Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 51 Haruskah


__ADS_3

Hana terpaku menatap langit langit kamar, ia merasa bahwa Defta telah benar benar menjauh darinya, Dewi mendekatinya, ia jongkok mengambil sebuah buku diary kecil milik Hana yang tidak sengaja dijatuhkannya. Tiba-tiba sebuah sebuah foto jatuh dari dalam buku diary itu, dan dewi pun mengambilnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi mu!"


kata Dewi menyerahkan foto itu pada Hana.


"Tidak apa-apa, santai aja!"


"Tapi ... ngomong ngomong, siapa cowok yang ada di foto itu?"


"Dialah orang yang telah menjadi penyebab aku dan Mas Defta bertengkar."


"Maksudnya?"


"Namanya Adrian Maulana, seorang pemuda yang amat sangat aku cintai, sejak aku SMA sampai sekarang, dan Mas Defta memintaku untuk melupakan nya, karena aku tidak bisa makanya sekarang dia menjauh dariku."


"Kok aku tidak pernah melihatmu menghubungi dia, benarkah?"


"Sudah lama kamu tak saling bicara, sebab aku tidak tahu dia berada dimana sekarang."


"Kau tetap mengharapkan dia, meskipun dia tidak ada kabarnya?" Hana diam, tak bisa bicara sedikitpun.


"Kalau memang cinta itu masih ada, kenapa dia tidak berusaha mencari mu?"


"Mungkin dia mencariku, cuma aku dan keluargaku pindah ke kota, akhirnya pertemuan itu tak pernah terjadi."


"Apa katamu, mungkin?" Dewi bicara seolah mengejek Hana.


"Hana ... Hana, kau sungguh naif, wajar saja Defta menjauh darimu, kau memang tidak pantas untuk diharapkan, dia tidak akan pernah bisa mengharapkan mu."


"Lalu ... apa yang harus aku lakukan?"


"Lupakan semua, masa depanmu masih panjang, masih ada laki laki lain yang pantas mendapatkan cintamu, jangan terus kau harapkan masa lalu mu itu akan kembali."


Bertepatan dengan kalimat itu, pak Kimura tersembul di pintu, ia tersenyum, mengangguk kan kepalanya.


"Apa aku boleh masuk?" Dewi menatap Hana, kemudian keduanya sama-sama mengangguk.


Akhirnya mereka bertiga bersenda gurau di asrama itu, mendengar suara yang sedikit gaduh, karena gelak tawa mereka bertiga, tampak Vero cengengesan berdiri di pintu, dan mengetuk pintu, karena merasa Hana, Dewi, dan pak Kimura tak mengetahui kedatangan nya.


Tok tok tok, ketiganya menoleh.


"Mbak Vero, ayo masuk!"suruh Hana, Vero pun tak menunggu lama, segera masuk, karena memang itulah yang di inginkan nya. Belum sempat Vero duduk diantara mereka, suara ponsel Hana membuat canda dan tawa mereka berhenti, Hana mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas nakas.


"Maaf, aku angkat ponsel dulu, kalian lanjut ngobrolnya." Setelah mengatakan itu, Hana keluar, dan menjawab ponsel itu.


"Halo, Ga ... ada apa?"


"Aku hanya ingin mengabari kakak, aku berhasil masuk ke universitas tempat aku mendaftar kak, di Jakarta, apa kakak tak keberatan, aku kuliah di sana?"


"Kalau semua itu sudah menjadi keputusan mu, kakak mendukung saja."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan Ibu?"


"Kalian pindah kesana aja!"


"Pindah ke Jakarta, serius?"


"Apa lagi yang kita beratkan disitu, saudara atau keluarga pun kita tak punya, dari pada kamu bolak balik, lebih baik yang disitu


dijual, kamu pindah ke Jakarta bersama ibu, lagi pula mas Defta tak pernah lagi datang, bukan?"


"Iya kak, aku baru dari tempat mas Defta, tapi lagi lagi aku tak bertemu dengannya, sepertinya dia memang menjauh, apakah tidak salah kalau kami pergi tanpa mengabari dia?"


"Tidak usah, nanti biar aku yang mengirim pesan padanya, lebih baik kamu urus semuanya dari sekarang, nanti aku akan bicara pada ibu."


"Baiklah, aku akan menyelesaikan semua, mudah mudahan semua ini adalah jalan terbaik untuk kita."


Sementara itu, Dewi dan Vero saling pandang, ia sengaja membuat rencana untuk meninggalkan pak Kimura, mereka saling mencolek, dan pak Kimura tak mengetahui akan hal itu.


"Pak, kami ada sesuatu yang harus dibeli, bapak disini, tunggu Hana, bilang kalau kami pergi sebentar, okey?" belum sempat pak Kimura menyahut, mereka sudah pergi begitu saja, lewat pintu belakang, agar Hana tak mengetahui kepergian mereka."


Hana Yang masuk merasa kaget menyaksikan pak Kimura hanya seorang diri, iapun agak canggung untuk mendekati pak Kimura, tapi sebelum Hana beranjak, pak Kimura sudah lebih dulu keluar menemui Hana.


"Hai ... sudah selesai terima ponselnya?"


"Su_ sudah, Bapak mau kemana?"


"Kesini, duduk berdua denganmu, bolehkan?"


"Apakah kamu pernah kuliah?"


"Memangnya kenapa, Pak?"


"Sebenarnya, kamu bercita-cita menjadi apa?" Hana terdiam.


"Kata Dewi, kamu pernah kuliah kedokteran, apa benar?" Hana masih diam.


"Apakah sekarang kamu tak ingin kuliah lagi?"


"Apakah Mbak Dewi, cerita banyak tentang aku?"


"Banyak benar tidak, hanya yang aku tanyakan. Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau tak ingin kuliah lagi?"


"Gimana caranya, Pak, sedangkan aku bekerja, mana bisa aku kuliah."


"Kan kamu bekerja tidak lama lagi, nanti habis masa kontrak kerja, kamu tidak usah pulang ke Indonesia, kamu kuliah aja disini."


"Dari mana aku mendapatkan biayanya Pak?"


"Masalah biaya, jangan kamu pikirkan, aku akan menanganinya."


"Biaya kuliah itu cukup banyak Pak!"

__ADS_1


"Tak kau izinkan kah aku membantumu?"


"Pak ...." Hana menatap pak Kimura, airmata nya berlinang.


"Han, aku sangat menyayangimu, izinkan aku mewujudkan impian ayahmu, bukankah ayahmu sangat menginginkan dirimu menjadi seorang dokter?" Hana terisak mendengar penuturan pak Kimura. Pak Kimura tak melewatkan kesempatan, iapun memeluk Hana, mengelus rambutnya yang panjang dengan sangat lembut.


"Aku ... tak mau kau menolak aku, aku sangat bahagia kalau kau mau menuruti kemauanku, aku juga ingin kau menjadi seorang dokter."


"Tapi ... aku ...."


"Tak ada tapi tapian, kamu mau kuliah kan?"


"Aku ...."


"Jawab iya atau tidak?"


"Iya."


"Aku akan menguliahkan mu, semoga kau menjadi dokter, seperti yang diinginkan oleh ayahmu." Hana memeluk pak Kimura kuat, perasaannya begitu bahagia, ia sangat merasa terharu atas kebaikan pak Kimura.


"Apakah kau akan menuntut sesuatu padaku?"


"Menuntut?" pak Kimura menggeleng.


"Aku tulus, Han ... aku tulus melakukannya untukmu." pak Kimura melepaskan pelukannya, menatap wajah Hana, mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku ...." ucap Pak Kimura bergetar. Ia tak melanjutkan ucapannya, tapi wajahnya kian dekat dengan wajah Hana, entah mengapa, kali ini Hana tak bisa berbuat apa-apa, ia tak ber bergeming sama sekali, justru ia saat ini, memejamkan matanya, membiarkan bibirnya disentuh lembut oleh bibir pak Kimura.


Mungkinkah, Hana mendengarkan perkataan Dewi, agar membuka hatinya untuk pria lain?


Lalu, apakah pak Kimura adalah pria yang menjadi pilihannya untuk melabuhkan hatinya yang demikian terluka dan menderita saat ini, ah tak tahu ... yang penting saat ini Hana sangat terlena dalam buaian kasih seorang Kimura.


"Bolehkah aku menjadi temanmu, setelah keluargamu?" Hana lagi lagi hanya bisa mengangguk.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu terluka dan kecewa sedikitpun, aku akan menjaga mu."


"Terimakasih, kau telah ada untuk ku." pak Kimura tersenyum.


"Apakah pak Kimura mencintaiku?, apakah saat ini aku terlalu berharap, dekat dengan dirinya?"


Haruskah aku mengakhiri hubungan ku dengan Andri?


Hati Hana semakin bertanya-tanya, akankah ia mengakhiri masa lalu nya atau tetap bertahan untuk mempertahankan cintanya pada Andri.


Dalam kemesraan yang sedang mereka rasakan, Dewi dan Vero


datang sambil menggoda keduanya.


"Cie cie ... yang lagi jatuh cinta, mesra banget!"


"Apaan sih Mbak." Jawab Hana tersipu sambil melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


__ADS_2