
Tak terasa sudah enam bulan lamanya perjalanan rumah tangga antara Andri dan shela, namun tak layak nya pasangan suami istri lainnya, karena sampai detik ini, Andri sama sekali belum menyentuh Shela sebagai istri nya.
Andri selalu sibuk dengan urusan kantor, pergi pagi sebelum shela terbangun dari tidurnya, dan pulang setelah Shela sudah tertidur di peraduan, sungguh sangat menyedihkan.
Pagi ini, shela sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, ia mengintai Andri, ia ingin sekali berbicara dengan Andri.
Saat Andri bangkit dari tempat tidur, Shela segera ikut duduk, ia menarik tangan Andri, menahannya, agar suaminya itu tetap berada didekatnya.
"Mas ... sampai kapan kita seperti ini?" Andri terdiam, ia tertunduk tak sanggup menatap wajah istrinya.
"Kalau memang antara kita tak bisa lagi untuk bersama, katakan ... aku siap menerima kenyataan terpahit sekalipun."
"Shel ... aku minta maaf, aku tak bermaksud melakukan ini, tapi aku tak sanggup memberikannya padamu."
"Sudah aku bilang Mas ... aku akan menantikan malam itu tiba, tapi jangan kau perlakukan aku seperti ini, aku tak sanggup kalau harus seperti ini." Andri menelan ludahnya yang terasa begitu pahit. Ia merasa sangat tertekan dengan situasi yang menghimpit nya saat ini.
"Kalau memang kau hanya mencintai Hana, lepaskan aku ... aku siap, rasanya ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, terlalu sakit."
"Shel ...."
"Apa ... kau mau bilang maaf, aku bosan Mas, aku capek!" ucap Shela ketus dan agak keras.
"Aku ...."
"Apa kau pikir, aku adalah robot yang tidak mengenal kata sakit, ha .... Aku diam, dan kau terus perlakukan aku seperti ini, sungguh Mas, kau adalah manusia yang tidak punya hati, kau kejam, lebih kejam dari yang aku bayangkan." Andri menarik Shela kepelukan nya, tapi tanpa diduga oleh Andri, tangan Shela mendorong Andri begitu kuat, sehingga Andri terjatuh dari tempat tidur dan terjengkang.
"Apa kau kira aku tak bisa marah?"
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Andri. Karena rasa sakit yang begitu dalam di hatinya, Shela tak bisa mengendalikan amarahnya, ia benar benar tidak bisa mengontrol emosi nya.
__ADS_1
"Shel ... dengar, aku minta maaf, aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hati mu."
"Shel ... aku minta maaf, aku tak bermaksud menyakiti hati mu."
Ulang shela dengan maksud mengolok-olok Andri.
"Aku muak, aku muaaak!" teriak Shela dalam kesedihannya, ia menangis sejadi jadinya. Seandainya kamar itu tidak kedap udara, maka pastilah semua orang yang ada di rumah itu, akan mendengar pertengkaran mereka.
Untuk beberapa saat, Andri membiarkan Shela menangis, ia hanya menatap nya dengan sejuta perasaan bersalah, hampir setengah jam, akhirnya Andri berdiri dan mendekati Shela.
Perlahan, tangan kekar Andri membawanya dalam pelukannya, tangisnya pecah, mengeluarkan segalanya, sesal, sedih, terluka, semuanya yang bersarang di dalam hatinya.
Ia semakin memeluk Shela dengan sangat erat, mencoba menghapus segala rasa sakit yang ia torehkan untuk istrinya itu, mencoba menawarkan racun yang mungkin telah tersebar di seluruh jiwanya, sehingga menderita dan kecewa.
"Shela ... andai saja aku bisa menggambarkan perasaan ku, aku pasti menceritakan bagaimana aku sangat menderita, aku sangat tersiksa dengan semua ini."
Dengan sangat hangat, Andri mengecup kening shela, seakan mampu menyalurkan hasrat, jantung Shela mulai berdegup tak beraturan, semakin cepat, kembali ia menuntut haknya sebagai seorang istri.
Suara serak Shela membuai Andri, Shela berusaha untuk lebih agresif, ia melukis perasaannya lewat gerakan yang tak bisa ditolak oleh Andri.
Dengan kesadaran penuh, Andri menarik tangan Shela, ia menggelengkan kepalanya, memberi jawaban jika dirinya merasa keberatan atas apa yang dilakukan oleh shela.
Tapi yang namanya manusia, jika sudah berbicara masalah satu itu, apa lagi telah terikat dalam sebuah perkawinan, enam bulan bukanlah waktu yang singkat, sebagai seorang istri, tak seorangpun yang tidak menginginkan belaian kasih seorang suami, apabila masih dikatakan manusia biasa dan normal.
Andri siap memberikan raganya, walaupun harus membayangkan wajah Hana, ia menembus cakrawala cinta, mengoyak mahkota yang terpendam, menembus kehormatan milik sang istri yang sempat di anggur kan ya. Keduanya telah mampu melewati samudera cinta yang begitu indah.
Andri menatap langit langit kamar, yang baru saja menjadi saksi bisu pergulatan cinta bagi keduanya. Ia memiringkan wajahnya, sedangkan badannya masih dalam keadaan semula, meletakkan tangannya diatas keningnya, sehingga menutupi sebagian matanya.
Shela terkejut, merasakan kasur di mana mereka berbaring saat ini, bergoyang, walaupun sangat pelan, Shela merasakan gerakan itu.
__ADS_1
Ditariknya tangan Andri lembut, dan menghadap kan wajah suaminya itu kepadanya, tapi alangkah terkejutnya Shela, melihat wajah suaminya penuh dengan deraian air mata. Andri semakin sesenggukan, bahkan sampai mengeluarkan suara Isak yang terasa begitu menyakitkan untuk Shela.
"Mas ...."
Tak ada sahutan. Kembali Shela mengguncang bahu Andri, Andri menoleh, menatap Shela dengan tatapan yang begitu aneh, tatapan yang begitu menorehkan luka, penuh kebencian. Entah benci pada dirinya sendiri atau benci pada Shela.
"Mas ... ada apa?"
"Kebahagiaan seperti ini kah yang kau inginkan?"
"Apa ada yang salah dengan semua itu?, aku istrimu, dan kau suamiku, bukankah hal ini wajar?"
"Wajar, sangat wajar. Tapi aku benci dengan diriku, aku benci dengan keadaan ini."
"Kau menyesal telah menyentuh aku, begitu?" Shela mulai menangis.
"Aku benci semuanya!" ucap Andri sambil menjauh dari Shela.
"Kenapa Mas ... kenapa?"
"Aku benci karena aku harus terbayang Hana selama bersamamu, itu sungguh menyiksa aku ... aku sangat jahat padamu, tapi aku benar-benar tidak sanggup menghapus bayangan itu, itu sungguh menyiksa aku, suami macam apa aku ini?" Shela menutup mulutnya, ia sangat terkejut mendengar semua kejujuran Andri, kejujuran yang sangat menyakitkan, kejujuran yang membuktikan bahwa suaminya benar benar tidak bisa melupakan wanita masalalu nya, bahkan saat sedang memadu kasih bersamanya, bayangan wanita lain yang menemani suaminya itu.
Air matanya tak bisa lagi tertahan, ia meratapi nasibnya yang malang. Semula ia mengira persatuan mereka pagi ini, merupakan awal dari kebahagiaan rumahtangga mereka, tapi justru sebaliknya, semua itu merupakan akhir dari kebahagiaan itu sendiri.
Semula, ia berharap adanya kisah perpaduan itu, ia akan mampu membuka hati suaminya yang beku, tapi semuanya menjadi awal untuk menutup hatinya sendiri, pagi ini ia merasa sangat sakit, perih, dan tak mampu Shela untuk menggambarkan perasaan nya.
"Andai saja aku bertemu dengan Hana, aku akan melihat bagaimana bentuk wajahnya, aku tak habis pikir, apa yang telah membuat dirimu begitu mencintainya." Batin shela.
Tak mampu Andri melakukan apapun, ia tahu, betapa hancurnya hati istrinya saat ini, sehingga untuk menatapnya saja ia bagai tak sanggup.
__ADS_1
Dalam kehancuran, Shela menghela nafasnya, mencoba untuk memperbaiki segala yang masih tersisa, kalau memang suaminya itu bukanlah pasangan yang dikirim Tuhan untuk dirinya, maka ia akan berusaha untuk menerima, melepaskan walaupun sakit, melupakan walaupun perih, mengikhlaskan walaupun harus menangis dan menderita. Mungkin ... asal itu membuat Andri bahagia, ia mampu untuk melakukan nya.
Sebab, sejak semula Shela tahu, bila suaminya memang mencintai wanita lain, dan selama ini ia berjuang untuk mendapatkan cintanya, tapi pagi ini, Shela mengaku kalah, Shela tak kuasa lagi meneruskan perjuangannya, cukup, cukup berhenti sampai disini.