Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 35 Pak Herman di Operasi


__ADS_3

Bu Fatmi duduk termangu di ruang tunggu rumah sakit, duka nestapa menghimpit dadanya, wajahnya tampak kuyu karena kurang tidur. Rega, duduk disebelahnya, mereka diam membisu, menatap kosong seakan tanpa harapan, sudah seminggu pak Herman belum juga sadarkan diri.


Dulu, saat Hana ada bersamanya, Bu Fatmi tidak pernah sesedih dan segalau ini, Hana selalu menghiburnya.


Dari kejauhan, tampak Defta berjalan mendekati mereka, Bu Fatmi menoleh, tanpa senyum ataupun menyapa.


"Bagaimana keadaan bapak, Bu?"


"Masih belum sadar, kata dokter belum ada perubahan, masih dalam keadaan kritis."


"Hana, sudah di hubungi?" Bu Fatmi hanya menggeleng.


"Terakhir Ibu dan Kakak saling bicara, tapi akhirnya mereka hanya bisa menangis, dan aku jadi bingung sendiri." Kata Rega.


Defta mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Hana, tapi tak ada sahutan, dalam hatinya, ia sangat khawatir dengan keadaan Hana sekarang, ia yakin, Hana pasti sangat kepikiran ayahnya.


Selain khawatir, ia juga sangat merindukan gadis itu.


"Apa rencana selanjutnya, Ga?"


"Entahlah!"


"Ibu ... jangan terlalu capek, nanti ibu jatuh sakit, kalau ibu sakit nanti repot, siapa yang akan mengurus Bapak!"


"Sebenarnya, ibu juga tidak ingat kepikiran, tapi ibu tetap tidak bisa, selain Bapak, ibu memikirkan Hana, betapa ia sangat sedih di sana!"


"Mari, kita pasrahkan saja pada Tuhan, ini semua memang sudah suratan takdir, bagaimanapun, kita harus tabah dan ikhlas."


"Kamu jaga Ibu, Ga ... aku tidak bisa tiap hari kesini, kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari aku, dan kalau kalian membutuhkan uang, bilang saja, jangan sungkan!"


"Iya, Mas!, uang kiriman Kak Hana, masih ada."


"Jangan anggap aku orang lain, Ga ... kita adalah keluarga."


"Ya, aku memang sudah menganggap mu, sebagai keluargaku sendiri."


"Ibu, aku pamit dulu ... Ibu jaga kesehatan, kita semua tidak ingin Ibu ikut sakit, kami membutuhkanmu." Bu Fatmi mengangguk.


Sepeninggal Defta, tidak berapa lama, seorang suster memanggil mereka, Bu Fatmi dan Rega segera menemui suster itu.


"Ada apa, sus?"

__ADS_1


"Pak Herman sudah sadar, kalian boleh menemuinya." Dengan langkah yang tergesa-gesa, Bu Fatmi dan Rega menuju ruang rawat, karena pak Herman sudah di pindahkan ke ruang pasien.


Tampak pak Herman menatap Bu Fatmi dengan seksama, tanpa berkedip.


"Bu ... bagaimana keadaan kalian?"


"Ibu sehat, Rega pun sehat, bagaimana rasanya, apakah ada yang sakit?"


"Rasanya badanku sangat lemas, Bu ... mungkin aku tidak akan sanggup untuk bertahan lebih lama lagi ...."


"Ayah ... mengapa berkata seperti itu?, Ayah harus kuat, Ayah pasti kuat!" kata Rega pada ayahnya.


"Entahlah, mudah-mudahan saja Ayah akan kuat, mudah mudahan ayah akan bertemu dengan Kakakmu lagi, betapa Ayah sangat merindukannya."


Bu Fatmi dan Rega saling pandang, kemudian menghela nafas berat.


"Ayah ingin melihat kakakmu, walaupun sebentar saja, mungkin esok aku sudah tidak bisa menatap wajah putriku itu!" air mata Bu Fatmi kembali berderai, seolah tak ada hari tanpa menangis, apa lagi sejak Hana pergi, tak ada semangat yang hadir di relung hati mereka, Hana adalah segalanya, buah hati dan belahan jiwa mereka. Kepergian Hana memang untuk mencari secercah harapan, tapi tak dapat di pungkiri, juga menambahkan secarik luka, akibat rasa rindu dan kekhawatiran.


Rega menghubungi kakaknya, selang beberapa waktu, terdengar suara sahutan dari Hana.


"Halo Kak, bagaimana kabarmu?"


"Kami baik, ayah juga sudah sadar, ia ingin bicara padamu!"


"Ya ... aku pun juga ingin bicara pada Ayah, aku sangat merindukan Ayah!" Rega mendekati ayahnya.


"Halo, sayang ...."


"Ya, Ayah ... Ayah apa kabar?"


"Ayah kurang baik, rasanya Ayah tidak kuat lagi, kapan kamu pulang, nak ...."


"Hana masih belum bisa pulang, Ayah ...."


"Apakah kau tidak rindu pada Ayah?"


"Kalau di tanya soal rindu, akulah orang yang paling merindukan Ayah, tapi ... Hana belum bisa pulang, Ayah ...."


"Mengapa, apa memang benar kau kesana untuk urusan lain?"


"Kalau Hana jujur, apakah Ayah akan memaafkan aku ...."

__ADS_1


"Benarkan ... kau ke Jepang bukan untuk praktek?"


"Ayah ... demi keinginanku melihat Ayah sehat dan sembuh, aku ke Jepang sebenarnya untuk bekerja, untuk biaya pengobatan Ayah."


Rasa lega setelah jujur pada ayahnya, tapi justru di sudut hati pak Herman yang paling dalam, ia sangat bersedih, hanya karena dirinya, anak gadisnya harus pergi sangat jauh, mencari sejumlah uang tanpa memikirkan dirinya sendiri, membiarkan hancur dilebur rindu, meratapi nasibnya seorang diri, tanpa teman, selain rasa sepi dan kekhawatiran.


"Ayah ...." pak Herman diam, terbawa perasaan, pikiran nya berkelana, jauh ... sejauh harapannya untuk bertemu dengan Hana, putri kesayangannya.


"Ayah ... ayah bengong, kenapa?"


"Maafkan Ayah, Han ...."


"Mengapa Ayah minta maaf?"


"Ayah tak sanggup lagi menahan kerinduan ini, apakah kau tak bisa pulang?"


"Aku ...." Hana terdiam, tangisnya pecah, air mata nya tumpah, semua itu membuat pak Herman semakin menyalahkan dirinya sendiri.


"Coba kalau kau tak pergi, kita pasti bisa bertemu ... sekarang apa yang bisa kita lakukan, ayah sangat merindukan kamu Hana ...." Rega dan ibunya menunduk, menyembunyikan tangis mereka.


"Mungkin waktu Ayah, tidak lama lagi Han ... andai saja Ayah bisa memelukmu, andai saja engkau ada di sampingku saat ini, mungkin Ayah tidak sesedih ini!" ucap pak Herman lagi.


"Hidup dan mati adalah rahasia Tuhan, Ayah jangan bicara seperti itu?" rasa takut seakan menampar hati Hana, ia demikian cemas mendengar penuturan ayahnya.


"Ya, Ayah tahu, tapi rasanya Ayah tidak kuat lagi, maafkanlah ayahmu yang tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu, justru ayah yang selalu merepotkan kamu." Hana menutup mulutnya, meratapi kata kata ayahnya, ia saat ini berpikir, apakah ayahnya benar benar akan pergi meninggalkan dirinya?, benarkah ayahnya akan di panggil oleh Yang Maha Pencipta.


"Ayah ... kumohon, jangan katakan apa-apa lagi, Ayah akan sembuh, Ayah aklan menantikan aku kembali, kalau ayah tidak kuat, lalu untuk apa aku pergi sampai sejauh ini ...."


"Dada Ayah begitu sesak, tataplah Ayah nak ... biarkan ayahmu ini melepaskan kerinduan ini!"


"Ayah ...." Hana tersedu-sedu. suaranya menyayat hati, Bu Fatmi yang mendengar suara tangis Hana, seakan badannya juga turut tak berdaya, harapannya untuk kesembuhan suaminya juga turut kandas, disaksikan nya tubuh suaminya kian melemah.


"Bisikkan pada Ayah kalimat syahadat itu sayang ... Ayah ingin sekali mendengarnya darimana, bimbing Ayah, aku ingin kau mengiringi kepergian Ayah!"


Rega memegang tangan ayahnya, ia mencoba sekuat tenaga untuk tetap tegar, menyaksikan Ayahnya mengucapkan dua kali syahadat, mengikuti bacaan yang di bacakan Hana. Sambil sesekali mengusap air mata nya.


Bu Fatmi memanggil dokter, pak Herman pun dibawa keruang ICU kembali, karena pada hari ini pak Herman di jadwalkan untuk operasi cangkok hati. Rega kembali berbicara dengan Hana.


"Tenang Kak ... tenanglah ... ayah lagi di tangani dokter, sekarang ayah akan dibawa keruang operasi, ayah akan di operasi, mari kita berdoa, semoga ayah kita selamat dan kita tetap terus bersama sama."


"Aamiin ...." Percakapan pun terhenti, Dewi yang sudah ada di samping Hana pun kembali menghiburnya, ibarat seorang Kakak pada adiknya sendiri. Begitu juga dengan Rega, ia menenangkan ibunya, mencoba untuk memberikan pengertian, yang kemudian Defta pun datang kembali setelah di beri kabar oleh Rega, kalau pak Herman sekarang dioperasi.

__ADS_1


__ADS_2