
Hari ini Andri bersantai di ruang kerjanya setelah selesai meeting bersama rekan kerja nya di kantor. Seperti biasanya, Andri mengutak-atik laptop yang ada didepannya.
Melihat-lihat berkas yang sudah lama tidak pernah dibukanya, kemudian melihat foto-foto lama yang masih tersimpan, sesaat ia tertegun menatap beberapa foto, siapa lagi dalam foto itu kalau tidak foto Hana sedang bersamanya.
Dari arah belakang dua belah telapak tangan menutup wajahnya yang tentu saja membuatnya sangat terkejut.
Shela menatap laptop yang tentu saja masih menyala. Seketika ia melepaskan tangannya, memandangi foto Andri dengan seorang wanita, didalam foto itu tampak Andri begitu mesra. Itukah Hana?, batinnya, seketika laptop itu mati dan Shela segera duduk di sofa yang disediakan di ruangan itu.
"An, makan siang yuk!"
"Boleh, sebentar aku ke toilet dulu."
Tak lama kemudian Andri keluar dari toilet dan menghampiri gadis yang ada diruang kerjanya itu. Mereka berjalan beriringan menuju kantin yang berada disebelah kantor itu.
"Kamu masih memikirkan Hana ya, An?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa?"
"Susah sekali sih An, meraih hatimu, padahal aku sudah melakukan berbagai cara untuk meluluhkan nya!"
"Maaf kan aku, Shel!"
"Tetap kah kau tidak memberikan kesempatan padaku dengan membuka hatimu walau hanya sedikit celah?"
"Aku hanya tak ingin kau terluka!"
"Mungkin dengan menerimaku kau akan bisa melupakannya, atau aku akan bisa menjadi penawar kesedihanmu selama ini, setidaknya aku akan menjadi orang yang bisa memahami semua tentang dirimu."
"Rasanya begitu sulit untuk memulai hubungan baru dengan yang lain, aku hanya berharap kalau kami akan bertemu kembali."
"Bagaimana kalau dia tidak kembali dalam kehidupan mu?"
Tiba-tiba pesanan mereka akhirnya datang juga, Andri tampak kurang berselera makan setelah hatinya kembali terusik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Shela padanya. Sebuah sodoran sendok telah ada didepan mulutnya, tanpa disadarinya. Shela berusaha, sangat agresif agar Andri mau untuk membuka mulutnya. Andri yang merasa canggung terpaksa menerima suapan itu.
"Kok nggak jadi makan sih, An?"
"Seleraku hilang!"
"Kamu payah, jadi orang kok bucin banget, cewek yang kayak gitu gak papa lah, semangat An ... masih ada yang lain, dunia nggak bakalan kiamat kalau dia pergi!" Andri tersenyum hampa.
Tanpa bicara, tanpa menyahut bahkan tanpa ekspresi apapun mendengar semua celotehan Shela didepannya. Justru malah hanyut dalam lamunan yang jauh dan panjang.
"An ...." Panggil Shela, tak ada sahutan.
"Andri!" tetap diam.
"Hello ...." Kata Shela sambil menjentikkan ibu jari dan telunjuk nya di muka dekat wajah Andri. Andri otomatis sangat terkejut.
"Ya ... ya ... ada apa?" Shela menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Waktu sudah habis mari kita kembali kekantor, tahu kayak gini aku tadi lebih baik sendiri saja kesini, sama temen tapi ngomong sama bangku dan meja."
"Maaf!"
__ADS_1
"Ya aku akan memaafkan mu, Mas bucin!" mereka akhirnya kembali kekantor.
"Kok kamu ikut kesini?" tanya Andri pada Shela yang mengikutinya dari belakang masuk dalam ruang kerjanya.
"Aku akan pastikan kau aman dan baik-baik saja."
"Memangnya aku diancam?"
"Habis kamu kayak orang kesambet, diam kayak robot berjalan." Andri tersenyum, sejak kapan Shela jadi suka bercanda, batinnya. Sementara Shela sangat terpesona dengan senyum yang baru saja merekah itu, hingga gagal fokus membawanya dalam khayalan yang membuatnya tersenyum sendiri.
"Nah Lo, kok ganti kamu yang senyum-senyum sendiri?"
"Senyum kamu An, senyum indah mu itulah yang membuat aku jatuh cinta padamu, melihat senyuman mu saja aku sudah bahagia, apalagi kalau aku bisa memiliki dirimu!"
"Shela ... sejak kapan kamu jadi tukang gombal kayak gini?"
"Apa kau pikir aku gombal?" Shela mendekati Andri memegang dasi kupu-kupu yang dikenakan Andri, mengelus-elus nya seakan merapikan nya, dada Shela terasa bergemuruh, jedag jedug, selama ini tidak pernah dirasakan oleh Shela bila bersama laki-laki manapun.
Lain halnya dengan Andri, sedekat itu dengan Shela, bila dia cowok nakal tentu begitu mudahnya dia akan melakukan hal-hal yang dramatis layaknya cowok dan cewek pada umumnya, tapi jangan kan mencium atau memeluknya sedikit getaran pun tak ia rasakan.
Shela yang memancing tapi merasa pancingan nya tidak menangkap umpannya, dengan sangat lembut memeluk Andri, Andri sangat terkejut, tidak menolak juga tidak membalas pelukan gadis cantik itu.
Shela melepaskan pelukannya karena tidak mendapat respon dari Andri, kok ada ya cowok dingin kayak es, beku sebeku bekunya.
"Kamu payah!" kata Shela sambil meninju dada Andri yang bidang itu.
"Jadi aku harus ngapain?"
"Dasar cowok desa, tetep aja katrok!"
"An ...."
"Hm ...."
"Maukah kau menikahi aku?" ucap Shela terdengar lirih.
"Apakah kau tak takut terluka hidup bersamaku?" mereka berdua kini tampak lebih serius.
"Tidak, aku akan terus berusaha membuka hatimu yang terkunci itu, berada dalam pelukanmu seperti ini sungguh membuatku begitu damai dan bahagia."
"Aku takut kalau aku tidak bisa membuatmu bahagia!"
"Kamu pasti akan menjadi suami yang super duper setia, aku yakin kau pasti akan membuat aku bahagia." Jawab Shela yakin seyakin-yakinnya.
"Bagaimana kalau sesudah menikah aku tetap tidak bisa mencintaimu?"
"Aku akan menanti dengan sabar semoga Tuhan menjadikan hatimu itu menjadi milikku."
"Kalau begitu baiklah, beri aku waktu, akan memikirkannya! "
"Benarkah?"
"Ya, aku akan mencoba memberikan kesempatan kepada dirimu, semoga saja aku bisa." Shela melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Apapun akan aku lakukan asalkan kau bersama ku, kamu ingat pepatah Jawa?"
"Apa?"
"Witeng tresno jalaran Songko kulino"
"Apaan tu?"
"Cinta itu akan datang dengan sendirinya, lantaran kita bersama-sama."
"Sok puitis sekali!" ucap Andri sambil menjauh dari sisi Shela.
"Apakah kau tak percaya?"
"Entahlah."
Mereka akhirnya bersenda gurau, penuh keceriaan, menatap satu sama lain, berpandangan penuh arti, akankah akan tumbuh diantara mereka rasa cinta?, atau hanya Shela yang mencintai Andri, sedang Andri tetap pada hati nya untuk Hana?
Tiba-tiba, saat mereka asyik dengan obrolan mereka datanglah sekretaris Andri meminta tanda tangan.Tak begitu lama sekretaris itu pun keluar. Shela tersenyum menatap Andri.
"Kau kenapa Shel?"
"Aku merasa sangat bahagia hari ini."
"Memangnya kenapa ?"
"Aku tidak tahu!"
"Aneh!"
"Kok, aneh?"
"Ya, aneh, bahagia tapi tak tahu apa sebabnya."
"Kamu!"
"Kenapa aku?"
"Apa kamu tidak mengerti kalau aku bahagia karena kamu?"
"Karena aku?"
"Ya!"
"Kok aku?"
"Ya ampun ...."
"Aku nggak ngerti?"
"Udahlah, yang penting aku bahagia, kamu ngerti apa tidak, terserah kau saja!"
"Jangan gitu dong ...."
__ADS_1
"Aku bahagia karena kamu memeluk aku hari ini, puas?" jawab Shela sambil ngeloyor pergi, meninggalkan Andri yang geleng-geleng kepala.