Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 14 Bu Fatmi pingsan


__ADS_3

Bu Fatmi menarik tangan Hana, membawanya keluar dari ruang perawatan pak Herman, disudut pelataran rumah sakit, menatap dalam-dalam mata putrinya, penuh selidik.


"Nggak ak ada yang kau sembunyikan dari ibu, 'kan, Han?" Hana menggeleng geleng kan kepalanya, matanya berkaca-kaca, semakin banyak dan tumpah.


"Katakan padaku Han, ada apa dengan ayahmu!" Bu Fatmi kembali mengguncang bahu Hana, namun Hana tetap tak bergeming semakin sedu dengan tangisnya.


"Aku tak ingin kehilangan ayah, Bu...." Tiba-tiba sahutan keluar dari mulutnya.


"Ayah akan terus bersama kita kan, Bu ?, ayah tak akan meninggalkan kita 'kan?" suara Hana kian parau dan serak.


"Ada apa dengan, ayahmu?"


"Hana sangat sayang pada ayah Bu, Hana ... Hana ...." Tangis Hana kian menjadi, bu Fatmi memeluk nya dengan kuat, seakan memberi kekuatan pada putrinya.


"Katakan sayang, apa kau mengetahui sesuatu?" Bisik nya lembut ditelinga Hana.


"Ayah ... Bu, Ayah sakit parah, aku takut kalau ayah akan meninggalkan kita."


"Kamu bicara apa Han, ayah akan tetap bersama dengan kita."


"Tapi Bu ...."


"Apa dokter sudah mengatakan hasil tes nya?" Hana mengangguk.


"Lalu, apa kata dokter padamu?"


"Ayah tidak akan lama bertahan Bu ...."


"Katakan Han, apa penyakit ayah mu, jangan kau bikin aku penasaran seperti ini!"


"Ibu ... Ayah ...." Hana menatap ibunya sangat dalam, air matanya terus menetes sehingga membuatnya terisak.


"Katakan Han!"


"Ayah menderita kanker hati Bu, stadium tiga." Pegangan tangan bu Fatmi seketika lepas, badannya mundur beberapa langkah, persendian nya lemas lunglai seketika, bagaimana tidak pemilik tulang rusuk nya telah rapuh oleh penyakit, bagaimana ia akan bertahan menerima kenyataan itu, bagaimana ia akan kuat menghadapi segala nya tanpa orang yang begitu dicintai oleh nya. Sungguh mujur tak dapat diraih malang tak dapat di tolak, akankah penyakit suami nya itu adalah awal penderitaan bagi keluarganya?


Kemana akan dicari nya uang untuk biaya pengobatan suaminya, lalu untuk keperluan anak-anaknya, Hana masih kuliah sedang Rega masih belum tamat dari bangku SMA.


Pandangan Bu Fatmi kian kabur, semakin lama semakin gelap dan tubuh bu Fatmi pun tersungkur, sedang Hana tak mampu menahan tubuh ibunya itu.


"Ibu ... bangun ...Bu ... bangun ...." Teriak Hana sambil memegangi wajah ibunya dan menepuk-nepuk nya.


"Ibu bilang, Hana harus kuat ... Hana nggak boleh sedih ... tapi kenapa ibu seperti ini ...."


bangun Bu ... bangun ...." Tanpa pikir panjang Hana berteriak.


"Tolong ... ku mohon tolong, ibu ku ...." dua orang tampak berlari menuju kearahnya kemudian membawa ibu nya menuju ruang rawat, di sana Bu Fatmi dibaringkan


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Hana setelah ibunya di periksa oleh dokter.

__ADS_1


"Ibunya tidak apa-apa, cuma sedikit syok aja, sebentar lagi dia akan siuman, Mbak gak usah khawatir."


Disesi lain, Rega sedang bersama ayahnya, dipandang nya wajah ayah nya yang nampak mulai kuyu itu, dipijat nya seluruh tubuh dengan sangat lembut.


"Ga, andai nanti Ayah tidak panjang umur, kamu jaga ibu dan kakak mu ya ...."


"Ayah jangan ngomong kayak gitu, kami ingin, ayah sembuh!"


"Tapi Ayah rasanya tidak lama lagi, Ga ...."


"Yang penting Ayah tidak banyak pikiran, semangat yah, Ayah pasti sembuh, apakah Ayah tidak ingin melihat kakak menjadi dokter?" Ayah nya mengangguk.


"Tentu sangat ingin, Ga!"


"Nah kalau Ayah ingin lihat kak Hana jadi dokter, Ayah harus segera sembuh."


"Ga, tolong kamu panggil dokter, ayah ...."


belum sempat pak Herman menyudahi ucapan nya, mulutnya mengerang menahan sakit yang amat menusuk ulu hati nya. Rega panik, saking paniknya Rega hanya mondar mandir, lari ke sana kemari, tak tahu apa yang harus di lakukan. Lalu seorang suster yang ingin mengecek keadaan pak Herman masuk dan dengan segera pula memanggil dokter.


Rega keluar mencari Hana dan ibunya, celingukan dan tak menemukan mereka berdua, tiba-tiba Hana dari ruang yang tidak begitu jauh nampak keluar dan heran melihat adiknya yang kebingungan.


"Ada apa ga?" tanya nya setelah dekat.


"Ayah Kak, ayah kumat, ayah drop."


Hana berlari mendekati ruang rawat ayah nya. Tampak oleh nya dokter sedang memeriksanya, dan betapa Hana iba melihat penderitaan ayah nya. Ya, andai saja dia bisa merasakan rasa sakit yang diderita oleh ayahnya. Hana menangis, apalagi ayah nya dibawa keruang ICU, tak teringat lagi oleh Hana ibunya yang pingsan belum sadar kan diri. Tahu-tahu ibu nya sudah berdiri dibelakangnya dan memeluknya. Hana menoleh dan membalas pelukan ibunya, kemudian sama-sama menangis , Rega pun ikut memeluk mereka .


Mereka akhirnya duduk di bangku panjang didekat mereka. Hana menggenggam tangan ibunya, menatap nya dalam.


"Ibu harus sabar, jaga kesehatan Ibu, aku tak ingin melihat Ibu ikut sakit."


"Han, dari mana biaya untuk ayah bisa kita dapatkan?" tanya ibunya seperti berbisik.


"Untuk sementara uang Mas Defta yang akan kita pakai Bu, sampai kita mendapatkan jalan keluarnya."


"Tapi uang itu sangat banyak jumlahnya."


"Ya aku tahu Bu, Tapi bagaimana lagi, saat ini kita tidak punya uang."


"Lalu setelah ini apa yang harus kita lakukan, Kak?" Hana dan ibunya menggeleng.


"Bagaimana kalau kita jual saja tanah yang ada di kampung?" Hana dan ibunya saling pandang.


"Bagaimana, Bu?" tanya Hana.


"Tapi kata ayah tanah itu untuk kalian berdua."


"Tidak ada yang lebih penting dari kesembuhan ayah, Bu!"

__ADS_1


"Tanah itu akan lebih bermakna bagi kami kalau melihat ayah sembuh."


"Jadi kita sepakat untuk menjualnya?" tanya Hana memandang Rega dan Ibunya.


"Kalau begitu besok kita pulang, setelah ayah melakukan kemoterapi." Kata Hana


" Kamu juga akan ujian akhir kan, Ga?"


"Iya Kak."


"Biar Ibu yang menemani ayah."


"apakah tanah yang dua bidang akan dijual semua?" tanya Rega


"Gimana Bu?"


"Coba kamu tanyakan sama Defta dulu, bagaimana baiknya."


"Ya, Bu."


Panjang umur, orang yang di bicarakan muncul, dan langsung menghampiri mereka.


"Mas Defta sudah balik lagi ke sini?"


Defta hanya tersenyum kemudian mengangguk.


"Apa Mas tidak sibuk kerja?" tanya Hana.


"Sibuk sih, tapi masih bisa ditinggal."


"Bagaimana kabar Bapak?"


"Beliau sekarang diruang ICU"


"Apakah tambah parah?" Hana hanya menggeleng, sedang ibu nya menunduk.


"Besok kami akan pulang mas, kami akan menjual tanah perkebunan kami untuk menutupi kebutuhan ayah."


"Pakai saja uang ku Han, jangan dijual tanah itu, nanti kalian bagaimana?"


"Tidak Mas, kami tidak ingin merepotkan Mas, bantuan mas sudah lebih dari cukup."


"Ya kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, baiklah, aku hanya mendoakan, semoga ini adalah jalan yang terbaik."


"Iya Mas, semoga."


"Kamu sudah beberapa hari tidak masuk kuliah, Han?" Hana menggeleng


"Kamu tidak berhenti, 'kan?"

__ADS_1


"Entahlah ...." Tidak ada lagi kata-kata yang sanggup untuk diucapkan oleh Hana, saat ini ia hanya fokus mencari uang untuk kesembuhan ayah nya. Defta menatap wajah ayu Hana yang mulai nampak sayu karena kurang tidur dan terlalu banyak pikiran, badannya pun sudah tampak sedikit kurus, begitu juga halnya dengan Bu Fatmi.


__ADS_2