
Andri menatap wajah Shela penuh perasaan tak menentu, ia takut mengambil keputusan untuk menerima Shela menjadi pendamping hidupnya. Bagi Andri rumah tangga bukanlah sebuah persinggahan sementara, oleh karena itu, Andri takut akan membuat Shela menderita, karena sampai detik ini, sedikit pun tak mampu Andri melupakan Hana. Jangankan menggantikan posisi Hana, menjadi istrinya, tak sedikit pun pernah Andri bayangkan.
"Mas ... kenapa kau memandangku seperti itu?" mata Andri kembali menatap sendu kearah Shela, setelah beberapa saat menunduk.
"Apa, kau memanggilku apa?"
"Mas, aku memanggilmu, Mas!" Andri meraih tangan Shela, di genggamnya, reaksi yang sangat membuat Shela cukup bahagia.
"Apakah kau tak takut, memulai hidup baru bersamaku?"
"Dari dulu, sampai sekarang, tiada sedikit pun aku takut hidup bersamamu, bersamamu, adalah sesuatu yang membuat aku bahagia."
"Seandainya aku tidak bisa mencintaimu, bukankah kau akan menderita?"
"Aku ikhlas mengabdikan hidupku, Tuhan Maha pem bolak balik hati, kalau Ia berkehendak, maka tidak mustahil, kau akan mencintaiku."
"Aku sangat yakin, kau adalah sosok wanita yang mampu memahami aku, dan ... karena itulah aku tidak ingin menyakiti hatimu."
"Tak ada cinta seorang pria yang tulus, seperti tulusnya cintamu pada Hana, dan tak ada pula, cinta seorang wanita yang tulus, seperti tulusnya cintaku padamu."Jawab Shela membalas genggaman tangan Andri.
"Kalau kau menjadikan aku sebagai istri, maka aku akan menjaga amanah yang engkau berikan, sebelum engkau berhasil mencintaiku, dan engkau belum ingin menyentuh ku, maka aku akan menerima serta akan menunggu, sampai engkau sadar, bahwa aku adalah yang terbaik untukmu."
"Jangan ucapkan itu, Shel ... apa kau tahu, semua perkataan itu sangat berat untuk di lakukan?"
"Aku sangat mencintaimu, Mas ...."
"Tapi kita adalah manusia biasa, itulah mengapa aku sangat takut membuka hatiku untukmu, aku takut tak sanggup melakukannya bersamamu." Jawab Andri sambil membelai pucuk rambut Shela.
"Apakah kau tak sadar, kau teramat sangat cantik dan baik hati, maka carilah laki-laki lain yang benar-benar mampu untuk membuatmu bahagia!"
" Kenapa kau katakan itu, apakah kau tahu, kata-kata mu sangat menyakiti hatiku?" tak urung Shela menangis.
"Aku tidak bermaksud menyakiti hati mu, kalau kau yakin, aku bisa membuatmu bahagia, aku akan mencoba."
"Maksudnya ... apakah kau akan ...." Andri mengangguk, pelan.
"Aku akan melamar mu, aku akan menjadi kan mu istri." Shela tambah menangis, tapi kali ini tangisnya karena ia sangat bahagia, karena penantiannya yang begitu panjang untuk hidup bersama Andri, akan berakhir.
"Benarkah ... kau akan melamar aku?" Andri tersenyum dan akhirnya mengangguk.
Shela tak peduli di mana mereka saat ini, ia bangkit dari duduknya, memeluk Andri erat dari arah belakang, hidungnya begitu dekat dengan leher Andri, Andri melepaskan pelukan itu, sangat pelan ... menyadari banyak pasang mata memperhatikannya mereka. Shela kembali ke tempat duduknya.
" Mas ... aku sangat bahagia saat ini, terimakasih ...."
__ADS_1
"Maaf, aku tak mampu berbuat banyak untuk mu."
"Untuk haru ini cukup, kau cukup membuat aku bahagia!"
"Benarkah?"
" Ya ... aku sangat bahagia!"
Dalam hati Andri bukan seperti itu, walaupun ia sadar telah mengatakan bahwa akan melamar Shela, tapi bayangan wajah Hana tidak mudah di tepisnya.
Andri sadar, sangat sadar bila dirinya masih sangat mencintai Hana, tapi karena Hana sudah menikah dengan pria lain, maka dengan tanpa pikir panjang ia memutuskan akan menjadikan Shela sebagai istri nya.
Setiap kali bayangan Hana sedang berpelukan dengan Defta di airport waktu itu, maka rasa kecewanya terasa sangat memuncak, dan mampu mengukir rasa sakit yang amat sangat.
Hana gadis yang begitu sangat di cintai, tak sanggup menjaga hati, melupakan segenap cinta dan sejuta janji yang telah mereka patri selama ini, dalam waktu yang begitu singkat.
Tanpa sadar, Andri kembali terbawa perasaan, menunduk, menatap kebawah, merenung, tak jelas, yang pasti menurutnya Hana telah berpaling dan mengingkari janji cinta mereka.
Mungkin jika di airport, Andri menghampiri mereka, tak akan ada salah paham di antara mereka, tapi inilah jalan yang memang harus terjadi antara Hana dan Andri.
Kesetiaan yang teruji ...
Akankah saat Hana kembali, mereka akan kembali bersatu?
"Melamun?" Andri tersenyum dan menggeleng.
"Apalagi yang Mas pikir?"
"Aku berfikir, kapan aku akan datang ke rumahmu, maunya segera atau ...." jawab Andri berbohong, kalau ia sedang teringat akan Hana.
" Mau ku sesegera mungkin!"
"Baiklah, nanti aku akan bicara pada ayah dan ibu, kamu sabar ... 'kan? Shela mengangguk.
"Sekarang mari kita pulang, hari sudah sore, dasar, kamu nakal!"
" Kok, nakal?"
"Habis ... katanya suruh jemput di jalan, mobil nya rusak, eh ternyata ...."
"Usahaku tidak sia-sia, dengan begini maka aku akan berduaan denganmu. Kamu tahu, setiap hari aku bosen ...."
"Kenapa bosen?"
__ADS_1
"Habis ... kamu di kantor terus!"
"Pakai Mas ... atau kamu?"
"Eh ... Mas!"
"Aku sempat terkejut lho, dengar kamu manggil aku Mas, kayak gimana ... gitu!"
" Suka nggak?"
"Ada sedikit ...."
"Kok sedikit ... nyaman nya di panggil nama atau Mas?"
"Terserah kamu saja!"
"Kok terserah ... sukanya yang mana?" tanya Shela manja.
"Aku suka semua, mau mas atau apa!" Shela menghentak hentakan kakinya, merajuk.
"Nggak asyik ... aku maunya yang pasti, dipanggil apa ...."
" Oke ... Mas ajalah!" Shela tersenyum.
"Nah ... gitu dong ...."
"Yok kita pulang ... sudah capek, aku bayar dulu makanan kita!" Shela mengangguk.
Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu, sebuah pantai yang jadi saksi bisu, atas ikatan yang baru saja terpatri, mencoba menghapus luka semoga mendapat penawarnya, dengan membuka lembaran baru dengan sang pemilik hati yang lain.
Andri mengantarkan Shela sampai dirumahnya, tapi Andri tak masuk karena waktu sudah sangat sore, bahkan menjelang magrib.
Di perjalanan pulang, Andri masih dalam kebimbangan, mencoba menimbang baik dan buruknya apabila menikah dengan Shela. Jikalau ia tidak jadi menikah dengan Shela, sampai kapan lagi ia akan mengobati luka dan akan melupakan Hana, sedang yang di harapkan nya kini sudah tidak bisa di harapkan lagi.
Ujian cinta, akan benar benar terkoyak. Setelah nanti Andri menikah, akankah kesetiaan itu masih bisa di pertahankan?
Apakah mungkin Andri akan menjadikan Shela sebagai pelarian saja, menikah tanpa cinta, sehingga akan membuat mereka berpisah?
Kesetiaan Hana yang saat ini, patut kita pertanyakan, dengan kepergian nya ke Jepang, akankah ia lupa atas cintanya pada Andri?
Mereka sama-sama jauh, tapi hati mereka saling terikat, bertaut, sehingga tetap menghadirkan sejuta kerinduan yang terpendam, yang tidak mampu di uraikan lewat kata. Kenangan demi kenangan mampu memupuk cinta mereka, walaupun jarak jauh dan waktu yang cukup lama, mereka masih akan saling merindukan.
Vote dan favoritnya serta komentar adalah kunci semangat author melanjutkan cerita ini, makanya mohon bantuan dari pembaca tercinta.
__ADS_1