
"Aku hanya mau Mas jujur, katakan padaku, apa benar Mas tidak bahagia?"
"Shela, cukup!" Andri membentak Shela, sehingga membuat Shela terdiam seketika.
"Maaf, aku tidak bermaksud membentak mu, sayang .... mari kita berangkat saja!" kata Andri kemudian sambil mengulurkan tangannya pada Shela yang masih tertegun dengan bentakannya.
Mereka berdua keluar dari ruangan kerja Andri, menuju mobil mewah milik Andri yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka sekarang.
"Shela ...." Kata Andri sambil menggenggam tangan Shela dan meletakkan jari jari tangannya di antara jemari tangan Shela. Shela hanya diam sambil menatap wajah tampan calon suaminya itu.
Andri melepaskan genggaman tangannya, kemudian menjalankan mobilnya perlahan.
"Shela ... kamu marah?" tanya Andri lagi, kembali meraih tangan Shela dan membawanya ke dekat hidungnya, menciumnya lembut.
Shela masih diam.
"Kenapa diam, kalau kau masih marah, lebih baik kita tidak usah pergi dulu, kita tunda aja!"
"Aku hanya ingin tahu, apakah Mas bahagia dengan pernikahan kita, itu saja!"
"Lalu, kalau aku jawab, aku tidak bahagia dengan pernikahan kita, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku hanya memastikan!"
"Shela ... sudahlah ... menurutku, pertanyaan konyol mu itu hanya akan menjadikan jurang pemisah antara kita, tak perlu kau tanyakan itu, siapa sih orangnya, menikah tapi tak bahagia?, apalagi dengan wanita secantik dirimu."
"Sebagai calon pendamping hidup, aku hanya ingin memastikan kalau ...." Andri menyilangkan jarinya di bibir Shela.
"Aku bahagia sayang ... aku sangat bahagia!" Andri akhirnya mengucapkan kalimat itu, agar Shela tak memperpanjang masalah.
Tak memerlukan waktu begitu lama, mereka sampai di tempat mereka memesan gaun pengantin mereka. Andri menepikan mobilnya, dan kemudian keluar dan iapun membukakan pintu mobil untuk Shela, lalu mengulurkan tangannya dan di terima oleh Shela.
Mereka berjalan beriringan, memasuki butik terkenal itu, kemudian melihat hasil dari pesanan mereka.
"Cobalah, pasti kau cantik memakai itu, aku akan menunggumu disini!"
Shela mengangguk dan menuju ruang ganti.
__ADS_1
Sambil menunggu Shela mengganti pakaiannya, ia memainkan ponselnya, tak berapa lama, akhirnya Shela pun keluar dengan mengenakan pakaian itu, begitu cantik, bagai seorang bidadari yang mampu membuat Andri terpana, tak berkedip. Tapi sayang, bukan Shela Yang ada di hadapannya kali ini, ia menangkap wajah Hana, Hana yang begitu cantik dengan mengenakan baju pengantin itu.
Andri seketika berdiri, mendekati Shela, tanpa sadar ia memeluk Shela sangat erat, iapun menitikkan air mata, semakin lama pelukan itu semakin kuat saja, sehingga membuat Shela hampir tidak bisa bernafas. Shela mencoba melepaskan pelukan itu.
Dan ... betapa Andri terkejut, melihat Shela yang ada dihadapannya, ia mengucek matanya, akhirnya iapun tersadar, saat ini ia sedang bersama dengan Shela, bukan Hana seperti perasaannya tadi.
"Kamu cantik Shel ... aku tidak percaya melihatmu!" kata Andri menyembunyikan perasaannya yang tiba-tiba menjadi sedih saat ini.
"Terimakasih, Mas."
"Bagaimana, sudah cocok kan?"
"Ya, akupun sudah merasa nyaman memakainya, aku puas!"
Setelah urusan mereka selesai, Andri dan Shela meninggalkan tempat itu.
"Mas ... kita ambil cincinnya sekarang, ya...."
"Iya ... kita langsung kesana aja, kan?"
"Ya, aku tak sabar, rasanya waktu dua minggu itu sangat lama, Mas!"
Andri tersenyum, tapi reaksinya kali ini terkesan sangat dingin, tidak semangat tadi.
"Mas, kamu kenapa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa, kamu benar rasanya waktu dua minggu itu terasa sangat cepat sekali!"
"Sangat lambat Mas, bukan cepat!"
"Bagiku, terasa sangat cepat!"
"Apa karena kamu begitu merasa sangat khawatir menikah dengan ku, sehingga kau merasa seperti itu?"
"Iya, Shel ... sampai detik ini aku belum siap menikah denganmu." kata hati Andri.
"Mas ... kenapa diam?"
"Kamu bilang apa tadi?"
"Apa kamu tidak ingin menikah denganku?"
"Kenapa kau bisa bicara seperti itu?"
"Karena kamu masih mengharapkan Hana kembali!"
Sontak, tanpa sadar Andri menginjak rem, sehingga mobil itu berhenti secara mendadak.
"Shela ... kamu bicara apa?, kita sudah akan menikah dua minggu lagi, apakah itu tidak membuktikan kalau aku serius sama kamu?"
"Mas serius, bukan berarti sudah melupakan Hana bukan?"
"Aku tidak ingin berdebat dengan mu, mari mulai detik ini, kita hanya membicarakan tentang kita, dia hanya masa lalu yang seharusnya sudah aku hapus, sekali lagi aku tidak mau berdebat denganmu."
"Maaf Mas, aku hanya cemburu."
Andri kali ini tidak menyahut, ia asyik sendiri dengan perasaannya, yang tiba-tiba tidak menentu.
Tapi demi membuat Shela tidak kecewa, ia tetap menuruti Shela, mengambil cincin pernikahan yang telah mereka pesan.
"Maafkan aku Shel, aku belum juga mampu melupakan Hana, semoga kau lebih sabar menghadapi aku," batin Andri.
__ADS_1
🌹karya author masih banyak memiliki kekurangan, tanpa dukungan kalian author tidak bisa berkarya dengan lebih baik, ayo berikan dukungan kalian.🌹