
Pagi-pagi sekali Hana sudah terbangun dari tidurnya yang panjang, hari ini Hana terlihat sangat pulas tidurnya, entah karena capek atau beban pikiran yang belakangan ini selalu menghimpitnya. Selesai mengerjakan shalat subuh Hana langsung membantu ibunya memasak di dapur, selain memasak untuk sarapan pagi, mereka juga memasak beberapa menu untuk dijual di kiosnya karena beberapa hari yang lalu Hana mengusulkan agar ibu nya juga menjual makanan seperti yang dijual di warteg, seperti nasi, ayam geprek, lontong dan lainnya.
Hana tertegun melihat ibunya yang sibuk, nanti andai ia jadi pergi, siapa yang akan membantu ibunya, tentu ibunya sangatlah sibuk seorang diri, tapi kalau dia tidak pergi maka penghasilan jualan tidak akan cukup untuk pengobatan ayah nya.
Dengan memberanikan diri Hana mencoba bicara pada ibunya, walau pada mulanya ia merasa ragu karena pasti ibunya tidak akan memberikan restu, tapi apa salahnya kalau dicoba, pikirnya.
"Ibu ... bolehkah aku bertanya?" ucapnya dengan sangat hati-hati.
"Tanya apa?"
"Kalau aku bekerja yang lain selain menjadi guru privat, apa ibu mengizinkan?"
"Asal halal kenapa tidak?"
"Walaupun itu jauh sekalipun?"
"Emang kamu mau kerja apa?"
"Kerja di perusahaan konveksi, Bu"
"Apa ada pengalaman mu, kamu kan tidak pernah belajar menjahit "
"Ya aku di bagian pengepakan, Bu"
"Asal kau mau, apa salahnya?"
"Ya aku pikir, inilah jalan satu-satunya yang harus di tempuh, tapi ...."
"Ada apa Han?"
"Bagaimana dengan ayah, sanggupkah ibu dan Rega mengurusnya tanpa aku?"
"Tanpa kamu ... memangnya di mana?" Hana terdiam tak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Hana yakin ibunya pasti akan sangat terkejut mendengar penuturan nya, sambil mengelap piring di tangannya, ibunya terus mendesak Hana.
"Katakan Han, memangnya kamu mendapatkan pekerjaan itu dari siapa, dan ... dan dimana?"
"Dari mas Defta Bu, pekerjaan itu adanya di jepang!" seketika piring yang ada di tangan Bu Fatmi terjatuh, Praaang ... langsung pecah berderai, menjadi serpihan serpihan yang tidak mungkin bisa untuk disatukan lagi.Tangannya gemetar, air matanya tumpah seketika.
Hu ... u ... u tangisnya terdengar sangat pilu.
"Han maafkan Ibu, Ibu adalah orang yang tidak bisa di andalkan, Ibu tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, kamu berhenti kuliah, Rega tidak melanjutkan, dan untuk biaya ayahmu ibu tak mampu untuk mencari nya." Hana tak memperdulikan pecahan-pecahan piring didekatnya, ia langsung memeluk ibunya.
__ADS_1
"Ibu, apa yang Ibu lakukan itu sudah lebih dari cukup, sebenarnya Hana tidak ingin pergi, tapi Hana ingin sekali ayah sembuh, Bu ...." Mereka saling membalas pelukan satu sama lain dengan tangisan yang terdengar demikian pilu.
"Ibu ingat, kalau ayah perlu melakukan cangkok hati untuk kesembuhannya, bukan?" Ibunya melepaskan pelukannya dan menyapu wajah anaknya itu.
"Ibu ingat Han, tapi dengan membiarkanmu pergi begitu jauh, rasanya tidak mungkin"
"Tapi Bu, pekerjaan itulah yang menjanjikan, dengan gaji besar yang mungkin bisa membiayai kemoterapi ayah dan bahkan untuk operasi cangkok Hati buat ayah."
"Kamu tidak akan bertemu dengan ayahmu dalam waktu yang cukup lama, lalu jawaban apa yang akan aku berikan jika ayahmu bertanya tentang dirimu?"
"Katakan aku ada praktek kerja diluar negeri, Bu"
"Jangan kau lakukan ini anakku, Ibu tidak kuasa berpisah denganmu."
"Siapa yang mau berpisah Bu, jangankan untuk waktu setahun atau lebih, tidak bertemu dengan kalian dalam beberapa hari saja begitu menyiksa bagiku."
"Kalau begitu, kenapa kau nekat akan pergi?"
"Demi sebuah tanggung jawab Ibu, ya, aku yang harus bertanggung jawab atas kesembuhan ayah, walaupun aku harus mempertaruhkan nyawa sekalipun, aku akan rela melakukan nya"
"Hana anakku, tiada yang paling bahagia bagi orang tua selain melihat anaknya berbakti, tapi ini sangat berat bagimu, bagaimana seandainya ayahmu tidak panjang umur dan kau tidak bisa bertemu dengannya lagi?"
"Ibu ... jangan katakan itu, ayah pasti sembuh, ayah harus sembuh, makanya Hana harus cari uang untuk ayah."
"Tidak ibu, jangan katakan itu kumohon ...." Hik ... hik ... tangis Hana bertambah pecah namun ia menutup mulutnya agar ayah nya tidak mendengar tangisan itu.
Tiba-tiba Rega masuk ke dapur mau menuju kamar mandi terhenti melihat ibu dan kakaknya menangis sesenggukan.
"Ada apa ini?" seakan tak mengacuhkan Rega, Hana tetap menangis.
"Mbak, ada apa, pagi-pagi udah nangis kayak gini?"
"Mbak mu Ga, dia mau bekerja keluar negeri."
Rega terkejut , matanya terbelalak tidak percaya.
"Benarkah?" tanya nya sambil menatap kakak nya dengan sangat tajam. Keduanya membisu tak menjawab pertanyaan Rega sedikit pun.
Rega kemudian masuk kedalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban kakaknya karena ia sudah kebelet buang air kecil.
Ketika hari sudah pagi, degan warna langit yang cerah dihiasi oleh cahaya matahari yang begitu hangat, semua masakan untuk dijual maupun untuk sarapan sudah siap semua nya. Hana dibantu Rega membawa nya ke kedai mereka.
__ADS_1
tidak membutuhkan waktu lama, banyak sekali pembeli datang menghabiskan jualan mereka kali ini, sedang Bu Fatmi menemani suaminya dirumahnya.
Sang hari, mereka membawa pak Herman pergi ke rumah sakit untuk cek up. Hana menemui dokter setelah pemeriksaan selesai, begitu terus, setiap ayah nya kontrol ke rumah sakit, memastikan kondisi ayah nya baik-baik saja atau tidak.
"Bagaimana, dok?"
"Untuk saat ini keadaan ayah mu sangat aman, tapi tidak menutup kemungkinan akan kambuh, sebelum melakukan transplantasi hati seperti yang telah saya katakan beberapa waktu yang lalu."
"Bagaimana dok, apa sudah ada hati yang cocok untuk ayah saya?"
"Untuk saat ini belum ada, tapi berdoa lah semoga Allah memudahkan semuanya."
Hana mengaminkan perkataan dokter itu kemudian permisi.
sesampainya mereka di rumah, Pak Herman langsung beristirahat setelah meminum obat yang baru mereka tebus dari apotek.
Bu Fatmi bergegas keluar dari kamar, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena hari sudah menunjukkan waktu asar. Begitu pula dengan Hana dan Rega. Mereka melakukan shalat dengan berjamaah sedang pak Herman tadi, hanya shalat sendirian.
Seusai shalat Hana kembali membicarakan tentang pekerjaan di Jepang.
"Tolong Bu, berikan izin agar aku bisa pergi."
"Pergi kemana, Kak?"
"Kakakmu berniat untuk bekerja di Jepang."
"Serius!" kata Rega mengernyitkan keningnya.
"Bu ...." Panggil Hana sangat lembut, memegang tangan ibunya dengan sangat lembut.
"Tadi kata dokter, ayah bisa kambuh kapan saja, makanya sebelum semuanya terlambat maka izinkanlah aku pergi, mudah-mudahan ayah segera mendapatkan donor hati yang cocok, kalau aku tidak pergi bila ada donor yang cocok biaya nya dari mana?" Bu Fatmi merenung.
"Hanya restu ibu yang bisa membawaku pergi, tanpa restu mu maka segala usaha ku akan sia-sia saja."
"Tapi Kak ... Jepang itu sangat jauh, setahuku bekerja di sana itu pakai kontrak, dan Kakak tidak akan bisa pulang kalau kontrak itu belum selesai, kecuali Kakak bisa membayar denda."
"Buat Ayah aku akan melakukan apapun, tugas kamu menjaga Ayah dan Ibu disini."
Dengan sangat berat hati akhirnya Bu Fatmi mengangguk kan kepala merestui Hana, anak gadis satu-satunya.
"Baiklah, aku izinkan kamu pergi, tapi berjanjilah kamu akan kembali lagi bersama kami."
__ADS_1
"Pasti ibu, pasti!
Akhirnya mereka bertiga berpelukan, melepaskan segala duka yang menyayat jiwa. Menghempaskan segenap lara yang terasa menyesak dalam dada. Mencoba menerima segala nestapa, menelan semua pil pahitnya derita.