Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 45 Pemakaman pak Herman


__ADS_3

Hana menyandarkan tubuhnya di samping ranjang tempat tidur, ia meletakkan kepalanya sambil menengadahkan kepalanya, memejamkan matanya yang tampak bengkak karena terlalu lama menangis.


Tidak nyaman dengan sandaran kepalanya, ia mengambil kedua kakinya, kemudian memeluk kedua kakinya, sambil meletakkan kepalanya di atas kedua lututnya. Mencoba menerima betapa pahitnya cobaannya kali ini, diantara kehampaan, dan kerinduan untuk berjumpa, Hana mencoba mencari ketenangan jiwanya yang saat ini sedang hilang dan raib, menata hati, membangun kekuatan yang hampir saja, hancur di terjang badai penderitaan nya kali ini.


Terdengar suara pintu diketuk,


tok tok tok, Hana menoleh, menatap arah pintu yang sengaja, tidak di tutup, tampak wajah tampan bosnya, tersenyum seolah ingin memberikan kekuatan pada Hana.


Pak Kimura masuk, tanpa menanti di suruh oleh Hana, mendekati Hana, duduk begitu saja di atas lantai, tanpa alas apapun, seperti Hana saat ini.


"Kamu sudah tidak apa-apa?" Sabrina menggeleng, dengan mata kembali berkaca kaca, melukiskan segenap lara dalam jiwanya.


"Kemana Dewi?"


"Mbak Dewi keluar sebentar, ada yang mau di beli."


Mereka saling diam. Pak Kimura tidak tahu harus berkata apa, menyaksikan wajah Sabrina yang demikian tampak menderita itu.


"Pak, maaf, aku tidak masuk kerja hari ini."


"Tidak apa-apa, aku paham."


"Bapak pasti ingin membuktikan kalau aku hanya mencari alasan, bukan?"


"Tidak, aku sudah mendengar semua dari pak Yamada, aku tadi datang untuk mencek keadaan kantor, dan aku tahu kalau kau tidak masuk, makanya aku langsung datang kemari, aku sangat mengkhawatirkan dirimu."


Pak Kimura semakin mendekati Hana, ia duduk disisi sebelah kanan Hana, meraih tangan Hana, menggenggam tangan Hana hangat, seakan memberi kekuatan pada Hana.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi, Hana melirik ponsel itu, kemudian menjawab ponsel itu.


"Ya, ga, apakah ayah sudah akan di makamkan?"


"Belum, kak ... masih akan berangkat ke mesjid, akan di shalat kan."


"Kamu yang akan mengimami nanti kan?"


"Ya, kak ...."


"Mana ibu, aku mau ngomong sama ibu!"


"Ibu, ini kak Hana!" kata Rega menyerahkan ponsel di tangannya.

__ADS_1


Tampak oleh ibunya wajah putrinya yang demikian sembab itu. Kesedihan kembali menyelimuti hati keduanya. Air mata kembali tumpah, mengalir membasahi pipi mereka.


"Hana ... betapa aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu nak ... apakah kau baik baik saja?"


"Aku baik, Bu ...."


"Perjuanganmu telah selesai, kita tidak bisa lagi bersama dengan ayahmu, dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya."


"Iya, Ibu ... ayah sudah tenang ... tidak ada lagi derita yang harus ditanggung nya."


"Kamu yang kuat ya, nak ...."


"Ibu juga, jangan lupa istirahat, agar sehat sehat ibu disana."


"Kamu juga, lalu ... apakah kau tidak bisa pulang?"


"Kontrak kerjaku belum habis, Bu ... aku belum bisa pulang, ibu yang sabar ...."


"Rasanya aku sangat terpukul dengan kepergian ayahmu, apalagi tidak ada kau bersama denganku."


"Mungkin semua ini adalah takdir yang telah tertulis untuk kita, disaat aku jauh, ayah harus pergi meninggalkan kita semua."


"Kau sendiri sangat menderita bukan ... seperti biasanya kau selalu menenangkan ibu, tanpa mempedulikan dirimu, lihatlah, matamu terlihat sembab, wajahmu tirus, kau tampak begitu menderita."


Jenazah pak Herman telah siap untuk diberangkatkan ke mesjid dan langsung akan di bawa ke peristirahatan terakhir, rega menyudahi panggilan ponsel nya.


Sementara itu Defta sibuk dengan urusan perkuburan, sehingga ia lupa akan menghubungi Hana, setelah ia selesai, dengan segera ia menghubungi Hana, terdengar jawaban bahwa ponsel Hana sedang sibuk.


Defta kembali ke rumah duka, disaat janazah siap untuk di berangkatkan. Defta dan Rega berada di muka untuk mengangkat keranda, sedang di belakang dua orang penduduk sekitar rumah Rega, tetangganya.


Singkat cerita, jenazah pak Herman telah sampai ke peristirahatan terakhir, kembali Defta menghubungi Hana, dan dengan segera terhubung.


Defta mengarahkan ponselnya kearah jenazah yang siap di masukkan kedalam liang lahat, yang semua itu tidak luput dari perhatian Hana, suara Isak tangis yang begitu pilu terdengar begitu menyayat hati.


"Ayaaah, saat pemakaman mu pun aku tak bisa hadir ... maaf kan aku Ayaaah." Pak Kimura mengambil ponsel itu, kemudian meraih tubuh Hana, membawa bersandar di bahunya, tangannya sebelah mengusap usap rambut Hana, sebelah lagi memegangi ponsel, iapun melihat proses pemakaman itu, dengan kepala yang menyatu.


Pak Kimura merasakan, perubahan tangan Hana, yang semakin lama semakin dingin, mungkin akibat perasaan yang terus menerus tertekan, jiwa gadis itu sangat tersiksa.


Di tatapnya wajah yang masih penuh air mata itu, selama proses pemakaman berlangsung, ia menahan untuk tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Saat jenazah pak Herman siap untuk di timbun dengan tanah,

__ADS_1


Hana menjerit, menahan mengeluarkan sejuta duka yang terpendam, meluapkan sejuta emosi jiwa yang menuntut untuk di lepaskan.


"Ayaaah." Tukik Hana yang sempat membuat pak Kimura kaget.


"Ayaaah, aku sayang ayah ...."


pak Kimura meletakkan Ponsel itu, memeluk Hana begitu saja, sangat kuat, mencoba menenangkan Hana, mengusap usap rambutnya.


"Menangis lah, lepaskan segala kesedihanmu, aku disini untukmu, aku akan menjaga dirimu."


Hana terus menangis dan menangis, masih berada dalam pelukan pak Kimura, terisak-isak dan membuat pak Kimura tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata.


Dewi masuk, menatap penuh hati yang tersiksa, melihat keadaan Hana saat ini, ponselnya masih terhubung, dan Dewi menyaksikan kuburan pak Herman akan selesai ditimbun, airmata nya mengalir begitu saja. Sedih rasanya menyaksikan semua itu, sakit, teramat sakit, seakan ia kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidup nya.


Terlihat wajah Defta tersembul, asing bagi Dewi, ia mencoba untuk tersenyum.


"Ya, Mas ...."


"Mana Hana?"


"Biarkan ia menangis, biarkan ia menumpahkan Segala kesedihannya, lihatlah, betapa ia sangat menderita." ucap Dewi menghadapkan ponsel itu pada Hana, agar Defta melihat Hana.


Defta melihat keadaan Hana yang teramat menyedihkan, tapi yang membuat hatinya penasaran adalah laki laki yang saat ini memeluk Hana.


Defta menelan air liurnya yang tiba-tiba terasa pahit itu, "dimana pun Hana berada, mengapa selalu ada laki laki yang perhatian padanya" bisik Defta dalam diamnya, terus terang Defta merasa sangat cemburu.


Terdengar suara panggilan, pak Kimura memanggil manggil, menepuk nepuk pipi Hana, tak bergeming, ponsel yang tadi dilihat oleh Defta, tiba-tiba di letakkan begitu saja, yang terdengar hanya suara panggilan orang asing yang sedang memanggil manggil nama Hana. Hana jatuh pingsan.


Pak Kimura membawa Hana keluar, berlari menuju mobilnya yang diparkir, tanpa menunggu lama, Dewi sudah berada di jok belakang, sedang Hana di dudukkan di jok muka, di sebelah pak Kimura.


Pak Kimura menjalankan mobilnya dengan laju kecepatan yang lumayan cepat, sehingga kadang sempat membuat Dewi merasa ketakutan.


"Pelan kan sedikit Pak, nanti kita celaka!" pak Kimura tidak menghiraukan ucapan Dewi ia tetap pada kecepatan yang sama.


Hingga pada akhirnya mereka sampai dirumah sakit.


Defta yang merasa tidak ada respon, akhirnya mematikan ponselnya, dengan sejuta tanda tanya, siapa gerangan pemuda tampan yang memeluknya Hana.


Kesedihan bercampur cemburu, mampu membuat Defta tersiksa dan merana, belum sempat ia dapat kan harapan sedikit pun, namun penghalang lain telah tiba di depan mata.


Sungguh Defta pulang dari pemakaman dengan hati yang telah pergi, pergi bersama bayangan cinta yang terkoyak, beserta harapan yang pupus di terjang badai kecemburuan.

__ADS_1


🌹 jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.🌹


__ADS_2