Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 11.Pak Herman Sakit


__ADS_3

Sudah lama tidak terasa Hana menjalani kuliah nya. Hari demi hari berlalu, kerinduan demi kerinduan ia tahan kan baik untuk kekasih Tercinta, maupun pada orang tua nya. Perasaan kalut bercampur gelisah, mendera hampir di setiap waktu, manis dan pahit yang ia rasakan menjadi obat bagi luka yang ia rasakan, tidak sedikit orang-orang kampung yang mengolok-olok keluarganya sebagai orang miskin yang mimpi ketinggian. Bagaimana tidak, ketiadaan biaya bagi nya untuk kuliah membuat orang-orang kampung itu berpikir pendek.


Memang sedang menjadi kebiasaan, bahwa orang miskin akan seterusnya menjadi orang miskin, mimpi kalau ingin menggapai cita-cita.


Tapi mari lah kita sebagai orang yang berfikir modern, menilai bahwa segala aktivitas yang ada di muka bumi ini tidak luput dari pengawasan sang pencipta. Seseorang akan menjalani takdir hidup yang telah digariskan, mau jadi pegawai, guru dan lainnya, tanpa kita sadari semua telah digariskan, kita tinggal menjalani nya.


Begitu halnya dengan Hana, meskipun ia berjuang mati-matian untuk meraih semua yang ia cita-citakan, namun akhirnya ia harus pasrah kan segala nya pada sang pemberi hidup. Hari ini ponsel Hana berdering beberapa kali, namun karena Hana masih sibuk dengan mata kuliah nya, iapun tidak mendengar panggilan itu.


Setelah mata kuliah nya selesai Hana bergegas pulang, kembali ponselnya berdering, namun kali ini bukan dari Rega melainkan dari Defta.


"Ya, halo, mas?"


"Ya, halo Han , kamu lagi ngapain, Han?"


"Tidak ada Mas, ada apa sebenarnya mas, kok banyak sekali panggilan masuk dari Rega?"


"Bapak sakit Han, saat ini ada di puskesmas, masih di periksa sama dokter!"


"Baiklah, aku pulang sekarang mas!"


"Begini saja Han, kamu nantikan hasil pemeriksaan dokter, kata dokter tadi, Bapak akan dirujuk ke rumah sakit di kota."


"Apa bapak parah?" tanya Hana khawatir.


"Bapak nampak sangat kesakitan."


"Tolong ayah ya, Mas!"


"Ya, kamu baik-baik di sana, nanti sebentar lagi aku akan mengabari mu."


ponsel pun ditutup, Hana seakan lemas mendengar kabar sakit nya sang ayah, seakan ada sesuatu yang terenggut dari jiwanya. Secepatnya ia pulang ke kost, mengemasi barang-barang bila nanti ia harus pulang. Selang beberapa menit berlalu, ponselnya kembali berdering, kali ini dari Rega.


"Halo ga, bagaimana kabar ayah?"


"Ayah dirujuk ke rumah sakit kota Kak, Kakak tunggu saja di sana, gak usah pulang, aku akan ikut sama ibu."


"Ya baiklah, kamu jaga ayah ya!"


"Ya Kak. sampai di sana besok!" ponsel pun kembali ditutup.

__ADS_1


Kecemasan demi kecemasan menghampiri benak Hana, "sakit apa kah ayahnya, sampai-sampai harus dibawa ke kota untuk berobat."


Waktu berlalu dengan sangat lambat, setiap detik seakan tak luput dari pandangan Hana, sore begitu lamban mendekati malam, sangat lama dikarenakan kegalauan yang menderanya.


Betapa Hana sangat menyayangi ayah nya, ayah nya adalah sesosok orang tua yang loyal terhadap kebijakan yang diambil oleh anak-anaknya, asalkan tidak menyalahi aturan.Ramah dan sangat lembut menghadapi anak-anaknya bila melakukan suatu kesalahan.


Hari ini terdengar kabar bahwa ayah yang demikian dicintainya itu harus sakit, rasanya ada juga rasa sakit yang menghunus tajam dalam jiwanya, itulah kedekatan antara Hana dan keluarga nya, bila salah satu diantaranya sakit maka yang lainnya akan merasa sakit juga, mereka saling perhatian satu sama lainnya.


Malam sudah menunjukkan jam dua belas, mata Hana tak juga mau terpejam, balik kanan balik kiri, miring, telungkup, duduk dan kembali berbaring, tak ada yang membuatnya merasa nyaman, di coba menghubungi Rega tapi tak ada sahutan, kemudian Defta dicoba pula, untuk menghubungi nya, sama, tak ada sahutan.


Sementara diperjalanan menuju rumah sakit, tampak mobil ambulans yang membawa pak Herman nampak turut berhenti, kemudian supir ambulans itu turun melihat situasi.


"Ada apa ya, Pak?" tanyanya pada salah seorang yang berdiri sisi kiri jalan.


"Macet Pak, perjalanan tak bisa dilanjutkan, banjir Pak!"


"Apa banjirnya dalam ya, Pak?"


"Ya Pak, mobil tak bisa lewat."


"Bagaimana ya, mundur pun tak bisa?"


"Iya Pak, apakah tak ada jalan alternatif lain Pak?"


"Waduh Pak tidak ada, cuman ini satu-satunya jalan untuk ke kota"


"Ya sudah, terima kasih Pak!"


"Ya sama-sama."


Supir itu pun kembali kedalam ambulans, belum sampai duduk bu Fatmi menyerang nya dengan pertanyaan.


"Ada apa ya, Pak?"


"Jalannya banjir Bu, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan."


"Tidak ada akses jalan lain, Pak?" tanya bidan yang mendampingi mereka, supir itu menggeleng pasrah. Terdengar suara pak Herman memanggil Bu Fatmi.


"Bu ibu, kita sampai dimana, rasanya aku gak kuat Bu ...."

__ADS_1


"Bapak yang sabar, sebentar lagi kita sampai, kita akan bertemu dengan Hana Pak, Hana menanti di sana."


"Sakit sekali Bu ...." Bidan mengganti kantong infus yang sudah habis dengan yang baru sambil berusaha menenangkan pak Herman. Rega memperhatikan mereka dari jok depan, sambil mulutnya komat-kamit tak hentinya memanjatkan doa untuk kesembuhan ayahnya.


pagi pun tiba, air banjir pun mulai surut, sebentar lagi mobil-mobil akan bisa melewati banjir itu, perlahan mobil-mobil mulai bergerak melaju melanjutkan perjalanan.


Hana tampak mondar-mandir di pelataran rumah sakit, sambil sesekali memandang kendaraan yang masuk. Dari selesai melakukan shalat subuh Hana sudah berangkat ke rumah sakit sambil membawa bekal untuk sarapan ibu dan adiknya, yang ia masak tadi malam karena tidak bisa tidur.


Tepat pukul setengah sepuluh pagi, tampak Defta tergesa-gesa mendekati Hana, yang tampak berdiri menatap nya.


"Mas , mana ayah?"


"Mereka masih dalam perjalanan, semalam jalanan macet, karena hujan turun hampir setiap hari."


"Mas, kok sudah sampai?"


"Kemarin, ibu menyuruh aku berangkat duluan."


"Mas sudah sarapan?" Defta menggeleng.


"Makanlah dulu, nanti mas masuk angin!"


"Nanti, aku belum lapar."


Tak berselang lama nampak ambulans yang membawa pak Herman datang, Hana tak kuasa membendung lagi air mata nya, berlari kearah ambulans itu dan turut menyambut kedatangan ayahnya yang dipegangi oleh para perawat untuk di bawa kedalam ruang rawat, namun sesampainya didalam mereka menghentikan Hana.


"Adik tunggu disini, kami akan memeriksa keadaan pasien." Hana berhenti dan menatap kedalam melalui pintu yang ada kaca nya. "Ayah ...." Jeritnya sambil mengiba. Ibunya datang dan membimbing Hana.


"Ibu ... ayah sakit apa, Bu?"


"Entahlah kita belum tahu!" jawab Bu Fatmi sambil mengusap rambut anak gadisnya.


"Kuatkan hatimu, tangis bukan jalan satu-satunya untuk menghilangkan kesedihan, jangan menangis di hadapan ayah mu, jangan bikin dia semakin bersedih dengan melihat tangis mu."


"Hana takut Bu ...."


"Sama, ibu pun takut, takut ibu melebihi ketakutan kalian, tapi kita harus memberi kekuatan untuk ayah mu."


"Ya ibu ...."

__ADS_1


Menunggu dokter memeriksa pak Herman, Hana mengajak ibunya serta Rega, dan Defta untuk sarapan, bagaimanapun perut harus tetap diisi karena memang sudah sejak kemarin tak sesuap nasi pun yg masuk ke perut mereka.


__ADS_2