Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 43 Untuk Terakhir Kali


__ADS_3

Seperti biasanya, Hana selalu menelpon ibunya, walaupun hanya sekedar untuk berpamitan pergi kerja, tapi pagi ini, seusai melaksanakan shalat subuh, Hana betapa amat sangat merindukan Ayah nya, ia segera menghubungi Rega, rasa sesak demikian menghimpit perasaannya saat ini, belum sempat bicara, Hana sudah meneteskan air mata kesedihannya. Dengan cepat ia menghapus air mata itu.


"Halo, Kak, selamat pagi, assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikum salam, kamu di mana?"


"Aku dirumah sakit, ibu sedang ke toilet, Kakak mau bicara pada ibu?"


"Aku ingin bicara dengan ayah, aku sangat merindukan Ayah, apakah aku bisa mengatakan padanya kalau aku begitu ingin bersamanya, Ga?" Kata Hana tak kuasa membendung lagi air matanya.


"Kak ...."


"Tolong, Ga, aku mohon ...."


"Bagaimana caranya, Kak?"


"Kamu masuk, kamu letakkan ponselnya di dekat telinga Ayah. Ya , mau ya ...."


"Baiklah, aku masuk."


Setelah Rega berada disisi pak Herman, ia mendekatkan ponselnya didekat telinganya, Rega pun merasa sangat sedih, keharuan di hatinya begitu menyesakkan dadanya.


"Ini Kak, sudah, bicaralah" Hana pun bicara seakan akan pak Herman mendengar semua yang di ucapkannya.


"Assalamualaikum, Ayah, bagaimana kabar Ayah pagi ini, ini aku ayah ...." Mendengar suara Kakak nya Rega tak kuasa membendung air matanya.


"Ayah, apakah Ayah masih ingat ... saat aku masih belum sekolah, Ayah mengajak aku ke ladang, kita memetik sayur, buah dan buanyaak lagi, ingat kan ayah?" tutur Hana disela Isak tangisnya yang begitu menyayat hati.


"Kata Ayah, Hana harus jadi wanita hebat, lalu kenapa ayah diam, ajak aku bicara Ayah, aku rindu pada Ayah, aku ingin dengar suara Ayah, aku tidak mau kau acuhkan seperti ini ...." Hana menyeka airmata nya.

__ADS_1


"Saat aku SMA, Ayah memberi aku semangat, agar aku selalu menjaga prestasi, supaya aku jadi seorang dokter, dan Ayah selalu mendukung aku, tapi sekarang ... sekarang tidak ada yang berkomentar, aku diam, Ayah pun diam, Ayah tak pernah lagi menanyakan bagaimana kabarku, Ayah tidak pernah tanya, apakah aku sehat atau tidak, bicaralah Ayah, bicara padaku." Isak tangisnya kian pecah, sehingga suara Hana kian parau, begitu pula dengan Rega, ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, membiarkan air matanya mengalir di pipinya begitu saja.


"Ayah ... saat aku sedang sedih, ingat akan Andri, Ayah meledek aku, saat itu aku marah Ayah, tapi sekarang ... aku ingin Ayah menggoda aku, aku ingin Ayah mengejek aku, kalau aku ini orang yang cengeng, aku lemah, apakah Ayah tidak mau melakukan itu lagi untuk ku?, jawab Ayah ...."


"Saat aku mendorong kursi roda Ayah dari belakang, Ayah mendongakkan kepala Ayah, Ayah menatap aku, seakan aku akan terus menyaksikan wajah Ayah yang tersenyum untuk ku, maukah sekarang ayah tersenyum padaku?, aku vidio call ya, kita saling menatap, kita saling tersenyum, saling bicara Ayah ...."


Dengan air mata kian banyak Hanna terus bicara.


"Mana ga, mana wajah Ayah, aku mau lihat wajah Ayah, aku ... mau lihat wajah ayaaah."


"Tapi Kak ...."


"Aku tidak peduli, aku mau lihat ayah!" Rega pun menuruti permintaan Hana.


"Ayah ... apa lagi yang harus aku katakan pada ayah, memandangi wajah Ayah seperti ini, sudah cukup buat ku, karena mengusap wajah Ayah tidak, tidak mampu untuk aku lakukan, jangan anggap aku anak durhaka Ayah, aku sangat menyayangi Ayah, aku seperti akan kehilangan nyawaku menyaksikan ayah seperti ini, aku kehilangan kekuatan melihat Ayah tidak berdaya, aku lemah tanpa ayah, aku berjuang hanya untuk Ayah, tapi mengapa Ayah tidak mau bertahan untuk ku?, lalu untuk apa aku pergi Ayah, tatap aku ayah, bangunlah, beri aku kekuatan, bangun Ayah ...."


Suara Hana tak berpengaruh pada pak Herman, tubuh itu tetap tak bergeming, tak sedikit pun memberikan reaksi, tapi Hana, terus bicara, seolah mengeluarkan semua duka.


"Kak, sudah ... sudahlah, kita pasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa."


"Kamu bisa bicara seperti itu, karena kamu bisa menyentuh Ayah, sedang aku ... aku tidak bisa melakukan apapun, apa kau tahu, aku sangat menderita disini, aku tertekan, andai saja aku bisa memeluk ayaaah, andai saja aku bisa merawat Ayah, aku ... aku ... tak mungkin seperti ini."


Hu uu Hu uu, tangis Hana kian pecah, Dewi yang mendengar nya seketika duduk di sisi Hana, ia memeluk Hana, menenangkan Hana, kemudian menatap wajah seorang pria setengah baya, yang nampak begitu renta, wajah pak Herman yang sedang koma.


Aneh, hatinya begitu sakit melihat wajah itu, seakan iapun ingin berteriak menatap nya, entah atas dasar apa, kalau sekedar kasihan seperti nya bukanlah alasan yang tepat, melihat rasa sedih yang teramat sangat dalam perasaannya itu.


"Pak ... dengarlah, ini suara putri mu yang lain, jangan cemas, Hana bersamaku disini, aku akan menjaga dia, bapak pasti bisa mendengar kami, kami disini baik baik saja, Bapak segera sembuh, agar Hana bahagia dan tenang disini." Kata Dewi ikut bicara, supaya Hana semakin tenang, karena ia telah menganggap Hana benar benar sebagai adiknya sendiri.


"Kak ... tangan Ayah bergerak, tangan Ayah, lihatlah, tadi bergerak!" teriak Rega, membawa ponselnya ke bagian tangan ayahnya. Namun Hana kecewa, tak seperti kata Rega, tangan itu tidak bergerak sama sekali, Hana masih larut dalam kesedihannya, airmata nya masih saja mengalir, sesekali Dewi menghapus air mata itu.

__ADS_1


"Ayah ...." ucap Hana lagi.


Terdengar oleh Hana suara ibunya yang baru saja masuk, menatap kearah Rega, seakan bertanya, tapi belum sempat ibunya bicara, Hana sudah memanggil manggil ibunya.


"Ibu ... ibu ...." Rega menyerahkan ponsel itu pada Ibunya.


"Sayang ...." Apalah daya seorang perempuan, hati Bu Fatmi hancur melihat wajah Hana yang bersimbah air mata.


"Ibu ... bisikkan pada ayah, aku rindu padanya, aku ini bersamanya, aku ingin Ayah bicara padaku, Bu ...."


"Ibu Pun sangat ingin bicara pada Ayah mu, ibu ingin bilang, kalau dia punya putri berhati malaikat, yang rela mengorbankan segalanya, agar dia bangga, dengan semuanya, dengan ketulusan mu nak ...."


"Aku tidak butuh pengakuan itu dari Ayah, aku hanya ingin Ayah sadar, dan mengetahui betapa aku teramat sangat menyayangi dirinya, melebihi diriku sendiri, itu saja, Bu!"


"Apalah yg bisa kita lakukan, ibu sudah pasrah, ibu ikhlas, kak memang ayahmu, harus pergi, biarlah, mungkin ini memang waktu nya, dan kau nak ... relakan ayahmu, agar ia mudah untuk melangkah, ikhlas kan agar ayahmu pergi dengan tenang, kita menahannya pun tak ada gunanya, tunjukan kalau kau gadis yang kuat, rezeki jodoh dan kematian itu kehendak yang Kuasa."


"Tapi, Bu ...."


"Rasanya betapa berat aku melepaskan Ayah, rasanya aku tidak sanggup kalau ayah pergi."


Hiks hiks hiks, Hana sangat sedih mendengar penuturan ibunya.


"Hana ... bukankah Ayahmu sudah sangat menderita karena penyakitnya itu, lalu kenapa tak kau bantu bebaskan Ayahmu, dengan mengikhlaskan kepergiannya?"


"Lalu, bagaimana kalau ayah tiada, sementara aku tidak ada di sana, ibu ...."


Memang, betapa sakit membayangkan jika ayahnya harus pergi sementara dirinya tidak ada bersama ayahnya.


Pilu, sungguh pilu, tak mampu lagi Hana berkata, bibir nya bungkam, seribu bahasa.

__ADS_1


"Apakah benar, ayah hanya menanti aku mengikhlaskan kepergiannya?" kata Hana dalam Hati.


Tanpa dukungan kalian, karya ini tidak lah di sukai banyak orang, Ayo besti, tinggalkan jejak kalian, berikan vote, like dan komentar kalian, sesudah baca ya ...🙏🙏🙏


__ADS_2