
Di meja makan pak Wisnu terlihat termenung menatap kearah istrinya. Sejak tadi dia tidak melihat Andri, padahal Andri sudah pulang dari desa sejak tadi malam.
"Andri sudah pulang kan, Bu?"
"Ya, semalam dia datang, tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi."
"Maksudnya apa ya, Bu?"
"Entahlah, aku belum menemui nya, sepertinya dia lagi tidak mau diganggu."
"Apa dia tidak bertemu dengan Hana ya, Bu?"
"Mungkin ia, mungkin juga tidak karena itu."
"Apa ibu tahu sesuatu?"
"Dulu Andri pernah cerita, katanya Hana akan menikah dengan anak pak Kades."
"Maksudnya, si Defta?"
"Ayah masih ingat?"
"Ya, tentu aku masih ingat "
"Kasihan Andri ya, seandainya dia tidak lagi bisa bersama dengan Hana."
"Ini semua adalah kesalahanku, dulu seandainya aku tidak melarang nya mencari nya sesegera mungkin, pasti dia masih punya kesempatan untuk bertemu dengan Hana."
"Sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri untuk semua itu, anggap saja ini adalah cara Tuhan untuk memisahkan mereka."
"Ya mungkin ini adalah cara Tuhan untuk memisahkan kami, mungkin Hana bukan jodoh yang diciptakan untuk diriku." Sambung Andri yang sudah duduk diantara mereka.
"Apakah kau memang tidak bertemu dengan Hana ?" Andri menggeleng lesu.
"Hana sudah pindah ke kota bersama keluarganya, semua tanah dan rumahnya sudah di jual beberapa bulan yang lalu."
"Memang kamu sudah tanya alamat nya?" tanya pak Wisnu.
"Tidak seorangpun yang tahu akan keberadaan mereka."
"Apa benar dia sudah menikah dan Dengan Defta?" tanya ibunya.
"Menurut bibi, Mas Defta sempat melamar Hana tapi mereka tidak menikah."
"Tidak atau belum?"
"Entahlah." Mereka memulai sarapan pagi ini, Andri nampak sekali bermalas-malasan dengan sarapannya.
"Ayah, kalau boleh aku tidak masuk kantor hari ini?"
"Ya, nggak apa-apa, kamu istirahat aja dulu, lagi pula di kantor tidak begitu sibuk, oke ayah berangkat dulu, kamu selesaikan sarapan mu."
"Aku juga sudah selesai!"
Hana.
__ADS_1
Shela.
Andri
.
Defta
Nampak Andri kembali ke kamarnya, mencoba kembali melukis wajah cantik yang demikian ia rindukan itu, seakan wajah itu bagaikan sungguhan, bukan lukisan tapi tepat nya seperti foto.
Walaupun tidak bersama tapi cintaku akan terus bertambah untuk mu. Ibarat gelap yang tidak bisa menyalahkan malam. Bagaikan hati yang membeku maka tidak akan seorang pun bisa mencairkan nya kecuali kehadiran mu Hana, batin Andri. Sampai kapan pun aku akan menanti mu, tak akan ada yang memisahkan kita kecuali kau sendiri yang mengatakan bahwa engkau sudah tidak mencintaiku.
Lukisan itu telah sempurna, kemudian Andri masuk kesebuah ruangan yang ada dalam kamarnya, disebelah sudut ruangan yang tertutup dinding dan dilengkapi dengan pintu masuk yang tidak begitu besar. Andri meletakkan lukisan itu dengan perasaan rindu nya, sambil berurai air mata ia meraba pipi gadis yang ada didalam lukisan itu dengan seksama, seakan-akan benar-benar mengelus pipi yang sesungguhnya. Perlahan Andri mencium nya sambil terus membawa khayalan nya. Andri benar-benar seperti orang yang tidak waras, ngomong sendiri seperti orang halusinasi.
Puas dengan semua itu, Andri menutup lukisan itu dengan kain putih bersih, kemudian meninggalkannya dan menutup pintu ruang yang tersembunyi dibalik ruang kerja yang ada di kamarnya itu, tidak lupa mengunci nya, karena bagi nya semua itu sangat rahasia.
Andri dengan bermalas-malasan keluar dari kamar, didapati nya ibu nya sedang menyiram bunga di taman depan.
Andri mendekati nya.
"Ibu, kalau seandainya Hana tidak juga aku temukan apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu harus berjuang keras untuk melupakan nya An, lihatlah Shela begitu setia menunggumu."
"Apa kau tidak bisa berusaha untuk mencintainya?"
"Aku takut tidak bisa membahagiakan dia "
"Semua itu terserah padamu, tapi saran ibu, kau harus mencoba nya.
"Oh ya Bu, kata bibi, pak Herman kena kanker hati lo, Bu!"
"Kanker hati?" seketika Bu Wisnu menghentikan tangannya menyiram bunga. Sangat terkejut.
"Itulah sebabnya mereka pindah ke kota."
"Kasihan sekali ya An, bagaimana lah nasib Hana sekarang."
"Banyak sekali cobaan Hana, ya Bu!"
"Ya sekarang kita berdoa semoga Hana kuat menghadapi semua cobaan yang menjadi suratan takdir baginya."
"Semoga Bu, Hana gadis yang kuat, itu lah salah satu alasan mengapa aku begitu mencintainya."
"Jangan terus mengingat nya, nanti kamu tambah stress An!"
"Aku memang selalu ingin mengingat nya Bu, aku ingin terus mencintai nya walaupun terhalang jarak dan waktu."
"Kalau dia juga begitu nggak apa-apa, tapi kalau dia sudah menikah dengan pria lain, gimana?"
"Ibu, jangan bilang kalau itu bagian dari doa ibu."
__ADS_1
"Tidak An, mana mungkin ibu berdoa demikian, ibu justru ingin melihatmu bahagia."
"Andai saja aku bertemu dengannya, mungkin aku tidak akan tersiksa seperti ini."
"Makanya ibu bilangin, lupakanlah dia dan cobalah menerima wanita lain." Andri mendesah pelan, dan lama terdiam.
"Hana dan Shela, baik mana Bu?"
"Hana baik, Shela juga baik, tapi mereka punya kelebihan sendiri, Hana sabar dan Shela agak manja mungkin, maklum anak semata wayang."
Mereka tampak diam dengan sendirinya, Bu Wisnu asyik dengan tanaman bunga didepannya, sementara Andri sibuk dengan perasaan kalutnya.
Tak sengaja Andri teringat waktu Hana
bersamanya disebuah pengajian remaja, saat itu Hana melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, itu lah kali pertama, Andri mengenal Hana. Hana yang demikian sederhana, sangat imut dan manis, suaranya yang merdu tidak diragukan lagi, karena setiap ada acara, Hana tak pernah absen mendapat bagian untuk tampil.
Hana yang lembut, waktu itu menoleh dan menatap nya, saat tak sengaja Andri menginjak sandal yang digunakan Hana.Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir mungil Hana waktu itu, Hanya menunduk menatap kaki dan di ikuti oleh Andri yang seketika menyadari nya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak apa-apa, santai aja kali." Jawab nya tersenyum begitu manis.
"Boleh kenalan?"
"Kamu kak Andri kan?"
"Kau sudah kenal aku?"
"Ketua OSIS disekolah." Tambah nya.
"Kok kamu tahu?"
"Siapa yang tidak kenal sama kakak, seluruh siswa pasti tahu lah."
"Memang kamu kelas berapa?"
"Aku masih kelas sepuluh, lokal IPA "
"Namanya siapa?"
"Aku, Hana Cantika!"
"Pantas!"
"Pantas apanya?"
"Cantik, kayak namanya." Celetuk Andri tanpa sadar.
"Kakak bilang apa?"
"Nggak ... nggak, nggak ada, nggak bilang apa-apa."
Andri tersenyum penuh arti, ya hatinya yang sedih akan sedikit terobati dengan mengenang semua tentang Hana, dalam hatinya berharap semoga semua kenangan yang indah bersama Hana akan kembali lagi suatu saat nanti.
Hanya itu, saat ini harapan Andri, tanpa ingin mencari pengganti, walaupun kepastian itu tidak ada sampai saat ini.
Antara Hana yang dicintainya dan Shela yang mencintainya, entah mana yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak, tiada yang tahu.
__ADS_1