
Ketika mentari pagi mulai malu-malu menampakkan wajahnya di ufuk timur, bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa setiap kulit manusia, seiring dengan hembusan nafas yang ter hela, serta selaras dengan pengharapan dan doa yang terpatri begitu kuat dalam lubuk hati.
Seperti biasanya Hana setiap pagi selalu mengajak ayah nya berkeliling sekitar pekarangan rumah di tempat kediaman mereka. Hanya sekedar untuk menghirup udara segar. Hana berusaha menghibur hatinya dengan mengatakan kalimat-kalimat positif, selain doa yang dipanjatkan nya selalu untuk kesembuhan ayah nya.
"Gi mana, apakah ayah sudah capek?"
"Ya, mari kita masuk!"
"Pagi ini, ayah mau sarapan apa?"
"Ayah lagi tak bernafsu untuk makan."
"Ayah harus makan, kalau ayah makan nanti ada yang dicerna di lambung ayah, supaya ayah segera sehat."
"Han ...." Panggil ayah nya pelan.
"Ya Ayah, ada apa?"
"Maaf ...."
"Yah, ayah minta maaf untuk apa?"
"Ayah hanya bisa merepotkan mu saja, pasti kau dan ibumu sangat bingung mencari biaya untuk ayah."
"Nah, makanya Ayah harus banyak makan dan istirahat, cepet sembuh ya, Ayah!" Hana mengelap air mata yang tanpa diundang datang begitu saja di pipi nya.
Mereka sudah masuk ke dalam rumah, untuk pagi ini Hana hanya membersihkan badan ayah nya dengan menggunakan air hangat, mengelap nya setiap jengkal badan ayah nya yang sudah kurus tidak berdaya itu. Hana mengganti pakaian ayah nya dengan tanpa rasa rikuh lagi, itu karena Hana melakukan nya hampir setiap hari, karena ibunya kadang tidak ada di rumah dan bagi Hana semua itu merupakan bakti seorang anak pada orang tuanya. Sehabis membersihkan badan ayah nya, dan mengganti pakaiannya, Hana mengambil sisir dan mulailah menyisir rambut ayah nya perlahan sekali, tampak serpihan-serpihan rambut mengikut disisir itu, hati Hana terasa sangat hancur. Rontok, dan hanya tinggal sangat tipis.
"Apa Ayah ingin berbaring?" ayah nya mengangguk dan mengantarkan ayah nya ditempat tidurnya.Terdengar suara di pintu dan Hana menyahut nya agar pemilik suara itu masuk, karena Hana sudah sangat mengenal suara milik Defta itu. Defta langsung menghampiri Hana dan membantunya membaringkan tubuh pak Herman di atas kasur yang tampak sangat sederhana itu.
"Mas tidak kerja?"
"Kamu lupa ini hari Minggu?" Hana tersenyum dengan kelupaan nya itu.
"Bagaimana kabarmu Pak, sehat?"
"Ya seperti inilah, seperti yang kau lihat."
Tampak bu Fatmi datang, membawa sarapan pagi untuk suami nya itu dan Hana serta Defta keluar dari kamar itu, menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Han, ada yang ingin aku sampaikan padamu!"
"Tentang pekerjaan yang kau katakan waktu itu."
"Benarkah?" Hana berseru girang.
"ssssttttt, jangan keras-keras."
"Kerja apa?" Tanyanya dengan sedikit menekan suaranya.
"Mari kita dibelakang, aku kurang nyaman mengatakan semua di sini." Hana mengangguk dan mengikuti Defta menuju taman belakang rumah.
"Begini Han, aku hanya menyampaikan apa kamu nanti setuju atau tidak, ya terserah nanti saja." Kata Defta setelah mereka duduk.
"Memangnya pekerjaan nya apa sih Mas?" Tanya Hana penasaran.
"Kerjanya sih di bidang konveksi, tapi ...."
"Tapi jauh, Han!"
"Jauh ... memangnya dimana?" Defta terdiam menatap wajah cantik Hana yang juga menatap nya.
"Rasanya tidak mungkin kau akan setuju."
"Makanya katakan, bagaimana mungkin kau mengatakan aku tidak akan setuju sedang kau tidak mengatakan apa-apa?"
"Pekerjaan itu adanya di Jepang Han ... jadi apa mungkin kau akan pergi?" Hana melongo bak sapi ompong.
"Jauh sekali mas ...." Ujarnya kemudian. Pernyataan Defta seakan membuat Hana terdiam seribu bahasa, membawanya jauh merenung. Kalau dia pergi, bagaimana dia bisa bertemu dengan ayahnya, kalau tidak, bagaimana Hana punya biaya untuk operasi cangkok Hati untuk ayah nya, terus bagaimana dengan pendidikan Rega, bagaimana pun, Hana saat ini adalah tulang punggung keluarga nya, Hana sangat ingin melihat ayah nya sembuh, dan Rega bisa kuliah sebagai mana mestinya, tanpa sadar Hana bicara, seakan hanya bicara dengan dirinya sendiri.
"Aku harus pergi." Seketika Defta terhenyak saking terkejutnya.
"Benarkah?" Hana menoleh dan menatap Defta sangat dalam.
"Ya aku harus pergi, bagaimanapun, aku adalah tulang punggung keluarga, dengan pergi ke sana mungkin aku bisa mengumpulkan uang untuk operasi cangkok Hati buat ayah, dan aku bisa menguliahkan Rega." Defta mengambil tangan Hana dan memegang nya. Matanya berkaca-kaca, sambil menggeleng pada Hana.
"Benarkah kau akan mengambil keputusan untuk pergi?" tanya Defta kembali, seakan memastikan kalau Hana tidak serius dengan perkataannya.
Sekali lagi Hana mengangguk.
__ADS_1
"Kamu sadar, kamu tidak akan bertemu dengan ayahmu?"
"Ya aku sadar!"
"Han ... Cobalah berfikir pada hal yang paling terburuk, bagaimana mungkin kau akan meninggalkan ayahmu dalam keadaan seperti ini, bukannya aku mendoakan, tapi bagaimana seandainya ayahmu tidak panjang umur?"
"Lalu apakah aku harus berdiam diri tanpa usaha, sementara dokter bilang ayah harus melakukan cangkok hati agar bisa bertahan?"
"Tapi Jepang itu sangat jauh Han, aku mengatakan semua itu, karena aku pikir kau tidak akan pergi." Tidak hanya Defta yang berkaca-kaca matanya, Hana pun menangis tak kuasa menahan kesedihannya.
"Bukan Hana namanya, kalau mudah menyerah, disini masih ada ibu yang merawat ayah, Rega dan kau Mas, apakah kau tak mau membantuku merawat ayahku?"
"Bukankah aku sudah berjanji akan selalu ada untukmu?" jawab Defta mengusap air mata Hana sangat lembut. Mereka pun saling memandang , tidak ada yang mengira kalau mereka hanyalah seorang teman, melainkan sepasang kekasih.
"Mas, bantu aku untuk mendapatkan pekerjaan itu, kumohon!"
"Apa ibumu tidak keberatan jika kau pergi?"
"Nanti, aku akan bicara pada ibu."
"Kalau memang kau sudah bulat memikirkan hal itu, maka aku pasti membantumu, walaupun aku sendiri sangat berat melepaskan dirimu."
"Ini hanya sementara, Mas."
"Aku harap kau tidak menyesali keputusan ini di kemudian hari, sebab kau tidak akan bisa pulang, sebelum masa kontrak kerja habis."
"Masa kontraknya berapa tahun Mas?"
"Tiga tahun, makanya aku sarankan untuk memikirkan ulang, jangan gusrah gusruh mengambil keputusan ini, karena sekali kontrak kerja itu di tanda tangani maka tidak bisa untuk dibatalkan."
"Ya, aku akan memikirkan lagi nanti, tapi aku yakin Mas, sepertinya jalan menunjukkan bahwa aku harus pergi."
"Berdoalah, dan minta yang terbaik!"
"Ya Mas, terimakasih atas segalanya."
"Aku semakin kagum padamu Han, kau rela melakukan apapun demi orang-orang yang kamu cintai, aku semakin mencintaimu, dan aku yakin, aku adalah orang pertama yang merindukan mu setelah keluargamu, apabila kamu pergi nanti."
"Kau sangat baik, tentu aku juga sangat merindukan mu, jangan lupa aku titipkan ayah ku padamu."
__ADS_1
Defta mengangguk, dia tahu Hana tidak mudah melakukan semua itu, tapi demi kesembuhan ayah nya akhirnya mau tak mau dia harus mengambil keputusan untuk pergi, Defta juga tahu Hana sendiri tersiksa dengan keputusan nya. Ya, hanya demi sebuah pengabdian dari seorang anak pada orang tuanya, serta pengorbanan seorang kakak untuk adiknya.