Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 44 Pak Herman Meninggal


__ADS_3

Hana kian tersedu-sedu, luka di hatinya kian perih tersayat oleh pengharapan yang kandas, tiada kekuatan lagi yang tersisa, Hana benar benar merasa lemah, dari mulutnya terus keluar suara panggilan, ayah dan ayah, keringat dingin mulai membasahi badannya, mewakili penderitaan yang kini menghunjamnya, Hana duduk sambil memeluk kedua lututnya, sesekali ia menatap layar ponsel yang masih menyala, ia perhatikan dengan fokus yang sudah terbagi, kadang pikiran nya menerawang jauh, kadang hadir menyadari kalau saat ini ia sedang bicara pada Ibu, Adik, serta Ayah nya yang masih belum memberikan kode apapun bahwa ia mendengar perkataan Hana.


Dewi memeluk Hana, mengelus rambutnya, kemudian memegang ponsel Hana yang di letakkan Hana begitu saja.


Tiba-tiba, terdengar suara Rega, mengatakan sesuatu yang demikian membuat Hana tersentak.


"Ibu, lihatlah, ayah menggerakkan jari tangannya."


Sontak Bu Fatmi menoleh kearah jari tangan pak Herman, benar saja, jari tangan itu bergerak, semakin lama semakin sering.


Rega menekan tombol yang menghubungkan ruang dokter, sehingga tak berapa lama, dokter pun datang menangani pak Herman.


"Tolong, Ibu dan adik keluar dulu," Pinta dokter itu.


Bu Fatmi dan Rega pun, keluar dari ruangan itu, mereka menanti dengan sangat was was.Tidak lama, sekitar sepuluh menit, dokter itu kembali keluar dan memanggil mereka berdua. Hana pun masih terhubung dengan Rega, Rega sengaja tidak mematikannya, agar Hana segera tahu, bagaimana keadaan ayah nya setelah kejadian gerakan jari ayahnya itu.


"Masuk lah Bu, mungkin keadaan pasien tidak akan lama lagi, ini kesempatan terakhir untuk bicara dengannya, semoga kalian sabar menghadapinya." Mendengar perkataan dokter, Hana juga kian tersentak, jiwanya ikut menjerit, raganya bagai tidak bertulang, air matanya kian membanjiri pipinya, tidak ada lagi kata, yang bisa untuk diucapkan untuk melukiskan perasaannya kali ini, bisa dibayangkan, bagaimana rasa hatinya mengetahui bahwa orang tuanya, orang yang begitu di cintai nya, pergi disaat kita mencari biaya untuk pengobatan nya, remuk redam, tiada terkira, ingin memeluk, tapi tak bisa, apalagi untuk yang terakhir kalinya.


Hik hik hik, suara tangis mereka pecah.


"Ayah ... ini Rega, Ayah ... katakan, ayah mau apa?"


"Rega ... bimbinglah ayah, tuntun Ayah ...." Kata Hana disebrang. Rega menurut, Rega membisikkan kalimat syahadat di telinga ayahnya sebelah kanan. Seperti isyarat, mata pak Herman mengerjap, seakan berpamitan kalau dirinya sudah pergi untuk selamanya.


Ibu Fatmi menunduk, seakan menumpahkan segala perasaan nya, kemudian memeluk tubuh pak Herman yang sudah tidak berdaya itu, meletakkan kepalanya di dada pak Herman, menumpahkan tangis disana.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi roji'un." pak Herman telah wafat. meninggalkan segala duka, menepis semua lara, meninggalkan kenangan, selama hidupnya, untuk keluarga tercinta.


Rega memapah ibunya, memeluknya, mencoba menenangkan ibunya.


Pegawai rumah sakit segera menangani jenazah pak Herman, untuk di bawa pulang oleh keluarga.


Rega mengurus segala sesuatunya, sampai jenazah ayahnya keluar dari rumah sakit, menuju rumah duka, di kediaman mereka.


Disisi lain, Hana tak tahu akan berbuat apa, harapan nya benar benar hancur sudah, belum sampai setahun dirinya pergi, namun Tuhan, justru menjemput ayahnya, meninggalkan dirinya tanpa ada penantian lagi.


"Mbak Dewi ... ayahku ... ayahku telah pergi ...." Dewi memeluk kembali tubuh Hana yang terasa semakin dingin itu, iapun sama, hati nya seakan berhenti bernafas menyaksikan kepergian pak Herman, meski lewat ponsel, seakan Dewi telah mengenal pak Herman sebelumnya. seperti orang tua nya sendiri, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya.


"Istighfar, Han ... ikhlaskan ayahmu, semoga Allah mengampuni semua dosa dosanya." Hana masih menangis.


"Kalau kamu ikhlas, ayahmu akan tenang, kamu ingin ayahmu tenang kan?" Hana mengangguk.


"Semua adalah takdir yang telah di gariskan untuk mu, kamu harus kuat, bukankah kamu, menurut Ayahmu adalah anak yang kuat?, berhentilah menangis, mengaji lah, semoga menjadi pengantar dan penerang jalan ayahmu."


Diantara kesedihannya, Hana menatap Dewi, ia menghamburkan dirinya dengan begitu hiba, ke pelukan sahabatnya itu.


Lama, lelah merasa kan derita, akhirnya Hana tertidur di pengakuan Dewi, ia hanya bisa mengusap usap kepala Hana, tidak bergeming sedikitpun, membiarkan Hana tertidur pulas di sana.


Hari sudah menunjukkan jam delapan pagi, seharusnya Dewi dan Hana sudah berada di kantor, tapi Dewi sengaja tidak masuk, karena ia tak sanggup meninggalkan Hana seorang diri.


Di raihnya ponsel Hana, ia menghubungi pak Yamada, mengatakan mengapa ia dan Hana, tidak masuk, setelah itu iapun merebahkan kepalanya di pinggir tempat tidur, dan selang beberapa waktu kemudian, keduanya tertidur, terbawa kesedihan hati mereka.

__ADS_1


Suara ponsel berdering, sebuah panggilan dari Defta, mengusik ketenangan tidur mereka, Hana menggeliat, membuka matanya yang terasa membengkak akibat tangis yang tak kunjung reda. Di raihnya ponsel yang berdering itu, dengan perasaan yang sama, masih kalut dan sedih, ia jawab ponsel itu.


"Halo Han, kamu yang sabar ya dek ...." Tampak wajah Defta dilayar ponsel itu. Bagai di ingatkan kembali, airmata Hana, kembali membanjiri pipinya, Defta yang selama ini selalu setia mendampinginya, kini tengah mencoba menenangkannya.


"Maaf, aku telah membuatmu jauh dari ayahmu, aku tak bermaksud demikian, aku ... aku menyesal Han ...."


"Mas ... tolong ... peluklah ayahku, sampai kan padanya itu pelukan dariku."


"Ya, aku akan melakukannya untukmu, aku akan bisikkan pada ayahmu, kalau kau demikian sangat menyayanginya."


"Aku disini, sangat menderita Mas, aku benar-benar ingin melihat ayah, tapi itu tidak mungkin, aku harus merelakan ayah kan?"


" Percayalah, ayahmu pasti bangga, memiliki dirimu, kau tiada bandingnya, kau mampu melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa di lakukan oleh siapapun."


"Akupun bangga pada ayahku, aku bangga punya dia, tapi ... sekarang aku tidak punya ayah lagi, aku telah di tinggalkan untuk selamanya."


"Andai saja ... andai saja aku mampu melakukan sesuatu untuk menyembuhkan ayahmu, tentu aku akan melakukannya, walaupun harus menukar nyawaku untuk nya, tapi apa daya kita, kita hanya mahluk Tuhan, yang hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan semua, yang ku sesalkan, mengapa aku memberimu saran untuk pergi, kalau saja kau masih ada disini, pasti kau tidak akan jauh dari ayahmu, di penghujung hidupnya itu."


"Mas, jangan salah kan dirimu, aku akan mencoba menerima takdir ini dengan ikhlas, aku hanya ingin nanti saat ayah di makamkan aku mau mas memperlihatkan padaku, ya ...."


"Sekarang ayah, baru saja sampai dari rumah sakit, aku akan menelpon mu kembali, nanti saat pemakaman berlangsung."


"Baiklah, titip ibuku, jaga adikku, aku ingin kau selalu bersama mereka."


"Itu pasti, kau jaga diri, semoga Allah senantiasa menjagamu disana."

__ADS_1


Percakapan mereka berakhir, Hana masih terduduk lesu, Dewi bangkit dari duduknya, mengambil air minum untuk Hana, kemudian Dewi mengambil sarapan, dan Meraka sarapan bersama, setelah sekian lama membujuk Hana yang sejak tadi tidak mau makan.


🌹Mohon bantuan like vote dan komentar nya ya ... teman teman, karena dukungan kalian author tambah semangat dalam berkarya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.🌹


__ADS_2