Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 8. Kedatangan pak kades


__ADS_3

Sore ini pak Herman dan bu Fatmi terkejut dengan kedatangan pak Kades, ada perasaan aneh yang menyeruak dalam hati mereka, seolah-olah pak Kades punya maksud dan tujuan tertentu yang sama sekali tidak mereka pahami dan mereka harapkan. laki-laki itu tersenyum sok ramah, tapi didalam senyum itu tersirat keanehan yang tidak dapat dibaca.


"Ada perlu apa ya, Pak?"


"Tidak ada Bu, hanya kebetulan lewat, jadi mampir!"


"Memang nya, Bapak dari mana?"


"Dari rumah pak Karyo." Tetangga sebelah yang rumahnya tidak seberapa jauh.


"Ada urusan apa, Pak?"


"Pak Karyo itu menjual tanah yang di dekat kebun kalian." pak Herman dan bu Fatmi sudah tahu kemana arah pembicaraan pak Kades, karena bukan sekali dua kali, pak Kades membujuk mereka untuk menjual tanah mereka.


"Untuk keperluan apa ya, Pak?"


"Untuk memperbaiki rumah, katanya!" kedua orang tua Hana mengangguk-angguk.


"Kalau kalian, kapan akan menjual tanah kalian itu?"


"Kami?" tanya pak Herman tersenyum.


"Iya Bapak, 'kan tinggal dua bidang kebun bapak yang belum terjual, punya kalian ada di tengah-tengah kebun orang-orang yang sudah dijual sama saya, apa salahnya kalau di lepas saja?"


"Kami tak punya niat untuk menjualnya, pak!" pak Kades mulai gusar.


"Kalau dijual, kemana kami akan berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami."


"Aku berani bayar dua kali lipat dari harga lahan yang lain, bagaimana?"


"sampai saat ini kami tetap pada pendirian kami, kami tak akan jual!"


"apa Pak Herman tahu, akibat lahan punya kalian itu, aku tidak bisa mendirikan pabrik di sana, kalau kampung ini maju, kalian juga yang merasakan mudahnya, seluruh hasil panen bisa ditampung di sana, kalian tak usah repot-repot menjual nya ke kota." Pak Kades mulai naik nada suaranya.


"Iya, Bapak akan dengan mudah nya membeli penghasilan masyarakat dengan harga yang sangat murah, lalu siapa yang dikorbankan disini, bapak yang akan mendirikan pabrik atau kami yang tidak bisa lagi berkebun di tanah kami sendiri, tidak menjual tanah itu, adalah hak kami, lalu apa urusan Bapak?"


"Karena tanah Bapak berada ditengah-tengah perkebunan itu, otomatis tanah kalian adalah penghalang untuk mendirikan pabrik itu."


"Pokoknya, aku tidak akan jual tanah itu!"


"Sombong sekali kamu, aku yakin kau pasti menjual tanah itu, karena kau bukan orang kaya yang selalu bisa untuk bertahan, kalau pun kalian berkebun maka kalian tidak akan mendapatkan hasil."


"Apakah Bapak, mengancam?"


"Kalau ku ajak dengan cara baik-baik kalian tidak mau, apa salahnya kalau aku mencoba jalan lain."

__ADS_1


"Aku tidak akan menjual tanah itu, titik!"


"Kita lihat saja nanti, maaf saya permisi dulu." Kata pak kades langsung pergi begitu saja dengan wajah penuh kemarahan.


Sepeninggal pak kades, mereka merasa was-was sendiri, merasa kalau mereka akan mendapat gangguan bila berkebun di tanah miliknya.


"Apa yang akan dilakukan pak Kades ya, Pak?"


"Entahlah Bu, aku hanya ingin tanah itu dijual berdasarkan kesepakatan kita, bahwa tanah itu untuk keperluan Hana dan Rega, mereka memerlukan biaya yang sangat banyak untuk kebutuhan pendidikan mereka "


"Iya pak, tapi bagaimana kalau pak Kades berbuat nekad?"


"Mudah-mudahan saja tidak!"


"kenapa ya, antara anak dan orang tua sangat berbeda?" ucap pak Herman.


"Maksudnya?"


"Lihatlah, betapa berbedanya antara pak kades dan Defta, pak kades sangat ambisius, sedang kan Defta sangat bijaksana dan begitu sabar dan baik, andai saja dia adalah jodoh untuk Hana!"


"Hus, jangan berandai-andai, Hana kan sudah punya Andri, Pak!"


"Ibu tahu sendiri, kalau Andri sudah tak ada kabar!"


"Iya , tapi Hana masih menantinya, Pak!"


Sementara di kediaman pak kades, ia tampak menggerutu, sambil sesekali melempar lantai yang tak bersalah dengan sesuatu yang didapatkannya.


"Ada apa, yah?" tegur Defta.


"Apa peduli mu?"


"Ayah nampak sekali marah nya."


"Semua gara-gara keluarga Herman "


"Memang kenapa dengan pak Herman?"


"Kamu, kalau bicara tentang Herman langsung semangat!" jawab pak kades tambah marah, sementara Defta hanya diam.


"Jangan kau pikir aku mau melamar Hana karena aku merestui kau berhubungan dengan nya, tidak sama sekali, apalah yang diharapkan dari gadis miskin seperti dia!"


"Sebenarnya apa masalahmu dengan pak Herman, Ayah?"


"Dia tetap menolak menjual tanahnya!"

__ADS_1


"Jadi Ayah mau melamar Hana karena menginginkan tanah pak Herman?, ternyata memang benar kata orang, kalau ayah adalah orang yang picik." Pak kades langsung berdiri.


"Kau ...."


"Sebenarnya aku tak setuju cara ayah memimpin desa ini, ayah adalah seorang pemimpin yang mementingkan diri sendiri!"


"Defta!" Bentaknya keras


"Ayah adalah seorang pemimpin diktator, selalu menindas rakyat demi kepuasan hasrat dan keinginan ayah sendiri!" plaaak, Defta memegangi pipinya, seumur-umur belum pernah ia merasakan tamparan dari ayahnya.


"Beraninya kau bicara seperti itu!"


"Kenapa aku harus takut, aku benci dengan Ayah, Ayah yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, menggunakan uang negara untuk membeli tanah-tanah orang-orang, Ayah seorang pemimpin yang korupsi, aku muak dengan semua yang telah Ayah lakukan!"


"Lalu, bagaimana dengan semua fasilitas yang kau gunakan selama ini?"


"Maaf ayah, semua uang ayah yang Ayah berikan padaku, aku masukkan ke panti sosial, sedikit pun aku tidak mengambilnya, Karena dengan memakan uang haram, aku tak mau jadi rakus, seperti ayah!"


"Lalu, kau bangga dengan dirimu?"


"Dari kecil kau selalu aku harapkan untuk jadi penerus ku, tapi justru kau tidak dapat untuk diandalkan."


"Maaf kalau aku tidak bisa seperti yang ayah harapkan!"


"Mulai detik ini aku tak akan membantumu mendapatkan gadis miskin itu!"


"Kalau ayah membantuku hanya agar ayah bisa memiliki tanah itu, maka justru akulah yang akan menghalangi ayah untuk mendapatkan tanah itu!"


"Dasar kau, anak durhaka!"


"Anak durhaka bila aku menolak untuk melakukan hal baik, seharusnya inilah yang bisa aku lakukan untuk membuat Ayah sadar "


"Jangan sok alim kamu!"


"Jangan menindas kaum lemah ayah, dengan membujuk mereka dengan iming-iming uang yang banyak!"


"Aku membeli bukan meminta, mereka mau menjualnya!"


"Lantas kenapa Ayah marah, saat pak Herman tak mau menjualnya?"


"Karena dengan tidak di jual nya tanah itu, maka pabrik yang akan aku bangun tidak bisa dilakukan"


"Kan masih ada lahan yang lain?"


"Ini urusanku, aku mau mendirikan pabrik di tanah itu karena tempatnya lebih strategis."

__ADS_1


"Pokoknya kalau Ayah macam-macam sama keluarga pak Herman, Ayah akan berurusan dengan aku, aku akan membela keluarga pak Herman, bukan karena aku mencintai Hana tapi aku membelanya karena hak kebebasan hidup dari seorang warga."


Akhirnya Defta meninggalkan ayahnya dengan perasaan jengkel bercampur marah.


__ADS_2