Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 64 Pendonor Rahasia


__ADS_3

Seluruh keluarga telah hadir dirumah sakit, seluruhnya sudah diperiksa ginjalnya, namun tak ada juga yang cocok.


"Bagaimana dok, sementara pasien semakin kritis?" tanya dokter Harlan, dokter yang sengaja ditunjuk Hana sebagai dokter yang selalu bersamanya.


"Kita lakukan seperti semula?"


"Apa dokter Hana yakin?"


"Hanya itu jalan satu-satunya."


"Tapi dok ... ginjalnya tidak memungkinkan untuk di donorkan, bisa berakibat fatal, karena salah satunya bermasalah."


"Ambil yang baiknya!"


"Aku tak berani mengambil resiko dok ... aku takut akan dituntut!"


"Percayalah, tak akan ada yang menuntut, aku bisa menjamin kau aman."


Dengan segera operasi akan dilaksanakan. Shela di masukkan keruang operasi, dengan bantuan beberapa dokter, operasi itu dilakukan.


Yang menjadi pertanyaan, siapa yang telah mendonorkan ginjal untuk Shela ... sedang dari keluarga nya tidak ada yang cocok.


Melihat keadaan Shela yang semakin kritis, semuanya merasa was-was, takut akan terjadi sesuatu.


Andri dan Defta saling pandang seakan bertanya, kemana akan dibawa Shela. Keduanya mengikuti kemana arah dokter yang membawa Shela.


"Han ... kemana Shela akan dibawa?" tanya Defta pada Hana yang berada paling belakang.


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik, tenanglah ... dan silahkan tunggu!"


Mata Andri dan Defta terbelalak melihat tulisan "RUANG OPERASI", keduanya kembali saling pandang.


"Apakah berarti Shela sudah mendapatkan donor?" tanya Andri tersenyum.


"Mungkin, Alhamdulillah jika iya!"


Andri dan Defta tak kembali ke dekat keluarga, mereka terus berada dekat dengan ruang operasi itu, mereka ingin memastikan jika Shela baik baik saja.


Entah berapa jam, yang jelas mereka sangat lelah dalam penantian, rasanya mereka sudah melakukan segalanya, dari duduk kemudian berdiri, dari berdiri kemudian duduk lagi.


Antara was was dan pengharapan, semakin membuat semuanya menjadi gelisah tak menentu.


Hingga akhirnya, beberapa orang dokter keluar membawa Shela dan seseorang yang tidak mereka ketahui siapa, menuju keruang perawatan, menunjukkan bahwa operasi sudah selesai.


"Dimana Hana, bukankah tadi Hana ikut masuk kedalam, lalu saat keluar kenapa Hana tidak tampak?" batin Andri.


Andri yang selalu memperhatikan keberadaan dokter cantik yang sangat dicintainya itu, merasa sangat heran karena matanya tak menemukan sosok itu lagi pasca selesai operasi.


"Jangan jangan ...." ia masih terbengong, berdiri terpaku menatap beberapa dokter tadi.


Dengan tergesa Andri segera menyusul, ia mengikuti kemana dokter membawa pasien, Shela dan ... entah siapa.


Defta ikut masuk, tapi seorang dokter menghentikan langkah nya.


"Tolong tunggu sebentar, pasien masih dalam keadaan kritis, kami masih menanganinya."

__ADS_1


Dari luar, Defta memperhatikan dokter dokter itu saling berbicara, mengangguk dan sesekali menggeleng, entah apa yang dibicarakan Defta tak mengetahuinya.


Sama dengan Andri, ia ingat akan Hana ....


"Dimana Hana?" batinnya.


Defta berlari kearah dokter yang lain membawa pasien yang satu lagi, yang sama keluar dengan Shela dari ruang operasi.


"Tentu pasien tadi yang telah mendonorkan ginjal pada Shela." Kata hati Defta lagi.


Namun sudah sekian lama, ia mencari kemana arah dokter membawa pasien itu, tak jua Defta menemukannya.


Bruk, Defta dan Andri bertubrukan, karena sama sama tidak melihat, mereka dari arah berlawanan, sama sama mencari hal yang sama, pasien yang dibawa oleh dokter.


"Mas ... kemana?"


"Aku mencari pasien yang dibawa keluar bersama dengan Shela pasca selesai operasi."


"Sama, akupun mencarinya, tapi aku tak menemukan nya."


"Apakah menurutmu, dia adalah orang yang telah mendonorkan ginjal untuk Shela?"


"Ya, aku juga berfikir demikian, Mas ...."


"Apa kau juga punya firasat yang sama dengan ku?"


"Apa?"


"Hana!" ucap Defta.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu, sebab Hana tak ada bersama mereka.


"Mungkin!"


Keduanya akan membalikkan badan, tapi sekelebat keduanya melihat seorang dokter yang membawa pasien rahasia tadi, keduanya sama-sama saling pandang, tanpa meminta persetujuan antara satu dengan yang lain, mereka berlari mengejarnya arah dokter itu.


"Kemana, tak tampak?" keluh Andri.


"Ya ... bagaimana jika kita berpencar, aku kesana dan kau kesana!" usul Andri. Defta mengangguk.


Keduanya sama mencari di arah yang berlawanan, sampai akhirnya mereka bertemu kembali di sisi yang lain, bak ditelan bumi, mereka tak menemukan nya.


"Sudahlah, kita lihat Shela saja." Kata Andri.


"Oke, baiklah!"


Kembali keduanya berjalan beriringan, menuju ruangan dimana Shela dirawat. Sesampainya disana ia melihat seorang dokter keluar bersama dua dokter yang lain.


"Bagaimana dok, apakah Shela baik baik saja?"


"Alhamdulillah, kalian bisa melihatnya kedalam, pasien berhasil melewati masa kritis, kalian boleh masuk, tapi ingat, hanya dua orang yang bisa masuk, gantian."


"Kalau boleh tahu, siapa yang telah mendonorkan ginjal untuk Shela, Dok?" tanya Andri sudah tak sabar lagi mengetahui siapa pendonor itu.


"Pendonor merahasiakan identitasnya, jadi kami tak bisa memberi tahu kalian."

__ADS_1


"Kami hanya ingin bertemu dengannya."


"Dia tak mau menemui siapapun, doakan saja dia bisa melewati masa kritisnya."


"Apakah keadaan pendonor parah?"


"Ya, saat ini masih kritis, kami permisi."


"Baik, Dok."


Andri dan Defta masuk bersama, Andri mendahului Defta, ia sangat khawatir, Defta membiarkan Andri duluan, walaupun dalam hatinya, ia ingin melihat Shela terlebih dahulu, tapi ia sadar, Andri lebih berhak, karena Andri adalah suami Shela.


"Shel ... bangun lah, aku disini!" ucap Andri.


Defta menatap Andri tak suka


"Baru saja berlari-lari mencari wanita lain, sekarang sudah sok perhatian." gerutu Defta.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


"Ti _ tidak, aku tidak berkata apa-apa."


Sampai detik ini, Shela belum juga sadar, mungkin masih terpengaruh obat bius.


"Jika pantas, aku ingin disini bersama Shela, tapi kau ada!"


"Jadi kau mau menemaninya?"


"Tidak, ada yang lebih pantas bersamanya, bukankah seorang suami lebih pantas mendampingi istrinya, meski suami itu dalam hatinya masih memikirkan wanita lain."


"Jaga bicaramu Mas ... ini rumah sakit."


"Tapi benar, kan?"


"Aku tak mau berdebat, silahkan keluar!" suara Andri tegas.


"Oke, aku keluar ... meskipun hati aku jauh lebih khawatir dibandingkan dengan mu."


Andri tak menjawab, ia mengakui, saat ini ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa ia masih memikirkan Hana, sampai detik ini masih belum menampakkan batang hidungnya.


Defta keluar, menemui keluarga Shela, ia menceritakan keadaan Shela, dan semuanya yang ada diruang itu merasa lega.


"Siapa yang telah mendonorkan ginjal nya untuk Shela, Defta?" tanya Bu Wisnu.


"Itulah Bu, pendonor tidak mau memberikan identitas nya, ia sengaja merahasiakan nya."


Defta tak menceritakan kecurigaan dirinya dan kecurigaan Andri, jika pendonor itu adalah Hana.


"Siapapun dia, semoga dia baik baik saja."


"Aamiin!"semua yang ada diri itu menjawab Amin, mendoakan pendonor itu.


"Mari kita lihat, Shela!"


Semuanya berjalan menuju ruangan tempat Andri dan Shela berada.

__ADS_1


Merasa semua kekhawatiran telah diganti dengan kebahagiaan, Shela telah melewati masa kritis.


🌹🌹🌹bagi para pembaca, silahkan tinggalkan komentar anda, terimakasih atas semua dukungan untuk kalian berikan.🌹🌹🌹


__ADS_2