Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 55 Bertemu Defta


__ADS_3

Andri membelai rambut Shela yang menutupi wajahnya, menyibaknya kebelakang, terlihat wajah cantik yang selama ini telah diabaikannya, perlahan ... Andri mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu ditelinga shela.


"Sayang ... hari sudah pagi, buka matamu, bukankah kau mau ikut ngantor lagi, ayolah ... mari kita mulai sesuatu yang baru!"


Shela sengaja tetap memejamkan matanya, dalam hati ia tersenyum, mendengar bisikan lembut ditelinga nya. Shela ingin berlama lama mendengar suara mesra milik suaminya itu, yang selama pernikahan mereka, baru kali ini ia mendapatkan perlakuan yang begitu manis, mungkin lukisan itu adalah titik awal dari perubahan sikap Andri padanya.


"Shela ...." Panggil Andri lagi, kali ini sebuah kecupan lembut mendarat di kening Shela. Berikut matanya, kemudian turun kearah bibir nya. Shela masih saja belum membuka matanya.


"Shela ... bangunlah, ayo ... nanti kita terlambat, aku ada rapat penting hari ini, atau kau tidak usah ikut dulu, aku pergi sendiri saja." Andri beranjak dari tempat tidurnya, tetapi sebelum sampai turun, Shela meraih tangannya, dan tersenyum menatap Andri.


"Aku ikuuut." Ucap shela manja.


"Jadi kamu udah bangun ... haaa?, kamu sengaja menggoda aku?"


Andri meraih tangan Shela, tapi Shela mengelak dan kemudian berlari menjauh dari jangkauan Andri, akhirnya mereka saling berkejaran didalam ruangan kamar itu, bagaikan tak pernah ada pertengkaran antara mereka, mereka benar-benar terlihat bagai pasangan bahagia, gelak tawa menghiasi seluruh ruang kamar itu, berderai, terkekeh dan tergelak, tak ada beban sedikit pun.


"Sudah ah, nanti aku terlambat, aku mandi dulu."


Akhirnya Shela hanya tersenyum dan mengangguk, membiarkan Andi meninggalkan dirinya.


\*\*\*\*


Ketika mereka sampai di kantor, Andri sungguh tidak seperti biasanya, ia bersikap sangat mesra pada shela, mulai dari turun dari mobil, sampai keruang kerjanya, Andri tek melepaskan tangannya dari tangan Shela, jari jari mereka saling bertaut, seperti tidak akan terpisahkan, kemesraan mereka hari ini benar benar nampak.


"Ya Allah ... semoga ini akan menjadi kebahagiaan untuk kami, awal dan seterusnya akan seperti ini, hari ini aku sangat bahagia, tolong ... jangan Kau ambil lagi, dia diriku, aku sangat berharap semoga kami benar benar jodoh, aku dan dia saling mencintai." ucap Shela dalam hati, sambil menautkan kedua tangannya, di dada nya.


"Hei ... kau sedang apa sayang ... sedang meminta sesuatu?"


"Ya, aku berharap semoga kita akan selalu seperti ini."


"Semoga!, aku akan berusaha untuk itu."


Shela duduk di sofa panjang, tapi sebelum Shela sampai menempelkan pantat nya, Andri menahannya.


"Apa kau tak jadi ikut meeting denganku?"


"Memangnya sudah mau mulai?"


"Ya, aku sudah ditunggu, mari kalau kau ikut, tidak ikut pun tak apa."


"Aku ikut saja, aku sudah lama tidak bertemu dengan para karyawan, bukan?"


"Okey, mari!"


"Keduanya akhirnya keluar dari ruang kerja Andri, menuju sebuah ruangan yang sudah dipersiapkan untuk meeting hari ini.


Ketika memasuki sebuah ruangan, Andri menatap seorang laki-laki, berpakaian rapi, memakai jas berwarna hitam di padu kemeja berwarna toska, sedang menunduk menatap sebuah berkas yang ada didepannya, Andri tetap memperhatikan nya, sampai pada saat Andri sudah berada dekat sekali dengan laki-laki itu.


Dan siap untuk duduk.


"Selamat pagi semuanya, apakah acara bisa kita mulai."


Laki-laki yang sejak tadi diperhatikan itupun mendongakkan kepalanya, menatap Andri, akhirnya mereka saling bertatapan dan sama sama sangat terkejut.


"Andri!"


"Mas Defta!"


Bukannya memulai rapat, mereka berjabat tangan terlebih dahulu, saling tersenyum antara satu dengan yang lain.


Setelah selesai ber basa basi, rapat pun dimulai, dan setelah membahas segala sesuatunya, merekapun sepakat menjalin kerjasama.


"Baiklah, saya akan menerima Mas sebagai mitra di perusahaan kami." Mereka berjabat tangan kembali.


Rapat pun dibubarkan, Andri mengajak Defta pergi ke kantin, tak lupa, beserta dengan Shela.

__ADS_1


Mereka duduk dibangku yang paling pojok. Karena dibangku dipojokan itu terasa sangat nyaman untuk bercengkrama.


"Kenalkan, ini Shela, istriku!"


Defta tak langsung menjabat tangan Shela, melainkan melongo menatap Shela, menelisik dari atas sampai kebawah. Memang cantik, batinnya.


"Apa, dia istrimu?" tanya Defta tak percaya.


"Ya, dia istriku, apakah kau terkejut?"


"Sangat, sangat terkejut sekali!"


"Oh ya, bagaimana kabar Hana, apakah kalian bahagia, tentu kalian bahagia, apakah kalian sudah punya momongan?"


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kalian sudah menikah?"


Defta menggeleng, Andri menatap Defta tak percaya, Defta ingin sekali menghajar Andri, tapi karena ada Shela, ia tidak mungkin melakukan itu. Andri yang melihat Defta menggeleng mulai merasakan hatinya tidak tenang.


"Kenapa kau diam, kalian bahagia, bukan?"


"Kami tidak menikah, Hana belum menikah, dia masih setia pada ...." Defta menghentikan ucapannya, sambil menatap shela.


"Apa maksudmu?"tanya Andri tak lagi memperdulikan perasaan Shela, ia tak lagi ingat, bahwa semalam baru ia berniat untuk berusaha membuat Shela bahagia, tapi agaknya hatinya mulai berubah.


"Hana belum menikah, dia dimana sekarang?"


"Apa urusanmu, dia menikah atau tidak, itu bukan urusanmu, dia bahagia atau tidak, juga bukan urusanmu."


Defta seketika terbawa emosi.


"Mas, aku harus tahu bagaimana kabar Hana!"


"Untuk apa?"


"Hei, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan itu?, dia hanya wanita lain, sementara kau sudah mempunyai pendamping, apa kau tak merasa malu mengatakan itu di hadapan istrimu?, sungguh kau sudah gila!"


"Aku ...."


"Sudahlah, akui saja, kalau kau memang seorang laki-laki penghianat, kau tega membuat orang yang begitu mencintaimu menanti dalam ketidak pastian."


"Aku bukannya tidak memberikan dia kepastian, dia pergi entah kemana, aku mencari nya, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Lalu apakah kau tahu, bagaimana dia menderita karena mu!, bahkan sampai detik ini, dia masih mengharapkan dirimu, sungguh seandainya dia tahu, kalau kau telah bersama wanita lain, betapa hancurnya hatinya."


Andri dan Defta tidak lagi memperhatikan bahwa didekat mereka ada shela, yang sejak tadi terpaku mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut keduanya.


Shela yang semula berdiri, akan menjabat tangan Defta, akhirnya terduduk lemas begitu saja.


Air matanya tak bisa untuk dibendung lagi, ia sangat sedih, baru saja ia berdoa, untuk kebahagiaan mereka berdua, tapi baru beberapa jam berlalu, harapan nya kembali kandas.


Melihat Andri saat ini yang juga duduk, sambil menutup wajahnya, dan sesekali meremas rambutnya, Shela yakin, janji Andri untuk mencoba bersikap seperti pagi tadi, sangat mustahil.


Menyadari Hana sudah menikah dengan orang lain saja, Andri belum bisa melupakannya, apalagi saat ini ia tahu, kalau Hana masih mencintainya, pasti hubungan mereka akan menjadi dingin kembali.


Defta menatap Shela, kemudian menatap Andri. Ia terdiam, tak bisa bicara lagi, airmata Shela lah yang membuat Defta berhenti.


"Sudahlah, anggap saja kalau Hana bukan jodoh yang dikirim Tuhan untuk mu."


Andri diam, tak ada sahutan.


Tanpa diduga oleh Shela dan Defta, Andri berlalu dari kantin itu, meninggalkan Defta dan Shela begitu saja.


Shela kian menangis, Defta jadi serba salah, ia tak berani berbicara sedikit pun.

__ADS_1


"Kenapa semua ini harus terjadi, seharusnya aku tidak mengatakan semua ini, aaah !"


Ketika Defta akan berdiri, Shela memegang tangan Defta, kemudian menggeleng seakan mencegah kepergian Defta.


"Tunggu, jangan pergi!"


"Maaf, mungkin seluruh perkataan ku telah membuat kau menderita."


"Aku sudah terbiasa dengan semua ini," jawab Shela.


"Terbiasa, apa maksudmu?"


"Mas Andri tak pernah mencintai diriku, kami sudah enam bulan ini menikah, tapi dia tetap tidak bisa melupakan Hana, dan ... yang membuat aku menangis karena baru tadi pagi, kami bersenda gurau, kami merasa bahagia, tapi justru kabar ini yang datang, aku yakin dia akan kembali tidak memperdulikan aku lagi."


"Sabar, dia pasti akan tetap membahagiakan dirimu."


"Tidak ... aku sudah tidak punya harapan lagi, aku akan merelakan dirinya, aku akan merelakan dirinya." Air mata yang membasahi wajah Shela, begitu mengusik Defta, ia ingin sekali menghapus air mata itu, tapi ia tak berani, mungkin karena ia dan Shela baru bertemu.


"Kita senasib, akupun sangat menderita, kau tak mendapat kan cinta dari Andri, sedangkan aku tak berhasil mendapatkan cinta dari Hana."


"Jadi ...."


"Ya ... Hana sangat mencintai Andri, walaupun dia tidak bertemu dengan Andri, ia yakin kalau cinta mereka akan baik baik saja."


"Apakah kita harus melepaskan cinta kita?, apakah kita harus menyatukan mereka?"


"Entahlah, semoga saja kalian tetap bahagia dengan pernikahan kalian."


Sementara Andri, diruang kerjanya, ia mengobrak abrik seluruh benda yang ada diatas mejanya. Shela dan Defta datang menemuinya, Andri meratapi cintanya.


"Aku tidak bermaksud mengkhianati mu, Han ... aku masih mencintaimu."


Hiks hiks hiks, tanpa malu, Andri menangis, ia tak peduli ada Shela disana, ia bahkan membiarkan Shela terdiam, duduk di sofa.


Seperti bukan istrinya, ia meratapi wanita lain, dihadapan nya.


Siapakah orang yang tidak sakit, menerima kenyataan pahit itu, pasti semua orang akan sakit hati dan kecewa.


Tapi lain dengan apa yang dilakukan oleh Shela. Ia berdiri, menghampiri Andri yang bersandar di dinding, disaksikannya oleh Defta, yang sama sekali tidak mengetahui bagaimana rumah tangga mereka.


Shela memeluk Andri, kemudian menyusut airmata Andri, perlahan, sementara air matanya sendiri terus saja mengalir membasahi pipinya, ia tapi tak mempedulikannya.


"Mas ... sudahlah, kalau memang Hana adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk mu, kalian pasti akan bertemu, kamu tak usah sedih, diam lah ... bukankah kita adalah teman?"


Andri menatap wajah Shela yang mendongakkan kepalanya menatap wajahnya, ia tahu jika dirinya sangat menyakiti istrinya itu. Tapi di satu sisi, hatinya tak bisa di bohongi, kalau dirinya sangat mencintai Hana, dari dulu sampai saat ini, sedangkan ia sadar bahwa dirinya sudah tidak sendiri lagi.


"Percuma kita menangisi semua,


toh, antara kita memang tidak bisa bersama, aku memang mencintaimu, tapi bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku akan merelakan mu."


Andri semakin menangis, sambil memeluk Shela, mengutuk dirinya yang tidak bisa mencintai Shela yang demikian baik itu.


Shela mencoba bertahan, walaupun sakit, ia berusaha kuat walaupun sangat menderita, sungguh ini adalah hari terberat untuk Shela, ia yakin ini adalah hari terakhir dirinya bisa memeluk suaminya itu.


Defta terpana melihat kebesaran hati seorang Shela, ia terhanyut dalam kesedihan Andri dan Shela.


"Aku akan mengikhlaskan semuanya." Ucap shela melepaskan pelukan Andri.


Shela meninggalkan Andri, mendekati Defta, menatap penuh harap.


"Sudi kah kiranya, engkau membawaku pergi dari sini?"


"Ke_ kemana?"


"Kemanapun kau bawa diriku, aku pasrah, aku percaya kau pasti bisa menjadi sahabat buatku, aku sungguh tak sanggup menghadapi kenyataan ini, tolong bawalah aku!"

__ADS_1


Defta menatap Shela, seakan menyakinkan, karena baru kali ini mereka bertemu, tapi melihat penderitaan shela akhirnya Defta mengajak Shela meninggalkan ruang kerja Andri yang berserakan dan berantakan.


__ADS_2