
Pernak pernik telah terpasang di seluruh ruangan yang megah, di kediaman Shela, mereka sengaja menyewa seorang tukang dekor terkenal untuk mendekorasi seluruh ruangan, terutama bagian kamar pengantin, Shela kelihatan sangat bahagia, di bibirnya tak lepas dari senyuman yang begitu manis dan menawan, menghiasi wajahnya yang cantik dan rupawan.
Kebahagiaan shela tak lepas karena ia mampu mengikat Andri dengan cinta miliknya.
Sungguh sosok Andri lah yang telah mengambil seluruh cinta dan kerinduan yang dimilikinya, tak pernah ia memikirkan akan terjadi sesuatu atau apa, setelah mengetahui bahwa Andri tidak sepenuhnya mencintainya, atau bahkan sama sekali tidak.
Dikamar pengantin terpajang foto hasil prewedding. foto itu dicetak dengan ukuran yang sangat besar, memang mereka kelihatan sangat serasi. Keduanya saling menautkan tangan, seolah Shela menarik tangan Andri, sungguh pemandangan yang mampu membawa seorang masuk ke dalam dunia imajinasi, siapapun yang melihatnya. Di samping kanan, kiri, atas dan bawah semua dihiasi dengan lampu disko, mempercantik ruangan itu, sehingga nuansa romantis hadir saat menikmatinya.
***
Disisi lain Andri memasuki ruangan rahasia miliknya, dimana terdapat sebuah lukisan Hana, disana.
Dengan segenap perasaan, Andri menghampiri lukisan itu, membuka kain penutup nya, menatapnya, mengusap wajahnya, seakan ia benar-benar mengusap lembut wajah Hana, air bening mengalir perlahan di wajah tampan Andri, mengeluarkan segenap perasaan duka, mencoba mengucapkan selamat tinggal walaupun hanya sekedar lewat goresan tinta yang tertuang di atas kanvas.
"Hana ... dimanakah dirimu saat ini, aku minta maaf, aku tidak berniat mengkhianati cinta kita, sampai detik ini, aku masih mencintaimu, aku masih berharap mukjizat datang, kau hadir untukku."
Rasa yang teramat pedih menghimpit hati Andri, terbayang kembali saat Defta dan Hana sedang berpelukan di bandara waktu itu, maka kembali membuat Andri yang tersiksa yakin, bahwa Hana memang telah mengingkari janji mereka, meski kadang, iapun merasa ragu untuk mengambil keputusan untuk melupakan semua.
"Selamat tinggal Hana, semoga kau bahagia dengan laki-laki pilihanmu, aku rela, walaupun aku harus mengorbankan cinta kita, walaupun aku tahu, aku tidak akan bisa menggantikan dirimu dengan wanita lain."
Andri kembali menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu, apakah kita akan bertemu lagi, aku juga tidak tahu, apa yang harus aku lakukan, bila suatu saat akan melihatmu dengan pasangan mu yang lain, aku sungguh tidak sanggup walaupun hanya dengan membayangkan nya sekalipun."
Andri kembali menatap dalam mata yang berada dalam lukisan itu, perlahan Andri mendekatkan
hidungnya, ia cium lukisan itu penuh perasaan, sambil membayangkan wajah yang selama ini begitu ia rindukan.
"Semoga pernikahan ini, bukanlah akhir dari segalanya, aku akan tetap mencintaimu, meski kita tidak hidup dalam sebuah pernikahan, aku akan menyimpan jauh di dasar hatiku, rasa cinta ini, dan mungkin akan tetap ada sampai nafas ini lepas dari jiwaku."
Andri menutup kembali lukisan itu seperti sebelumnya, meninggalkan hatinya yang koyak disana, mengubur segala kenangan, menanggalkan janji suci untuk hidup bersama Hana.
Andri pun keluar, menemui keluarganya yang sejak tadi menunggunya, mereka akan berangkat kerumah mempelai wanita, untuk melaksanakan acara ijab qobul, dan acara resepsi pernikahan akan di gelar keesokan harinya.
Dengan mengendarai mobil mewah milik Prasetya, mereka meninggalkan kediaman keluarga pak Wisnu.
Adam yang menyetir mobil itu, karena mereka sengaja tidak menggunakan jasa supir khusus hari ini.
__ADS_1
Adam menangkap wajah yang lain, dimuka Andri, Adam merasa, ada yang sengaja disembunyikan oleh kakaknya itu.
"Mas ... kau kelihatan tidak bahagia, benarkah?"
"Kamu bicara apa?"
"Kau mungkin bisa menutupinya dari yang lain, tapi tidak dengan ku!"
"Aku bahagia!" jawab Andri menyangkal Adam.
"Apakah ... kau masih belum juga melupakan cintamu pada Hana?"
Andri terkejut mendengar pertanyaan Adam, ia membelalakkan matanya, menatap Adam tajam.
"Jangan bicara sembarangan, kalau ada yang dengar bisa kacau!"
"Jadi, artinya kau masih mencintainya?"
"Adam, diam lah!"
Adam menuruti permintaan kakaknya dan tidak membicarakan masalah lain selain pernikahan mereka.
Shela, yang mengenakan pakaian pengantin warna pink itu begitu nampak cantik dan mempesona.
Dermaga cinta akan berlabuh, menanti sang penjemput cinta. Shela merasa panas dingin, menghadapi begitu banyak tamu undangan yang hadir menyaksikan pernikahan mereka.
Andri merasakan, dirinya begitu tegang, badannya seakan terasa ringan, menjalani semua itu.
Perlahan, papa Shela menjabat tangan Andri yang seketika menjadi dingin, mewakili perasaan nya yang entah bagaimana saat ini.
Terdengar papa Shela mulai mengucapkan bacaan ijab dan Qabul mereka.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Marshela Ayuningtyas bin Wahyu bagaskara dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai!"
"Saya terima, nikah dan kawinnya Hana Cantika ...."
pak Wisnu yang berada di samping Andri menyenggol bahu Andri dengan bahunya, membuat Andri terdiam.
__ADS_1
Andri mengulangi kalimat ijab kabul tersebut, setelah pak Wisnu bicara pelan padanya.
"Konsen, An, jangan main main!"
Pihak pertama mengulang kembali, dan selanjutnya Andri menjawab, setelah itu yang hadir di ruangan itu menyatakan sah, bahwa antara Andri dan Shela sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Setelah acara ijab dan kabul, sepasang suami istri di berikan kesempatan untuk berbicara, mengungkapkan isi hati mereka. Shela kebagian untuk yang pertama.
"Terimakasih, atas waktu yang kalian semua berikan, sehingga kalian semua hadir menjadi saksi bagi pernikahan kami, dan sesudah itu kami, saya khusus nya, semoga kiranya, setelah menikah, saya bisa menjadi seorang istri yang bisa menjadi penawar kesedihan bagi suami saya, sehingga dia menjadi imam yang bisa mengarahkan dan membimbing saya, tidak ada kata terlambat, untuk cinta, aku mencintaimu, suamiku!"
Terdengar sorak yang begitu riuh memenuhi ruang itu, saat ini giliran Andri yang harus mengucapkan sepatah kata katanya untuk menggambarkan perasaan nya kali ini.
"Sebelumnya saya ... merasa terhormat atas kedatangan kalian semua di acara pernikahan kami ini, dan semoga kalian bisa menjadi saksi, atas penyatuan hati kami, dan semoga Shela, adalah ... tulang rusuk yang selama ini tercipta untukku, sekian!"
Huuu huuu terdengar teriakan yang bergema, memeriahkan acara hari ini, para tamu pun pulang setelah menikmati jamuan mereka.
Para keluarga Andri, semua pulang, kecuali Andri, Andri akan berangkat ke hotel bersama sang pengantin wanita ketempat resepsi pernikahan yang telah mereka sewa.
Hari tepat pukul dua belas siang, mata Andri terasa sangat mengantuk, ia menuju kamar pengantin yang sudah di tunjukkan oleh Shela.
Tanpa membuka bajunya, Andri langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur yang berukuran besar itu. Matanya yang sangat lelah, karena mengantuk, dengan segera, iapun tertidur dengan pulas nya.
Shela, masuk ke kamar, dengan membawa makan siang, karena sejak tadi Andri, tidak mau makan sedikit pun.
Melihat Andri yang tidak membuka pakaiannya, termasuk sepatu nya, Shela, sebagai istri berinisiatif untuk membuka sepatunya, dan kemudian kemejanya, tapi tanpa diduga oleh Shela, Andri mendorong Shela, kuat hingga hampir jatuh tersungkur.
Andri yang menyadari hal itu, langsung bangkit dan menolong Shela, ia mengulurkan tangannya, kearah Shela yang masih tertegun tidak percaya.
"Maaf, aku tidak sengaja!"
"Aku hanya ingin membuka kemeja mu, Mas ...."
Entah mengapa, Andri sama sekali tidak ada hasrat untuk menyentuh Shela, dan ia berusaha menutupi semua itu dari Shela.
****
Salam, tinggalkan jejak kalian Setelah membaca, ya besti 🙏🙏
__ADS_1