Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 17. Terlambat Sudah


__ADS_3

Hari-hari seperti telah berubah, Andri bukan lagi Andri yang dulu, sekarang menurut pak Wisnu, Andri adalah sosok pendiam yang hanya menurut apa saja yang ia katakan, tak ada lagi pertengkaran antara dirinya dan anak sulungnya itu. Semakin lama pak Wisnu merasa bersalah atas semua itu, seakan-akan semua terjadi atas dirinya. Bagaimanapun juga ia bertanggung jawab atas kebahagiaan Andri.


Seperti pagi ini, Andri berkemas akan pergi ke kantor, seperti biasanya, Andri hanya menatap pak Wisnu dengan diam, tanpa senyum yang tulus walaupun ada terurai, seakan menyembunyikan sejuta perasaan yang terluka.


Pak Wisnu memperhatikan seolah tak berkedip sama sekali. Andri sengaja tak menghiraukan perhatian itu, diabaikan nya begitu saja, karena ia memang tak ingin bicara pada ayahnya, tapi saat Andri ingin beranjak dari duduknya pak Wisnu menahannya.


"An, ayah mau bicara sebentar, kau punya waktu?"


"Tentang apa, yah?"


"Tentang Hana."


Yang semula Andri tak berminat langsung menoleh mendengar nama itu disebut, ada apa lagi ini, pikirnya.


"Duduk dulu, An!" Andri duduk sambil menatap ayahnya dengan sangat dalam.


"Apakah kau sudah tidak ingin mencari Hana lagi?" Andri menghela nafas panjang.


"Apakah ayah mengizinkan?"


"Biasanya kau tidak perlu minta izin padaku untuk melakukan semua keinginan mu?"


"Bukankah seperti ini yang ayah inginkan, menuruti semua yang ayah inginkan?"


"Ayah tahu kau sudah berubah, tapi perubahan mu sepertinya mempunyai sebab yang tidak Ayah ketahui?"


"Bukankah seorang anak memang harus patuh pada ayahnya?, aku hanya tak ingin ayah menganggap ku sebagai anak durhaka seperti yang ayah kata kan selama ini, bagaimana pun aku punya hati, ayah."


"Apakah kau mengetahui sesuatu?"


"Ya, aku sudah tahu semua nya, ibu sudah memberi tahu Semua, maafkan aku selama ini, aku sudah merepotkan ayah, Tapi ayah harus tahu kalau aku tak bermaksud merepotkan ayah dan menjadi beban buat ayah, andai saja aku bisa pergi, aku akan pergi, tapi aku tidak tega meninggalkan ibu."


"Kenapa kau harus pergi?"


"Aku tak ingin ayah tetap teringat masa lalu ayah setiap melihat ku." Pak Wisnu terkejut mendengar perkataan Andri.


"Andri, maaf kan ayah, ayah tidak bermaksud bersikap demikian padamu."


"Ya, aku pun tidak bermaksud hadir dalam kehidupan mu, tapi takdir Tuhan menentukan lain, maaf kalau aku terus menjadi bayangan masa lalu mu." Pak Wisnu menangis mendengar penuturan Andri, iapun mendekati Andri dan memeluknya, sedang Andri hanya tertegun menerima semua itu. Ya, baru kali ini Andri mendapat pelukan dari seorang ayah, pelukan kasih sayang dengan penuh kehangatan. Andri pun membalas pelukan itu dengan sangat erat.


"Maaf An, maafkan Ayah!"


"Benarkah ayah memeluk ku?" Pak Wisnu semakin menangis dan semakin kuat memeluk anaknya, seakan baru menyadari kalau dia sudah meninggalkan anaknya dalam kehampaan, kehampaan akan kasih sayang nya.


"Aku sangat menyayangimu ayah, karena itu mengapa aku selalu menuruti semua keinginanmu."


Pak Wisnu melepaskan pelukannya, ditatapnya mata Andri yang teduh itu, mata yang tajam bak mata elang yang seakan siap menghunus hati siapa saja yang menatap nya, tapi dalam ketajaman mata nya tampak oleh pak Wisnu sebuah kehampaan dan kerinduan yang begitu dalam.


"Apa kau tak ingin mencari Hana lagi?"


"Boleh kah?" Pak Wisnu mengangguk.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan perusahaan kita?"


"Untuk sementara ayah akan mengurus nya, pergi lah ke desa, cari Hana mu." Tampak sekali kebahagiaan terpancar dari wajah anaknya itu, dalam hati nya berkata, mengapa aku tak memberi kebebasan padanya sejak dulu, ya ... semoga ini semua belum terlambat.


"Baiklah ayah, besok aku akan pergi, tapi bagaimana dengan Shela?"


"Mari kita bicarakan dia setelah kau pulang dari desa." Andri mengangguk kemudian pamit pergi kekantor.


Tak seperti biasanya, Andri sangat gembira sesampainya di kantor, bekerja penuh semangat, pak Wisnu yang telah datang hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala. Andai saja aku bisa memahami nya sejak dulu, ternyata kebahagiaan nya hanya hal yang sangat sederhana sekali.


Keesokan harinya Andri bersiap-siap, mengambil beberapa baju untuk dibawa nya dan memasukkan nya dalam ransel kecil. Bu Wisnu tersenyum melihat anaknya bersiul siul penuh semangat.


"Apa kamu lama di sana?"


"Belum tentu Bu, tergantung keadaan."


"Ibu sangat bahagia kau sudah akur sama ayahmu."


"Aku juga sangat senang Bu, aku seakan menemukan ayahku yang hilang."


"Semoga kau bertemu dengan Hana, dan kalau bertemu jangan lupa kirim salam sama dia dan keluarganya."


"Pasti ibu!"


"Kamu nyetir nya Jangan ngebut, ibu tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


"Ya, ibu."


"Andri ...." Katanya sambil keluar menyambut nya.


"Bagaimana kabar bibi?"


"Bibi sehat, bagaimana dengan ayah dan ibu mu?"


"Mereka sehat juga dan menitipkan salam buat bibi."


"Wa'alaikum salam."Jawab nya sambil membawa Andri masuk


"Semakin ramai aja ya Bik ... sekarang disini!"


"Ya namanya sudah banyak yang menikah dan punya anak."


"Apakah Hana sudah menikah?" bibinya itu tersenyum dan mengetahui maksud keponakan nya datang ke desa, tapi dia tidak langsung menjawab nya.


"Belum, tapi sekarang kita makan dulu, nanti kalau kamu mau nanya-nanya, lapar kan?" Andri mengangguk, semangat sekali mendengar bahwa Hana belum menikah dan berencana akan berkunjung kerumahnya setelah makan, walaupun rasanya sangat lelah, tapi tak ada kata lelah buat Hana.


"Sekarang aku mau kerumahnya Hana, Hana ada kan, Bik?"


"Kamu istirahat dulu, An!"


"Tidak Bik, aku kepengen sekali bertemu dengan Hana!"

__ADS_1


"Besok saja An, kamu masih lelah."


"Kenapa, Apa ada sesuatu?" tanya Andri seakan membaca gelagat bibinya. Bibinya menelan Saliva nya yang terasa kering, bagaimana ini, jauh-jauh Andri datang, tapi justru tak menemukan Hana.


"Hana sudah pindah ke kota, An." Andri melongo, terkejut sekali, dijatuhkan nya badannya di sofa begitu saja, terasa lemas tak berdaya, semangat nya langsung pergi entah kemana.


"Sudah lama?"


"Sudah beberapa bulan, semua tanah mereka sudah dijual, sama pak Kades."


"Apakah Hana akan menikah dengan Mas Defta, anak pak Kades?"


"Yang pernah bibi dengar dulu katanya sih Defta melamar nya, tapi sampai sekarang belum ada kabar apa dia jadi nikah entah tidak."


"Memang ada masalah hingga mereka pindah?"


"Pak Herman terkena kanker hati."


"Kanker hati?" tanya Andri kembali terkejut.


"Ya begitulah, oleh karena itu Hana harus berjuang demi kesembuhan ayah nya."


"Kuliah nya bagaimana?"


"Kata Rega dia berhenti."


"Kalau begitu aku akan menemui mas Defta, aku ingin tahu bagaimana keadaan Hana."


"Defta juga sudah pergi dari desa, setelah bertengkar dengan ayah nya."


"Paling tidak aku dapat nomor yang dihubungi, kemana aku harus minta ya, Bik?"


"Reni mungkin tahu nomor Rega!" Reni adalah anak bibinya satu-satunya. Perempuan itu memanggilnya.


"Ada apa ya, Bu?"


"Apakah kamu punya nomor Rega?"


"Punya." Jawab nya dan Andri sangat semangat. Tapi kemudian semangat nya harus kembali kandas karena nomor Rega yang diberikan oleh sepupunya itu tak bisa dihubungi sama sekali.


Terlambat sudah, batinnya, terlambat aku kemari mencari mu Han, apakah memang kau bukan jodohku?


Bibinya tak berani mengajak bicara lagi melihat keputusasaan keponakannya. Ia hanya diam membisu menatap wajah Andri yang tampak sangat kalut itu.


"Apa yang harus aku lakukan untuk bertemu dengan Hana, Bik?"


"Entahlah, mencari ke kota pun kita tidak tahu akan alamat nya."


Keesokan harinya Andri mencari informasi tentang Hana, namun samasekali tidak mendapatkan jawaban akan keberadaan Hana dan keluarganya. Akankah itu pertanda bahwa dirinya harus merelakan Hana?, sakit, terasa sangat sakit sekali, kembali pengharapan nya kandas untuk kali ini.


Jalan apa lagi yang harus dilakukan nya, sementara semua seakan buntu. Hanyalah waktu yang akan menjawab semuanya.

__ADS_1


__ADS_2